MASYARAKAT ASIA-AFRIKA PADA UMUMNYA
MENJUNJUNG TINGGI
“PARA ULAMA”
PERSOALANNYA ADALAH MEREKA BELUM MEMAHAMI
ESENSI ULAMA WARASATUL AMBIA
ITULAH SEBABNYA MANUSIA KUTUB HABIL ASIA-AFRIKA
HIDUP MENDERITA
DIBAWAH
SYSTEM MANUSIA KUTUB QABIL
hsndwsp
Acheh - Sumatra
Di
Ujung Dunia
BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM
Dunia Ketiga seperti Iran, dalam pandangan Syariati telah
dihinggapi penyakit, se macam imperialisme internasional yang mengejawantah
dalam bentuk korporasi multinasional, rasisme, penindasan kelas, ketidakadilan,
dan mabuk kepayang terha dap barat (gharbzadegi). Maka Imperialisme dan
ketimpangan sosial sebagai mu suh terbesar masyarakat yang harus diberantas
dalam jangka waktu yang panjang. Sedangkan dalam jangka pendeka adalah pertama,
Marxisme vulgar – menjelma dalam bentuk Stalinisme – yang digandrungi banyak
intelektual, Kedua, Islam kon servatif sebagaimana dipahami kaum "ulama".
Kemudian agama Islam – dapat dan harus difungsionalisasikan
sebagai kekuatan revolusioner untuk membebaskan rakyat yang tertindas, baik
secara kultural mau pun politik. Lebih tegas lagi, Islam yang belum dikuasai
kekuatan konservatif merupa kan ideologi revolusioner ke arah pembebasan Dunia
Ketiga dari penjajahan politik, ekonomi dan kultural Barat. Karena itu,
negara-negara Dunia Ketiga, seperti Iran me merlukan dua bentuk revolusi yang
saling berkaitan. Pertama, revolusi nasional yang bertujuan bukan hanya untuk
mengakhiri seluruh bentuk dominasi Barat, tetapi juga untuk merevitalisasi
kebudayaan dan identitas nasional negara Dunia Ketiga ber sangkutan. Kedua,
revolusi sosial untuk menghapus semua bentuk eksploitasi dan ke miskinan guna
menciptakan masyarakat yang adil, dinamis, dan tanpa kelas (class less)..
Melalui sepucuk surat kepada Fanon, Syariati menyatakan, rakyat
di Dunia Ketiga pertama-tama harus memulihkan kembali warisan kebudayaan mereka
– termasuk warisan keagamaan – sebelum mereka mampu memerangi imperialisme dan
me ngatasi alienasi nasional. Hanya dengan pemulihan warisan kebudayaan, rakyat
Du nia Ketiga mencapai “kedewasaan”, sehingga dapat meminjam teknologi dari Ba rat
tanpa kehilangan kehormatan diri (self esteem).
Di samping itu, dunia sebenarnya merupakan pertarungan antara
Habil dan Qabil. Habil mewakili para kelompok taklukan dan tertindas, yakni
rakyat yang sepanjang sejarah dibantai dan diperbudak oleh sistem Qabil, sistem
hak milik individu yang memperoleh kemenangan dalam masyarakat. Peperangan
antara Habil dan Qabil adalah pertempuran sejarah abadi yang telah berlangsung
pada setiap generasi. Panji-panji Qabil senantiasa dikibarkan oleh penguasa,
dan hasrat untuk menebus darah Habil telah diwarisi oleh generasi keturunannya
– rakyat tertindas yang telah berjuang untuk keadilan, kemerdekaan dan
kepercayaan teguh pada suatu perjua ngan yang terus berlanjut pada setiap
zaman.
Manusia.
Di dalam al-Qur’an disebutkan 4 entitas manusia berbahaya bagi
kemanusiaan, yaitu Fir’aun, Haman, Qarun, dan Bal’am sebagai pelanjut Qabil.
Fir’aun adalah penguasa yang korup, penindas yang selalu merasa benar sendiri,
tonggak sistem kezaliman dan kemusyrikan. Haman mewakili kelompok teknokrat,
ilmuwan yang menunjang tirani dengan melacurkan ilmu. Qarun adalah cermin kaum
kapitalistik, pemilik sumber kekayaan yang dengan rakus menghisap seluruh
kekayaan massa. Bal’am melambangkan kaum ruhaniyun tokoh-tokoh agama yang
menggunakan agama untuk melegitimasi kekuasaan yang korup dan meninabobokan
rakyat. Pada setiap zaman, keempat jenis manusia ini selalu tampil termasuk di
Indonesia sebagai pendukung status quo dan penentang perubahan sosial.
Islam, menurut Syariati yang benar adalah Islam yang diwariskan
Imam Husain. Ke syahidannya di Karbala menjadi sumber inspirasi bagi mereka
yang tertindas untuk memelihara Islam yang sebenarnya. Lebih jauh Syarati
menjelaskan bahwa;
“Adalah perlu penjelasan tentang apa yang kita maksudkan dengan
Islam. Dengan nya kita maksudkan adalah Islam Abu Dzar; bukan Islamnya
khalifah. Islam keadilan dan kepemimpinan yang pantas; bukan Islam-nya
penguasa, aristokrasi dan kelas atas. Islam kebebasan, kemajuan (progress) dan
kesadaran; bukan Islam perbuda kan, penawanan, dan passivitas. Islam kaum
mujahid; bukan Islam-nya kaum “ula ma”. Islam kebajikan dan tanggung jawab pribadi
dalam protes; bukan Islam yang menekankan dissimulasi (taqiyeh) keagamaan,
wasilah “ulama” dan campur ta ngan Tuhan. Islam perjuangan untuk keimanan dan berpengetahuan
ilmiah, bukan Islam yang menyerah, dogmatis, dan imitasi tidak kritis (taqlid)
kepada “ulama”.
Selanjutnya Syariati menegaskan bahwa:
“Adalah tidak cukup dengan menyatakan kita harus kembali kepada
Islam. kita harus menspesifikasi Islam mana yang kita maksudkan: Islam Abu Dzar
atau Islam Usman bin Affan, sang penguasa. Keduanya disebut Islam, walaupun
sebenarnya terdapat perbedaan besar di antara keduanya. Satunya adalah Islam
kekhalifahan, istana dan penguasa. Sedangkan lainnya adalah Islam rakyat,
mereka yang dieks ploitasi, dan miskin. Lebih jauh, tidak cukup sah dengan
sekedar berkata, bahwa orang harus mempunyai kepedulian (concern) kepada kaum
miskin dan tertindas. Khalifah yang korup juga berkata demikian. Islam yang
benar lebih dari sekedar kepedulian. Islam yang benar memerintahkan kaum
beriman berjuang untuk keadi lan, persamaan, dan penghapusan kemiskinan”.
Singkatnya Islam yang benar adalah Islam Syi’ah awal, yakni
Islam Syi’ah revolusio ner yang dipersonifikasikan Abu Dzar (al-Ghifari) dengan
kepapaannya, dan Imam Husain dengan kesyahidannya. Keduanya merupakan simbol
perjuangan abadi ketertindasan melawan penguasa yang zalim. Islam Syi’ah
revolusioner ini kemudian mengalami “penjinakan” di tangan kelas atas –
penguasa politik dan “ulama” yang memberikan legitimasi atas “Islam” versi
penguasa. Ulama bagi Syarati dengan menggunakan jargon Marxisme telah menyunat
Islam dan melembagakannya se bagai “penenang” (pacifier) bagi massa tertindas,
sebagai dogma kaku dan teks skriptual yang mati. “Ulama” bergerak seolah-olah
di dalam kevakuman, terpisah da ri realitas sosial. (Di Indonesia fenomena ini
diaplikasikan oleh para «alim» yang ber cokol di lembaga MUI dan organisasi
lainnya macam FPI, hsndwsp)
Kenyataan ini, menurut Syariati terlihat pada masa Safavi, di
mana dinasti penguasa memasyarakatkan Syi’isme versi mereka sendiri yang sangat
berbeda dengan Syi’ah Imam Ali dan Imam Husain. Maka Syariati menyebut Syi’ah
penguasa sebagai “Syi ’ah Hitam”, dan Syi’ah Imam Ali sebagai “Syiah Merah”,
yakni kesyahidan (Syi’ism of martyrdom) – Islam yang terselimut dalam jubah
merah kesyahidan.
Menurut pandangan Syariati, selama lebih 8 abad sampai masa
Dinasti Safavi, Syi’ism (Alavi) merupakan gerakan revolusioner dalam sejarah,
yang menentang se luruh rejim otokratik yang mempunyai kesadaran kelas seperti
Dinasti Umayyah, Abbasiyah, Ghaznawiyah, Saljuk, Mongol, dan lain-lain. Dengan
legitimasi “ulama” rejim-rejim ini menciptakan Islam sunni versi resmi mereka
sendiri. Pada pihak lain, Islam Syi’ah Merah, seperti sebuah kelompok
revolusioner, berjuang untuk membe baskan kaum yang tertindas dan pencari
keadilan.
Padahal kebanyakan penguasa Sunni menjadikan massa Syi’ah
sebagai sasaran penaklukan, penghambaan, dan penghinaan. Pada saat yang sama
“ulama’ Sunni kebanyakannya berkolaborasi dengan penguasa menghimbau massa yang
tertin das untuk tunduk kepada Islam yang sebenarnya, yakni Islam Sunni.
“Ulama” de ngan cara begitu, menyunat diri mereka sendiri, hanya untuk sekedar
memuaskan penguasa dengan mengorbankan pengembangan dan penyebaran kebudayaan,
keimanan, moralitas, masyarakat, dan bahkan eksistensi kaum Muslim itu sendiri.
Selain “Ulama”, yang karena kesalehan mereka, menolak bekerjasama dengan pe nguasa;
mereka menjauhkan diri dari masyarakat dengan memasuki lembaga-lem baga
sufisme. Secara tidak langsung mereka membuka jalan bagi terjadinya penin dasan;
mereka membiarkan masyarakat tanpa pertahanan vis a vis rejim-rejim oto kratik.
Dengan demikian, “ulama” telah mengkhianati tugas mereka sebagai pelin dung
massa Muslim.
Akan halnya “ulama” Syi’ah sendiri, bagi Syariati mereka telah
menjadikan Syi’ah se mata-mata sebagai agama berkabung dengan mengubah arti
hakiki peristiwa Kar bala. “Ulama” menghianati Islam dengan “menjual diri”
kepada kelas penguasa. Menurut Syariati “ulama” Syi’ah menyembunyikan cerita
yang sebenarnya tentang Abu Dzar, sementara melekatkan kepada diri mereka
sendiri gelar-gelar “aneh” se macam ayatullah, ayatullah ‘uzhma’, dan hujjat
al-Islam. Mereka juga menyembu nyikan fakta bahwa banyak pemimpin Islam awal,
termasuk Nabi Muhammad sen diri, bekerja sebagai pekerja tangan, seperti
pengembala, tukang kebun, dan pera jin.
Maka “ulama” telah mengubah Syi’ah dari kepercayaan revolusioner
menjadi ideo logy konservatif, menjadi agama negara (din-i dewlati), yang
paling banter mene kankan sikap kedermawanan (philanthropism), paternalisme,
pengekangan diri se cara sukarela dari kemewah-mewahan. Sedangkan pada pihak
lain, “ulama” mem punyai hubungan organik dengan kemewahan itu sendiri melalui
kelas berharta. Ka rena “ulama” Syi’ah memperoleh pemasukan dari khoms
(sedekah) dari sahm -i Imam (bagian dari zakat), mereka tak terhindarkan lagi
terkait kepada orang kaya, Negara, tuan tanah dan pedagang bazaar. Sebagai
respon terhadap orang yang mengklaim bahwa “ulama” Syi’ah – berbeda dengan
Sunni – lebih bersifat in depen dent. Menurut Syariati itu mungin benar sebelum
massa Safawi, tetapi jelas keliru dalam masa setelah itu.
Syariati lebih jauh menilai, hubungan khusus “ulama” semacam itu
telah menjadikan mereka sebagai instrument kelas-kelas berharta,
lembaga-lembaga pendidikan Islam dibiayai kaum berharta untuk mencegah “ulama”
berbicara tentang perlunya menyelamatkan kaum miskin. Sebaliknya, dengan
menggunakan doktrin fiqh ten tang ekonomi, “ulama” berusaha mengabsahkan
eksploitasi – yang lebih eksploitatif dibandingkan dengan kapitalisme Amerika.
Pada akhirnya, Islam telah menjadi khor deh-i burzhuazi (patite bourgepisie –
borjuasi kecil). Dan kaum mullah telah melaku kan perkawinan tidak suci (unholy
marriage) dengan pedagang bazaar. Dalam per kawinan ini, mullah menciptakan
agama bagi pedagang, sementara pedagang membuat dunia lebih menyenangkan bagi
mullah.
Menurutnya, banyak “ulama” berpandangan sangat picik (ulama-yi
qisyri), yang hanya bisa mengulang-ulang doktrin fiqh secara bodoh. Mereka
memperlakukan kitab suci sebagai lembaran kering, tanpa makna, semenatra asyik
dengan isu-isu yang tidak penting seperti soal pakaian, ritual,
panjang-pendeknya jenggot dan semacamnya. Akibatnya, “ulama” gagal memahami
makna istilah-istilah kunci se perti “Ummah”, “Imamah”, dan “nezami tawhid”.
Adalah ironis, kata Syariati, bah kan untuk menemukan makna hakiki
istilah-istilah seperti ini ia terpaksa pergi kepada orientalisme semacam
Montgomery Watt.
“Ulama” cuma bisa menggelembungkan ajaran keakhiratan, dan
menggunakan nya sebagai pelarian dari masalah-masalah dunia kontemporer,
khususnya industria lisme, kapitalisme, imperialisme, dan zionisme. Mereka
lebih senang kembali ke masa lampau yang di pandang “gemilang” ketimbang
menengok ke masa depan. Aki batnya, mereka menolak seluruh konsep Barat,
termasuk yang justru dapat memaju kan umat Islam. Ini terlihat dari
ketidaksediaan mereka melanjutkan gagasan pem baharuan Islam yang dikemukakan
tokoh-tokoh semacam Jamaluudin
al-Afghani, Muhammad Abduh, atau Muhammad Iqbal.
“Ulama” juga menurut Syariati mencoba memperoleh kontrol
monopolistik terhadap penafsiran Islam. Dengan interpretasi monopolistik itu,
mereka selain membuat kita suci tidak bisa dipahami kaum awam dan, sebaliknya
menekankan kepada umat untuk berlaku taqlid kepada “ulama”. Ini semua mereka
lakukan untuk menegakkan “despotisme spiritual” (istibdad-i ruhani). Inilah
bentuk despotisme yang terburuk. Atas dasar logika ini, Syariati menghimbau
dilakukannya pembaharuan dan penum pangan “despotisme spiritual” tadi.
Pembaharuan dalam Islam, menurut Syariati, hendaklah lebih
diorientasikan kepada penumbuhan “kesadaran revolusioner” ketimbang penciptaan
“keilmuan skolastik”. Setiap individu Muslim mempunyai hak untuk langsung –
tidak musti harus melalui “ulama” – meninjau sumber-sumber tekstual. Karena
hanya dengan cara itu pemba haruan dapat fungsional untuk mengubah agama dari
negative religion menjadi positive religion.
Para Nabi, menurut Syariati adalah orang yang lahir dari
tengah-tengah masa (um mi) lalu memperoleh tingkat kesadaran (hikmah) yang
sanggup mengubah satu masyarakat yang korup dan beku menjadi kekuatan yang
bergejolak dan kreatif, yang pada gilirannya melahirkan peradaban, kebudayaan
dan pahlawan. Para Nabi datang bukan sekedar mengajarkan zikir dan doa. Mereka
datang dengan su atu ideologi pembebasan.
Konsep Ummah dan Imamah, Syari’ati mengatakan bahwa ummah dan
imamah merupakan prinsip akidah islamiah yang paling penting dan terkenal,
khususnya di kalangan mazhab Syi’ah.
Ummah kata Syariati berasal dari kata ‘amma artinya bermaksud
(qashada) dan berniat keras (‘azima). Pengertian ini mencakup tiga makna yaitu
‘gerakan’, tujuan dan ‘ketetapan hati yang sadar’. Kata amma pula pada
awalanya, menurut Syari’ati berarti kemajuan. Dengan demikian secara luas
mencakup empat erti: usaha, gerakan, kemajuan dan tujuan. Secara prinsipil,
kata ummah berarti jalan yang terang. Artinya, suatu kelompok manusia yang
menuju ke jalan tertentu. Dengan demikian, kepemimpinan dan keteladanan, jalan
dan tempat yang dilalui terangkum dalam istilah ummah.
Jadi apakah yang paling dasar dalam Islam yang menjadi pengikat
paling penting untuk mempersatukan individu-individu? “Jalan yang dilalui”
jawab Syari’ati. Kelebi han lain yang ada pada konsep ummah ialah menempatkan
kebersamaan dalam arah tertentu dan pembentukan kekerabatan lahir-batin sebagai
ciri dasar yang mengikat manusia. Ini berbeda, dalam pemikiran Syari’ati dengan
istilah qabilah – konsep terbaik menurut Syari’ati – yang hanya menempatkan
‘tujuan yang sama’ sebagai pengikat individu tersebut.
Istilah Qabilah dalam perspektif Syari’ati, memang terdapat
kebersamaan tujuan, tetapi tidak ditemukan adanya gerakan yang menuju tujuan
tersebut. Sebab, sa ngat mungkin ada sekumpulan orang yang mempunyai tujuan
yang sama, tetapi tidak memiliki ikatan atau keharusan apapun berkaitan dengan
jalan yang dilalui untuk menuju tujuan tersebut. Mereka memang memiliki
kesamaan dalam keya kinan dan tujuan (konsepsional dan emosional) sebagaimana
halnya dengan kaum muslim sekarang ini. Tetapi mereka tidak melangkah dengan
langkah yang sama dan serempak menuju ke arah yang sama. Tujuan yang ingin
dicapai terletak pada titik tertentu, dan gerakan mereka menuju ke arah yang
lain. Dalam istilah ummah, gerak yang mengarah ke tujuan bersama itu justeru
merupakan landasan ideologis.
Istilah qaum (berdiri), mungkin memiliki makna yang dinamis
pula. Tetapi, gerak disa na dalam pemikiran Syari’ati tetap tidak dinamis.
Istilah qaum mengandung berge rak di tempat. Sebab, orang yang tergabung di
sana memang bergerak, tetapi tidak pernah beranjak dari tempatnya berdiri.
Jadi, sekedar berdiri bukanlah berge rak.
Gerakan adalah perpindahan dari satu titik ke titik lain atau
perubahan dari kualiti menuju kualiti dan bentuk lain. Sedangkan qiyam hanya
berupa perubahan wujud, bukan perubahan kualiti. Jadi, ia tidak disebut hijrah,
baik secara fisikal atau psiko logi.
Sedang Ummah adalah kumpulan orang yang berpindah dan bergerak
dan mengandung konsep:
1. Kebersamaan
dalam arah dan tujuan.
2. Gerakan menuju
arah dan tujuan tersebut.
3. Keharusan adanya
pimpinan dan petunjuk kolektif.
Secara ringkas, Ummah ialah sekumpulan manusia, di mana para
anggotanya memiliki tujuan yang sama, dan satu sama lain tolong-menolong agar
bisa bergerak menuju tujuan yang mereka cita-citakan berdasar kepemimpinan
kolektif.
Mereka memiliki kesatuan pemikiran, keyakinan, mazhab, dan
metodologi yang ti dak saja tergambarkan dalam idea, tetapi terbukti
perwujudannya secara konkrit. Maka, dilihat dari konteks tersebut, istilah
ummah dengan sendirinya membutuhkan imamah – keharusan yang sama sekali tidak
dimiliki konsep lain, seperti qabilah, jama’ah, qaum, nation dan yang lain.
Dengan itu, berarti tidak ada ummah tanpa imamah.
'
Menurut Syari’ati, dalam sejarahnya manusia selamanya ingin
mempunyai pemim pin. Kerana itu, dalam sejarah ummat manusia, tidak ada seorangpun
yang tidak membutuhkan Imam baik yang real ataupun khayal. Hal ini dibuktikan
dalam se jarah, kebudayaan dan agama-agama yang terus berlangsung dalam bentuk
men cintai pahlawan, menghamba kepada kepala suku, kultus individu dan dalam
ben tuk lainnya, baik yang positif atau negatif.
Bahkan, dikalangan intelektualpun. Orang - orang seperti
Nietzsche, Hegel, Crlyle adalah orang-orang yang percaya kepada adanya pahlawan
(hero), dan berpen dapat bahwa manusia agar bisa hidup dalam kehidupan yang
lebih baik dan paling tinggi serta dapat beranjak kepada kehidupan dunia yang
lebih tinggi dan agung, ia mesti berlindung kepada “manusia super”.
Syari’ati mencatat pula kalau kekacauan di zaman moden ini,
kerana tidak adanya idola. Mengutip seorang pemikir Perancis, Caneon mengatakan
“Kemelut manusia moden telah mencapai tingkat hingga lenyapnya hero”. Namun,
tentu kepahlawa nan di sini, menurutnya tidak sama seperti yang ada pada
fasisme dan militerisme. Konsekuensi logik pula bahwa setiap anggota ummah itu
harus mematuhi pemimpin komuniti tersebut dengan ketaatan tanpa paksaan.
Kemudian apa fungsi imamah sendiri? “Ia dipilih sebagai kekuatan
penstabilan dan pendinamisan massa”, tulis Syari’ati. Dalam konsep pertama,
ialah bagaimana me nguasai massa sehingga berada dalam stabiliti dan
ketenangan, kemudian melin dungi mereka dari ancaman, penyakit dan bahaya.
Dalam konsep kedua, ialah berkaitan dengan asas kemajuan dan
perubahan sosi ologis, sosial dan keyakinan serta menggiring massa dan
pemikiran mereka menuju bentuk ideal.
Di antara dua fungsi imamah di atas, yang kedua lebih
ditekankan.
Dengan demikian, tulis Syari’ati: “Imamah bukanlah lembaga yang
anggota-anggo tanya menikmati kenyamanan dan kebahagiaan yang mapan, dan bukan
pula me lepaskan diri dari kepemimpinan dan tanggung jawab dari persoalan
kesejahteraan umat serta bukan kehidupan tanpa tujuan”.
Secara singkat tugas Imam ialah mewujudkan asas kerajaan kepada
kemajuan, perubahan, transformasi dalam wujudnya yang paling cepat, melakukan
akselerasi dan menggiring ummat menuju kesempurnaan.
Syari’ati secara tegas menolak kalau Imam adalah “supra
manusia”. Sebab, bila Imam terdiri dari supramanusia, ia tidak mungkin memiliki
hal-hal yang dapat dija dikan teladan yang baik bagi manusia.
Syari’ati mengatakan, kalau imam itu Malaikat, pasti kita tidak
mungkin meneladani nya. Dengan mengabaikan hal itu, maka manusia dapat mencapai
derajat yang di nyatakan dalan al-Qur’an sebagai lebih tinggi dibanding derajat
yang dimiliki oleh semua malaikat yang muqarribin sekalipun.
Lebih tepat ia disebut “manusia super” yang selaras dengan
tuntunan manusia akan moral bagi kehidupan individu maupun masyarakat, serta
selaras dengan kebutu han intelektual dan psikologi. Ia akan selalu membimbing
individu dalam kelompok umat dan melembutkan spritualiti dan menajamkan pikiran
manusia. Maka, jelas dalam pemikiran Syari’ati, Imam bukanlah non-manusia.
Sebab, jika kita mengang gap dzat Imam lebih tinggi dibanding manusia lainnya
dan tidak ada yang lebih tinggi darinya kecuali Tuhan, maka kita akan jatuh
kepada syirik.
Imam hanya manusia biasa yang telah mencapai tingkat semestinya
dicapai oleh manusia, dan orang-orang lain belum mencapai tingkat tersebut.
Imam itu akan terus-menerus berusaha mencapai kemanusiaan dengan makrifat.
Artinya, secara umum dalam pemikiran Syari’ati, Imam lebih umum dibanding
pengertian pemimpin politik, ketua partai, pahlawan atau superman. Imam adalah
“perwujudan manu siawi yang membentuk roh, moral dan cara hidupnya sebagai
petunjuk bagi umat manusia tentang bagaimana seharusnya menjadi manusia dan
bagaimana seha rusnya hidup itu”. Tugas seorang Imam bagi Syari’ati tidak hanya
terbatas pada me mimpin dalam salah satu aspek politik, sosial, ekonomi, dan
tidak terbatas sebagai panglima, amir atau khalifah, tetapi tugasnya adalah
menyampaikan kepada ummat manusia dalam semua aspek pelbagai kemanusiaan. Imam
seperti ini, tidak terbatas kepada hidupnya sahaja, tetapi selalu hadir di
setiap saat dan hidup sela manya.
Sementara individu sendiri dalam ummat juga mempunyai kewajiban
dan tanggung jawab sebagai pertubuhan organisme ummat. Mereka harus mengetahui
Imam mereka, mengakui dan mempercayainya. Dan apabila dijumpai individu yang
lebih mementingkan kehidupan yang mapan, tidak mau bergerak dan menuju kesempur
naan, maka yang demikian tidak patut berada ditengah-tengah atau kelompok ummat.
Ummat mesti begerak cepat dan tidak berdiam diri.
Namun tujuan ummat sendiri pada akhirnya, seperti ditulis
Syari’ati terbagi menjadi dua:
1. Suatu transformasi terus-menerus menuju tercapainya
kesempurnaan yang mut lak, dan
2. Perjalanan tanpa henti
untuk menciptakan nilai-nilai yang tertinggi.
Dua konsep di atas, ternyata berkesesuaian dengan ayat-ayat
al-Qur’an, seperti ditulis Syari’ati sendiri, yakni “Ingatlah bahawasanya
kepada Allah jualah kembali nya semua urusan”. (Al-Syura: 53); “Kepada
Allah-lah tempat kembali”. (Ali Imran: 28); “Sesungguhnya kita milik Allah, dan
kepada-Nyalah kita kembali”. (Fathir: 18).
Allah dalam ayat al-Qur’an di atas ialah bermakna Kesempurnaan
Mutlak, Keabadi an, Kekekalan, ilmu, penemuan, kesadaran, keindahan, kemampuan,
kewujudan, kebaikan, kemamfaatan, kelembutan, keadilan dan keagungan dalam
pengertian yang mutlak dan tanpa batas.
Dan kita pun kembali ‘Kepada Allah’. Di sini Syari’ati menolak
idea kaum wihdat al-wujud, bahawa kita perlu ‘ke dalam Allah’. Menurutnya, yang
benar ialah kembali “kepada-Nya”.
Bagi Syari’ati, Imam tidaklah dipilih sebagaimana pengangkatan
atau pemilihan. Ia adalah suatu hak yang bersifat esensi yang muncul pada diri
seseorang. Sumbernya ialah Imam itu sendiri. Ia menjadi Imam, kerena memiliki
kelebihan-kelebihan seperti yang dijelaskan.
Posisi masyarakat tidak menunjuk untuk menjadi Imam. Tetapi
mereka mengakui atas kelayakannya sebagai seorang Imam. Kerana itu, dalam
Syi’ah dikatakan “Jabatan imamah sama dengan kenabian”. Artinya, posisi Imam
atau Nabi adalah masalah pengakuan yang timbul dalam masyarakat. Bisa saja ada
yang tidak mengakui atas tersebut. Dan ini bisa diterima secara logik.
Realitanya banyak yang tidak mengaku Imam Ali sebagai Imam dan masyarakat
jahiliahpun banyak yang tidak mengaku Nabi Muhammad saww. Namun disisi Allah
swt dan mu’min sejati Ali adalah Imam dan Muhammad adalah Nabi dan juga Imam.
Perubahan Sejarah, Menurut Syariati, terjadi karena dialektika
dua kutub, yang disim bolkan dengan Habil dan Qabil sebagai konflik awal
peradaban manusia, yang be rakhir dengan peniadaan pada salah satu pihak.
Dialektika dua kutub inilah yang menjadikan sejarah terus-menerus berkembang
secara dinamik. Dalam pemikiran ini, Syari’ati dipengaruhi wacana pemikiran
dialektika historis dan materialisme his toris yang dikembangkan G.W.F. Hegel
dan Karl Marx.
Bahkan menurut Syari’ati, bahwa perubahan sejarah tidak hanya
terjadi karena dialektika dua kutub yang bersifat alamiah, akan tetapi dengan
kehendak untuk berubah dengan cara berhijrah (migrasi) dari satu tempat ke
tempat lainnya adalah hal yang mendasar dari perubahan dan perkembangan dalam
peradaban umat manusia.
Maka dilektika dua kutub dan hijrah adalah proses dari adanya
perubahan-peru bahan yang berkelanjutan menuju akhir sejarah. Akhir sejarah
yang dimaksud ada lah lebih berupa upaya-upaya untuk menyongsong masa depan.
Dalam hal ini, segitiga kerucut adalah metode yang coba ditawarkan Syari’ati
dalam rangka melihat atau menengok sejarah masa depan. Namun kepastian akan
adanya se jarah masa depan tersebut sangat berhubungan dengan doktrin Imamah
Syi’ah, yaitu penantian terhadap Imam Mahdi sebagai “pembebas dan penyelamat”
ummat manusia dari berbagai bentuk kezaliman dan yang menjadi pemenang
sekaligus pemegang tonggak “kebenaran” di akhir zaman.
