Rabu, 29 Maret 2017

PENDIDIKAN ISLAM KAFFAH



MENYOROTI PENDIDIKAN ISLAM KAFFAH
by
hsndwsp
Acheh - Sumatra



"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu". (TQS al-Baqarah [2]: 208-209).



BERBICARA PENDIDIKAN ISLAM KAFFAH
SALAH SATUNYA ADALAH BERBICARA SYSTEM KEDAULATAN ALLAH
(SYSTEM ISLAM MURNI)



Bismillaahirrahmaanirrahiim
Berbicara tentang dunia pendidikan, tidak akan pernah selesai sebelum menuntaskan pembicaraan tentang ma nusia itu sendiri. Sebagaimana kita ketahui sesungguhnya ma nusialah pelaku pendidikan itu. Keberhasilan kita dalam merumuskan konsep pendidikan, tergantung sangat pada keberhasilan kita dalam mendefinisikan manu sia itu sendiri.


Konsep pendidikan yang kita saksikan dewasa ini di seluruh dunia, masih sangat jauh dari esensi pendidikan kemanusiaan. Di negara-negara yang maju seperti Amerika Seri kat, Perancis, Inggeris, Jerman, Jepang, Australia dan lain-lainnya, secara psykologis mereka sedang mengalami stress berat. Hal ini terjadi disebabkan mereka kehilangan model yaitu sosok manusia yang mampu membimbing mereka ke jalan yang benar. Me reka kehilangan teladan, representant, sosok yang mampu membuat mereka untuk ber esensi, justeru itulah mereka gagal untuk meru muskan tujuan hidup manusia sesung guhnya.

Di abad ke 21 ini kita masih berhadapan dengan 3 pertanyaan besar Dunia:

-- Siapakah manusia itu sesungguhnya?
-- Apakah tujuan hidupnya? (Untuk apa dia dijadikan)
-- Apa sajakah kebutuhannya?

Tiga pertanyaan utama di atas merupakan hal yang teramat penting untuk kita lon tarkan kepanggung Dunia agar dapat didiskusikan dengan seksama. Bila kita ingin me nuntaskan suatu persoalan, kita harus arif melihat akar permasalahannya. Berbicara tentang Manusia dan Pendidikan, tidak boleh tidak kita harus kembali kepada sang Khaliq sebagai sumber pendidikan dan Pencipta Manusia itu sendiri (Surah Al-Alaq 1-5).

Untuk mengetahui apakah manusia itu, pertama sekali mari kita lihat sebuah Legenda ilmiah berikut: "Seorang sarjana Bumi akan mengadakan penelitian di planet Mars. Seti banya di Mars, dia menemui sebuah University dimana seorang sarjana planet Mars se dang memberikan kuliah kepada mahasiswanya tentang hasil penelitiannya di Bumi. Sar jana Bumi memutuskan untuk mendengar kuliah sarjana planet Mars, bagaimana hasil penelitiannya di Bumi. Sarjana Bumi mencatat point yang dikira penting dari ucapan sarjana Mars: "...........Manusia itu pintar, kuat dan bagus bentuknya, tetapi mereka angkuh, serakah, licik dan kejam. Hobby mereka adalah berperang sesamanya. Mula-mu la saya kira mereka berperang untuk memakan dagingnya, rupanya prediksi saya keliru. Mereka meninggalkan mayat-mayat begitu saja setelah menyanyikan lagu heroiknya. Me reka berperang hanya untuk mengikuti perintah tuannya. Mereka tidak memiliki tuju an yang benar, untuk apa sebenarnya mereka berperang......."

Apa yang dinyatakan sarjana Mars itu sesungguhnya tidaklah menunjukkan esensi Manu sia, tetapi Basyar. Basyar adalah makhluk yang tidak pernah beresensi. Mereka adalah orang-orang yang tidak memahami tujuan hidup yang sebenarnya. Mereka tidak mene mui kebenaran disebabkan banyaknya kezaliman yang telah mereka kerjakan di planet Bumi ini. Mereka memang pintar tetapi tidak teguh Iman. Betapapun kebenaran kita sampaikan kepada mereka namun mereka tetap membantahnya dengan menggunakan versi "Hikayat Musang".
Berikut ini dengarkan apa kata Albert Camus tentang teory manusia: "Aku ada, karena aku memberontak, kalau aku tidak memberontak aku tidak pernah ada" . Inilah yang di katakan Manusia dan ini juga yang saya terima sebagai teori yang benar sebagai Manu sia/annas/becoming. (It's not just only being but becoming)

Adam adalah Malaikat yang baru menjadi manusia setelah memberontak terhadap intui si Syurga. Kecuali Adam, tidak seorangpun dibenarkan memberontak terhadap tatanan Allah. Pemberontakan terhadap tatanan Thaghut adalah proses Esensi manusia. Lihat lah bagaimana Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad yang masing-masing memberontak terhadap tatanan Namrud, Firaun, Kaisar-kaisar di Roma dan Abu Sofyan bin Harb. Imam 'Ali terhadap Muawiyah bin Abi Sofyan, Imam Hussein bin Ali terhadap Yazid, bin Muawiyah. Untuk lebih jelas mari kita lihat versi Pemilik Dunia ini sebagai argumen tasi yang mutlaq kebenarannya

Untuk menjawab pertanyaan apakah manusia itu, utamanya harus berpedoman pada kalam Ilahi (Q.S 2:30). Bila Kitab Al Qur-an kita baca keseluruhannya akan kita te mui banyak kesimpulan, diantaranya kesimpulan tentang Malaikat, Iblis dan Adam. Sesungguhnya ketiga jenis makhluk diatas pada awalnya adalah Malaikat. Yaitu Malai kat yang diciptakan dari sinar (saya istilahkan dengan M1), Malaikat yang diciptakan dari api (saya istilahkan dengan M2) dan Malaikat yang diciptakan dari tanah (saya istilahkan dengan M3). Adapun urutan penciptaannya adalah, M1, M2, dan terakhir sekali M3.

M1 adalah Malaikat yang tunduk patuh secara mutlak kepada Allah, sejak dari pencipta annya sampai hari Kiamat, bahkan hari Akhirat. M2 Malaikat pembangkang, tidak ma hu tunduk patuh kepada Allah. Setelah Allah menciptakan M3, Allah memberi perin tah kepada M1 dan M2 supaya sujud kepada M3. M2 berkilah dengan kesombongannya bahawa dia dijadikan dari api sedangkan M3 (Adam) dijadikan dari tanah yang menurut M2, M3 lebih hina daripada M2. Disamping itu M2 juga beragumentasi bahwa dia dija dikan lebih duluan dari M3 (Lalu Allah mencabut status Malaikatnya dan mengganti kannya dengan status Iblis atau Syaithan dan dia termasuk golongan kafir, sementara tempatnya kelak dalam Neraka (QS,7:11-18). Sedangkan M3 setelah bernegosiasi de ngan M1 ternyata dia lebih unggul dari M1. M3 memiliki ilmu, ilmu tentang nama-nama yang tidak dimiliki oleh M1. Justru itu pantaslah Allah mengangkat Adam seba gai wakilNya di Bumi. Hal ini diabadikan Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 30 - 34.

M3 ditempatkan Allah dalam Syurga bersama permaisurinya Siti Hawa. Allah memberi tahukan mereka berdua agar jangan mendekati pohon ini (hazihis syajarata) sebagai ba tas daerah operasionalnya di kawasan Syurga. Secara syar'i M1 dan permaisurinya dige lincirkan Syaithan dengan mengatakan bahwa pohon itu bernama pohon Kekal (khuldi). Agar kekal tinggal di Syurga, M3 ditawarkan untuk memakannya. Dan M3-pun tergoda bersama permaisurinya. Karena telah melanggar batas yang telah ditentukan Allah, M3 berobah statusnya menjadi Manusia yang bernama Adam dan keduanya diperintahkan turun ke Bumi. Karena pelanggaran yang dilakukan M3 akibat ulah M2, Allah masih menerima taubatnya di Dunia yang kelak akan kembali lagi ke Syurga. Hal ini dapat ki ta lihat dalam Surah Al Baqarah ayat 35 - 38.

Secara philosofis kendatipun Syaithan menggoda M3, M3 tahupersis resiko memakan buah kayu tersebut yang secara philosofis juga lebih tepat dinamakan buah Kearifan. Ketika M3 sadar mereka tidak produktif di alam surgawi, mereka berkorban demi ke manusiaan dengan cara memakan buah Kearifan . Kendatipun resikonya diturunkan ke Bumi, sebagai hukuman dari pelanggaran yang mereka lakukan, namun mereka juga pu nya nilai plus yaitu disamping punya Wawasan dan Kearifan mereka juga sudah dapat berproduksi sementara sebelum memakan buah kearifan, mereka harus tunduk patuh secara mutlak terhadap Konstitusi yang ada di Syurga, tanpa memberi kesempatan kepada keduanya untuk berfikir bebas dan juga bebas berbuat dengan segala resikonya.

Diatas segalanya mereka melepaskan diri dari status Malaikat yang tunduk patuh seca ra mutlak kepada Allah menjadi Manusia yang bebas berbuat dan mengembangkan ketu runannya (berproduksi). Pengorbanan M3 sangat diharapkan manusia sebagai keberun tungan. Andaikata M3 tidak mahu memakan buah Kearifan, sampai hari ini mereka te tap berdua saja yaitu M3 dan permaisurinya Siti Hawa.Sebab di Syurga hanya tempat bersenang-senang dan menikmati fasilitas Syurga yang serba kompleks, gemerlap dan fantastis, bukan tempat bekerja dan melahirkan bayi. Andaikata di Syurga dapat mela hirkan bayi, otomatis memerlukan kerja, paling kurang baby sister, buat perawatan ba yi-bayinya. Padahal di Surga tidak ada anak-anak dan juga tidak ada orang tua. Umur mereka semua muda belia dan jangan lupa kelak Imam Hassan dan Imam Hussein sebagai ketua pemudanya di Syurga (Hadist Nabi suci)

Adam sebagai manusia pertama, diciptakan Allah dari tanah, elemen yang paling hina namun di kombinasikan dengan roh Allah,spirit suci. Justru itu pada manusia terdapat dua kecenderungan. Kecenderungan mengikuti tanah sebagai bahan bakunya yang mem buat dia hina dan kecenderungan mengikuti spirit Allah, roh suci yang menjadikan dia sangat mulia dalam pandangan Allah (lebih unggul dari para Malaikat). Tubuh manusia berasal dari tanah namun kendatipun dia cantik (ganteng) tidaklah berarti apa-apa kalau tidak ada nyawa, roh suci. Tubuh tanpa nyawa akan menjadi santapan cacing-ca cing tanah.

Kehidupan di Dunia akan menghadapkan manusia pada dua jalan. Jalan yang mendaki lagi sukar dan jalan yang mulus lagi menyenangkan (QS,90:10). Jalan yang mendaki lagi sukar adalah jalan yang membebaskan kaum dhuafa dari belenggu penindasan dan penjajahan, yang menimpa kuduk-kuduk mereka, membebaskan manusia dari system perbudakan, baik perbudakan ortodok maupun perbudakan modern (QS,7:157 & QS, 90:12-18). Untuk menempuh jalan ini tidak boleh tidak dituntut untuk mendirikan system Allah. Untuk mendirikan sistem Allah membutuhkan kemantapan Power dan Ideology sebab pasti akan berhadapan dengan kekuatan system Thaghut, jelasnya pasti akan berhadapan dengan medan tempur. Justru itulah para Rasul dilengkapi dengan Ideology, Mizan dan Power (QS Al-Hadid : 25).

Setelah periode para Rasul berakhir, tugas mendirikan system Allah dilanjutkan para Imam yang diutus. Andaikata di suatu negeri tidak ada para Imam, tugas tersebut akan diambil alih oleh Ulama warasatul Ambia atau Penyeru-penyeru kebenaran secara kolektif sebab tugas mendirikan system Allah adalah Haq, lawan kata daripada Bathil. Hal ini perlu digarisba wahi sebab banyak orang yang terkecoh dengan pendapat klasik yang mengatakan hukumnya wajib. Haq dalam konteks ini kedudukannya di atas wajib. Bila hukumnya wajib, andaikata tidak didirikan paling-paling berdosa. Sedangkan perkara dosa masih ada jalan untuk meminta ampun. Sedangkan perkara Haq, bila tidak didiri kan hukumnya bathil. Resiko berada dalam system yang batil adalah Neraka. Andaikata kita tidak berada dalam system Allah (Haq), otomatis kita berada dalam system Tha ghut (bathil) kecuali taqiyah. Untuk kasus ini Allah berfirman; "Qul ja al haqqu waza haqal baathil, innal bathilakana zahuuqa"

Jalan yang mulus lagi menyenangkan adalah jalan Qabil, pembunuh manusia. Jalan Nam ruz, Fir-aun, Kaisar-Kaisar di Rhoma. Jalan Abu Sofyan bin Harb, Muawiyah bin Abi Sofyan, Yazid bin Muawiyah. Jalan orang-orang yang bersatupadu dalam system Tha ghut  kecuali terpaksa "Taqiah". Kesemuanya adalah jalan orang - orang yang mencari kebahagiaan Dunia diatas penderitaan orang lain (baca kaum mustadh’afin). Mereka itu umumnya baik secara langsung maupun tidak langsung, menentang ayat-ayat Allah. Me reka sekedar bereksistensi dan tidak pernah beresensi. Manakala berbicara tentang Ne gara Islam, Kedaulatan Allah, System Allah, sebagian mereka langsung menentangnya, sementara sebagian yang lain merasa grogi, memperlihatkan sikap yang tidak se nang dengan mengemukakan berbagai dalih. Tidak mungkinlah, mustahillah, mimpilah, dsb. Mereka mengaku diri sebagai orang beriman, Islam. Mereka sesungguhnya telah dinya takan Allah dengan jelas dalam Al Qur-an Karim surat Al Baqarah ayat 8 - 20. Hal ini juga terdapat dalam surat yang lainnya seperti Surat Al-Munafiqun dari ayat 1 sampai ayat 8 dan juga ayat-ayat di surat-surat lainnya.

Untuk menjawab pertanyaan kedua: apakah tujuan hidup manusia, ada beberapa penda pat yang beredar di kalangan Ummat Islam tentang tujuan hidup. Ada yang mengata kan tujuan hidup adalah untuk mencari kese nangan, kebahagiaan, kesejah teraan, ke tenteraman, keamanan dan keharmonisan. Orang-orang yang menga kui tujuan hidup seperti itu, sangat tidak mungkin untuk diajak mendirikan system Allah. Mereka tidak mahu mengambil resiko yang akan memba hayakan kehidupannya. Sementara yang lain meyakini bahawa tujuan hidup adalah untuk beribadah. Mereka meyakini bahawa yang dimaksudkan ibadah hanyalah shalat, shaum (puasa) bertahlil dan bersamadiyah, berdo 'a, membaca Quran dan naik Haji ke Baitullah. Mereka itu keliru 180 derajat. Kekeliru an ini disebabkan ketidaktepatan dalam menterjemahkan kata "liya'buduni" dalam Surat Azzariyat ayat 56. Adapun terjemahan yang tepat adalah: "tunduk patuh kepadaKu" lengkapnya: "tidaklah Kujadikan Jin dan Manusia kecuali untuk tunduk patuh ke pada Ku".

Namun demikian tidaklah salah kita terjemahkan beri'badah kepada-Ku asal saja kita mampu memahami apakah "ibadah" itu sesungguhnya. Apa saja kegiatan manusia di dunia ini disebut i'badah mulai dari aktivitas yang terkecil (kedip mata) sampai mem bangun Daulah Allah (System Allah). Tinggal lagi alamat i'badah terse but ada dua, yaitu Allah dan Thaghut. Kedip mata saat membaca Kitab Al-Quran untuk membuat lebih jelas/terang berarti beribadah kepada Allah, sedangkan kedip mata saat berjumpa dengan lawan jenis adalah beri badah kepada Thaghut. Mendirikan system Allah berarti beribadah kepada Allah sedangkan mendirikan sys tem Thaghut berarti beribadah kepa da Thaghut. Disamping itu kita juga harus memahami benar bahwa ibadah itu memiliki dua dymensi yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya bagaikan dua sisi mata uang. Yaitu sisi ritual (hablum minallah) dan sisi sosial (hablum minannas). Ibadah da lam persepsi orang sesat, hanyalah mencakup sisi ritual saja, mereka cenderung menga baikan sisi sosialnya, termasuk ibadah sosial yang terbesar yaitu mendirikan system Allah (kedaulatan Allah).

Membaca Qur-an adalah ibadah ritual. Ketika kita pahami dalam bahasa kita sendiri untuk kita amalkan, barulah masuk wilayah sosial, kecuali penduduk Dunia yang berba hasa Arab. Hal inilah yang membuat orang keliru. Banyak sekali orang-orang yang me ngaku dirinya orang Islam, namun tidak memahami akan fungsi Al Qur-an. Padahal Allah sendiri telah menyatakan dalam Al-Quran: "Kitab (Qur-an ini) tidak ada kera guan (sedikitpun) padanya, adalah sebagai Petunjuk bagi orang-orang yang taqwa". Namun mereka sepertinya telah merobah fungsi Al Qur-an dari hudal lin Naas kepada lil Qari. Bagaimana mungkin pada satu sisi kita mengaku al Qur-an sebagai Pedoman Hidup, namun di sisi yang lain kita hanya membaca-baca saja tanpa be rusaha memaha mi pesan-pesan Allah dalam pedoman itu sendiri.

Dewasa ini memang sudah menjadi kenyataan dimana-mana hampir di seluruh dunia, ba nyak sekali sekolah-sekolah yang kuri kulumnya sekedar membaca Qur-an, menghafal Qur-an dan menggunakan Qur-an sebagai seni, baik seni qari maupun seni kaligrafi. Se pertinya tak ada sama sekali sekolah memahami Qu-ran. Kalau kita pikir berdasarkan pesan Allah sendiri " . . . .Afala ta'qilun dan afala yatazakkarun". Bagaimana mungkin ada sekolah untuk memahami al Qur-an di negara-negara yang menggu nakan system Thaghut. Andaikata ada sekolah memahami Qur-an di negara tersbeut pastilah akan bermuara kepada mendirikan system Allah. Itulah yang membuat mereka berusaha untuk mempelintirkan fungsi Qur-an di tengah-tengah ummat Islam (ayat-ayat muh kamat dikatakan mutasyabihat). Ini sebetulnya kerjanya antek-antek Snough Hugro nye. Snough Hughronye adalah orientasli bangsa Belanda yang telah mengenyam pen didikan di Saudi Arabia selama lebih kurang 20 tahun dan berhasil mengelabui seba hagian besar bangsa Acheh - Sumatra dengan menukar namanya menjadi Abdul Ghafur.

Orang-orang yang meyakini tujuan hidup hanya untuk beribadah ritual semata, juga meyakini untuk mencari pahala semata-mata. Keyakinan mereka berbuat baik di dunia juga untuk mem peroleh syurga di Akhirat ke lak. Untuk memperjelas masalah ini pembaca dipersilakan me ngikuti alinea berikut dengan seksama. Sebagai mana yang telah ditegaskan oleh Allah SWT: " . . . . . afala ta'kiluun? . . . . . . . afala yatazakkarun?"

Umpamakan saja kita mempunyai dua orang kemenakan. Yang pertama bernama Bal'am dan yang kedua bernama Mukhlis. Si Bal'am senantiasa siap melakukan apa saja yang kita suruh asal saja memberikan sedikit uang setiap tugas itu dilaksanakan. Sementara si Mukhlis juga siap apasaja yang kita suruh, namun dia tidak mengharapkan pemberian kita. Dia mahu melakukan apa saja yang kita suruh adalah semata-mata karena kita adalah pamannya. Sebagai paman se jati, kita mustahil mengabaikan keihklasan karya baktinya. Sudah barang pasti kita akan mem berikan yang terbaik sebagai imbalannya pada saat - saat tertentu. Si Bal'am perumpa maan orang-orang yang berbuat baik di Dunia ini dengan mengharapkan pahala yang nota benenya tentu saja Syurga.

Mereka menfokuskan harapannya pada pemberian Allah, bukan padaNya. Sedangkan si Mukhlis, perum pamaan orang-orang yang berbuat baik di dunia secara ikhlas tanpa mengharapkan pahala. Mereka mahu berbuat baik semata-mata kerana Allah yang mereka yakini benar sebagi Tuhannya, Kekasih nya, Pemiliknya. Orang-orang yang memperham bakan diri kepada Allah semacam itu Allah pasti memberi Syurga kepada mereka di hari Akhirat kelak. Si Bal'am pasti akan menjadi orang jahat di permukaan planet Bumi ini andai kata, Oh, "Andaikata" ini harus digarisbawahi agar tidak terjadi kesalahpahaman (mis-under standing) bak kata orang European. Andaikata Allah tidak membuat Neraka, orang-orang seperti Si Bal'am pasti menjadi orang jahat di Dunia ini, sebab mereka juga akan memperoleh fasilitas surga kelak di hari Akhirat (Imam Khomeini: 40 Hadis-hadis Pilihan, Penerbit Mizan Bandung).

"Afala ta'qilun?, afala yatazakkarun?"
Karena manusia dijadikan Allah dari dua unsur, tanah dan spirit Allah, kebutuhanpun terdiri dari dua unsur, unsur material dan unsur spiritual. Dengan kata lain manusia membutuhkan kurikulum perut dan kurikulum otak. Karena manusia membutuhkan kedua jenis kurikulum tersebut, Allahpun melengkapi manusia dengan ilmu primer dan sekunder. Ilmu primer adalah ilmu yang diturunkan Allah melalui para Rasul yaitu Al-Quran dan Hikmah (QS 62: 2). Sipapun yang telah memiliki ilmu tersebut pasti tidak akan sesat dalam hidup ini. Ilmu tersebut merupakan sebagai mesin untuk menghidupkan "lampu-lampu" kehidupan yang dapat menerangi jalan hidup seseorang untuk menapaki jalan yang lurus (Mahdi Ghulyani: Falsafah Al-Quran dalam Perspektif Ilmu-ilmu Islam, Mizan Bandung). Di dunia Barat pada umumnya mengalami kekosongan daripada jenis ilmu-ilmu tersebut. Hal ini terjadi bersamaan dengan kehilangan manusia teladan, representant atau model untuk ditiru. Sedangkan di dunia Timur umumnya mengalami dekaden.

Di dalam ilmu primer tersebut di atas terdapat juga sinyal-sinyal berkenaan dengan ilmu-ilmu sekunder. Dengan istilah yang lain terdapat lampu-lampu untuk menerangi esensi dari ilmu-ilmu sekunder. Ilmu sekunder dibutuhkan manusia untuk meraih kesejahteraan hidup di atas planet Bumi ini. Dengan kata lain, ilmu sekunder yaitu ilmu untuk mempermak permukaan Bumi ini sekalian dengan manusianya yaitu science dan tekhnology. Ilmu tersebut diturunkan Allah di "Padang Arafah", tempat pertama bertemunya Adam dan Hawa. Sedangkan ilmu Hikmah diturunkan di "Masyarul Haram", suatu tempat yang ditujukan Adam dan Hawa untuk mendapatkan kesadaran suci (DR 'Ali Syari'ati: Haji. Penerbit Rajawali, Surabaya).

Ilmu sekunder (science dan technology) merupakan suatu alat untuk meraih Tujuan Hidup yang benar, yaitu mencari keredhaan Allah. Kalau pemilik alat tersebut juga memiliki petunjuk yang benar (baca ilmu primer) otomatis mereka akan menggunakan alat tersebut untuk mencari keredhaan Allah. Berbicara tentang alat sama dengan berbicara tentang sarana. Umpamakan saja "GLM" yang pernah digunakan TNA dalam perjuangan kemerdejkaannya. Persoalannya sekarang kalau GLM itu di pegang oleh orang-orang yang sedang mabuk (gila) tentu me reka akan menembak siapa saja yang melintas di depan mata kepalanya. Namun kalau pe megang GLM tersebut orang-orang beriman (memiliki ilmu primer yang benar) mereka tidak akan menembak siapapun kecuali musuh Allah, yaitu orang-orang yang haq ditembak, berda sarkan petunjuk Allah sendiri dari Al Qur-an (QS,4:75-76,QS,2:193,216,QS,8:60-65,73,QS,4:71-78,QS,9:14-15) dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya. Dengan demikian kalau ada orang yang mengatakan bahwa ilmu science dan tehnology itu ilmu sekuler, keliru 180 derajat. Ilmu tersebut netral, sekuler tidaknya suatu ilmu tergantung kepada pemiliknya. Ilmu tersebut berasal dari Allah (Imanuddin Abdul Rahim, Pengantar buku Islam Alternatif, karya DR Jalaluddin Rah mat, Penerbit Mizan, Bandung).

Pendidikan
Berbicara tentang Pendidikan adalah berbicara tentang kebutuhan manusia. Sebagaimana yang telah penulis uraikan di atas yang berhubungan dengan pertanyaan nomor 3, yaitu apa saja kebutuhan-kebutuhan Manusia.

Dalam alinea-alinea berikut ini akan kita bicarakan konsep pendidikan Islam secara Kaffah. Ber bicara menge nai konsep sama halnya dengan berbicara tentang Percetakan dalam suatu Pabrik/mesin Pencetak. Jadi yang pertama kita pikir adalah model barang yang bagaimana yang dibutuhkan konsumen. Sedangkan konsep Pendidikan adalah percetakan kader-kader yang dibutuhkan oleh Pemilik konsep itu sendiri. Kalau kita ingin membuat konsep pendidikan Islam secara Kaffah, pemilik konsepnya adalah Allah. Artinya konsep yang kita buat haruslah berdasarkan petunjuk Allah dalam Al Qur-an. Justru itu kurikulum setiap jenjang pendidikan haruslah terdiri dari materi pema haman Al-Quran di urutan nomor satu, mulai dari sekolah lanjutan pertama sampai ke Perguruan Tinggi.

Di Perguruan Tinggi selain adanya materi Pemahaman Al-Quran sebagai mata kuliah mayor di setiap jurusan, pemahaman Al-Quran juga harus merupaka syarat mutlak untuk meraih gelar sarjana. Sedangkan di S2, dan Program Doktoral otomatis tentang pemahaman Al-Quran dalah pakarnya. Konsep seperti ini akan membuahkan manusia-manusia yang pintar dan juga teguh Iman. Setiap lembaga pendidikan dapat dipastikan bah wa materi yang terutama adalah Pemahaman Al-Quran. Lalu porsi kedua ditempatkan oleh Hadist Ittrah Nabi suci. Sejarah Para Rasul, Imam-imam yang di utus dan Ulama Warasaul Ambiya. Selanjutnya diikuti oleh materi perbandingan mazhab yang difokuskan pada toleransi yang sangat tinggi antar semua pengikut mazhab. Mengingat pesan persatuan sangat diutamakan dalam Islam sejati (QS,3:103-107), sehingga kita sadar siapa musuh kita yang sebenarnya. Sering kali terjadi pertikaian antar mazhab di tengah-tengah komunitas kaum muslimin, padahal hal ini merupakan PR yang disodorkan oleh musuh-musuh kita.

Biaya Pendidikan sejak dari Sekolah Dasar sampai ke Perguruan Tinggi ditanggung sepenuhnya oleh Negara, termasuk biaya transportasi. Sedangkan gaji para guru haruslah yang tertinggi dibandingkan pegawai-pegawai lainnya termasuk militer sekalipun. Dalam pandangan Islam, guru adalah posisi yang paling mulia di tengah-te ngah masyarakat. Dalam hal ini kita dapat meyaksikan apa yang terjadi di Acheh khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Dari penelitian yang pernah penulis buat dengan opsi guru, dokter, tentara, dan pegawai sipil, rata-rata responden lebih suka menjadi dokter dan tentara daripada guru. Minat untuk jadi guru lebih tipis bahkan dibandingkan dengan pegawai sipil sekalipun. Hal ini terjadi disebabkan financial guru yang kurang terja min dibandingkan dengan pegawai lainnya.

Perpustakaan
Perpustakaan merupakan sarana yang paling penting dalam dunia pendidikan, sama halnya dengan Apotik da lam dunia pengobatan. Karena itu perpustakaan haruslah selektif daripada unsur-unsur yang merusakkan idealis Islam. Buku-buku orientalis tidak boleh dibaca kecuali pasca Sarjana, mengingat mereka adalah orang-orang yang telah mantap di bidang 'Akidah/ Ideology, Siasah Fatanah (politik Rasul) dan Sejarah Islam.

Untuk orang-orang non akademis (masyarakat biasa) membutuhkan Perpustakaan Keliling yang juga gratis/ dibiayai oleh Negara. Buku-buku di Perpustakaan Keliling juga harus selektif benar, sedangkan buku-buku yang masuk dari Luar Negeri harus melalui tim sensor yang be nar-benar terpercaya dan bertanggung-jawab kepada Allah SWT. Apabila konsep Perpustakaan Keliling berhasil diterapkan akan membuahkan kesadaran masyarakat Islam yang luarbiasa. Seorang kepala keluarga akan sadar bahwa ketika mereka kembali ke rumah tangga tidak hanya membawa roti kepada keluarganya tetapi juga buku. Roti pelambang makanan adalah sarana un tuk memenuhi kurikulum perut (empat sehat lima sempurna), sedangkan buku untuk meme nuhi kebutuhan kurikulum otak. Hal ini memang tidak akan berhasil selama pemimpin-pemimpin negara itu sendiri belum siap untuk hal seperti itu.

Jadi faktor kepemimpinan sangat menentukan keberhasilan suatu konsep. Karena itu berbicara Pendidikan Islam kaffah adalah berbicara system kedaulatan Allah dimana Pemimpin Top Leadernya pastilah Imam atau minimal Ulama Warasatul Ambiya yang tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah.

Pemimpin yang bertype seperti itulah yang benar-benar memimpin ummahnya ke jalan yang diredhai Allah dan ummahpun bersatu padu bergerak ke arah yang sama pada poros bimbingan Sang Imam (Wakil Tuhan). Ne gara yang memiliki ummah dan Imamah seperti itulah yang da pat disebut Baldatun Thaiyyibatun Wa Rabbun Ghafur. Tidak sembarangan negara dan tidak mungkin disandang oleh suatu negara yang nota benenya lebih tepat disebut negara Thaghut macam Hindunesia-Jawa, bukan?

Penutup
Karena sumber pendidikan manusia berasal daripada Allah (Surah Al-Alaq 1-5), maka konsep Pendidikan Islam Kaffah haruslah dapat memproduksikan manusia-manusia yang pintar dan teguh Iman, bukan manusia-manusia sekuler. Kalau Manager Perusahaan harus memahami produksi yang bagaimana dibutuhkan konsumer, Manager Pendidikan harus memahami kualitas manusia yang bagaimana dikehendaki Allah, bukan yang dikehendaki masyarakat/konsumen.

Billahi fi sabilil haq.
hsndswp
di

Ujung Dunia

Sabtu, 25 Maret 2017

ANTARA PENDAKWAH BERKHIDMAT DAN BERISLAKH




ALLAH SWT MENUNTUT HAMBANYA YANG BERIMAN KEPADANYA, RASULNYA 
DAN ULILAMRI YANG DIUTUS PASKA KEWAFATAN RASULULLAH UNTUK MENERUSKAN 
DAKWAH BERISLAKH 
BAGI SETIAP MANUSIA KUTUB HABIL YANG MEMILIKI KEMAMPUAN AGAR MANUSIA KUTUB QABIL SEGAHAGIANNYA SADAR UNTUK BERPATAH BALIK DAN MENJADI MANUSIA KUTUB HABIL
hsndwsp
Acheh - Sumatra
di
Ujung Dunia



Bismillaahirrahmaanirrahiim

Suatu hari ada 4 pendakwah melakukan prakteknya di kalangan masyarakat dan disaksi kan oleh Imam ‘Ali bin Abi Thalib sebagai Amirul Mu'minin saat itu di Kofah, Irak. Pendakwah pertama berceramah hingga mampu membuat pendengar ketawa terba hak-bahak. Adalah hal yang sama dilakukan juga oleh pendakwah kedua dan ketiga. Lalu Imam ‘Ali bangun hingga ketiga pendakwah tadi tau apa yang hendak dilakukan Imam, lalu mereka lari terbirit-birit. Pendakwah keempat bangun dan memberita hukan Imam bahwa dia tidak bersalah dengan alasan belum diberikan kesempatan untuk berceramah. Imampun mempersilakan dia untuk naik panggung.

Tidak seperti ketiga pendakwah tadi, pendakwah keempat ini saat berbicara tentang Neraka mengalir airmatanya hingga pendengarpun ikut menangis. Saat dia berbicara tentang Surga wajahnya mulai berbunga-bunga namun saat dia berbicara perjuangan mulai merah matanya hingga wajahnyapun ikut memerah. Setelah turun panggung, Imam mengatakan bahwa pendakwah keempatlah yang benar-benar sebagai pendakwah yang haq sementara pendakwah yang pertama, kedua dan ketiga adalah tukang san diwara.

Pendakwah yang pertama, kedua dan ketiga adalah pendakwah yang berkhidmat. Pendakwah semacam itu tidak mencari redha Allah tetapi mencari redha publik atau masyarakat. Pendakwah yang semacam inilah yang disenangi kebanyakan penduduk dunia dewasa ini. Andaikata pendakwah semacam itu mendapat undangan dari kumpulan wanita yang mengaku beragama Islam tetapi mereka tidak tutup aurat yang berarti tidak beriman kepada kalam Allah surah an Nur 30-31 dan al Ahzab, dapat dipastikan tidak akan pernah menjelaskan apa Kata Allah dalam surah an Nur dan al Ahzab tersebut, kenapa? Dia khawatir kalau dia sampaikan ayat-ayat tersebut besar kemungkinan tidak akan diundang lagi buat masa-masa berikutnya, dengan demikian dia akan kehilangan amplopnya.

Dizaman Suharto wanita-wanita PKK berpakaian khusus tanpa menutup aurat tetapi kita tidaktau persis apakah wanita PKK sekarang priode Jokowi sudah tutup auratnya atau belum. Disaat itu juga para pendakwah kebanjiran amplop di musim-musim bulan Maulid namun mereka tidakpernah menyentuh kezaliman pemerintah, takut berhadapan dengan penjara. Mereka asik berbicara tentang persoalan mempelai lelaki pulang kepada mempelai perempuan, hukum mandi wajib dan doa-doa masuk WC, dengan gaya kocak ala Zainuddin MZ dan AA Gym yang membuat partisipan ketawa terbahak-bahak. Itulah yang namanya pendakwah berkhidmat. Mereka berkhid mat kepada penguasa dan masyarakat yang sami’na waata’na kepada penguasa. Sementara kaum mustadhafin tetap menjadi bulan-bulanan para Bal’am yang bercokol di lembaga MUI.

Adapun pendakwah yang haq disisi Allah serta mendapat redha Nya adalah pendak wah yang berislakh. Mereka berdakwah bukan untuk menyenangkan masyarakat tetapi untuk memperbaiki kesalahan mereka agar menemukan kebenaran sejati bukan kebena ran semu, kononpula membuat mereka ketawa terbahak-bahak. Kalau pendakwah sema cam itu mendapat undangan dari Ibu-ibu PKK, dia akan menyampaikan pesan Allah dalam surah an Nur dan al Ahzab sesuai penyakit yang sedang dihinggapi kaum hawa itu serta berpesan kepada mereka agar tahut kepada Allah bukan takut kepada Manusia. Pendakwah semacam itu tidak takut kehilangan isi amplopnya. Dia tidak berdakwah agar diundang lagi waktu-waktu berikutnya. Dia mencari redha Allah bukan sekedar redha manusia.

Kedatangan Raja Arab Saudi yang lalu ke Indonesia membuat kita bertanya-tanya, ke napa rakyat Indonesia tidak berpikir kritis agar terbongkar kezaliman derajaan terse but yang mengklaim diri sebagai penganut Islam sementara mayoritas rakyat Arab Saudi hidup morat-marit.  Mereka yang kaya akibat kedekatannya dengan penguasa negara hidup bersenang-senang atas penderitaan kaum mustadhafinnya. Kalau Indonesia berkiblat ke Arab Saudi di zaman Suharto sampai Yudhoyono, bukankah dizaman Jokowi rakyat sudah mulai sadar, benarkah?

Yang namanya Islam itu memang pasti "Kaffah" tetapi kita bersabar bahwa di zaman Jokowi rakyhat sudah mulai merasakan kenikmatannya walaupun belum 100% dan belum sampai keseluruh kawasan termasuk Acheh-Sumatra. Ketika sang Raja Arab itu datang, seharusnya wanita-wanita Indonesia tidak lagi berpakaian ala putri-putri raja yang tidak Islami tetapi sudah waktunya untuk berkaca dan menelusuri bagaimana pakaian putri kesayangan Rasulullah saww, Fatimah az Zahara. Prototype pakaian Az Zahara dapat anda saksikan pada photo yang terpampang di catatan singkat ini.

Bagi Muslim sejati dituntut Allah agar masuk Islam secara Kaffah, namun kita tetap menghormati penganut agama apapun yang berwawasan kemanusiaan macam Ahok alias Basuki Cahaya Purnama. Sayangnya beliau yang berwawasan kemanusiaan, kerakyatan, pintar, jujur, berani dan bijaksana serta mampu memberantas korupsi dan berbagai bentuk jenis kezaliman lainnya di Jakarta, dituduh menistakan agama. Belum ada seorang pemimpinpun yang mengaku ber KTP Islam di Indonesia, tegas memberan tas korupsi dan kezaliman jenis lain nya di kota Jakarta kecuali presiden Jokowi dan Ahok.

Para penghuni di lembaga MUI dulu bersekongkol dengan penguasa di zaman Suharto sampai Yudhoyono (semoga Yudhoyono bertaubat mendengar keterangan saya ini), sebaliknya mulai berseberangan jalan dengan presiden Jokowi dan juga Ahok, kenapa?  Sebabnya Presiden Jokowi mulai menjadi pembela Rakyat dan penampilannyapun macam orang biasa. Semoga Presiden Jokowi sadar bahwa MUI harus dibubarkan agar niatnya membela Rakyat tidak terhambat oleh para Bal’am tersebut. Alhamdulillah kita memahami esensi Haji dimana antara manusia-manusia yang jahat itu justeru para Bal’amlah yang paling berbahaya bagi kemanusiaan.

Kini saat Ahok berpihak kepada kaum mustadhafin Jakarta serta menyatakan tekatnya untuk memberantas korupsi, sang Bal’am malah berdaya yupaya untuk menyingkirkan Ahok dengan tuduhan palsu bahwa ahok pendusta agama. Mereka dan pengikutnya tidak sadar bahwa justeru merekalah penista agama yang sebenarnya, membiarkan kaum mustadhafin hidup senin-kemis sementara para Bal’am hidup dengan "sedekah penguasa". 

Para Bal’am memang realitanya tidak memahami  bahwa Qur-an itu ada hubungan antara satu ayat dengan ayat lainnya. Ayat 51 surah al Maidah memang mutlak dilarang Allah berteman baik dengan Yahudi dan Nasrani yang beraliansi satu-sama lainnya dan siapapun yang tidak menggubris larangan Allah ini, mereka pasti tidak lagi termasuk Muslim disisi Allah swt. Kemudian perlu kita tambahkan bahwa kalau berteman saja dilarang, memilih sebagai pemimpinpun lebih terlarang lagi (So tidak jadi soal, multi terjemahan). Yang musti kita pertanyakan, apakah Allah melarang kaum Muslimin berteman dengan semua Yahudi dan Nasrani? Jawabannya pasti "TIDAK". Ketika kita menggunakan ayat 51 dalam khazanah HUKUM, kita musti lihat ayat lainnya diantaranya ayat 82 surah yang sama. Ahok termasuk fenomena dalam ayat 82 bukan ayat 51;

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan se sungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini adalah Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena diantara mereka itu (orang-orang nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri”. (QS, al-Maidah : 82)

Dengan demikian jelaslah benar ucapan Ahok di Pulau Seribu bahwa Ahok tidak meni takan agama sebab beliau masuk dalam kategori ayat 82 bukan ayat 51. Apakah masih terlalu sukar untuk dipahami?

Kedua Andaikata Allah tidak menurunkan ayat 82 surah al Maidah, Ahokpun tidak boleh dihukum dengan ayat 51, kenapa? Sebab Indonesia bukan Negara Islam tetapi Negara Muslim. Ayat tersebut diturunkan dalam system Islam dan untuk System Islam bukan untuk System Thaghut. Seharusnya andaikata penghuni lembaga MUI bukan Bal’am, mereka tau apa bedanya antara Negara Islam dengan Negara Muslim.

Habib Rezieq seharusnya bertaubat kalau dia masih menginginkan agar FPI tidak dibubarkan pemerintah yang memihak Rakyat sekarang. Sebetulnya kritik ini buat mereka bukan atas dasar benci tetapi atas dasar kewajiban kaum Muslimin saling nasehat-menasehati. Kita pernah dikritisi teman fb bahwa tidak baik kita berulang-ulang atas persoalan yang sama. Kita berkeyakinan bahwa sebelum persoalan tersebut ditindaklanjuti dengan benar, perlu kita kritisi terus menerus hingga berhasil. Bukankah Allah sendiri mengulang berkali-kali terhadap persoalan yang penting?

Billahi fi sabilil haq
Angku di Tampokdjok, Awegeutah


Acheh - Sumatra

http://live.feedjit.com/live/feedjit.com/a0117352e993dfb4/
http://live.feedjit.com/live/feedjit.com/a0117352e993dfb4/

Senin, 13 Maret 2017

MARI KITA ANALISA ESENSI PELEMPARAN JAMARAH DI MINA DALAM PELAKSANAAN IBADAH HAJI AGAR HAJI ITU TIDAK TERKESAN SEKEDAR MERAIH "TITEL HAJI" TETAPI BENAR-BENAR MENDAPAT REDHA ALLAH SWT




FENOMENA INI MENGAJAK KITA UNTUK BERFIKIR WAHAI SAUDARAKU AGAR AGAMA KITA MENJADI SIGNIFIKAN DALAM KEHIDUPAN INI 

PELEMPARAN JAMARAH DI MINA MERUPAKAN SINYAL-SINYAL UNTUK MEMAHAMI 3 TYPE MAKHLUK YANG BERBAHAYA 
BAGI KEMANUSIAAN
MANUSIA SEJATI MENDAMBAKAN RAHMATAN LIL’ALAMIN
TOLERAN DAN BERWAWASAN KEMANUSIAAN
Hsndwsp
Acheh - Sumatra
Di
Ujung Dunia



Bismillaahirrahmaanirrahiim

Ada tiga Berhala di Lembah Mina:
1) Jamaratul `Ula (‘Fir’un’/Penguasa Despotic)
2) Jamaratul Wus`a (Karun dan Hamman) dan yang ke
3) Jamaratul 'Aqaba (Bal’am/Ulama gadongan/Ulama palsu)

Ketiga-tiga bangunan yang berbentuk cicin besar itu, setahun sekali wajahnya dilapi si dengan cat putih. Namun kenapa engkau sebutkan berhala? Guruku telah membe ritahukanku bahwa ketiga-tiga bangunan tersebut melambangkan tiga berhala. Berhala pertama sebagai simbolisasi dari Fir'aun, berhala kedua sebagai simbolisasi dari Karun dan Hamman sedangkan berhala yang ketiga sebagai simbolisasi dari Bal'am. Memang tepat sekali kalau kita mau berafala ta`qilun dan berafala yatazakkarun, kecuali Tuhan yang sesungguhnya (baca Allah), yang lain semuanya menggunakan format Trinitas. Objek yang mereka pertuhankan itu terdiri dari 3 entas. Entas anak, entas bunda dan entas bapa (Kristen). Entas Brahma, entas Wisynu dan entas Syiwa (Hindu). Api Arumanan dza, api Madza dan api . . . . . . .(Majusi).

Pada tgl 10 Zulhijjah para jamaah Haji bergegas menuju lembah Mina setelah selesai wukuf di Masy’arul Haram untuk acara pelemparan Jamarah. Dengan apa mereka melakukan pelemparan tersebut? Dengan batu kerikil. Darimanakah mereka memperoleh batu-batu kerikil tersebut? Dari Masy’arul Haram. Kalau wukuf di Arafah dila kukan diwaktu siang, wukuf di Masyarulharam dilakukan diwaktu malam. Pelajaran apakah yang dapat dipetik oleh manusia yang mauberfikir?

Masy’arul Haram adalah "laboratorium" kesadaran. Kesadaran apakah itu? Kesadaran suci. Apakah kesadaran suci itu? Kesadaran seorang pribadi Muslim sejati. Di manakah engkau sekarang? Di Masya'rulharam. Apakah artinya itu? Masya'rulharam adalah lisanul A'rabiah, yang berarti "Kesadaran suci". Tidak ada apapun yang harus engkau kerjakan disini kecuali mencari batu kerikil untuk engkau lontarkan nanti di lembah Mina (Jamaratul u'la, Jamaratul wusa' dan Jamaratul a'qaba). Kerikil yang bagaimanakah yang harus engkau pilih? Pilihlah batu kerikil yang mengkilap, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Apakah artinya kesemua itu? Kalau A'rafah sain dan thenologi, Masya'r adalah Hikmah dan Wahyu (QS.62;2). Dimensi ilmu yang diturun kan di Masya'r ini adalah "Primer". Artinya lebih utama dari ilmu-ilmu yang lainnya. Ilmu ini diturunkan melalui para Rasul/Utusan sejak dari Nabi Adam as sampai Nabi Muhammad saww.

Selanjutnya diwariskan kepada Imam-imam, para Ulama sejati, Penyeru-penyeru ke benaran (Pendakwah Sejati/pendakwah yang berislakh) dan yang terakhir kepada orang-orang Mu`min Sejati. Ilmu tersebut adalah sinar diatas sinar. Itulah sebabnya wuquf di Masya'r dilaksanakan di waktu malam. Ilmu ini tidak membutuhkan penerangan, tidak membutuhkan lampu dalam prosesnya, sebab dia sendiri merupakan lampu untuk menerangi ilmu-ilmu yang lainnya. Siapapun yang memiliki ilmu ini, tidak akan sesat dalam mengarungi kehidupan dunia ini. 

Terdapat istilah yang relevan dalam agama Yahudi dan Nasrani yaitu 'Sofia', demikian juga dalam agama Hindu dan Budha yang dinamakan 'Nirwana'. Namun yang harus kau yakini sesungguhnya yang benar-benar Sofia dan Nirwana adalah Hikmahnya Islam. (Innad dina i'ndal lAllahil Islam). Hanya Islamlah satu-satunya yang termasuk agama Samawi, sementara yang lainnya adalah agama Ardhi. Yahudi bukan agama nabi Musa dan Nasranipun bukan agama nabi ‘Isa. Yahudi adalah suatu agama yang dinisbahkan kepada seorang tokoh yang kontraversi dengan nabi Musa, yang bernama Yahuda. Sedangkan Nasrani adalah suatu agama yang dinisbahkan kepada seorang tokoh yang kontraversi dengan nabi I'sa,yang bernama Nashara.(QS. 2;140)

‘Arafah adalah Saint dan Technology
Untuk apa perlunya kita melempar jemarah kalau hanya dengan batu kerikir? Bukankah itu terkesan hanya main-main saja? Kalau kita percaya apa yang dikatakan sebahagian para ‘alim, untuk melempar Syaithan, dimana dulunya dilempari oleh Nabi Ibrahim yang mampu melihat Syaithan tersebut, apakah kita juga mampu melihat Syaithan yang sama di Mina itu? Yang namanya Syaithan atau Iblis jangankan lemparan dengan ke rikil, dengan Nuklirpun tidak ada manfaatnya bagi kita. Adalah sama halnya kita mendengar ceramah para Alim bahwa saat kita azan, Syaithan lari terbirit-birit. Tidakkah kita sadari bahwa bukankah setelah azan selesai, mereka secepat kilat bisa berada di depankita kembali?

Fenomena inilah yang di ajak kita untuk berfikir, wahai saudaraku sekalian agar agama kita berguna dalam kehidupan hidup ini, bukan saja berguna dalam Ibadah Haji di Mekkah, Padang Arafah, Masya’ar dan Mina.

Yang perlu kita ketahui saat kita berbicara pelemparan Jamarah itu adalah, apakah ma’na fenomena tersebut, saat kita hubungkan dalam kehidupan nyata kita. Apakah tiga cincin besar yang setiap tahun dilapisi dengan cat putih oleh kerajaan Saudi itu bukan melambangkan 3 berhala yang disembah para Trinitas modern sejak jaman dulu hingga jaman kita sekarang ini?

Dengarkan apa kata Ideolog terkenal sebagai guruku, Shahid DR ‘Ali Syari’ati yang brilliant ini. Berhala pertama (Jamaratul ‘Ula), melambangkan Fir’un sebagai symbolisasi daripada penguasa zalim (Despotic). Berhala kedua (Jamaratul Wus’a) melam bangkan Karun dan Hamman sebagai symbolisasi daripada bendahara Fir’un dan Arsitek pembangunan. Berhala ketiga atau yang terakhir (Jamaratul ‘Aqaba) melambangkan Bal’am, sebagai symbolisasi daripada Ulama palsu atau gadongan.

Kaum awwam meyakini bahwa manusia yang paling berbahaya buat kemanusiaan adalah Penguasa Zalim, baru kemudian disusul oleh bendaharanya, Arsiteknya dan terakhir sekali barulah Ulama suq/Ulama Gadongan/Ulama palsu. Namun secara Ideology, Philosofi dan Esensi, memperlihatkan kita secara jelas justeru sang Bal’amlah yang paling berbahaya bagi kehidupan kemanusiaan, hingga menggerogoti seluruh jalan hidup kemanusiaan itu sendiri.

Fenomena tersebut dapat kita lihat di Mina, dimana pada tgl 10 Zulhijjah 7 butir peluru khusus ditembakkan untuk melumpuhkan Bal’am, sementara Fir’un, Karun dan Hamman dibiarkan dulu buat sementara waktu. Realitanya para jamaah Haji menyaksikan Fir’un di urutan pertama, bukan Bal’am. Musuh yang sepertinya tidak pernah lenyap di permukaan planet Bumi ini diindikasikan Allah dalam surah terakhir dari Al-Qur'an al-Karim (An Nas), dan disimbolisasikan di lembah Mina sebagai Bal'am (jamarah terakhir). Justeru itulah dikhususkan menyerang kekuatan tersebut pada tanggal 10 Zulhijjah, 7 kali tembakan. Apakah terlalu sukar untuk anda pikirkan penjelasan Angku di Awegeutah Tampokdjok ini?

Makhluk yang bagaimana bisa kau lumpuhkan dengan kerikilmu itu? Bercandakah engkau? Tidak. Kerikil itu disymbolisasikan sebagai peluru. Itulah yang logis untuk mematikan makhluk yang paling berbahaya di planet Bumi ini. Kenapa musti 7 kali tembakan? Guruku yang bijak mengatakan bahwa musuh yang paling berbahaya belum tentu mati dengan satu kali tembakan. Boleh jadi dia pura-pura mati, lalu saat engkau lengah justeru engkau sendiri yang menjadi korbannya. Untuk memastikan dia benar-benar mati, tembaklah dia 7 kali tembakan.

Baru pada tanggal 11 Zulhijjahlah, engkau diperintahkan untuk menggempur secara keseluruhan. Tembaklah Fir'aun 7x, Karun 7x dan lagi-lagi Bal'am 7x. Sudah berapa pelurukah kau habiskan? 7x4 = 28 peluru. Serangan dilanjutkan pada tanggal 12 Zulhijjah. Tembak Fir'aun 7x, Karun 7x, Bal'am 7x. Pada tanggal 13 Zulhijjah gempur lagi, tembak Fir'aun 7x, Karun 7x dan Bal'am pun masih perlu kau tembak 7x lagi. Sudah berapa pelurukah engkau habiskan? 28 + 7 x 6 = 28 + 42 = 70 peluru. Engkau masih memiliki sisanya 7 peluru lagi. Selesai sudah pertempuranmu.

Apakah ini belum cukup logis bagimu bahwa walaupun penguasa/Raja zalim sangat berbahaya bagi kemanusiaan, Bal’am/Ulama palsu jauh lebih berbahaya daripada pe nguasa zalim manapun? Realitanya justeru di negeri-negeri yang mayoritas penduduknya mengaku beragama Islam, kemanusiaan tetap terkorbankan, kenapa? Ulah siapakah itu? Ulah sang Bal’am yang bersekongkol dengan penguasa zalim, meru sak Esensi Agama Allah secara systematis tanpa mereka sadari bahwa merekalah yang sesat. Mereka para Bal’amlah yang berteriak dimana-mana hampir seluruh Dunia: "Maling teriak Maling"

Secara Ideology Nabi Ibrahimlah yang berkata: "Wahai pasukan jihad! . . . . . . . Tem baklah Fir'aun yang mengatakan: "Akulah Tuhan" yang mengazab siapa saja yang berani menentangnya. Tembaklah Karun dan Hamman yang mengatakan "Akulah Pemilik Harta dan pembangunan sejagat Raya serta menjauhkan kaum mustadh'afin dari pembendaha raan Dunia. Tembaklah Bal'am yang mengatakan "Akulah Pemilik Agama", dan meninabo bokkan rakyat jelata dengan bisikan "Surga" dan "Sabar" kete linga kaum Dhu’afa.

Masih ingatkah engkau dimanakah engkau sekarang? Di padang Mahsyar. Ah, bu kan. Yang kumaksudkan adalah Masya'rulharam. Engkau ditugaskan untuk membuat persiapan-persiapan. Persiapan apakah itu? Persiapan "Perang". Berperang dimana? Di lembah Mina. Mina itu apa? Mina adalah lisanul A'rabiah yang berarti "Cinta". Tapi bukan cinta antar sesama manusia. Mina adalah cinta "Kupu-kupu". Demi cinta sucinya ,nyawa dipertaruh kan. Itu adalah kerjanya Komando Jihad Sejati. Demi perintah Allah dikorbankan segala-galanya. Secara filosofis Mina melambangkan cinta kepada Allah, dan itulah yang dimak sudkan cinta yang sesungguhnya.

Kini Ibrahim berseru! Wahai pasukan jihad, persiapkanlah peluru-pelurumu untuk kau tembakkan dalam seranganmu di Mina. Berapa pelurukah kau butuhkan? 77 peluru. Ber hati-hatilah jangan sampai kau ambil peluru yang sembarangan. Pilihlah peluru-peluru yang efektif. Gunakanlah senjata yang sesuai dengan kemampuanmu. Engkau boleh memi lih AK 47, Minimi, GLM dan sebagainya, terserah engkau sendiri. Demikianlah lazimnya orang-orang yang terlibat di medan tempur. Dimana mereka menyadari akan berhadapan dengan kekuatan musuh yang tangguh di arena pertempuran.

Dimanakah posisimu sekarang? Dalam persiapan alat-alat tempur. Dimana? Di Masy a'rulharam. Akan kemanakah engkau setelah itu? Ke lembah Mina, lambang Cinta dan Keyakinan. Adam dan Hawa bertemu di padang A'rafah, disanalah mereka memperoleh Ilmu (A'rafah). Setelah Adam dan Hawa sadar (Masya'r) bahwa mereka memiliki jenis kelamin yang berbeda, muncullah rasa cinta (Mina). Lalu berakhirlah kehidupan secara Individual dan berganti dengan kehidupan secara Komunal (mulai berproduktif). Secara filosofis, manusia 'ideal' adalah, bermula di A'rafah (tahap ilmu pengetahuan), lalu menuju Masya'r (tahap kesadaran), dan terus ke Mina (tahap keyakinan cinta dan aksi).

Selanjutnya perhatikanlah perbandingan berikut:
1. Filosof, bermula dari A'rafah dan tetap di A'rafah, tidak pernah beranjak ke mana-mana.
2. Sufi, bermula di Mina dan juga tetap di Mina, tidak pernah beranjak ke mana-mana.
3. Islam sejati, bermula di A'rafah, lalu ke Masya'r terus ke Mina.(Sistematis, Optimis, Kreatif dan Dinamis)

Selanjutnya marilah kita ber Afala ta`qilun dan Afala yatazakkarun!
Semua Rasul Allah/Utusan Allah adalah Idiolog-idiolog. Kepada mereka diamanahkan untuk menghidupkan/merealisasikan kekuasaan Allah di atas permukaan planet Bumi ini. Setelah priode mereka berakhir, amanah tersebut diteruskan oleh 12 orang  Imam. Manakala Imam ke 12 berada dalam ghaib kubra, para U'lama Warasatul Ambialah yang berperan sebagai pemimpin Islam sejati'. Mereka itu semuanya adalah Idiolog-Idiolog Islami. Muslim yang memiliki ilmu pengetahuan (A'rafah) serta memiliki kesadaran suci (Masy'ar) untuk apa sesungguhnya hidup di dunia ini, beraksi, bertempur (Mina) untuk menumbangkan system Thaghut despotic di permukaan planet Bumi ini, lalu menggan tikan dengan system Allah (Kedaulatan Allah). "Qulja al haqqu wazahaqal bathil innal bathil lakana zahuqa" ( QS. 17 ; 81 ).

Sedangkan para Filosof dan para Ilmuwan asik membangga-banggakan ilmu penge tahuannya, merasa sejuk dan nyaman hidup dibawah kekuasaan Thaghut despotik, membiarkan kaum mustadh'afin merintih di gubuk-gubuk derita dan menahan beban hidup yang menimpa kuduk-kuduk mereka. Sementara para Sufi juga asik dengan angan-angan mereka untuk menggapai Surga.  Mungkinkah? Tunggu dulu!

Bagaimana mungkin semudah itu bisa dapat Surga, dengan berkomatkamit membaca mentera-mentera, membisikkan kata-kata Surga ketelinga pengikut-pengikutnya, tanpa berjuang sama-sekali untuk membebaskan kaum Dhua'fa dari belenggu penindasan dan penjajahan, sebagaimana yang di diperjuangkan para Rasul, para Imam dan para U'lama Warasatul Ambia' (Pemimpin Kaum mustadh'afin). "Afala ta'qilun? Afala yatazakka run?".

Dimanakah engkau sekarang? Mendekati pintu gerbang Mina. Setelah seseorang memiliki pengetahuan yang benar, dia sadar bahwa kita sesungguhnya punya musuh, yaitu Malaikat yang bahan bakunya dibuat dari api, kedudukannya dicopot setelah membangkang perin tah Allah dan berobah menjadi Syaithan/Iblis. Selanjutnya Syaithan telah mempengaru hi sebagian besar manusia untuk menolak system Allah dan mendirikan sistem Thaghut despotic. Justru itu manusia-manusia Habil (kutup Islam sejati) dan manusia-manusia Qabil (kutub Islam palsu), senantiasa bermusuhan dan saling bertempur di Planet Bumi ini, baik secara fisik dan materil maupun secara mental dan spiritual.

Dalam setiap pertempuran, manusia Qabil membuat propaganda-propaganda, bahwa kita Islam extrem, fanatic, fundamentalis dan lain-lain istilah yang membingungkan kawum awam. Engkau harus taupersis bahwa istilah extrem dan fanatic adalah dua sifat pelintiran dari Mujaddid dan Istiqamah. Dua sifat tersebut adalah  milik para  Rasul/ Utusan Allah, Imam-Imam, para Ulama Warasatul Ambia', Penyeru-Penyeru kebenaran (Pendakwah Sejati) dan Muslim sejati. Mujaddid berarti bersungguh - sungguh dalam beramar ma'ruf dan nahi mungkar, sedangkan fanatic berarti teguh pendirian bagaikan ikan di laut, kendatipun lingkungannya asin, ikan itu tetap tawar. Bukan seperti bunglow tergantung kepada siapa saja yang mempengaruhinya. Andaikata kedua sifat tersebut dapat digusur dari komunitas Islam dengan berbagai macam propaganda, sirnalah Ideology Islam di permukaan bumi ini, yang tinggal hanyalah buih-buih di lautan yang tidak berdaya, bak kata Rasul.

Islam fundamentalis adalah orang-orang Islam yang memiliki pijakan kuat pada Plat formnya, pada Fondasinya, pada Fundamentnya pada (Aqidahnya/Ideologinya). Mereka adalah orang-orang yang berIdeologi Islam. Muslim yang hidup dalam suatu komunitas secara bersaudara bukan disebabkan sedarah, sekeluarga dan seketurunan, tetapi disebabkan seaqidah/seIdeology tetapi berwawasan kemanusiaan dan toleran sesama manusia, apapun latar belakang agama mereka. Mereka memiliki prinsip "Rahmatan lil ‘alamin"(QS, Al Ambiya: 107)

Mereka itu adalah orang-orang yang memahami serta meyakini bahwa Qur'an itu adalah pedoman hidup dalam berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. Mereka itu adalah orang-orang yang meyakini bahwa hukum-hukum yang diturunkan Allah bukan hanya sebatas dipahami saja, tetapi untuk direalisasikan dalam kehidupan bernegara. Mereka senantiasa memperjuangkan suatu system yang mendapat redha Allah di negerinya masing-masing, bukan dinegeri orang non Muslim dan juga bukan di negara orang lain (dilarang keras dalam Islam). Mereka tidak gegabah dalam berevolusi. Mereka baru berevolusi ketika memiliki Pemimpin yang Islami dan cukup perhitungan dan mendapat redha Allah swt, hingga tidak sekedar melengserkan penguasa despotic tetapi juga memahami persis system yang bagaimana yang akan dibangun agar semua penduduknya tidak ada yang terzalimi. Mereka menyadari bahwa nilai seorang pemimpin yang Islami sama dengan nilai komunitas mereka (baca Rakyat keseluruhannya). Justeru itulah mereka bergerak pada poros kepemimpinan tertentu.

Pada kesempatan yang lain Arsitek Ideology Islam yang mampu meluluh-lantakkan asumsi Barat yang sempat mempesonakan orang-orang Timur ini, juga mengatakan bahwa ada 4 golongan manusia yang rugi di akhirat kelak yang beliau simbolisasikan sebagai; "Anjing, Serigala, Tikus dan Domba". Anjing melambangkan pemimpin yang serakah dan tamak. Serigala melambangkan kakitangan pemimpin yang zalim, secara bergerombolan mengania nya dan membunuh orang-orang yang berani melawan kebijakan pemerintah zalim. Tikus melambangkan koruptor-koruptor, pencuri berdasi dan berwibawa sekali ditengah-tengah rakyat jelata dan yang terakhir yang membuat kita seperti tidak percaya adalah Domba. Bagaimanakah mereka bisa disalahkan? Domba melambangkan kaum mustadh'fin yang bersedia bekerja sama dengan pemerintah zalim.
Masih menurut Ali Syari'ati, bahwa penindas adalah Palu Godam, sedangkan orang-orang yang mau ditindas adalah Lempengan Besi. Pada saat palu godam beraksi yang bersedia menahannya adalah lempengan besi. Andaikata lempengan besi tidak bersedia menahannya, proses penindasan/penjajahan tidak akan ada existensinya, tidak akan pernah terjadi. Makanya penindasan tidak pernah terjadi di udara, palu godam akan berputar terus menerus di udara tanpa lempengan besi yang bersedia menahannya.

Wahai pasukan jihad!
Kendatipun engkau telah berhasil merobohkan Bal'am, namun engkau tidak boleh lengah walau sedikitpun. Betapa sering dalam sejarah, suatu revolusi, memakan anak-anaknya sendiri, mengalami dekaden kembali hanya setelah satu generasi berlalu. Kuman-kuman yang telah lama terpendam dibawah tanah, akan muncul kembali kepermukaan. Kaum reaksioner yang pernah mengaku sebagai sahabatmu sendiri muncul secara serentak untuk bereaksi. . . . . . . .Engkau telah melumpuhkannya dalam Perang Badar namun muncul kembali dalam Perang Siffain. . . . . . . . Engkau telah memusnahkannya di mesjid-mesjid Dhirar, namun dia muncul kembali di mesjid Kofah. . . . . . .Engkau telah merasa aman dan lega setelah menguasai Madinah, Mekkah bahkan seluruh jazirah Arabia, namun pada generasi yang kedua Islam mendapat pukulan yang paling telak di Karbala. . . . . . .




Billahi fi sabililhaq
Hsndwsp, Acheh – Sumatra
Di Ujung Dunia.






Alhamdulillah literatur saya ada di blog Ahlulbaitnabi ini:

Kamis, 09 Maret 2017

“AFALA TA’QILUN? AFALA YATAZAKKARUN?”







ALLAH MENGUCAPKANNYA 14 KALI DALAM AL QUR-AN 
“AFALA TA’QILUN DAN  AFALA YATAZAKKARUN”
BUKANKAH INI MENUNJUKKAN BEGITU PENTINGNYA 
BAGI MANUSIA UNTUK BERPIKIR? 
BUKANKAH IBADAH BERPIKIR 
YANG TERTINGGI NILAINYA DISISI ALLAH? 
IBADAH LAINNYA AKAN SIRNA 
ANDAIKATA MANUSIA 
TIDAK  MENGAWALINYA 
DENGAN 
IBADAH BERPIKIR 
KECUALI 
BAGI 
KAUM AWWAM

hsndwsp
Acheh - Sumatra
di
Ujung Dunia




Bismillaahirrahmaanirrahiim


وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ -٣٠- وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاء كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَـؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ -٣١- قَالُواْ سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ -٣٢-

"Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu Berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka Bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang akan mengadakan kerusakan dan pertumpahan darah di sana, sedangkan kami senantiasa bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia Berfirman, “Sesungguhnya, Aku Mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS, 2: 30)

.........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

Allah menjadikan Wakilnya, Nabi Adam di Bumi untuk membimbing manusia dan jin ke jalanNya yang benar tetapi para Malaikat mengkhawatirkan nanti manusia akan melakukan kerusakan dan pertumpahan darah. Sepertinya para Malaikat menghendaki agar merekalah yang akan dijadikan sebagai Wakilnya dengan alasan mereka senantiasa bertasbih dan memujiNya. Disini terindikasi bahwa dengan alasan senantiasa bertasbih dan memujinya, tidak tepat untuk menjadi Wakil Tuhan. Setelah memberitahukan para Malaikat bahwa Dia mengetahui apa yang tidak diketahui para Malaikat, Allah menjelaskan alasanNya kepada yang bertanya (baca para Malaikat). Hal ini menjadi titik awal yang harus dipikirkan Manusia dan Jin bahwa kita tidak boleh sekedar mengatakan “ya” atau “tidak” tanpa alasan yang membuktikan “ya” dan “tidak” tadi.

Setelah membuktikan alasannya dengan mempersilakan Para Malaikat untuk bernegosiasi dengan Adam/Manusia. Setelah Adam mengalahkan para Malaikat, pelajaran yang harus kita petik adalah, para Malaikat sebagai pihak yang lemah argumennya saat bernegosiasi, langsung mengaku kesala hannya dan meminta maaf kepada Allah swt  hingga Allah memerintahkan kepada semua Malaikat untuk sujud kepada Adam. Realitanya semua Malaikat menta’ati perintah Allah kecuali Malaikat yang bahan bakunya Api (Iblis), secara takabbur menentang perintah Allah hingga Allah memfonis nya sebagai “Kafir”.

Andaikata Allah swt menjadikan wakilNya dalam bentuk Malaikat dimana Manusia tidak mampu melihatnya bagaimana mungkin mengikutinya secara sempurna. Hal itu sama saja tanpa wakilNya Allah juga mampu membimbing manusia kejalan Nya yang lurus. Sebagai contoh, Allah pasti bisa menurunkan hujan tanpa Malaikat yang ditugaskan untuk urusan tersebut, tetapi kenapa Allah tidak langsung menurunkan hujan untuk kawasan yang dibutuhkannya? Realitanya Allah Membuat Matahari untuk memanaskan permukaan Laut. Air laut yang sudah panas membubung naik ke udara (proses penguapan/destilasi). Lalu angin meniupnya ke kawasan gunung. Hujan lebat turun di gunung lalu membentuk sungai, lalu kembali menggapai laut. Yang ditugaskan Allah untuk urusan tersebut adalah Malaikat (aparatNya) tetapi diatur melalui proses destilasi alami agar Manusia tidak buntu saat berpikir proses penurunan hujan tersebut. Demikian jugalah Allah tidak membimbing manusia dan jin secara langsung tetapi melalui WakilNya, dimana yang pertama adalah Adam ‘alaihissalam. Andai kata Manusia memiliki bahan baku sama dengan Malaikat (sinar), barulah wakilNya diangkat dari Malaikat.

Pertanyaan selanjutnya adalah System yang dikehendaki Allah dalam kehidupan manusia dalam bernegara, bermasyarakat dan berkeluarga. Dalam hal ini Allah berkata: “Innaddiina ‘indallahil Islam”. Bagi manusia yang mau berpikir secara benar pasti yakin bahwa Agama itu tidak akan terpelihara keasliannya tanpa System yang benar (baca Negara Islam/Daulah Islamiyah/System Islam). Yang perlu kita garisbawahi adalah “Substantif” nya bukan sekedar nama. Pada saat Nabi Adam sudah beranak pinak sebagai suatu keluarga dan itu juga sebagai masyarakat, disebabkan hanya itulah masyarakat manusia yang pertama, hukum kawinpun berbeda dengan hukum kawin di zaman kita sekarang ini yang juga beragama Islam, bermasyarakat Islam dan bernegara Islam tetapi substantifnya saja, tidak difokuskan pada nama. Sa’at Nabi Yusuf membangun Masyarakat Islam dan negara Islam di Mesir juga substantivenya jelas sekali sebagai “Negara Islam” dimana beliau mampu merobah kehidupan yang penuh perbudakan menjadi kehidupan yang Islami.

Demikian jugalah yang diaplikasikan Nabi terakhir, Muhammad saww juga tidak dipopulerkan de ngan nama Negara Islam tetapi Suibstantifnya jelas sekali itu adalah Negara Islam. Mungkin timbul be berapa pertanyaan, diantaranya apakah tidak perlu kita berikan Namanya sebagai Negara Islam /System Islam/Daulah Islamiyah di zaman kita sekarang ini macam Republik Islam Iran?  Jawabannya adalah nama juga penting tetapi nama tanpa substantive adalah penipuan yang membuat kaum mustadhafin dan kaum yang masih awwam terjerat dalam perangkap penipuan tersebut tanpa disadari.

Dizaman kita sekarang ini satu-satunya negara Islam hanyalah Republik Islam Iran. Bayangkan andaikata Republik Islam Iran tidak memberikan nama negara Islam itu, kepada fenomena mana para Pemikir Islam memberikan contohnya sa’at mereka berbicara Negara Islam? Bukankah sangat beralasan kalau pemikir melupakan fenomena negara Islam setelah ideology kaum sekuler menyusub dalam masyarakat Islam paska kewafatan Rasulullah hingga begitu pahit bagi kita saat berbicara suatu system yang Islami?  Namun yang sangat penting kita garisbawahi adalah Substantifnya, disamping nama. Sebab nama tanpa Substantif adalah penipuan luarbiasa.

Pernahkah anda mendengar keterangan seorang  Propessor bahwa negara Islam itu harus diberikan namanya sebagai negara Khalifah, hingga beliau ragu saat melihat Republik Islam Iran dengan alasan negara tersebut tidak memberikan namanya sebagai Negara Khalifah? Beliau juga ragu disebabkan Republik Islam Iran termasuk aggota PBB, dimana beliau juga beralasan disebabkan PBB tidak perca ya kepada Tuhan yang Satu.

Ketika beliau berbicara “Ilmu akhiriz Zaman”, beliau tidak dapat menunjukkan fenomena negara Islam yang beliau namakan Negara Khalifah, hanya beliau mampu menunjukkan fenomena Nasrani yang dekat hubungannya dengan kaum Muslimin (baca al Maidah 82) yang diwakili oleh Rusia. Betapa pilunya kita kalau hanya mampu mengenal fenomena negara yang dekat dengan Negara Islam/System Islam tetapi fenomena Negara Islam/System Islam sendiri tidak kita kenal fenome nanya, padahal fenomena tersebut sangat jelas yaitu Republik Islam Iran. Mungkin keraguan beliau terhadap Syi’ah Imamiyah 12/Pengikut Ahlulbayt Rasulullah saw/Islam Mazhab Ja’fariah lah yang membuat beliau tidak mampu melihat fenomena negara Islam dewasa ini.

Republik Islam Iran bersahabat baik dengan Rusia, Cina, Negara-negara Amerika Latin dan negara manapun yang berwawasan kemanusiaan serta toleran macam Indonesia dibawah kepemimpinan Jokowi dan Ahok Cina sekarang. Perlu digarisbawahi bahwa ada beberapa negara sekarang menamakan diri sebagai negara Islam tetapi substantifnya tidak Islami. Hal ini sama juga dengan orang Alim yang menggunakan surban/berpenampilan macam penampilan Ulama tetapi pikirannya tidak Islami, kan jauh lebih baik kita yang berpenampilan macam orang biasa tetapi pikiran kita Islami macam pikiran Ahlulbayt Rasulullah, minimal pikiran para Sahabat yang setia kepada Rasulullah (baca Abu Dzar Ghifari, Al Miqdad dan Salman Al Farisi).

Sebelum kita telusuri negara-negara yang sekedar nama saja macam “Nanggrou Acheh Darussalam” (realitanya bukan negara tetapi Propinsi), “Brunai Darussalam”, “Arab Saudi yang hanya menggu nakan bendera bermotif Islam”, Negara Khalifah Islam made in  Arab Saudi di Suriah+Irak (ISIS yang takfiri dan teroris), marilah kita kunjungi Republik Islam Iran. Pada hakikatnya semua negara dibagi kepada 2 katagorie, Negara berkedaulatan Allah dan negara yang berkedaulatan Taghut. Yang terakhir negara Taghut dibagi kepada 2 katagorie juga yaitu System Taghut Despotic dan System Taghut non Despotic. Yang Despotic fasad secara Horizontal dan vertical sedangkan yang non Despotik hanya fasad secara vertical dimana secara Horizontal tidak fasad. Perlu digarisbawahi bahwa Allah swt memfokuskannya secara Horizontal dan system yang fasad secara horizontal, secara verticalpun otomatis ikut fasad.

System Kedaulatan Allah di RII, kekuasaan tertinggi dikendalikan oleh seorang ‘Ulama yang disebut “Imam” (baca Ayatullah Ruhullah Imam Khomaini yang pertama, kemudian digantikan oleh Ayatullah Sayed Ali Khameney (Rahbar). Dibawahnya adalah 12 ‘Ulama  Warasatul Ambya’. Lalu dilanjutkan oleh Parlemen(Legislatif) dan Presiden serta para menterinya, Eksekutif dan Yudikatif. Inilah yang disebut System Wilayatul Fakih, penemuan Imam Khomaini yang belum ada duanya di zaman kita sekarang. Setelah Parlemen membuat Undang-Undang, naskah tersebut diserahkan kepada 12 Ulama/Fakih untuk diteliti apakah bertentangan dengan Qur-an atau tidak. Andaikata bertentangan, dikembalikan untuk diperbaiki. Lalu kedua kali diserahkan kepada 12 Ulama/Fakih. Andaikata masih salah, Ulama/Fakih sendiri yang memperbaiki/mengoreksi, barulah ditandatangani setelah diperbaiki lalu diserahkan kepada Presiden untuk ditindaklanjuti/dilaksanakan sepenuhnya bersanma para Menterinya.

Kebanyakan negara lainnya menggunakan system Teori John Locke, dimana ada yang Parlementer Kabinet dan ada juga yang Presidentil Kabinet. Yang Parlementer diatas sekali adalah Parlemen (Legislatif), baru kemudian Presiden dan para Menterinya (Eksekutif). Lalu diikuti oleh lembaga Yudikatif. Sedangkan yang Presidentil diatas sekali adalah Presiden (Eksekutif), baru kemudia Parlemen(Legislatif) dan terakhir adalah Yudikatifnya. Dalam system yang menggunakan Teory John Locke lazimya yang Presidentil Kabinet, Presidennya menjadi Diktator sedangkan yang parlementer, lazimnya menjadi Diktator Mayority.

Berbicara System Islam, mari kita berkaca pada Nabi Yusuf yang rupawan dan Islami.

Ketika suatu komunitas/Negara dipimpin oleh orang-orang yang berwawasan kemanusiaan, kaum Muslimin tidak dibenarkan untuk berevolusi. Kecuali suatu negara sudah begitu menyelimet kezalimannya. Korupsi dan berbagai manipulasi  sudah dianggap hal yang biasa macam Iran di zaman Syah Palevi, Irak di zaman Saddam, Libya di zaman Muammar Qardafi, Mesir din zaman Husni Mubarak dan Arab Saudi sejak dulu hingga kini dibenarkan berevolusi. Sayangnya saat terjadinya revolusi di Tunisia, Mesir, Libya dan Timur tengah pada umumnya, revolusi hanya berjalan ditempat. Banyak tokoh di RII sendiri kala itu meyakini bahwa itu revolusi Islam yang diinspirasi Revolusi Islam Iran. Saya berkali-kali menolaknya bahwa itu Revolusi Rakyat, bukan revolusi Islam. Alasan saya disana tidak ada pemimpin yang Islami macam para Ulama yang berevolusi di Iran. Akibatnya paska tergulingnya penguasa despotic, rakyat lagi-lagi masuk perangkap konspirasi jahat hingga negara-negara arogan dunia tetap memainkan perannya di negara-negara yang barusaja berevolusi.

Sebenarnya andaikata ada pemimpin yang Islami, masih ada cara lainnya untuk merobah suatu ke hidupan yang despotic menjadi Islami. Fenomena ini dapat diamati saat Nabi Yusuf mengaplikasikan kehidupan bernegara secara Islami ditengah-tengah komunitas manusia dimana yang kaya mem perbudak yang miskin. Nabi Yusuf sendiri diawali oleh perbudakan dirinya oleh saudara-saudaranya sendiri dan bahkan beliau hampir saja dibunuh oleh Yahuda, prototype Qabil anaknya Nabi Adam as, andaikata tidak dicegah oleh Lavi (saudara Nabi Yusuf yang agak baik dibandingkan saudara Yusuf se-ayah lainnya).

Ketika Yusuf masih kecil lagi, saudaranya se ayah sudah mulai dengki kepadanya, namun Yusuf tidak pernah sakit hati terhadap mereka. Yang pertama melontarkan niat membunuh Yusuf pertama sekali adalah Yahuda, hingga Lavi memperingatkan bahwa ucapan Yahuda itu sangat berbahaya. Yang lainnya menanyakan pada Lavi, apa solusi lainnya kalau tidak menerima usulan Yahuda. Lavi men jawab bahwa pertama sekali singkirkan aklternatif membunuh, barulah kemudian kita cari solusi lainnya. Singkat kata akghirnya mereka membujuk Yusuf agar mau dibawa kepadang pengembalaan yang diawali dengan rayuannya bahwa sangat asik bermain dipadang pengembalaan dan juga akan diajarkan ilmu untuk mengembala kambing. Ketika Yusuf memintakan Ayahnya agar diizinkan bergi bermain di padang pengembalaan, Nabi Ya’qub terpaksa mengizinkannya walaupun sebelumnya beliau tidak percaya i’tikat baik 10 anak-anaknya yang lain itu.

Singkat kisah, Yusuf dimasukkan kedalam Sumur yang asin airnya hingga dengan mu’jizat Yusuf menjadi tawar. Ketika satu kafilah kehausan binatang tunggangannya, mereka terpaksa mendekati sumur tersebut walaupun pernah mereka tau bahwa airnya asin. Ketika Yusuf bergantung pada timba mereka dan terangkat keluar sumur, saudara-øsaudaranya datang dan memberitahukan kafilah bahwa Yusuf itu budak mereka. Setelah terjadi pertengkaran, akhirnya mereka bersedia menjual Yusuf dengan perjanjian mereka akan membawa Yusuf jauh dari Kan’an supaya tidak dapat kembali lagi dan Yusufpun memilih diperbudak untuk menghindarkan diri dari pembunuhan oleh saudaranya sendiri sesuai petunjuk Allah yang disampaikan Malaikat saat Yusuf berada dalam sumur.

Film Nabi Yusuf episode 5 subtitle Indonesia


Di pasar perbudakan Yusuf dibeli oleh Suami Zulaikha hingga beliau dibesarkan di Istana Zulaikha. Untuk lebih jelas fenomena Negara Islam dibawah pimpinan Nabi Yusuf di Mesir duklu, amatilah kesemua video tersebut sampai video terakhir, nomor 34.


"Sorry, belum selesai dan belum di edit!"