Minggu, 11 Maret 2012

QULILLHAQ WALAUKAANA MURRA (HADIST NABI SUCI INI BERMAKNA; "KATAKANLAH YANG BENAR WALAUPUN PAHIT")




Qalbu diciptakan Tuhan bukan untuk di jadikan musuh yang selalu merintangi dan menentang segala gerak dan tindak kita, kita di perlengkapi dengan hati agar dapat memanfaatkan akal berlandaskan hati, jadikan hati nurani itu penasehat untuk memudahkan segala tindak dan gerak, dan memberi arah bagi segala amal dan usaha.
(Jasuli Ahmad)
Acheh - Sumatra

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آَذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ ( الحج:46)




Tidakkah mereka berjalan di muka bumi, agar mereka memiliki hati yang dengannya mereka dapat menggunkan akal, dan mereka memiliki telinga yang dengannya mereka dapat mendengar, karena sesungguhnya bukan mata yang buta, tapi hati yang di dalam dada yang buta.(QS, al Hajj: 46)

Al Qur-an adalah Pedoman Hidup dari Allah, Tuhan semesta Alam agar manusia tidak sesat dalam hidupnya di Dunia ini. Siapapun yang tidak mengikuti petunjuk Allah swt dalam hidup ini akan masuk Neraka paska hancurnya planet Bumi ini (baca kiamat) dan dan kekal selama-lamanya. Siapapun yang mengikuti pedoman Allah akan masuk Surga kelak dan kekal selama-lamanya.

Qur-an itu terdiri dari ayat-ayat mukkamat dan ayat-ayat mutasyabihat. Ada ayat yang dapat dipahami secara tersurat dan ada ayat yang harus dipahami secara tersirat. Ayat muhkamat tidak sukar dipahami oleh orang biasa kecuali mereka yang sudah tertutup mata hati disebabkan terlalu banyak kesalahan yang mereka perbuat dalam hidupnya. Adapun ayat-ayat mutasyabihat tidak dapat dipahami oleh siapapun kecuali "Ulul Albab".

Dari itu siapapun harus merujuk kepada ulul albab ketika berhadapan dengan ayat-ayat mutasyabihat. Justeru itu agar kita tidak sesat dalam hidup di Dunia ini harus belajar agar mengenal siapa itu ulul albab. Inilah kuncinya maka terjadi perbedaan dalam menafsirkan Qur-an, dimana diantara penafsir itu banyak yang tidak mengenal ulul albab. Perlu digaris bawahi bahwa hanya satu saja penafsiran Qur-an yang benar, yaitu penafsiran orang-orang yang mengikuti ulul albab sementara yang lainnya terjebak dalam penafsiran "mengikuti hawa nafsunya", manusia yang dhaif.

Jadi bukan salah menggunakan Hukum Syarak di dalam negara disebabkan berbeda penafsiran, tetapi bukan tempatnya hukum syarak didalam system yang taghuti. Kalau hukum syarak mau digunakan macam di Acheh di bawah system Pancasila yang taghuti itu sama dengan menempatkan kambing dalam kandang serigala atau menempatkan lembu dalam sangkar harimau. Agar syariah tidak melenceng, perjuangkan dulu system kedaulatan Allah yang tidak bertentangan dengan petunjuk Allah: "


إِنَّا أَنزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِن كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ ۚ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ( 44 )


Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

Pertanyaan: Apakah Indonesia, Arab Saudi, Qatar, Turkey, Mesir pra revolusi rakyat, Libya pra revolusi rakyat, Tunisia pra revolusi rakyat, menggunakan hukum yang diturunkan Allah sebagai hukum negara macam di Republik Islam Iran? Tidak, kan? Makanya semua orang yang bersatupadu dalam system negara macam itu tidak berbeda dengan orang kafir kecuali pribadi yang terpaksa "bertaqiyyah". Ini bukan klaim saya tetapi klaim Allah sendiri. Harap digaris bawahi oleh para ahli agama agar tidak salah sangka kepada kami yang meyakini kebenaran Al Qur-an secara mutlak. Itulah sebabnya mereka saling bunuh membunuh, zalim-menzalimi dan saling kafir-mengkafirkan. Tetapi bukalah mata kalian "lebar-lebar" adakah kalian temukan fenomena seperti itu di Republik Islam Iran? Ironisnya para fanatik buta menuduh kami kafir, padahal justeru merekalah yang kafir tetapi mereka tidak sadar.

Kemudian situasi di Timur Tengah tidak kacau di Zaman Nabi suci, Muhammad saww tetapi yang kacau zaman pra Islam. Hal ini dapat ditelusuri ayat berikut ini:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ( 103 )



Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (Ahlulbayt Rasulullah) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Namun paska kepulangan Rasulullah saww kehadhirat Allah swt, Dunia lagi-lagi kacau balau. Hal ini disebabkan mereka para pengikut Rasulullah yang hipokrit berpatah balik kebelakang, tidak mengikuti petunjuk Allah dan Rasulnya sebagaimana diumumkan Rasulullah di Ghadirkhum agar mengikuti Imam Ali sepeninggalnya supaya mereka selamat Dunia - Akhirat. Hal ini sesuai juga dengan Hadist Nabi suci atau Hadist Tsaqalain: Turmudzi dalam Sunan-nya meriwayatkan dari Abu Sa’id Khudri dari Rasulullah saww, beliau bersabda,


نِِّىتَافِيْكُمْتَمَسَّكْتُمْبِهِلَنْتَضِلُّوْبَعْدِ،حََدُهُمَاعَْظَمُمِنَ

لْآخَر: كِتَاللهِحَبْلٌمَمْدُمِنَلسَّمَالَْأَ،ِْعَِتْرَتىِهَْلِبَيْتِيَ

لََنْيَفْتَرِقَاحَيَرِعَلَيَّلْحَوْ،َفَانْظُرُكَيْفَتُخَلِّفُوْنِيفِيْهِمَا


“Aku tinggalkan pada kalian sesuatu. Jika kalian berpegang teguh padanya kalian tidak akan sesat sepeninggalku. Salah satu di antara keduanya lebih besar dari lainnya. Kitab Allah (al-Quran) yang merupakan tali pegangan yang terulur dari langit ke bumi dan itrahku (keluargaku). Keduanya tidak akan berpisah sehingga keduanya tiba di telagaku. Hati-hatilah kalian dalam memperlakukan keduanya sepeninggalku.”

Andaikata kita memahami bagaimana ummah Nabi Musa berpatah balik paska Musa menyelamatkan Bani Israel via laut Merah setelah begitu lama diobok-obok oleh persekongkolan Fir'un, Karun, Hamman dan Bal'am, kita juga tidak heran bagaimana mungkin Ummah Muhammad berpatah balik paska kewafatannya. Ketika itu Bani Israel dipengaruhi Samiri yang membuat patung anak lembu hingga dapat bersuara. Kejadiannya saat Musa meninggalkan Harun sebagai wakilnya ketika beliau di perintahkan Allah agar pergi kesuatu tempat untuk menerima wahyu lanjutan. Bani Israel kala itu, hampir saja membunuh Nabi Harun andaikata Harun tetap mempertahankan kedudukan yang diberikan kepadanya saat Samiri menentangnya sebagaimana "Samiri-samiri" paska kewafatan Rasulullah, hampir saja membunuh Imam Ali, andaikata beliau tidak belajar sebagaimana sikap Nabi Harun, sebagaimana sering dikatakan Rasulullah sendiri bahwa Harun adalah "pelajaran" bagi Imam Ali.

Justeru itulah Timur Tengah tidak pernah aman kecuali "Aman dipasung", pakai istilah bung Imanuddin Abdul Rahman. Puncak daripada ketidakpatuhan Samiri-samiri tersebut adalah pembantaian keluarga Rasulullah sendiri serta para pengikut setianya di Karbala, Irak sekarang.

Masih herankah kita kenapa rezim-rezim Timur Tengah bersekongkol dengan siapapun demi berhasilnya melanggengkan istana-istana "Yazid" mereka? Padahal Allah telah menetapkan batas-batas kita berteman, andaikata kita termasuk Muslim benaran, bukan?

Al Qur-an adalah kalam Allah, adalah umpama kompas bagi orang-orang yang sedang mengarungi lautan luas, umpama senter bagi orang yang berjalan dalam kegelapan. Kalau kita yakin kulkas dan komputer memiliki rancangan yang rumit hingga membutuhkan buku kecil sebagai pedoman agar terjaga dari kerusakan, yakin pulalah bahwa tubuh manusia lebih rumit lagi, makanya mustahil terjaga keselamatannya tanpa buku pedoman. Itulah Al Qur-an, Pedoman Hidup untuk Manusia, bukan untuk dibaca ketika mati.

Adapun hak asasi manusia berasal dari Allah bukan dari manusia yang dhaif, kerap dipengaruhi nafsu serakahnya. Dari itu organisasi HAM yang dibentuk manusia, mungkin baik ketika baru dibentuk dulu tetapi sekarang sudah mengalami dekaden. Di negara-negara yang sekuler HAM itu bagaikan harimau ompong, tidak berdaya untuk membela kaum mustadhafin dan kaum tertindas. Lebih ironis lagi bahwa HAM dan berbagai istilah kemanusiaan lainnya sekarang sudah dipolitisi dengan politik kotor hingga para politikus yang mengklaim diri sebagai pengemban HAM bagaikan "Maling teriak maling"

       Baraqallahu li walakum
(Angku di Tampokdjok - Awegeutah)
           Acheh - Sumatra


http://albdoo.info/quran/translate-22-2.html

From: muskitawati
To: politikmahasiswa@yahoogroups.com
Sent: Sunday, March 11, 2012 3:36 AM
Subject: [politikmahasiswa] [Lantak] Re: «PPDi» PERLU DIPAHAMI BAHWA SEBAHAGIAN AYAT QUR-AN HANYA BERLAKU DI ZAMAN RASULULLAH SAJA , YAKNI SAAT DUNIA BELUM PRODUKTIF


Sebaiknya semua pihak bersikap jujur, bahwa toleransi beragama merupakan sikap menerima bukan saling menolak dan menyalahkan agama orang lain.

AlQuran bisa ditafsirkan berbagai macam, setiap orang tidak perlu harus sama menafsirkannya karena Islam dan alQuran-nya hanyalah menyangkut kepercayaan masing2 individu.

Penafsiran AlQuran dan Islam yang berbeda bukanlah alasan untuk memurtadkan atau menyalahkan satu kepada yang lainnya.

Itulah salahnya kalo negara menggunakan Syariah Islam sebagai hukum negaranya karena akan berakibat korban2 berjatuhan karena saling berbeda menafsirkannya, ganti pemimpin maka ganti penafsiran. Lebih parah lagi, pemimpin tidak bisa berganti melalui pemilu melainkan melalui pembunuhan dan kudeta.

Tengoklah betapa kacaunya situasi di Timur Tengah sejak zaman nabi Muhammad, semua cerita2 indah mengenai zaman nabi Muhammad sama sekali bohong tidak ada buktinya, setiap caliph yang berkuasa selalu membunuhi saingannya yang tentunya dilarang untuk dituliskan dalam AlQuran.

Oleh karena itu, marilah kita merujuk semua penafsiran alQuran kepada nilai2 kemanusiaan yang paling universal yaitu HAM yang telah ditanda tangani oleh semua pemimpin Islam dan juga pemimpin didunia ini.

Sia2 anda menolak HAM, karena sudah ditanda tangani oleh semua pemimpin dunia dan pemimpin2 Islam. Oleh karena itu tidak ada pijakan lain selain HAM apabila ada yang masih ingin memperdebatkan tafsiran2 yang berbeda tentang alquran maupun Islam.

Ny. Muslim binti Muskitawati.

1 komentar: