Minggu, 21 Februari 2010

KESELAMATAN SESEORANG TERGANTUNG KEPADA KESANGGUPANNYA UNTUK TIDAK MASUK DALAM SYSTEM YANG MENZALIMI KEHIDUPANN KAUM DHUAFA

 
DR MAHMOUD AHMADINEJAD ADALAH PRESIDEN
YANG BELUM ADA DUANYA DI ZAMAN KITA INI

Ketika seseorang anggota DPRA mempertanyakan transparansi pembahagian hasil minyak Bumi di Acheh pada penguasa Jawakarta, mereka akan mengatakan bahwa 10 milyar per anggota DPRA adalah termasuk manipulasi dari persentase minyak bumi Acheh juga. Apa bila kalian masih mempertanyakan transparansinya, 10 milyar peranggota DPRA itu akan kami tarik balik. Kira-kira apa jawaban DPRA andaikata terjadi dialog seperti itu? Sepertinya penguasa Jawakarta bukan setakat itu sepakterjangnya, masih lebar lagi, termasuk berdaya upaya untuk menumbal mulut DPRA dengan uang haram itu agar tidak memperjuangkan Self Government, sebaliknya menerima saja Otonomi, pepesan kosong itu. Kheun ureueng Acheh: "Meunje peng kadjisumpai lam babah, soemanteng akan meulolo, handjeuetle djimarit, hana keutjuali atawa hana pileh bulee. 'Ulama gadeh djanggot'". Kalau Ulama benaran pantang tunduk patuh kepada penguasa taghut zalim, bukan?

10 milyar perorang bukan lagi belajar untuk korupsi tapi sekali saja sudah jadi konglomerat, konon pula kalau masih ada lagi kesempatan setelah itu. Kalau hal ini menjadi realita, bukan si Kontoro saja yang sangat kurang ajar, masih ada lagi 'Kontoro-kontoro' kelas kakap lainnya. Jadi pantaslah berbuih air liurnya ketika berkampanje dulu. Maaf ini saya gunakan andaikata. Kita mengharap sangat semoga bang Hasbi cs yang masih kami muliakan, cepat menanggapi persoalan ini. Kalau setelah lama baru anda tanggapi dengan pernyataan menolak dana yang membuat seluruh DPR Acheh masuk neraka secara pasti, kami sudah mulai curiga barang kali kalian akan menunggu kesempatan lainnya yang agak tertutup dalam pandangan umum.

Sepertinya DPRA tidak menganggap itu dana terkutuk buat DPR tapi dana kebijaksanaan pemerintah agar tidak korupsi sebagaimana penguasa Jawakarta melegitimate Kontoro cs dengan gaji yang tinggi dengan alasan yang sama. Itu adalah pemahaman orang yang berpedoman dengan Pancasila atau puncasilap, bukan Al Qur-an. Andaikata DPRA itu termasuk orang yang beriman, pastinya berpegang teguh dengan Al Qur-an. Berdasarkan Al Qur-an itu dana yang berjumlah 10 milyar peranggota DPRA adalah korupsi yang mendapat legitimate aturan systemnya buat seluruh DPR dalam system tersebut. Sebagaimana kita ketahui pihak Indonesia tidak berbuat sesuai MoU Helsinki terhadap Acheh - Sumatra. Menurut yang mereka sepakati Acheh - Sumatra berstatus Self Government tapi pihak indonesia telah menggantikan dengan Otonomi, padahal kalau memang untuk memperoleh otonomi buat apa kita berperang? Nah pihak Indonesia menganggap itu adalah POLITIS (baca sesuai pedoman hidup mereka Pancasila alias puncasilap). Kalau pandangan orang yang beriman, yaitu orang yang haqqul yakin akan firman Allah, sepakterjang penguasa Indonesia yang demikian adalah MUNAFIQ. Mereka yang demikian sepakterjangnya sesuai dengan firman Allah: "Dan diantara manusia ada yang berkata: "Kami beriman kepada Allah dan hari Kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukanlah orang yang beriman" (QS, al Baqarah : 8)

Ketika Irwandi, gubernur Indonesia di Acheh memata-matai para dokter Rumah Sakit Zainal Abidin Banda Acheh, agar tidak menelantarkan pasen, para dokter tau bahwa kerjanya lebih lumaian daripada DPR yang hanya duduk doang, dapar fulus 10 milyar perorang, belum lagi fasilitas dan dana kongkalikong lainnya. Jadi semua aparat yang berada dalam system tersebut berdaya upaya untuk memiliki juga sebagaimana yang dimiliki para dewan 'terhormat' itu. Disinilah kezaliman system secara keseluruhan. Dalam kontek seperti ini benarnya pikiran orang yang tidak percaya lagi kepada siapapun yang mengatasnamakan 'rakyat' demi meraih kesenangan keluarganya sendiri. Andaikata tidak adalagi hukuman Allah di Akhirat, sungguh semua seluruh kuam dhuafa dimanapun mereka berada akan mengalami stress berat menghadapi sepakterjang mereka yang terlibat dalam system taghut zalim, hipokrit dan korrup secara systematis.

Disuatu arena training saya pernah menyampaikan materi bahwa kita tidak boleh bekerja dalam system yang menjejaskan kaum mustadhafin sebagaimana system Indonesia termasuk Acheh keda lamnya, kecuali benar-benar sebagai taktik strategi buat sementara, seperti bekas tentera di Chechenia dulu atau Hur yang terkenal cemerlang di medan Karbala. Saya menjelaskan dengan kasus 7 Aulia dalam Gua, meninggalkan gemerlapnya singgasana Diklidianus dalam surah al Kahfi. Dan dengan keyakinan itu juga saya meninggalkan segala-galanya, kendatipun saya sudah lumaian golongannya sebagai pegawai negeri. Yang menjadi persoalan disini, ada beberapa guru agama yang berdaya-upaya untuk mencari jalan keluar supaya tetap sebagai pegawai negeri. Saya katakan kepada orang tersebut bahwa secara system apasaja kezaliman yang dibuat penguasa melalui kaki tangannya terhadap kaum mustadhafin, kita juga terimbas kezaliman tersebut. Jadi bukan orang yang menzalimi itu saja. Itulah yang namanya system. Kita umpama berada dalam sebuah bahtera yang sedang menu ju Neraka secara pelan tapi pasti.

Guru tersebut sepulang dari training, bertamu ke rumah seorang tgk, dmana anaknya sendiri sebagai pemborong yang dipelintirkan orang sebagai pembohong. Guru tersebut mendapat penjelasan dibenar kan dengan menyebutkan beberapa orang pegawai negeri Saudi dan Mesir. Perlu saya sampaikan bahwa tidak semua tgk selugu tgk tersebut.

Kembali kepada DPRA yang bekerjasama dengan Indonesia yang statusnya sudah jelas dalam surah al Baqarah ayat 8 diatas, otomatis akan dibangkitkan Allah kelak bersama orang-orang yang pedo man hidupnya, Puncasilap tersebut diatas, kecuali DPRA mampu memainkan peranan seperti Hur di Karbala atau bekas tentara Chechenia diatas, sanggupkah? Sanggupkah selagi belum jadi Hur, tidak korupsi. Baik korupsi secara terang-terangan macam DPR Jawakarta maupun korupsi terselubung sebagaimana yang sedang kita sorot ini? Jangan anda pedomani DPRA yang lalu yang sudah melahap 5 milyar perorang dan pasti akan berhadapan dengan firman Allah berikut ini kelak:

"Bukankah sudah kuperintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak tunduk patuh kepada syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kamu. Dan tunduk patuhlah kepada da Ku. Inilah jalan yang selurus-lurusnya. Sesungguhnya syaithan itu telah menyesatkan sebahagian be sar diantarakamu. Apakah kamu tidak berfikir? Inilah Jahannam yang dulu kamu diancam (dengan nya). Masuklah kamu kedalamnya hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, tangan dan kaki Kami minta kesaksian terhadap apa yang telah mereka kerjakan dahulu" (QS,36: 60-65)

Betapa jelasnya Ancaman Allah kepada orang orang yang membangkang perintahNya saat di dunia, namun orang orang yang telah banyak melakukan kesalahan sudah tertutup hatinya untuk taubat, betapapun jelasnya dakwah yang dialamatkan kepada mereka, malah mereka menganggap pendakwah itu telah menghinanya dan sebagainya.

Billahi fi sabilil haq
hsndwsp
di Ujung Dunia
video

TUGAS UTAMA PARA IDEOLOG BERDAYA UPAYA MEMBELA KAUM DHUAFA SEBAGAIMANA TUGAS UTAMA PARA RASUL

SAYYED HASSAN NASRULLAH (SAMPEL
PEMIMPIN DAN JUGA IDEOLOG)
Bismillaahirrahmaan irrahiim


KAUM DHUAFA BERDOA
"YA TUHAN KAMI!KELUARKANLAH KAMI
DARI NEGERI YANG DHALIM PENDUDUKNYA INI,
DAN BERILAH KAMI PENOLONG
DARI SISI ENGKAU
(QS, AN NISA' : 75)
Muhammad al Qubra
Acheh - Sumatra

"TIDAK BERIMAN KEPADAKU ORANG YANG TIDUR KENYANG 
SEMENTARA TETANGGANYA KELAPARAN. 
DAN JIKA PENDUDUK SEBUAH KAMPUNG TIDUR NYENYAK 
 SEDANGKAN SALAH SEORANG DARI MEREKA KELAPARAN, 
MAKA ALLAH TIDAK AKAN MELIHAT KEPADA MEREKA 
DI HARI KIAMAT" 
(HADIST)
Karto Suwiryo sudah berusaha di Pulau Jawa, tapi gagal. Di Acheh Tgk Muhammad Daud Beureueh sudah berusaha tapi gagal. Belakangan Dr Tgk Hasan Muhammad di Tiropun telah berusaha tapi juga sepertinya gagal. Apakah andaikata nantinya muncul pemimpin yang berdaya upaya untuk membela kaum dhuafa, kita akan mengatakan "Tidak" dengan alasan sudah banyak orang seperti itu namun hasilnya nihil? Kalau kita memiliki pemikiran seperti itu namanya orang 'Putus Asa'. Bukankah kita dilarang Allah berputus asa? Yang perlu kita analisa kenapa perjuangan-perjuang an orang dulu kebanyakan gagal ujungnya? Siapakah yang membuat perjuangan itu gagal, pemimpinkah atau orang-orang ambisius kepemimpinan hingga membuat perjuangan dengan mudah diambil alih oleh para musuh. Disamping itu juga perlu kita analisa kondisi makmumnya atau pengikut dari pemimpin ter sebut bagaimana Ideologynya, Imannya dan wataknya. Kegagalan suatu perjuangn bolehjadi disebabkan kepemimpinan yang belum matang atau boleh jadi kesalahan pengikutnya atau bahkan boleh jadi mayoritas makmumnya belum benar Imannya atau Ideologynya.

Berbicara perjuangan yang redha Allah di jaman kita ini belum ada satupun yang berhasil kecuali Republik Islam Iran. Ini adalah realita. Kita tidak boleh picik, o itu Syiah, o itu sunni, o itu non islam. Syiahkah, Sunnin kah atau non Muslimkah semuanya gombal kalau tidak berpihak kepada kaum dhuafa.. Kalau kita mayoritas berperangai cangkul, menimbun hanya ke depan, mustahil kita mampu berjuang pada jalan Allah, kecuali pada jalan taghut. Mengapa mereka dari kalangan Parsi itu bukan saja berhasil menumbangkan system Taghut dhalim, hipokrit dan korrup tapi juga berhasil membangun system yang Redha Allah? Mengapa mereka dari nol negara yang mendukung pada mulanya menjadi banyak negara sekarang ini yang mendukung Republik Islam Iran? Ini realitanya baik dari negara yang penduduknya beragama Islam maupun non Is lam, kenapa?

Pertama sekali mereka dari kalangan Parsi itu memahami persis Ideology Imam Hussein yang mampu menghidup kemba li 'pohon Islam' yang sudah 'mati' di tangan Yazid, penguasa dhalim macam Syah Redha Palevi, Saddam, Marcos, Suhar to dan penerusnya sampai hari ini. Kedua mereka haqqul yakin bahwa Allah pasti menolong komunitas yang benar-benar menempatkan diri sebagai pembela kaum dhuafa, justru itu System yang dibangun harus mampu membuktikan bahwa se genap kekayaan negara adalah milik Rakyat atau siapapun yang mendiami Negara tersebut. Ketiga setiap pemimpin benar -benar menjalankan amanah Allah untuk memimpin bawahannya berdasarkan petunjukNya dan bertanggung jawab kelak dihadapan Allah, sehingga kepemimpinannya menentukan ketempat mana mereka kelak, ke Syurga atau Neraka. Jadi kita pejuang tidak sekedar mengahancurkan rantai kedhaliman tapi juga membangun yang "Haq" disisi Allah bukan disisi basyar, makhluk yang senantiasa mencari kesenangan diatas penderitaan orang lain. Jadi kita harus tau "What next nya" kata orang Barat.

Imam Khomaini mampu merumuskan tiory system Negara berdasarkan petunjuk Allah dalam Qur-an, yang terkenal dengan 'Wilayatul Fakihnya". Jadi jelas sekali Ideology Politisnya, tidak ke Timur dan tidak ke Barat tapi ke Islam itu sendiri. Orang non Moslem sekarang ini sudah mulai membaca bagaimana hakikat Islam yang sebenarnya dengan melihat dan menganalisa aplikasi Republik Islam Iran dan systemnya. Justru itu banyak negara di Afrika dan juga Amerika latin yang bersahabat dengan RII sekarang.

Yudhoyono juga sudah pernah datang ke RII, sepertinya dia itu bukan untuk melihat bagaimana caranya melayani Rakyat secara Islami tapi sepertinya hendak memiliki technik Nuklir Sipil yang bermanfaat buat konco-konconya bukan kepada rakyatnya. Jadi bagi siapapun yang hendak menumbangkan rantai kedhaliman, belajarlah kepada bangsa Parsi yang bukan saja mendapat pengakuan Rasullah saja tapi juga realitanya yang mampu dianalisa oleh orang yang masih memiliki hati nurani bukan oleh orang dungu yang berlagak pintar.


Setelah kita menganalisa bagaimana kepemimpinan Imam Khomaini dan sahabat-sahabat setianya yang berjumlah 9 orang dan semuanya Syahid kecuali Imam Khomaini sendiri yang diteruskan oleh Ayatullah Ali Khamenei dan DR Mahmud Ahmadinejad, kita juga perlu menganalisa kemampuan rakyatnya untuk bersatu dibawah satu poros kepemimpinan serta ke tundukpatuhan mereka kepada pemimpinnya yang Islami. Delapan orang Ulama yang telah syahid itu termasuk Dr Ali Syariati dan Murtadha Mutahhari. Justru itu kita dapat mempelajari karya mereka berdua tanpa menafikan karya 6 orang Ulama lainnya bahkan karya Rahbar, Sistany dan masih banyak yang lainnya, agar kita memahami bagaimana Ide-ide me eka yang cemerlang dan sangat berguna bagi pembela kaum dhuafa dimanapun mereka berada. Disamping itu kita juga sangat penting menganalisa Ide-ide DR Mahmud Ahmadinejad sebagai representant kepemimpinan kaum dhuafa di jaman modern ini. Hal ini merupakan sebagai jawabannya dari apa yang kita baca di kitap-kitap Ulama tadi.

Jadi kalau tulisan-tulisan para Ulama warasatul ambiya sebagai tiorinya, Ahmadinejad berhasil dalam aplikasinya atau prakteknya dialam nyata. Ketika Ahmadinejad menjabat sebagai Gubernur, suatu hari beliau melihat seorang tukang gorong-gorong sedang memperbaiki dengan malasnya. Ahmadinejad turun dari mobil tuanya, memperbaiki gorong-gorong tadi sambil betanya kenapa tukang gorong-gorong itu malas kerjanya. Ahmadinejad memperoleh jawaban bahwa orang tersebut tidak cukup gaji bulanannya. Keesokan harinya Ahmadinejad membuat rapat dengan staf dan seluruh pegawai kantor menjelaskan duduk persoalannya. Semua pegawai yang memiliki gaji lebih sedikit, bersedia dipotong buat pegawai yang minus macam tukang gorong-gorong tadi. Dapatkah kita bayangkan bagaimana andaikata pemotongan seperti itu kita kenakan kepada pegawai kantor di Indonesia? Akankah mereka menyetujuinya? Atau malah berdaya upaya untuk melahap dana lainnya sebagaimana di jelaskan oleh PRP dibawah ini. Kemudian adakah sosok pemimpin seperti Ahmadinejad di Indonesia? Sepertinya mustahil bukan? Ke napa bisa mustahil? System di Indonesia sudah demikian parah kondisi sepakterjang kepemimpinannya.

Tidak berlebi han kalau kita katakan bahwa korupsi, kedhaliman dan kemunafikan sudah mendarah daging, kecuali sebahagian kecil dari orang-orang yang berdaya upaya untuk membela kaum dhuafa. Mereka terakhir inilah harapan kaum dhuafa, menga pa? Sejak dari SD sampai keperguruan tinggi mereka sudah dididik untuk menjadi manusia yang hipokrit. Setelah mareka menjadi mahasiswa, sebentar betanya-tanya kenapa Indonesia itu milik penguasa bukan milik Rakyat? Pertanyaan mere ka itu selanjutnya tenggelam dibawa arus setelah mereka menjadi pegawai negeri dan berobah sepakterjangnya sebagai mana penguasa yang pamer kemewahan dan korrup. Jadi Yudikatif, Eksekutif dan legislatif macam persekutuan trinitas 'Fir'un, Karun dan Bal'am' saja sepakterjangnya. Justru itulah Indonesia tidak pernah berobah sejak Suharto sampai Yudhoyono sekarang. Penyakit' tersebut menular ke Acheh - Sumatra dan bukan tidak mungkin juga menular ke West Pa pua dan Maluku.

Kembali ke DR Mahmud Ahmadinejad.
Ketika waktu makan siang tiba, isteri tercintanya membawa ransum buat makan Presiden RII. Lalu bayangkan bagaimana di Indonesia? Jangankan Presiden, jadi camat saja takpernah lagi makan makanan masakan isterinya, kecuali setelah pen siun. Itupun ada dendayang yang melayani keperluannya. Kebiasaan makan di warung mewah atau warung mewah Nega ra ditiru oleh orang-orang yang sudah mulai berduit baik dari hasil korupsi maupun cara yang tidak halal lainnya. Jadi di samping memiliki Pemimpin yang teladan, juga butuh system yang mampu membungkem segala kemungkinan yang men dhalimi rakyat jelata. Untuk lebih jelas silakan baca alinia berikut ini tentang prototype kepemimpinan kaum dhuafa:

Pemimpin Islam sejati tidak mencari kesenangan atas penderitaan orang lain. Ekonomi rakyatlah yang diutamakan duluan. Apabila rakyat sudah tercapai finansialnya, baru pemimpin tersebut merasa puas atas kepemimpinannya. Kepuasan yang demikianlah sebagai kesenangan sejati (baca kesenangan spirituil, bukan kesenangan materiil)

Kalau kita berbicara seperti ini lazimnya orang kontra mempertanyakan mana realitanya. Contoh yang pertama pastinya Rasulullah sendiri yang sandalnya putus tali, diperbaiki oleh Imam Ali. Setelah itu Imam Ali sendiri yang banyak sekali dalam aplikasi kehidupannya mengutamakan rakyat jelata. Diantaranya ketika beliau membuka baitulmal yang dulunya tersimpan banyak dirham dan emas sementara penduduknya menderita kelaparan kecuali golongan penguasanya, di bagi kan Imam secara adil baik yang mula masuk Islam ataupun yang sudah senior. Pembantu Imam menjembunjikan sebuah piala emas untuk Imam. Pembantunya mengatakan bahwa dia melihat Imam tidak mengambil sedikitpun dari Baitulmal itu. Imam berkata: "Celaka kamu! Apakah kamu hendak memasukkan api neraka kerumahku?" Lalu Imam memukul piala tersebut dengan pedang Zulfikarnya hingga hancur untuk dibagikan secara merata..

"Itu kan dulu" kata sebagian orang. Sekarangpun, alhamdulillah masih ada contoh pemimpinnya. Mahmoud Ahmadinejad, Presidenya Republik Islam Iran, dulu adalah seorang dosen bergelar Ph D Transportasi kota, tinggal di gang buntu (sam pai sekarang masih tetap tinggal disitu, meski statusnya sekarang seorang presiden!). Kemewahan terbesarnya Ahmadine jad hanyalah mobil Peogeot 504 buatan tahun 1977 dan sebuah rumah kecil warisan ayahnya 40 tahu lalu yang terletak di salah satu daerah miskin di Teheran (seorang presiden! rumahnya terletak di daerah miskin!) Bahkan, kendatipun sudah diangkat menjadi presiden, beliau masih sering menggunakan pakaian biasa dan sepatu bolong. Sebelum menjabat sebagai Presiden, beliau adalah seorang Gubernur. Jangan berfikir kalau ‘rumah dinas’-nya sbg gubernur akan ditempati. Tidak. Beliau tetap mencintai rumah di gang buntunya, rumahnya yang jelek (dinding luarnya masih bata, belum ditembok) di kawasan Teheran Timur, dan ‘rumah dinas’-nya akhirnya dijadikan museum!. meski menjabat sebagai Gubernur, Beliau tidak segan membersihkan got jika selokan mampet, bahkan kerap menyapu jalan sebagai bukti solidaritas sosialnya.

Ketika pencalonan presiden pun, ia tidak bermodalkan apa-apa dibandingkan lawan politiknya yang menghabiskan milia ran untuk dana kampanye. Akan tetapi, kesederhanaannyalah yang membuat ia dipilih 61% rakyat Iran sebagai presiden. Selanjutnya, setelah jadi Presiden………….apakah beliau berubah? Sok berkuasa? Sombong? Angkuh sebagaimana umumnya penguasa di Hindunesia dan Acheh? Pastinya tidak, malah bertambah bersahaya.

Inilah yang beliau lakukan setelah menjadi Presiden: - Press release pertama Ahmadinejad setelah menjadi Presiden: Semua pihak dihimbau untuk tidak memasang iklan ucapan selamat di koran-koran dan semua kantor dilarang memasang foto presiden! - mem bagi-bagikan saham gratis kepada rakyat Iran - melipatdakan Pinjaman modal bagi pasangan baru menikah - mendirikan program pengayaan uranium - menyumbangkan karpet Istana Presiden (berkualitas tinggi tentunya) ke sebuah masjid di Teheran. Ia lalu mengganti karpet istana dengan karpet murah. - menu tup ruangan kedatangan tamu VIP karena dinilai terlalu besar. Ia lalu meminta sekretariat istana mengganti dengan ruangan seder hana dan mengisi dengan kursi kayu! - setiap menteri yang diangkat selalu menandatangani perjanjian dengan banyak ketentuan, terutama yang ditekankan adalah agar setiap menteri tetap hidup sederhana . Seluruh rekening pribadi dan keluarganya akan diawasi dan kelak jika masa tugasa berakhir sang menteri harus menyerahkan jabatannya dengan kewibawaan, agar dirinya dan keluarganya tidak memanfaatkan keuntungan sepeserpun dari jabatannya. - tidak mengambil gajinya sebagai presiden (yang merupa kan haknya). Alasannya seluruh kekayaan adalah milik Negara dan ia hanya bertugas menjaganya. - menghentikan semua makanan istimewa yang biasa disediakan untuk presiden. Sebuah tas selalu dibawa setiap hari. Isinya adalah bekal sarapan, beberapa potong roti sandwinch dengan minyak zaitun dan keju . Ahmadinejad menyantap dengan nikmat makanan buatan isterinya tersebut. - me ngalihkan pesawat kepresidenan menjadi pesawat angkutan barang (cargo) dengan alasan untuk menghemat pengeluaran Negara. Presien juga memi lih terbang dengan pesawat biasa di kelas ekonomi. - Semua menteri bisa masuk ke ruangannya tanpa harus izin. Ia juga menghapus semua acara seremonial seperti red carpet, foto-foto dan iklan pribadi ketika jika mengunjungi Negara lain. - Jikalau harus mengi nap di hotel ia selalu memastikan untuk tidak tidur dengan ruangan dan tempat tidur mewah. Alasannya ia tidak tidur di tempat ti dur tetapi tidur di lantai beralaskan matras sederhana dan sepotong selimut. Inilah Ahmadinejad salah satu Presiden Negara terpen ting di dunia secara strategi, ekonomi, politik dan tentunya minyak dan pertahanannya. Bahkan, saat menjadi Presiden pun, beliau juga sempat bergabung dengan petugas kebersihan kota untuk membersihkan jalan di sekitar rumah dan istana Presiden.


Salah satu kata-katanya saat menjadi pembicara di Columbia University AS berkaitan dengan program nuklirnya adalah: “Kami ingin mempunyai hak untuk menentukan nasib kami sendiri di masa depan. Kami ingin independen. Jangan mengintervensi kami. Jika kalian tidak memberikan kepada kami suku cadang pesawat terbang sipil, mengapa kami harus berharap bahwa kalian akan memberikan kepada kami bahan bakar untuk pengembangan nuklir demi tujuan-tujuan damai?”. Dilain kesempatan, beliau juga pernah mengatakan : “Program nuklir kami ditentang oleh negara yang setiap bulannya membangun 10 reaktor nuklir. Kalau me mang energi nuklir berbahaya, mengapa mereka masih memilikinya? Dan kalau memang energi nuklir membawa begitu banyak kebaikan, mengapa kami tidak boleh memilikinya?”


Dan yang paling berkesan adalah kata-katanya ketika Televisi Fox Amerika bertanya kepadanya: ”Saat anda bercermin di pagi hari, apa yang anda katakan pada diri anda?” Ahmadinejad menjawab: ”Saya melihat seseorang di cermin dan berkata padanya , ”Ingatlah, anda tidak lebih dari seorang pelayan kecil. Di depanmu hari ini ada tanggungjawab besar dan itu adalah melayani bangsa Iran”.


Ini masukan buat Pejuang Pembebasan kaum dhuafa dimanapun mereka berada dan juga masukan utuk yang berada di Legislatif Acheh sekarang dan tanggung jawabnya untuk pembebasan Acheh - Sumatra. Kita yang bukan basyar haq tundukpatuh kepada Allah bukan kepada penguasa yang menjejaskan kaum dhuafa Kalau Anda tidak mampu menconto hi Ahmadinejad, berhenti saja dari wakil Rakyat sebelum fungsi DPRA dipelintirkan orang sebagai Penipu Rakyat Acheh. Maaf demi kesejahteraan bangsa Acheh - Sumatra pada Khususnya, diperlukan masukan seperti ini.



Billahi fi sabilil haq
Muhammad al Qubra
Acheh - Sumatra

Minggu, 07 Februari 2010

SANGGUPKAH KITA MEMAHAMI BAGAIMANA PERBEDAAN ANTARA SYIAH IMAMIAH 12 DAN AHLUS SUNNAH?






Bismillaahirrahmaanirrahiim
Kenapa Ahl-Sunnah Al-Asy’ary^? (Ini hanya guna memudahkan istilah), sebab terdapat beberapa golongan dalam Ahl-Sunnah dalam Akidah mereka hingga taraf saling mengkafirkan, sebagai contoh Imam Syafi’I mengkafirkan siapa saja yang berpaham Mujasimah , sementara Al-Asy’ari menyiratkan sebaliknya, demikian juga Al-Asy’ari mengkafirkan paham Muntzilah dan Murjiyah , sementara Imam Hanafi adalah berpaham Murjiyah.

Mengapa hanya Ahl-Sunnah Al-Asy’ari yang dibandingan?, sebab selalu saja golongan ini yang menolak pe nyatuan Sunnah dan Syi’ah , ketika yang lain mendukung dengan mendahulukan ukhuwah Islamiyah dan Akh lak dibanding Madzhab maka kelompok ini (yang diwakili Wahabi) selalu menolak dengan cara mengkafirkan Madzhab Syi’ah, dan tidak mau kompromi untuk pendekatan antar Madzhab.

Inilah perbedaan pandangan dalam menilai sahabat antara SYi’ah dan Ahl-Sunnah al-Asy'ari.

SYI'AH : Sahabat ada yang baik, ada yang jahat dan ada yang munafiq (berdasarkan nas). Oleh karena itu para sahabat harus dinilai dengan al-Qur'an dan Sunnah Nabi Saw (yang tidak bertentangan dengan al-Qur'an secara keseluruhan).

Segala bentuk pujian atau celaan dari Allah swt kepada mereka adalah dari Sifat fi'l (sementara), bukan dari Sifat Zat (kekal). Karena disebabkan sifatnya sementara (saat itu) selanjutnya tergantung dari kelakuan/ perbuatan mereka kemudian apakah bertentangan dengan nas atau tidak.

AHL-SUNNAH : Kepatuhan kepada semua Sahabat (Sa'ira Ashab al-Nabi) (al-Ibanah, hlm. 12) kenyataan al-Asy'ari memberikan implikasi:
a) Sahabat semuanya menjadi ikutan. Tidak ada perbedaan di antara Sahabat yang mematuhi nas, dan Sahabat yang bertentangan nas.

b) Mentaqdiskan (mensucikan) Sahabat tanpa menggunakan penilaian al-Qur'an, sedangkan banyak terdapat ayat-ayat al-Qur'an yang mencela perbuatan mereka, karena mereka bertentangan dengan nas (lihat umpamanya dalam Surah al-Juma'at (62): 11).

c) Mengutamakan pendapat sahabat dari hukum Allah (swt) seperti hukum seseorang yang menceraikan isterinya tiga kali dengan satu lafaz, walau menurut al-Qur’an jatuh satu dalam satu lafaz dalam Surah al-Baqarah (2): 229, yang terjemahannya,"Talak (yang dapat dirujuk) dua kali." Tetapi ketika Khalifah Umar mengatakan jatuh tiga mereka mengikuti (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa', hlm. 137), Ahl-Sunnah al-Asya'irah menerimanya dan dijadikannya "hukum" yang sah sekalipun bertentangan nas (al-Farq baina l-Firaq, hlm. 301).

d) Mengutamakan Sunnah Sahabat dari Sunnah Nabi Saw seperti membuang perkataan Haiyy 'Ala Khairil l-'Amal di dalam azan dan iqamah oleh khalifah Umar, sedangkan pada waktu Nabi hal itu merupakan sebagian dari azan dan iqamah. Begitu juga Khalifah Umar telah menambahkan perkataan al-Salah Kherun mina l-Naum (al-Halabi, al-Sirah, Cairo, 1960, II, hlm. 110).

e) Kehormatan Sahabat tidak boleh dinilai oleh al-Qur'an, karena mereka berkata: Semua sahabat adalah adil (walaupun bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saww).

f) Menilai kebenaran Islam adalah menurut pendapat atau kelakuan Sahabat, dan bukan al-Qur'an dan Sunnah Nabi Saww. Mereka berkata kebenaran berada di lidah Umar. Karena itu mereka berpegang kepada pendapat Khalifah Umar yang mengatakan dua orang saksi lelaki di dalam talak tidak dijadikan syarat jatuhnya talak. Sedangkan Allah (swt) berfirman dalam Surah al-Talaq (65): 3, terjemahannya," dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil." Mereka juga berkata," Iman Abu Bakr jika ditimbang adalah lebih berat dari iman umat ini." Sekiranya iman khalifah Abu Bakr itu lebih berat dari iman keseluruhan umat ini termasuk iman Umar dan Uthman, kenapa tidak dijadikan kebenaran itu pada lidah Abu Bakr? Di tempat yang lain mereka berkata," Nabi Saww tidak segan kepada Abu Bakr dan Umar tetapi beliau malu kepada Uthman." Pertanyaannya, kenapa Nabi Saww tidak malu kepada orang yang paling berat imannya di dalam umat ini? Dan kenapa Nabi Saww tidak malu kepada orang yang mempunyai lidah kebenaran? Pendapat-pendapat tersebut telah disandarkan kepada Nabi Saww dan ianya bertentangan nas dan hakikat sebenar, karena kebenaran adalah berada di lidah Nabi Saww dan al-Qur'an.

g) Meletakkan Islam ke atas Sahabat bukan Rasulullah (Saww.), mereka berkata: Jika Sahabat itu runtuh, maka runtuhlah Islam keseluruhannya lalu mereka jadikan "aqidah" , padahal Sahabat sendiri berkelahi, caci-mencaci dan berperang sesama mereka.

h) Mengamalkan hukum-hukum Sahabat (Ahkamu-hum) dan Sirah-sirah mereka adalah menjadi Sunnah Ahli Sunnah (al-Baghdadi, al-Farq baina l-Firaq, hlm. 309), sekalipun bertentangan dengan nas, karena "bersepakat" dengan Sahabat adalah menjadi lambang kemegahan mereka. Mereka berkata lagi:"Kami tidak dapati hari ini golongan umat ini yang bersepakat atau mendukung semua Sahabat selain dari Ahlu s-Sunnah wa l-Jama'ah (Ibid, hlm.304). Karena itu Ahlu l-Sunnah adalah mazhab yang mementingkan "persetujuan/ kesepakatan" dari Sahabat sekalipun Sahabat kadang bertentangan dengan nas.

i) Mempertahankan Sahabat sekalipun Sahabat bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi saww dengan berbagai cara , Jika seorang pengkaji ingin mengetahui kedudukan sebenarnya tentang sahabat itu sebagaimana dicatat di dalam buku-buku muktabar, mereka berkata:" Ini adalah suatu cacian kepada Sahabat sekalipun hal itu telah ditulis oleh orang-orang yang terdahulu." Mereka berkata lagi:"Kajian tersebut adalah bahaya dan merupakan bara pada "aqidah" mereka, jangan dibiarkan hal itu menular di dalam masyarakat." Nampaknya mereka sendiri tidak dapat menilai bahan-bahan ilmiah sekalipun mereka berada di institusi-institusi pengajian tinggi. Sebaliknya apabila bahan-bahan ilmiah yang mencatatkan sahabat tertentu yang melakukan perkara-perkara yang bertentangan al-Qur'an, mereka menganggapnya pula sebagai cerita dongeng. Lihatlah bagaimana mereka menjadikan sahabat sebagai aqidah mereka walaupun hal itu bukanlah dari rukun Islam dan rukun Iman!

SYI'AH : Memihak kepada Sahabat yang benar di dalam semua urusan/ perkara.

AHL-SUNNAH : Tidak memihak kepada semua sahabat jika terjadi pertengkaran atau peperangan di kalangan mereka (al-Ibanah, hlm. 12; al-Maqalat, II, hlm. 324).

Karena itu pendapat Ahl-Sunnah al-Asy'ari adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Hujurat (49):9, yang terjemahannya, "Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah,"

Dan juga bertentangan dengan firmanNya dalam Surah Hud (11): 113, terjemahannya," Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, maka kamu akan disentuh api neraka." Karena itu pendapat al-Asy'ari adalah bertentangan dengan nas karena tidak ada pengecualian di dalam mendukung kebenaran.


Wan Hadi
MALAYSIA


............ ......... ......... ......... ......... ......... ......... ......... ......... ......
Sabda Rasulullah saww: "Wahai putraku al-Husein, dagingmu adalah dagingku. dan darahmu adalah darahku, engkau adalah seorang pemimpin putra seorang pemimpin dan saudara dari seorang pemimpin, engkau adalah seorang pemimpin spiritual, putra seorang pemimpin spiritual dan saudara dari pemimpin spiritual. Engkau adalah Imam yang berasal dari Rasul, putra Imam yang berasal dari Rasul dan Saudara dari Imam yang berasal dari Rasul, engkau adalah ayah dari semua Imam, yang ke semua adalah al- Qo'im (Imam Mahdi)." (14 Manusia Suci Hal 92)

Salman al-Farisi r.a. berkata:"Aku menemui Rasulullah saww, dan kulihat al-Husein sedang berada di pangkuan beliau. Nabi mencium pipinya dan mengecupi mulutnya, lalu bersabda: "Engkau seorang junjungan, putra seorang junjungan dan saudara seorang junjungan; engkau seorang Imam putra seorang Imam, dan saudara seorang Imam; engkau seorang hujjah, putra seorang hujah, dan ayah dari sembilan hujjah. Hujjah yang ke sembilan Qoim mereka yakni Al-Mahdi." (al-Ganduzi, Yanabi’ al Mawaddah)

Billahi fisabililhaq
hsndwsp
di Ujung Dunia

Sabtu, 06 Februari 2010

"LAKUM DINUKUM WALIADIN" PERMASALAHAN KITA BUKAN ISLAM ATAU NON ISLAM TETAPI AL MUNAFIQUN YANG MENJEJASKAN KEHIDUPAN KAUM MUSTADH'AFIN


"SETIAP ORANG YANG MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH
DALAM BENTUK IBADAH YANG DITEKUNINYA DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH,
TETAPI IA TIDAK MENGENAL IMAM YANG DIUTUS ALLAH,
MAKA SEMUA AMAL USAHANYA ITU TIDAK DITERIMA. . . . . . ."
(AL KAHFI)

hsndwsp

Acheh - Sumatra


Bismillaahirrahmaanirrahiim
Hemat saya, kalau system tidak benar Mesjidpun ikut tidak benar. Mengapa hanya tgk Imum doang yang shalat di mesjid? Kebanyakan orang dikawasan tersebut terlalu sibuk mencari rezki dimana system tidak memihak kepada mereka sementara orang-orang yang berkecukupan, kemungkinan besar harta yang diperolehnya tidak halal. Ini menunjukkan mereka itu tidak perduli shalatnya.

Panitia mesjidpun pada umumnya membangun mesjid untuk lapangan kerjanya. Saya pernah amati beberapa mesjid yang dibangun dengan donatur yang melim pah melalui edaran celeng dan kerapkali si pengedar celengpun mengambil sebagiannya tanpa diketahui orang yang bertanggungjawab terhadap celeng tersebut. Ironisnya masih juga diserobot dana fakir-miskin baik dari zakat fitrah maupun zakat tahunan.

Senif penerima zakat itu ada 8 menurut firman Allah dan hadist RasulNya. Realita pada hampir kampung dan kota hanya yang ada Fakir, miskin dan amil atau pekerja zakat. Seharusnya 5 hak senif yang tidak wujud dileburkan kepada fakir dan miskin hingga dua golongan tersebut memiliki hak yang lumaian tapi dileburkan kepada 3. Akibatnya penerima hak amil jauh lebih banyak dibanding kan hak setiap miskin bahkan fakir. Padahal hak amil sekedar saja agar terlaksa nanya tugas tersebut. Allah memfokuskan zakat pada fakir dan miskin. Andaika ta golongan itu tidak wujud tidak ada istilah zakat. Ironisnya lagi ada yang menggeser hak senif yang tidak exis ke Mesjid. Itu bernakna Mesjid dibangun atas manipulasi hak kaum fakir-miskin. Inipun sebetulnya pantas kalau tidak ada jamaah di Mesjid. 

Kalau tujuan Allah menurunkan ayatNya tidak dipahami secara filosofis (hakikat) pastinya melenceng realitanya dari maksud Allah sendiri. Hal ini dapat diamati sebagaimana pemahaman sebahagian orang kita terhadap persoalan Syariat Islam. Kapan Syariat Islam itu diberlakukan agar tidak menjejaskan kaum mustadh'afin?. Dalam system bagaimana hukum jinayah itu dapat dite rapkan dan apa persiapan sebelumnya?. Kalau persoalan system Islami belum kita pahami, para penggagas syariat sama seperti tukang kebun yang mahir menanam pohon buah-buahan tapi mereka tidak memahami buah-buahan yang bagaimana dibutuhkan konsumer atau bagaikan orang yang memiliki banyak perabot tetapi tidak memahami bagaimana menatanya dalam rumah hingga demikian centang-prenang dan menjengkelkan bagi orang yang melihatnya dan bahkan pemilik rumah itu sendiri.

Justru itu system harus memfokuskan hubungan antar manusia dan manusia dulu, baru hubungan manusia dengan Khaliqnya. Hablum minannasnya dulu baru hablumminallah kemudian. Ibadah Sosial dulu baru ibadah ritual kemu diannya. Finansial rakyatnya dulu baru berbicara Mesjid. Finansial rakyatnya dulu baru bermuara kepada pendidikan. Membangun system dulu baru Syariat dapat diterapkan, bukan tempatnya Syariat dalam system Taghut. Putuskan mata rantai kezaliman dulu baru kebaikan dapat ditegakkan. Bagaimana mungkin kita mengharapkan taman bunga bisa bersih dan indah sementara kubangan kerbau didekatnya kita biarkan merajalela?

Secara gampang mudah dipahami benar tidaknya suatu System, adakah Rahmatan lilalamin minimal bagi seluruh penduduk yang ada di dalam system tersebut? Kalau sebagian orang makin kaya dan sebagian makin miskin, persetanlah berbicara pembangunan, pembangunan, pembangunan, hingga anda semua mendapat titel 'bapak pembangunan' yang hipokrit itu. Siapakah pemilik setiap negara? Rakyatkah atau penguasa (baca yudikatif, legislatif dan eksekutif) Apa hak penguasa menentukan gaji demikian tinggi tanpa kompromi dengan rakyatnya? Kalau negara itu milik rakyat kenapa mereka menderita kemiskinan sementara penguasa menikmati fasilitas negara bagaikan milik moyangnya? Kalau Yudikatif bermusyawarah dengan legislatif, benarkah legislatif itu wakil rakyat? Atau wakil penguasa sendiri agar semua gagasannya terpenuhi. Legislatif di Jawakarta dengan enak saja menerima sogok dari legislatif daerah agar rencana belanja daerah disepakati legislatif jawakarta. Apakah itu sepakterjang wakil rakyat atau basyar yang senantiasa mencari kesenangan diatas penderitaan orang lain (baca rakyat jelata yang diwakilinya).

Legislatif Acheh - Sumatra sedang merenungkan apakah 10 milyar 'dana aspiratif' benar haknya dari kebijaksanaan penguasa Jawakarta atau jelas termasuk korupsi alias mencuri dengan menggunakan fasilitas negara atau pencuri berdasi. Apakah anda mengira kiamat itu masih lama? Berapa umur anda sekarang? Azab kubur, tidak takutkah anda? (nauzubillahi min zalik)

Terakhir sekali eksekutif, apa hak mereka menghukum kaum yang lemah sementara kaum mutakabbirun 'dilepaskan' dengan perundang-undangan hukum labalaba? Paling banter kalau nasib naas anggota eksekutif, Yudikatif dan legislatif sempat masuk penjara, penjarapun seperti istana peristirahatan bagi koruptor kelas kakap. Setelah keluar dari penjara uang korupsinya telah beranakpinak melalui deposito di bank-bank yang punya jaminannya. Jadi kapan kesempatan kita membangun system yang redha Allah kalau mayoritas petugas negara berperangai cangkul? Lebih parah lagi kezaliman sudah membudaya. Apa penyakitnya kita bangsa tertindas hari ini? Pastinya "Tujuan Hidup kita belum benar"

Mengapa tujuan hidup kita belum benar? Pastinya bermuawa pada agama yang kita milki. Kita terlalu ego dengan 'keilmiahan' kita. Kita tidak sadar bahwa betapapun ilmiahnya pemikiran kita kalau tidak di uji dengan firman Allah sebagai pemilik Alam semesta dan kita sendiri, belum benar apa yang kita yakini itu. Ini bukan persoalan ilmu semata-mata tapi kemampuan memahami pesan Allah dalam rentangan ayat-ayatNya. Alhamdulillah kalau DPRA yang baru ini dapat mengendalikan nafsunya tapi DPRA lama yang menggolkan hukum yang tidak adil dalam kanun Acheh telahpun korupsi minimal 5 milyar per anggota DPRA plus jalan-jalan keluar negeri. Apakah jumlah 5 milyar itu tidak banyak? Andaikata kami memiliki power, sungguh akan kami ambil kembali uang seharusnya dapat dibuat perusahaan yang menguntungkan rakyat sebagai lapangan kerjanya. Mareka boleh saja bersembunyi namun Allah pasti menghadapkan mereka kemahkamah yang tidak dapat dibantah dengan lidah tapi kaki dan tangandiminta Allah untuk mempertanggungkan jawabannya kelak.

Barang kali kita mayoritas membaca firman Allah: "Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah, Rasul Nya dan ulul amri mingkum. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur-an) dan Rasul (Hadist murni), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari ke mudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa', 4: 59)

Kalau Allah dan Rasulnya sudah umum diketahui tapi "ulul amri minkum"? Itulah persoalan utama, orang yang di tunjuk Allah dan RasulNya, mana? Kalau bukan itu persoalannya, pasti orang Arab atau kalangan Arab yang benar agamanya. Realitanya kendatipun mothertongue mereka Arabic, mereka yang wahabi itu keliru sepakterjangnya, mengapa? Boleh jadi kita di kawasan yang jauh dari Arab lebih paham dari mereka tentang agama yang haq, dari sekian firkah yang sesat. Maaf kalau saya katakan boleh jadi. Tinggallagi yang saya maksudkan persoalan kepemimpinan yang haq kita ikuti setelah Allah dan RasulNya. Itulah kunci keberhasilan mendirikan system Allah atau kedaulatan Allah di muka Bumi. Kesimpulannya orang yang mengaku beragama Islam tapi realitanya tidak Islami pemikirannya dan tidak rahmatan lilalamin, berarti komunitas tersebut bukan komunitas Islam tetapi komunitas munafiqun atau hipokrit.

Jadi permasalahan kita sekarang bukan Islam atau non Islam tapi kaum hipokrit. Realitanya di negara yang penguasanya non Muslim macam Swedia, Danmark dan Norwegia secara horizontal atau hubungan antar manusia (baca hablum minannas) sangat baik, sementara di negara-negara yang mayoritas penduduknya mengaku beragama Islam tidak ada satupun yang tercapai finansial rakyatnya kecuali RII.

Sepertinya Norwegia sedikit lebih unggul dari RII dalam pelayanan ekonomi bagi seluruh rakyatnya. Hal ini dapat kita pahami bahwa RII baru saja melepaskan diri dari penjajahan dalam negeri (baca penindasan dari penguasa 'Islam' Savawi). Disamping itu RII juga sampai hari ini haq membantu komunitas lainnya di Afrika dan Libanon. Sedangkan Norwegia sudah lama merdeka. Kita juga salut kepada penguasa Norway bahwa setelah mereka mampu melepaskan diri dari penjajahan, mereka mampu membangun system yang membuat rakyat tercapai finansialnya. Sementara Indonesia setelah melepaskan diri dari penjajah Belanda dan Jepang, tetapi mereka mewarisi sepakterjang penjajah dan bahkan lebih zalim dari penjajah sebelumnya.

Billahi fi sabililhaq
Angku di Tanpok Donya
Acheh - Sumatra

http://albdoo.info/quran/translate-2-2.html
http://albdoo.info/quran/translate-2-2.html