Senin, 26 Desember 2016

HUJJATULLAH YANG BRILLIANT PASKA KEWAFATAN RASULULLAH





KITA MENGETAHUI BAHWA BANYAK PARA PEMIKIR YANG BRILLIAN DAN MENGAGUMKAN BANYAK ORANG DI ZAMAN KITA INI AKAN TETAPI INI BELUM BERMANFAAT BUAT MANUSIA DENGAN KEBERADAAN MEREKA KECUALI MEREKA JUGA MENGENAL PERSIS PARA HUJJATULLAH YANG DIUTUS ALLAH SWT PASKA KEWAFATAN RASULULLAH SAWW


TANPA MENGENAL HUJJATULLAH YANG DIUTUS DIKOLONG LANGIT PASKA KEWAFATAN RASULULLAH FILOSOF MANAPUN KELIRU JALAN PIKIRANNYA



Bismillaahirrahmaanirrahim
Para filosof non Syi'ah telah mampu menjawab pertanyaan sulit seorang Atheis dengan bagus. Kalau kita buka Internet, kita menyaksikan banyak ahlipikir atau filosof yang mampu menjawab berbagai pertanyaan penting dalam hidup ini baik dari pihak kaum muslimin maupun dari pihak non Moslem hingga kebanyakan pendengar atau pembaca terkesima dengan jawaban ilmiah para ahli tersebut. Dengan inteligennya yang tinggi kita patut mengakui bahwa mereka telah banyak mengalahkan para pemikir lainnya akan tetapi para ahli tersebut kewalahan ketika berhadapan dengan pemikir dari pengikut para Ahlulbayt Rasulullah saww. Hal ini disebabkan mereka tidak percaya keberadaan para Ahlulbayt yang berfungsi sebagai Hujjatullah dan Pendamping Qur-an paska kewafatan Rasulullah agar ummah Muhammad tidak sesat selama-lamanya. Hal ini dapat dilihat pada ayat persatuan (wa’tasimu bihablillahi jamiiaw, wala tafarraqu), dimana ayat ini berhubungan dengan Hadist Tsaqalain murni. Kenapa kita sebut Tsaqalain murni? Sebab Hadist tersebut telah dipal sukan hingga berakibat kaum muslimin tidak dapat bersatu paska kewafatan Rasulullah sampai zaman kita ini terus berpecah belah.

Imam Baqir mengatakan: "Siapapun yang tidak mengenal Imam yang diutus, terpuruk pada kesimpulan yang keliru tentang pemahaman agamanya". Dalam hal ini Imam al Baqir as berkata: " Setiap orang yang mendekatkan diri kepada Allah dalam bentuk ibadah yang ditekuninya dengan sungguh-sungguh, tetapi ia tidak menge tahui Imam yang diutus Allah, maka semua amal usahanya itu tidak diterima. Ia adalah orang yang sesat dan kebi ngungan. Allah menolak semua amalnya, perum pamaan orang seperti itu adalah ibarat seekor domba yang tersesat dan terpi sah dari kelompok dan pengembalanya. Keter pisahannya itu merusak hari-hari yang dilaluinya. Ketika malam tiba, ia bergabung dengan kelompoknya dalam kandang mereka, dan ketika sang pengembala menggiring mereka, domba tersebut mem bangkang dan memisahkan diri dari kelompoknya, sehingga ia kebingungan mencari pengembala dan kelompoknya. Ketika ia bertemu dengan seorang pengembala de ngan sekelompok dombanya, ia diperlakukan dengan baik, dan sigembala berte riak kepadanya, 'Ayo, bergabunglah engkau dengan pengembala dan kelompokmu. Engkau domba sesat yang kebingungan.' Domba itu lalu mencari-cari kelompok dan pengembalanya dengan kebingungan. Ia tidak punya gembala yang menggiringnya ke padang rumput atau mengajaknya pulang. Ia tetap dalam kebingungan seperti itu disaat ada seekor serigala yang menemuinya, lalu menerkamnya. (Ushul al Kafi, bab Ma'ri fat al Hujjah hadist no 1 dari Kitab al Hujjah)

Allah dan RasulNya dikenal kebanyakan orang muslim tetapi kebanyakan mereka tidak mengenal unsur ketiganya, siapakah sosok tersebut. Kebanyakan mereka mengira sosok terfsebut adalah siapa saja yang berkuasa terhadap mereka/pemerintah mereka. Inilah yang membuat mereka keliru 180 derajad dalam beragama walaupun mereka jenius se kalipun. Logikanya, kita mengenal Allah via Rasulullah hingga Allah menar-benar kita kena li. Persoalannya sama siapakah kita mengenal Rasulullah? Pastilah via Ulil Amri. Penge nalan disini bukan secara basa-basi/cuekin tetapi mengenal persis. Dari itu disebabkan kita mentaati Ulil Amri yang salah, berakibat salahlah dalam beragama hingga kita termasuk pihak yang mendapatkan tempelakan Allah hari kiamat sebagaimana tertera dalam surah Yasin ayat berikut ini: 

"Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu hai Bani Adam agar supaya kamu tidak mengi kuti (langkah) syaitan? Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kamu"(QS,36:60). Dan tundukpatuhilah kepadaKu (ikutilah Aku). Inilah jalan yang (selurus)-lurus(nya) (QS, 36:61). Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan seba hagian besar diantaramu, Maka apakah kamu tidak memikirkan? Inilah Jahannam yang dahulu kamu diancam (dengannya).(QS,36:62). Masuklah (kamu) ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu menging karinya (QS, 36:64). Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan (QS, 36:65)

Dengan catatan ini semoga para ahli pikir manapun mau menelusuri dalam hidup nya, siapa sajakah Hujjatullah di planet Bumi ini hingga tanpa manusia agung itu Bumi ini akan binasa atau runtuh atau kiamat. Demikianlah penting Allah menjadikan HujjahNya di kolong langit ini.

Pertama sekali para filosof perlu mempertanyakan kenapa Allah tidak menggunakan kata "bidinillah" pada ayat "Wa’tasimu bihablillah", dimana kebanyakan pemikir menterjemahkan "bidinillah". Ini termasuk kata "simbolik" yang memiliki makna dan fungsinya yang begitu penting disisi manusia yang benar imannya. Hadist Tsaqalain murni berbunyi: "Kutinggalkan kepadamu dua perkara besar, apabila kalian berpegangteguh kepada keduanya kalian tidak akan sesat selama-lamanya, sampai menemuiku di Pancutan Kautsar, yaitu Qur-an dan "Ittrahku". Ittrah Rasulullahlah yang berfungsi sebagai Hujjatullah dan pendamping Qur-an. Hujjatullah yang pertama sebagai pendamping Qur-an adalah Rasulullah sendiri. Makanya Qur-an butuh Hadist sebagai penjelasannya.

Andaikata Allah tidak mengutus HujjahNya paska kewafatan RasulNya (sebagai perpan jangan keimamahannya) dapat dipahami bahwa paska kewafatan Rasulullah, dunia akan menjadi seperti paska Ghaibnya Nabi ‘Isa bin Maryam dimana kitab Injil dipalsukan dan ‘Isa sendiri dianggap sebagai Tuhan. Justeru itu Allah menjamin kemurnian Qur-an segagai Kitab terakhir bagi ummat manusia terakhir di planet Bumi ini. Lalu pertanyaannya, kenapa juga paska kewafatan Nabi Muhammad saw kaum muslimin terus pecah belah? Qur-an memang tidak dapat dipalsukan sesuai pernya taan Allah sendiri bahwa Dia sendiri yang menjamin keasliannya. Memang banyak pihak mencoba untuk memaslukan Qur-an tetapi selalu terbongkar niat jahat tersebut. Akan tetapi Qur-an terdiri dari ayat muhkamat dan Mutasyabihat, ayat ansih dan mansuh, ayat tersurat dan tersirat. Kalau ayat muhkamat memang tidak butuh pendamping, mudah dipahami, namun ketika kita berhadapan dengan ayat-ayat sulit, kita butuh pendampingnya agar tidak sesat selama-lamanya.

Banyak para pemikir yang brillian tetapi tetap saja keliru disebabkan mereka tidak mengenal pendamping Qur-an. Padahal mereka yakin bahwa untuk mengetahui ayat-ayat Sulit kita butuh Hadist Rasulullah (pendamping Qur-an). Kesilapan mereka adalah tidak sadar bahwa para manusia jahat memang tidak mampu memalsukan Qur-an tetapi mereka mampu me malsukan Hadist sebagai pendamping Qur-an. Itulah sebabnya pengikut Ahlulbayt (Syi’ah Imamiah 12) tidak akan pernah sesat sebab mereka mengenal pendamping Qur-an yang dimaksudkan dalam Hadist Tsa qalain murni yaitu Ittrahnya Rasulullah sendiri yang SK kesuciannya diturunkan Allah berbarengan dengan Hadist Kisa. Ittrah Nabi suci inilah yang dimaksudkan Allah dengan «Tali Allah/bihablillah» untuk kita bersatu. Itulah sebabnya ha nya pengikut Ahlulbayt yang memahami persoalan esensi persatuan yang dimaksudkan Allah swt.

Terakhir sekali saya hendak menjawab kekeliruan salah seorang pemikir bahwa katanya kata Syi’ah tidak disebutkan dalam Qur-an:

Para ahli pikir itu  mengatakan bahwa Syi’ah (baca pengikut Ahlulbayt) tidak disebut kan dalam Qur-an. Katanya Qur-an hanya menyebut Muslim, bukan Syi’i dan bukan Sunni. Kalau Ahli pikir itu mengatakan bahwa Qur-an tidak menyebut Syi’i, terindikasi mereka belum membaca Qur-an keseluruhannya. Kalaulah sudah mereka baca berarti tidak memahami Qur-an keseluruhannya. Sebetulnya banyak pemikir non Syi’i yang memahami Qur-an tetapi mereka tidak memahami ayat-ayat yang penting disebabkan mereka tidak mengenal Hujjatullah/pendamping Qur-an dimana melalui merekalah kita mampu memahami ayat-ayat Qur-an yang terpenting walaupun kita hanya orang biasa.

Petama silakan buka surah Al Bayyinah:
Mazhab Syiah Imamiyah Itsna Asy'ariyah (Pengikut 12 Imam) adalah sebuah komunitas besar dari ummat Islam pada masa sekarang ini, dan jumlah mereka diperkirakan ¼ jumlah umat Islam. Latar belakang sejarahnya bermuara pada masa permulaan Islam, yaitu saat turunnya firman Allah swt. surat Al-Bayyinah ayat 7 :


إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُوْلَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّة

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, mereka adalah sebaik-baiknya penduduk bumi. (QS. Al Bayyinah [98]:7)

Selekas itu, Rasulullah saww. meletakkan tangannya di atas pundak Ali bin Abi Thalib a.s., sedang para sahabat hadir dan menyaksikannya, seraya bersabda: “Hai Ali!, Kamu dan para syi’ahmu adalah sebaik-baiknya penduduk Bumi”. [1] Dari sinilah, kelompok ini disebut dengan nama “syi’ah”, dan dinisbatkan kepada Ja’far Ash-Shadiq a.s. karena mengikuti beliau dalam bidang fiqih.

Selanjutnya kata Syi'ah dalam Qur-an dapat anda telusuri di alinia-alinia berikut ini:   

"(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap ummah dengan Imamnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikit pun" (QS. Al-Israa: 71)

Pada hari pengadilan akhirat, takdir dari setiap orang yang mengikuti para Imamnya yang dipercayainya akan tergantung dari Imam-Imam yang dipercayainya itu apabila ia memang benar-benar mengikuti para Imam yang ia percayai itu. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa ada dua jenis Imam yang diikuti dan diyakini oleh para pengikutnya. Ada Imam yang mengajak manusia untuk masuk ke dalam Api Neraka. Untuk kategori ini adalah para pemimpin yang dzalim dan tiran di masanya seperti Fir’aun, misalnya. Kita harus mampu mendeteksi Fir-un-fir'un modern/regim-regim despotik dan arogant.

"Dan Kami jadikan mereka para Imam yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.

Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah)" (QS. Al-Qashash: 41—42)

Al-Qur’an sudah memberikan peringatan kepada orang-orang yang mengikuti para imam yang dzalim dan para pengikut imam seperti itu akan mendapatkan takdir buruknya kelak di akhir zaman. Mereka akan digabungkan dengan para imamnya itu dalam Jahanam.

Di sisi lain Al-Qur’an juga memberikan informasi tentang adanya Imam-Imam yang memang ditunjuk oleh Allah untuk membimbing manusia ke jalan yang benar. Lihatlah ayat berikut ini:

"Dan Kami JADIKAN di antara mereka itu IMAM-IMAM yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami." (QS. As-Sajdah: 24)

(lihatlah kata-kata JADIKAN dan IMAM-IMAM yang menjelaskan secara tegas tentang jabatan Imam yang ditunjuk oleh Allah dan bukan oleh manusia. Dan mereka memiliki fungsi yang kurang lebih sama dengan Nabi walaupun tidak membawa kitab suci yang baru).

Dengan melihat ayat-ayat tersebut di atas, maka kita bisa simpulkan bahwa para pengikut dari Imam-Imam yang mendapat mandat dari Allah itu akan menemui kebahagiaan di akhirat kelak. Jadi kalau kita menjadi pengikut seorang imam maka itu tidak berarti apa-apa kalau yang kita ikuti itu adalah seorang imam yang tidak mendapatkan mandat dari Allah. Jadi akhir yang baik dan yang buruk bagi kita di akhirat kelak itu ditentukan dari siapakah imam yang kita ikuti dan patuhi selama kita hidup di Bumi.

Allah telah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa beberapa hambaNya yang haq adalah juga pengikut (Syi’ah) bagi para hambaNya yang lain. Seperti pernah dijelaskan Al-Qur’an bahwa Nabi Ibrahim itu adalah pengikut (Syi’ah) dari Nabi Nuh. "Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh)" (QS. Ash-Shaaffaat: 83)

(Lihatlah kata "Syi’ah" yang dipakai secara jelas sekali oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an secara eksplisit menggunakan kata itu huruf demi huruf dalam ayat tersebut di atas dan juga dalam ayat berikut ini)

Dalam sebuah ayat dalam Al-Qur’an diceritakan tentang pengikut (?????) Nabi Musa melawan musuh-musuh dari Nabi Musa. Lihatlah ayat berikut dan lihatlah penggu naan kata SYI’AH untuk ayat tersebut:

"Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapati nya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari SYI’AHNYA (pengikutnya Bani Israel) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari SYI’AHNYA (pengikutnya) meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan, sesung guhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya) (QS. Al-Qashash: 15)

Di dalam ayat Al-Qur’an di atas ada orang yang disebut sebagai pengikut Nabi Musa (atau SYI’AH MUSA) dan orang yang satunya lagi disebut sebagai musuh dari Nabi Musa. Orang-orang pada jaman bisa dibagi kedalam dua kelompok: kelompok SYI’AH MUSA atau kelom pok MUSUH MUSA.

Dengan kata lain bisa kita simpulkan bahwa Allah secara resmi menggunakan kata SYI’AH dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan pengikut para Nabi dan sekaligus para Nabi itu sendiri (masih ingat Nabi Ibrahim yang disebut sebagai SYI’AH—pengikut—dari Nabi Nuh?). Allah menggunakan kata SYI’AH ini dengan segenap penghor matan kepada para hambaNya yang shaleh. Apakah dengan itu kita membuat Nabi Ibrahim itu sebagai seorang sektarian? Bagaimana dengan Nabi Nuh dan Nabi Musa?

Kata "Shiah" itu sendiri artinya "pengikut" atau "anggota dari sebuah kelompok". Sementara itu kata SYI’AH sendiri sebenarnya tidak mengandung sifat positif atau negatif. Kata itu akan bersifat negatif atau positif apabila kata itu disandingkan dengan nama seorang pemimpin tertentu.

Apabila seorang pengikut (Syi'ah) itu mengikuti para hamba Allah yang haq, maka tidak ada salahnya dengan kata Syi'ah itu apalagi mengingat Imam yang ia ikuti itu adalah Imam yang diberikan mandat langsung oleh Allah untuk membimbing ummat manusia. Sementara itu apabila seseorang itu telah menjadi seorang pengikut (Syi'ah) dari seorang tiran yang kejam; seorang pemimpin yang tidak berperike manusiaan; seorang pemimpin yang korup bukan kepalang, maka ia akan menemui takdir buruknya bersama dengan imam yang diikutinya.

Selanjutnya mari kita analisa Hadist Bahtera (Hadist Ittrah Nabi suci): "Ahlul baytku umpama bahtera Nuh, siapa yang naik selamat dan siapa yang tidak naik tenggelam". Kita dapat menarik kesimpulan bahwa siapapun yang mengaku beragama Islam tetapi tidak termasuk pengikut Ahlulbayt Rasulullah, mereka itu akan masuk Neraka kelak (nauzu billahi min zalik). Selanjutnya perlu kita nalisa system Thagut macam Hindunesia, Irak di jaman Saddam, Iran di jaman Shah Redha Palevi dan sebagainya, adakah termasuk bahtera yang sama dengan bahtera Ahlulbayt Rasulullah atau bahtera Muawiyah dan Yazid bin Muawiyah. Kalau system yang sama dengan bahtera Ahlulbayt Rasulullah, "penumpang nya" mendapat Rahmat semuanya tanpa kecuali. Sebaliknya yang kita saksikan dalam system Hindunesia, sebahagian penumpangnya hidup mewah sementara mayoritas pe numpangnya hidup morat marit. Lalu selanjutnya kita pertanyakan orang-orang "alim" dalam bahtera Hindunesia dan semacamnya, adakah mereka menjadi pembela kaum mustadhafin dengan ilmu agama yang segudang mereka miliki? Bukankah mereka itu hanya dimulut saja mengaku tidak ada Tuhan selain Allah sementara dalam sepakter jangnya sehari-hari menuhankan Penguasa zalim yang menzalimi ekonomi kaum mustad 'afin akibat tidak menghukum para koruptor dengan hukum yang diturunkan Allah (baca QS, al Maidah 44, 45 dan 47)



HUJJATULLAH YANG BRILLIANT SEMUANYA SYAHID.

 JUSTERU ITULAH YANG TERAKHIR DI GHAIBKAN 

SEPERTI 

NABI 'ISA BIN MARYAM:



1. Imam Ali bin Abi Thalib Amirul Mukminin a s 

2. Imam Hasan Al-Mujtaba a.s. 

3. Imam Husain Sayyid Asy-Syuhada a.s. (keduanya adalah putra Imam Ali dan Sayidah Fatimah a.s. dan cucuanda Nabi suci saww. 

4. Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad a.s. 

5. Imam Muhammad bin Ali Al-Bagir a.s. 

6. Imam Ja’far bin Muhammad Al-Shadiq a.s. 

7. Imam Musa bin Ja’far Al-Khadzim a.s. 

8. Imam Ali bin Musa Ar-Ridha a.s. 

9. Imam Muhammad bin Ali Al-Jawad-At-Taqi a.s. 

10. Imam Ali bin Muhammad Al-Hadi- An-Naqi) a.s. 

11. Imam Hasan bin Ali Al-‘Askari a.s. 

12. Imam Muhammad bin Hasan Al-Mahdi Al-Muntazhar a.s. yang dijanjikan dan dinantikan. (read less)

Open: All content is public.


Website:

http://www.al-hadj.com 

http://www.khamenei.ir 

http://www.leader.ir 

http://www.wilayah.org 

http://www.al-shia.org/html/id/index.htm 

http://www.fatimah.org/index1.htm


Al­ Qur-an Tentang Keluarga Para Nabi 

Dalam Al­Qur’an diceritakan tentang para Nabi yang berdoa kepada Allah SWT bagi keluarganya, dan memohon kepada­Nya untuk menuntun keturunan mereka. Allah SWT selalu mengabulkan doa para Nabi dengan memberikan berkah­Nya kepada keturunannya, agar anak cucu Nabi itu dapat melestarikan ajaran orang tua dan datuk kakek mereka, mencontohi kesalehan orang tua mereka, dan menjaga jalan yang lurus’ yang diajarkan Nabi itu, yaitu dzurriyah, al, ahl, dan qurba. Dzurriyah, misalnya, yang berarti keluarga, turunan atau keturunan langsung, terdapat dalam 32 ayat al­Qur’an. Misalnya, Allah SWT berfirman: 

(Ingatlah) ketika Ibrahim mendapat ujian dari Tuhannya untuk memenuhi beberapa suruhan, lalu ia menunaikannya. Berfirman (Allah), ‘Akan kujadikan kau pemimpin (imam) bagi manusia’. (Ibrahim memohon) ‘Dari keturunanku (dzurriyati), juga jadikan pemimpin­pemimpin)’. Menjawab (Tuhan) dan berfirman. ‘Janji­Ku tidak berlaku bagi orang yang zalim. 569 
Di bagian lain, Ibrahim as berdoa kepada Allah SWT: 
‘Tuhan kami! Aku telah menetapkan sebagian keturunanku di lembah tanpa tanaman, dekat Rumah­Mu yang suci. Tuhan kami! Supaya mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia mencintai mereka, dan berilah mereka rezeki buah­buahan, supaya mereka berterima kasih’. 570 
Doa ini dikabulkan Allah: 

Mereka yang diberi nikmat oleh Allah, para Nabi keturunan Adam dan (keturunan) mereka, yang Kami bawa bersama Nuh (dalam bahtera), keturunan Ibrahim dan Isra’il, dan (keturunan mereka) yang Kami beri petunjuk dan Kami pilih. Bila dibacakan kepada mereka ayat­ayat Allah Yang Maha Pemurah, mereka tunduk bersujud dan berurai air mata. 571 
Dan semua ahli tafsir sependapat bahwa Nabi Muhammad saw adalah dari keturunan (dzurriyah) Ibrahim. Dalam ayat yang lain Nabi Muhammad disebut sebagai keluarga (al) Ibrahim: 

Sungguh Allah telah memilih Adam dan Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran di atas segala bangsa. 572 
Istilah al (keluarga) seperti pada ayat di atas terdapat pada 26 ayat Al­Qur’an yang berhubungan dengan keturunan para Nabi, serta berkah khusus yang dilimpahkan kepada mereka. Di bagian lain Allah SWT berfirman: 

Ataukah mereka dengki kepada manusia, karena Allah memberi mereka sebagian dari karunia­ Nya? Sungguh, telah Kami beri keluarga Ibrahim Kitab dan Hikmah, dan Kami beri mereka kerajaan yang besar.

Istilah ahl (keluarga) mempunyai arti yang sama dengan al. Tetapi, bila dirangkaikan dengan bait (rumah) menjadi ahlu’l­bait, maka yang dimasukkan adalah keturunan langsung, seperti terdapat pada ayat Al­Qur’an yang berikut: 
Allah hanya hendak menghilangkan (segala) kenistaan daripadamu, ahlu’l­bait (Rasul Allah), dan menyucikan kamu sebersih­bersihnya.

Jumhur atau kebanyakan ulama berpendapat bahwa yang dimaksudkan dengan ahlu’lbait dalam ayat itu adalah putri Nabi Fathimah, sepupu dan menantu beliau ‘Ali bin Abi Thalib, serta kedua cucu yang sangat beliau cintai Hasan dan Husein. Hadis Kisa 

Hadis Kisa yang menyangkut turunnya ayat ini, diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib, ummu’l­muminin ‘A’isyah dan ummu’l­muminin Ummu Salamah, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Umar bin Abi Salmah, Abu Said al­Khudri, Sa’d bin Abi Waqqash, Anas bin Malik dan lain­lain. 

569 Al­Qur’an, al­Baqarah (II), 124. 570 Al­Qur’an, Ibrahim (XIV), 37. 571 Al­Qur’an, Mariam(XIX), 58 572 Al­Qur’an, Ali Imran (III), 33. 573 Al­Qur’an, an­Nisa’ (IV), 54. 574 Al­Qur’an, al­Ahzab (XXXIII), 


Ummu Salamah berkata: “Ayat Allah hanya hendak menghilangkan (segala) kenistaan daripadamu, ahlu’l­bait (Rasul Allah), dan menyucikan kamu sebersih­bersihnya turun di rumahku. Dan di rumahku ada tujuh, Jibril dan Mikail as., ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain ra dan saya berada di dekat pintu rumahku.” 

“Aku bertanya: ‘Ya Rasul Allah apakah saya tidak termasuk ahlu’l­bait?” Rasul menjawab: ‘Sesunggulmya engkau dalam kebaikan, engkau adalah istri Rasul’. Di bagian lain Rasul menutup ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dengan kain (Kisa’), lalu turunlah ayat di atas sehingga dinamakan Hadis Kisa’ dan ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dinamakan Ahlul Kisa’.

Istilah lain, yakni qurba (berasal dari kata qaruba yang berarti dekat) dimaksudkan juga keturunan langsung dari seseorang, seperti tersebut pada firman Allah dalam Al­Qur’an: 

Itulah (karunia) yang Allah kabarkan beritanya yang gembira kepada hamba­hamba­Nya yang beriman dan melakukan amal kebaikan. Katakanlah, ‘Tiada kuminta kepadamu upah untuk itu, hanya kasih sayang kepada keluarga (qurba)’. Dan barangsiapa yang memperoleh kebaikan Kami akan tambahkan pula kepadanya kebaikan. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Berterima kasih. 


Dan sekali lagi, jumhur sependapat bahwa istilah qurba (keluarga) di sini memaksudkan keluarga Muhammad saw, yaitu Fathimah az­Zahra’ ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan serta Husain. Tentu yang dimaksudkan dengan jumhur (mayoritas) disini adalah tokoh­tokoh.....


bersambung....


NORWEGIAN:

Vi vet at mange av dem BRILLIAN tenker og FANTASTISKE MENNESKER I vår tid VIL men dette har ikke nyttig for menneskelig eksistens AV dem med mindre de også vite nøyaktig THE hujjatullah sendt fra den Allmektige Gud etter KEWAFATAN Rasulullah saww


Uten å vite hujjatullah sendes dikolong SKY ETTER KEWAFATAN Rasulullah filosofer NOEN MÅTE FEIL MIND



Bismillaahirrahmaanirrahim
De ikke-sjia filosofer har vært i stand til å svare på vanskelige spørsmål med stor ateist. Hvis vi åpner Internett, har vi vært vitne til mange ahlipikir eller filosofer var i stand til å svare på viktige spørsmål i livet fra både muslimer og ikke-muslimske partiet til de fleste lyttere eller lesere fascinert av vitenskapelig svar på slike eksperter. Med høy inteligennya vi bør erkjenne at de har mange andre tenkere slå, men ekspertene er overveldet når du arbeider med hodet av tilhengerne av profeten saww Ahlulbayt. Dette er fordi de ikke tror på eksistensen av Ahlulbayt som fungerer som hujjatullah og assisterende post kewafatan Koranen at Profeten Muhammed ikke gå seg vill ummah alltid. Dette kan sees i punkt enhet (wa'tasimu bihablillahi jamiiaw, wala tafarraqu), hvor dette verset refererer til ren Thaqalayn Hadith. Hvorfor kaller vi ren Thaqalayn? For Hadith har Dipal sport og lede muslimene kan ikke forene post kewafatan Rasulullah til vår tid fortsetter brutt i stykker.

Imam Bakir sa: "Alle som ikke kjenner presten som er sendt, falt til feil konklusjoner om forståelsen av religion". I dette tilfellet Imam al-Baqir sa: «Enhver som komme nærmere Gud i form av tilbedelse er praktisert for alvor, men han ble ikke trukket tahui Imam sendt fra Gud, så alle veldedig innsats var ikke akseptabelt Han er en kjetter. og kebi ngungan. Gud avviste alle hans veldedighet, Bolig lignelsen slik mann er som en tapt sau og terpi legitime grupper og pengembalanya. Keter pisahannya det ødela dagene gikk. Når natten faller på, han ble med i gruppen i buret sitt, og når hyrdene gjete sauene sine mem bangkang og brøt vekk fra gruppen, så han febrilsk leter etter gjeting og gruppe. når han møter en gjeter de Ngan gruppe av sau, ble han behandlet godt, og sigembala Berte ringvirkninger til ham: «Kom igjen, bli med deg med gjeting og gruppe. du ble forvirret sau på avveie. Sauene og oppsøke grupper og pengembalanya med forvirring. Han hadde ikke en gjeter som tok ham til beite eller ta ham med hjem. Han forble i forvirring som det var da det var en ulv i ham, deretter slå ned. (Usul al-Kafi, kapittelet Ma'ri fett al Hujjah hadith ikke en av Kitab al Hujjah)

Allah og Hans sendebud er kjent for det meste muslimer, men de fleste av dem ikke vet elementer av tre, som er disse tallene. De fleste av dem trodde terfsebut tallet er noens dommen mot dem / deres regjering. Dette er hva som gjør dem feilaktig 180 grader i religion, selv om de er geniale se mange ganger. Logisk, vet vi Gud via Allahs sendebud til Allah Menar virkelig vi treffer li. Problemet er det samme profeten hvem er vi til å vite? Sikkert via Ulil Amri. Knowl Nalan her ikke ado / ignorere det, men å vite nøyaktig. Fra det førte oss til å adlyde Ulil Amri galt, er det galt i religion til det resultatet vi har partier som tempelakan dommedag Allah som nevnt i Surah Yasin følgende vers:

"Har jeg ikke befalt deg, O Children of Adam slik at du ikke hvese kuti (trinn) djevelen Han er en regelrett fiende for deg?» (Koranen, 36: 60). Og tundukpatuhilah Me (Følg meg). Dette er måten (selurus) -lurus (hennes) (Koranen, 36:61). Han er en hagian seba har villedet stor blant dere, vil dere da ikke forstå? Dette er helvete, som dere ble truet (med dem) (Koranen, 36: 62).. Kom (deg) inn i det i dag fordi du var menging curry (Koranen, 36:64). På denne dagen stengt vi deres munn; og sa til oss i hendene og ga kesaksianlah føttene til hva de brukes til å prøve (Koranen, 36:65)

Med dette notatet håper jeg ekspertene tror noe vil oppdage i sitt liv, som er på denne planeten Jorden hujjatullah opp uten den store mannen på denne jord skal forgå eller kollapse eller apokalypse. Dermed gjør Allah hujjahnya viktig under solen.

Først av alle filosofer til å stille spørsmålet om hvorfor Gud ikke bruke ordet "bidinillah" i avsnittet "Wa'tasimu bihablillah", der de fleste tenkere sette "bidinillah"















Tidak ada komentar:

Posting Komentar