Menurut Syari’ati terdapat dua macam perubahan histories, yakni
perubahan fun damental (harakat-i jawhari) dan perubahan kecil yang
transisional (harakat-i inti qali). Perubahan-perubahan kecil terhad di dalam
berbagai fase kehidupan seluruh masyarakat, misalnya menyangkut perubahan kecil
dalam sistem kekeluar gaan. Se dangkan perubahan fundamental adalah perubahan
berdampak panjang dan be sar yang mengubah sendi-sendi kehidupan masyarakat
secara keseluru han.
Bagi syari’ati sejarah bukan hanya menyangkut masa silam.
Baginya sejarah tidak bearti apa-apa jika tidak berbicara masa depan. Suatu
ilmu, sejarah, tidak akan ber manfaat jika tidak membantu manusia memahami
masyarakatnya di masa datang. Memahami sejarah manusia di masa silam adalah
untuk mengerti perjalanan seja rahnya di masa datang. Dan manusia harus menulis sejarah masa depannya itu.
Perjalanan Sejarah Manusia. Diibaratkan Syariati seperti ikan yang hidup
dalam su ngai yang mengalir melalui palung sungai yang dalam, dangkal, sempit
dan curam sebagai hasil pembentukan geologis sepanjang waktu. Meski palung
sungai telah terbentuk seperti itu ikan dapat berenang ke berbagai arah, bahkan
menyonsong arus air – dengan kata lain, againt the streams/againt history.
Dengkan kata lain, manusia memang dipengaruhi hukum-hukum histories, misalnya
hukum sebab aki bat; tetapi ia “bebas” memilih jalannya sendiri, bahkan untuk
membunuh dirinya sen diri.
Dialog Kesendirian. Menurut Syariati keindahan menyendiri adalah
kegembiraan yang menyakitkan, kesendirian menurutnya hanya merupakan setengah
dari kebe radaan; dengan demikian, kepedihan manusia yang riil bukanlah
terletak pada kesendirian tetapi keterpisahanlah yang membuat manusia terluka;
karena itu illu munasi lebih superior dibandingkan pikiran, hati seharusnya
lebih dihargai daripada otak, dan ‘bagian dalam manusia’ lebih mulia daripada
‘bagian luar’, sementara waqi’iyyat (realitas/penampakan) memiliki derajat yang
rendah dibandingkan haqi qat (kebenaran) yang merupakan tatanan yang jauh lebih
tinggi; lalu setelah puas melakukan kontemplasi diri.
Konsep Humanisme menurut Syariati adalah aliran filsafat yang menyatakan
bahwa tujuan pokok yang dimilikinya adalah untuk keselamatan dan kesempurnaan
manu sia. Ia memandang manusia sebagai mahluk mulia, dan prinsip-prinsip yang
disaran kannya di dasarakan atas pemenuhan kebutuhan - kebutuhan pokok yang
bisa membentuk species manusia.
Dalam perkembangannya humanisme, terjadi
pertentangan-pertentangan yang menjadikan seakan-akan humaisme menjadi milik
suatu mazhab atau golongan ter tentu dari suatu masyarakat, sehingga timbul
humanisme versi liberalisme barat, marxisme, eksistensialisme dan agama.
Humanisme barat dibangun di atas asas-asas yang sama yang dimiliki oleh
mitologi Yunani Kuno yang memandang bahwa antara langit dan bumi, alam dewa-dewa
dan alam manusia terdapat pertenta ngan-pertentangan dan pertarungan
samapi-sampai muncul kebencian dan ke dengkian antara keduanya. Menurut Ali
Syariati, kesalahan barat yang paling serius di atas tegaknya bangunan humaisme
modern – dimulai dari pandangan Politzer, yang berlanjut pada Marx dan Feurbach
– ialah bahwa mereka mengangap dunia mitologi Yunanai Kuno yang bergerak
seputar jiwa yang terbatas, alami dan fisikal itu dan menganggap dunia
spiritual yang sakral sama dengan fenomena yang ada pada manusia saja.
Humanisme modern yang dipandang oleh liberalisme barat borjuis
sebagai sistem yang menjadi landasan bangunannya memandang manusia sebagai
mahluk yang memiliki keutamaan-leutamaan moral yang abadi dan nilai-nilai mulia
yang lebih lu hur ketimbang materi, suatu keutamaan yang menjadi inti penting
satu-satunya ba gi manusia. Bertolak dari sini, liberalisme barat borjuis
bersandar pada humanisme yang menjadi lawan naturalisme dan metafisika.
Pembicaraan mengenai humanisme liberal tidak dapat dipisahkan
dengan kapita lis me, sebab kritik-kritik terhadap kapitalisme sering dikaitkan
dengan humanisme di samping demokrasi. Tentu ini ada kaitannya dengan paham
humanisme yang ber kembang dengan perkembangan dunia industri atau revolusi
industri yang terjadi di Inggris dan menjalar ke Eropa sampai Amerika.
Kebanyakan pengkritik-pengkritik itu datang dari kaum idealis.
Metode dealiktik menyatakan bahwa manusia adalah sintesa antara
ruh Tuhan (tesa) dan setan (anti-tesa).
Marxisme, Syariati membagi kehidupan Marx dan konsekuensi
perkembangan Mar xisme, ke dalam tiga fase yang terpisah satu sama lain.
Pertama, Marx muda seo rang filosof atheistik, yang mengembangkan materialisme
dialektis; menolak eksis tensi Tuhan, jiwa dan kehidupan akhirat. Sifat atheistik
Marx ini dikembangkan ke luar proporsinya oleh kaum sosialis dkomunis Eropa;
dalam memerangi gereja reaksioner mereka mengecam seluruh bentuk agama tanpa
kualifikasi dan kecuali.
Kedua, Marx dewasa, yang terutama merupakan seorang ilmuwan
sosial yang me ngungkapkan bagaimana penguasa mengeksploitasi yang dikuasai
(the ruled). Marx dalam kapasitas ini, lebih jauh menjelaskan tentang bagaimana
hukum-hukum “determinisme historis” – bukan determinisme ekonomi – berfungsi
dan tentang ba gaimana suprastruktur di negara manapun, khususnya ideologi
dominant dan insti tusi politiknya berinteraksi dengan infrastuktur ekonomi.
Ketiga, Marx tua, yang terutama merupakan politisi. Dalam
kapasitas ini, Marx dan Marxisme menjelma menjadi partai revolusioner. Marx ini
sering membuat prediksi yang pantas dari segi politisi tetapi tidak sesuai
dengan metodologi ilmu sosialnya. Inilah yang kemudian disebut Syariati sebagai
“Marxime vulgar”, yang akhirnya me ngaburkan “Marxisme ilmiah” (scientific
marxisme). Partai buruh kelas sendiri, ketika berkembang ternyata mengalami
intitusionalisasi dan “birokratisasi”. Engles termasuk paling bertanggungjawab
mendistorsi Marx dan Marxisme. Sedangkan Stalin menya lahgunakan aspek-aspek
tertentu Marx muda dan Marx tua dengan mengorbankan Marx dewasa. Stalin
melakukan hal ini tak lain untuk menjadikan Marxisme sebagai dogma kaku yang
tidak menerima apa-apa kecuali materialisme ekonomi yang sempit.
Dari tiga tahap kehidupan Marx dan Marxisme, Syariati menolak
Marx pertama dan ketiga, tetapi menerima kebanyakan gagasan Marx kedua.
Syariati pada intinya setuju dengan paradigma yang membagi masyarakat
berdasarkan penguasaan bagian-bagian masyarakat atas alat-alat produksi. Dan
juga menerima paradigma pembentukan masyarakat atas dasar suprastruktur yang
bersifat politis-ideologis. Karena itu, Syariati menempatkan agama ke dalam
kategori suprastruktur politis-ideologis, sebab dalam prakteknya, para
penguasa-apakah politik maupun keaga maan-sering menjadikan agama tidak lebih
daripada sekedar “penenang” massa tertindas dengan menjanjikan kebahagiaan di
akhirat kelak. Lebih jauh, Syarti me ngadobsi pandangan Marx bahwa sejarah
manusia merupakan sejarah pertaru ngan antar kelas.
Tetapi, meski Syariati menerima Marx tentang gagasan pertarungan
antar-kelas, ia ti dak menerima institusionalisasi dan birokratisasi perjuangan
itu melalui partai komunis atau sosialis. Alasannya, hal itu hanya akan
mengakibatkan lenyatpnya paradigma ideologi revolusioner, karena dengan
institusionalisasi ia akan terus tunduk pada “hukum besi” birokrasi. Dalam
hubungan inilah Syariati mengkritik partai dan gera kan komunis di Eropa yang
menurutnya tidak menerima kenyataan bahwa dalam masa modern pertarungan
terutama tidak terjadi dilingkungan kapitalis dan buruh, tetapi di antara
imperialisme Barat dengan Dunia Ketiga.
Billaahi fi
sabililhaq
Hsndwsp Acheh – Sumatra
Di
Ujung Dunia
Keempat jenis manusia “Fir’un,
Karun, Hamman dan Bal’am” selalu tampil
setiap zaman diseluruh pelosok Dunia termasuk Indonesia, sebagai pendukung status quo dan
penentang perubahan sosial. MUI, FPI dan semacamnya, berdaya upaya termasuk
menggunakan Ayat-ayat Qur-an untuk melengserkan Gubernur dan Presiden yang merakyat
dan berwawasan kemanusiaan.
Seharusnya penduduk Nusantara itu berterimakasih
kepada Jokowi dan Ahok disebabkan dengan kemunculan mereka berdua dengan
segenap pendukungnya, Indonesia bebas dari
“Revolusi” yang sudah barang pasti banyak meminta pengorbanan darah dan
airmata. (hsndwsp, Acheh – Sumatra)
https://hankkuang.wordpress.com/2008/12/01/ali-syariati-1933-1977-sosialisme-islam/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar