Jumat, 31 Desember 2010

KEBENARAN YANG HILANG (DITEMUKAN KEMBALI/hsndwsp)

 
QOM TOWN IN ISLAM REPUBLIC OF IRAN


Bismillaahirrahmaanirrahiim




"KEBENARAN YANG HILANG"
SUATU PENEMUAN AGAMA YANG REDHA ALLAH, 
SYIAH IMAMIAH 12
by
Mu'tashim



Bismillaahirrahmaanirrahiim
Sejarah Hidupku

Hari-Hari Masa Kecilku

Minat keagamaan telah muncul sejak aku kecil, ada fitrah yang menarikku untuk berpegang teguh kepada aga ma. Dalam bayanganku ke masa depan, pikiranku tidak pernah keluar dari ke rangka agama. Aku melihat diri ku sebagai pahlawan dan mujahid Islam yang mampu mengem balikan kehormatan agama dan kemuliaan Is lam. Pada saat itu aku belum lulus dari sekolah tingkat pertama. Maklum, pemikiranku waktu itu masih dang kal. Begitu pula pengetahuanku tentang sejarah kaum Muslimin dan peradabannya masih sangat terbatas. Aku belum menge tahui kecuali beberapa kisah tentang Rasulullah saww dan peperangan yang dilakukannya terha dap orang-orang kafir, dan kisah tentang kepahlawanan dan keberanian Imam Ali as. Aku mem pelajari peme rintahan Mahdiyyah di Sudan, aku merasa kagum dengan kepribadian Usman Daqnah. Dia adalah salah seo rang komandan pasukan Mahdi yang pemberani di daerah timur Sudan. 

Jihad yang telah membangkitkan minat saya manakala guru sejarah kami menggam barkan keberanian dan ke agungan kepribadiannya kepada kami. Dia seorang mujahid di antara bukit dan lembah. Begitulah hatiku terta rik kepadanya. Saya bercita-cita ingin menjadi seperti dirinya. Mulailah saya berpikir dengan pikiran saya yang masih dangkal, bahwa untuk bisa mencapai tujuan ini maka jalan satu-satunya yang terbayang di dalam benak saya ketika itu ialah saya harus menjadi lulusan akademi militer, sehingga saya terlatih dalam strategi pe rang dan penggunaan senjata. Bertahun-tahun saya hidup di atas angan-angan ini, hingga akhirnya saya pindah ke sekolah tingkatan menengah. Pada tingkatan ini, pemahaman dan pengetahuan saya mulai berkembang. Mulailah saya mengenal para pemimpin kemerdekaan dunia Islam, seperti Abdur­rahman al-Kawakibi, as -Sanusi, Umar Mukhtar dan Jamaluddin al-Afghani, seorang pejuang dan pemikir cemerlang yang bertolak da ri Afhghanistan, dan kemudian berpindah-pindah dari satu ibu kota negara Islam yang satu kepada ibu kota negara Islam yang lain, dan begitu juga ke negara-negara bukan Islam, untuk menyebarkan pemikiran yang hi dup, yang berbicara tentang sisi-sisi keterbelakangan dunia Islam dan bagaimana cara menyembuhkannya.

Yang amat menarik perhatian saya ialah metode jihad yang dilakukannya.Dia melakukannya me lalui hikmah, penyebaran pengetahuan dan pengembangan pemikiran di kalangan umat Islam, ti dak melalui jalan memang gul senjata.

Saya pernah berkeyakinan bahwa setiap orang yang hendak berjuang dan membela kaum Muslimin, mau ti dak mau dia harus menghunus pedang dan masuk ke dalam medan pepe rangan. Sementara cara yang ditem puh oleh Jamaluddin al-Afghani sama sekali berbeda dengan apa yang selama ini saya bayangkan. Metode ka ta dan pendidikan yang sadar adalah sesuatu yang baru dalam pemikiran agama saya. Saya tidak mampu de ngan mudah melepaskan diri dari pemikiran dan cita-cita yang telah saya bangun selama ini di dalam benak saya, meskipun saya sadar bahwa krisis yang dialami umat ini ialah krisis pendi­dikan dan pemikiran. Karena pendidikanlah yang mampu menjadikan setiap individu mau mengemban tanggung jawabnya. Inilah Jamalud din, dia mengelilingi dunia untuk menebarkan cahaya dan keberkahan, dan menye barluaskan pemikiran-pemi kirannya, yang mendapat sambutan yang hangat dari kaum Musli min. Karena, pemikiran-pemikiran yang di lontarkannya mampu menyelesaikan berbagai perma salahan mereka dan sekaligus sejalan dengan kenyataan mereka. Yang demikian ini amat mence maskan kekuatan penjajah. Karena majalah al- 'Urwah al-Wutsqa [1] saja sudah merupakan tan tangan yang berat bagi mereka, yang memaksa mereka untuk melarang penerbitan nya.

Pertanyaan yang selalu menghantui benak saya ialah,
Bagaimana seorang individu mampu mengubah perimbangan ini, dan bagaimana seorang individu mampu mem buat takut seluruh kekuatan besar?!

Untuk menjawab pertanyaan ini, di hadapan saya terbuka beberapa pintu pertanyaan. Sebagiannya sederhana dan sebagiannya lagi tidak ada jawabannya di Sudan. Ini menjadikan saya beru saha untuk dapat lepas dari kenyataan ini, dan sekaligus melepaskan berbagai belenggu yang se lama ini mendorong saya untuk tunduk kepada kenyataan agama yang ada, supaya saya berja lan di dalam hidup ini sebagaimana yang telah dilaku kan oleh kakek-kakek saya. Akan tetapi, ra sa tanggung jawab yang ada di dalam diri saya, dan begitu juga kecintaan saya ke­pada Jama luddin al-Afghani membunyikan lonceng bahaya di dalam fitrah saya, sehingga menjadikan saya bertanya-tanya,

Bagaimana saya bisa menjadi seperti Jamaluddin al-Afghani? Apakah agama yang saya warisi ini mampu membawa saya kepada tingkatan itu? Kemudian saya berkata, "Kenapa tidak?!" Apakah Jamaluddin mempu nyai agama yang berbeda dengan agama kita?! Dan Islam yang berbeda dengan Islam kita?!"

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya terombang-ambing selama bertahun-tahun, dan setiap ka li saya sampai kepada sebuah jawaban, maka itu berarti perubahan pada pemahaman saya ten tang agama secara umum. Maka saya pun melihat Jamaluddin sebagai idola dan panutan, sete lah sebelumnya Usman Daqnah, sehingga dengan begitu tentunya berubah pula cara yang harus ditempuh. Setelah sebelumnya akademi militer sebagai jalan keluar satu-satunya dalam panda ngan saya, maka sekarang cara damailah yang memperkenalkan saya kepada pemikiran Islam yang orisinil, yang dari sela-selanya akan muncul kebangkitan Islam.

Bagaimana Permulaannya
Pembahasan tentang cara-cara dan pemikiran yang benar dan bertanggung jawab adalah sesua tu bahasan yang sulit. Tahapan ini adalah tahapan yang sulit, meski pun pembahasan yang saya bahas bersifat spontan. Sepanjang kehidupan saya, saya sering bertanya, berdiskusi dan lain se bagainya, dan tidak ada waktu yang kosong dari pembahasan.

Setelah serangan keras yang dilancarkan oleh kaum Wahabi ter­hadap Sudan, dan pengintensifan dis kusi dan dialog, serta semakin berkembangnya pergerakan agama, mulailah tersingkap ba nyak kebenaran,dan sema kin jelas berbagai perselisihan dan pertentangan sejarah, keyakinan dan fikih. Kemudian mulailah upaya- upaya pengkafiran terhadap beberapa kelompok dan kelu ar mereka dari tali ikatan Islam, yang mendorong kepada terbentuknya mazhab-mazhab yang berbeda.

Meskipun pahit apa yang telah terjadi, namun minat saya untuk melakukan pembahasan malah semakin ber tambah, dan saya merasakan realitas pertanyaan-pertanyaan spontan yang selama ini menggangu benak saya.

Besarnya perhatian saya kepada ajaran wahabi dikarenakan diskusi-diskusi dan seminar-semi nar yang mere ka laksanakan telah menarik perhatian saya. Hal terpenting yang saya pelajari dari mereka ialah keberanian menentang ajaran yang ada. Saya pernah meyakini bahwa ajaran adalah sesuatu yang sakral, yang tidak dapat diserang dan dikritik, meskipun saya banyak mem berikan catatan terhadap kenyataan yang ada, yang dida sari oleh pertimbangan nurani dan fitrah saya.

Saya terus berjalan bersama mereka, dan banyak sekali diskusi yang terjadi diantara saya dan mereka, yang pada kenyataannya merupakan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini mem bingungkan benak saya. Saya memperoleh jawaban yang memuaskan bagi sebagian pertanyaan saya, sementara jawaban sebagian yang lain tidak dapat saya temukan pada mereka. Hal ini menjadi jaminan bagi saya untuk bersimpati dan membantu mereka, namun dengan tetap diser tai beberapa catatan yang merintangi saya untuk berpegang secara penuh kepada ajaran waha bi. Yang pertama dan yang terpenting dari itu ialah saya tidak menemukan di sisi mereka apa yang dapat memenuhi cita-cita risalah saya. Kadang-kadang, rasa was-was menghinggapi diri sa ya dengan mengatakan, sesungguhnya apa yang engkau pikirkan dan yang engkau cari adalah se suatu yang utopis yang tidak ada kenyata­annya, dan ajaran wahabi adalah ajaran yang paling de kat dengan Islam yang tidak ada tandingannya.

Saya berjalan mengikuti rasa was-was ini dan sekaligus membenarkannya, disebabkan ketidak tahuan saya terhadap pemikiran-pemikiran dan ajaran-ajaran yang lain. Namun, dengan cepat saya sadar bahwa apa yang dilakukan oleh Jamaluddin tidak mungkin merupakan pemikiran wahabi. Saya pernah berteriak lantang, "Sesungguhnya ajaran wahabi adalah jalan yang paling dekat kepada Islam — disebabkan mereka mengemu kakan dalil-dalil dan nas-nas yang mem benarkan mazhab mereka, yang tidak saya temukan pada kelompok-kelompok lain di Sudan namun kesulitan mereka ialah bahwa mazhab yang mereka bangun tidak ubahnya seperti rumus-rumus matematika. Yaitu berupa kaidah-kaidah yang kaku, yang tanpa memiliki refleksi perada ban yang jelas dalam kehidupan manusia, juga dalam meng-hadapi berbagai macam tata ran kehidupan. Baik dalam tataran individu, tataran sosial, tataran ekonomi atau tataran politik, dan bahkan di dalam tata cara berhubungan dengan Allah SWT. Bahkan sebaliknya, ajaran ini menjadikan manusia menjadi liar dan terasing dari masyarakat, dan sekaligus mem berikan surat jaminan untuk mengkafirkan kelompok masyarakat yang tidak sepaham dengan mereka. Setiap orang dari mereka tidak bisa hidup bersama dengan masyarakat. Dia selalu membedakan diri dari masyarakat dengan pakaian dan tingkah lakunya. Seluruh sisi kehidupannya tidak seja lan kecuali dengan teman-temannya. Saya merasakan kesombongan dan keangkuhan dari mere ka. Mere ka memandang manusia mempunyai kedudukan yang tinggi, namun dalam kehidupan nya mereka tidak mau bekerja sama dan membaur dengan masyarakat.

Bagaimana mungkin mereka dapat bekerja sama dengan masya­rakat?! Sementara seluruh yang dilakukan ma syarakat adalah bid'ah dan sesat dalam pandangan mereka.

Saya masih ingat benar manakala bantuan wahabi masuk ke desa kami, dalam jangka waktu yang tidak berapa lama, dengan tanpa didasari pengkajian dan kesadaran, sekelompok besar dari para pemuda ikut bergabung ke dalam barisan wahabi, namun tidak berapa lama kemudian mereka semua keluar dari barisan tersebut. Menurut perkiraan saya ini disebabkan karena maz hab baru ini melarang mereka berbaur dengan masyarakat, dan mengharamkan banyak sekali ke-biasaan yang sudah mendarah daging pada diri mereka, yang sebenarnya kebiasaan itu tidak bertentangan dengan agama.

Ada baiknya saya sebutkan, bahwa salah satu di antara yang menyebabkan para pemuda yang bergabung dengan mazhab wahabi menderita ialah bahwa ada kebiasaan di desa kami, dimana para pemudanya biasa duduk-duduk di atas hamparan pasir yang bersih di saat malam-malam bulan purnama, dimana mereka meng habiskan malamnya dengan mengobrol. Saat itulah me rupakan satu-satunya kesempatan bertemu bagi para pemuda desa setelah bekerja sepanjang had di ladang dan tempat-tempat kerja lainnya. Kini pemimpin mere ka melarang perbuatan itu dan mengharamkannya, dengan alasan bahwa Rasulullah saww telah mengharam kan perbuatan duduk-duduk di atas jalan. Padahal tempat-tempat tersebut tidak terhitung jalan. Kedua, dan ini merupakan masalah seluruh orang wahabi, yaitu bahwa setiap orang dari mereka dalam waktu yang singkat dan dengan ilmu yang sedikit telah menjadi seorang mujtahid yang berhak memberikan fatwa dalam masalah apapun. Saya masih ingat, pada satu hari saya duduk berdis kusi dengan salah seorang dari mereka mengenai banyak hal. Di tengah-tengah diskusi dia bangkit berdiri setelah mendengar azan Magrib di mesjid mereka. Saya katakan kepadanya, "Sabar, kita selesaikan dulu diskusi kita." Dia menjawab, "Tidak ada lagi diskusi. Telah datang waktu salat, mari kita salat di mesjid." Saya berkata kepadanya, "Saya salat di rumah", meski pun biasanya saya selalu salat bersama mereka. Dia berteriak lantang, "Batal salat Anda." Saya merasa heran dengan kata-kata ini dan sebelum saya sempat meminta penjelasan darinya dia telah berbalik dan pergi. Saya berkata kepadanya, "Sebentar, apa yang menyebabkan salat saya di rumah batal?"

Dia menjawab dengan penuh kesombongan, "Rasulullah saw telah bersabda, 'Tidak ada salat bagi tetangga mesjid kecuali di mesjid.'" Saya berkata kepadanya, "Tidak ada perselisihan di dalam keutamaan salat berjamaah di mesjid, namun ini bukan berarti hilangnya kesahan salat di selain tempat ini. Hadis di atas sedang menekankan keutamaan di mesjid, bukan sedang menjelaskan hukum salat di rumah. Adapun dalilnya ialah kita belum pernah melihat di dalam fikih disebut kan bahwa salah satu yang membatalkan salat ialah salat di rumah, dan tidak ada seorang pun dari fukaha yang memberikan fatwa demikian. Adapun yang kedua, dengan hak apa Anda me ngeluarkan hukum ini?! Apakah Anda seorang fakih?! Karena sulit sekali bagi seorang manusia untuk bisa memberikan fatwa dan menjelaskan hukum tentang permasalahan tertentu. Seorang fakih harus mempelajari seluruh nas yang berkaitan dengan masalah tersebut. Dia harus menge tahui petunjuk perintah (dilalah al-amr) dan petunjuk larangan (dilalah an-nahy) di dalam nas. Apakah perintah menunjukkan kepada hukum wajib atau hukum mustahab, apakah larangan menunjukkan kepada hukum haram atau hukum makruh. Sungguh, agama ini amat dalam, ma ka selamilah dengan kehati-hatian."

Tampak kegusaran pada wajahnya. Dia cemberut dan berkata, "Anda telah mentakwil hadis, dan takwil itu haram." Lalu dia pun pergi.

Saya serahkan urusaan saya kepada Allah SWT dari manusia dungu seperti ini, yang tidak me ma hami apa pun.

Pikiran inilah yang menjadi penyebab kedua yang menghalangi saya menjadi seorang wahabi, meski pun saya banyak terpengaruh dengan pikiran-pikiran mereka dan membelanya.

Dalam keadaan ini untuk beberapa waktu, saya bingung dan tidak mempunyai arah. Terkadang saya mendekati mereka dan terkadang pula saya menjauhi mereka. Saya melihat bahwa jalan satu-satunya yang ada di hadapan saya —sebagai ganti dari sekolah di akademi militer— ialah sa ya harus belajar di fakultas atau universitas Islam, sehingga saya dapat melanjutkan pengka jiaan saya dengan lebih teliti. Setelah menyelesaikan ujian masuk universitas, di mana di sana terdapat enam universitas atau institut yang diminati oleh para mahasiswa, saya memilih fakul tas Islam. Kini, saya telah selesai diterima di salah satu fakultas Keislaman (yaitu fakultas studi Islam dan bahasa Arab di universitas Wadi an-Nil di Sudan). Saya sangat senang dengan pene rimaan ini. Setelah menunaikan latihan kemiliteran (bela negara) —yang tidak mungkin sese orang dapat memasuki perguruan tinggi kecuali setelah menunaikan latihan militer ini— mulai lah para utusan dari seluruh penjuru Sudan datang ke Universitas, dan saya termasuk yang per tama dari mereka. Pada saat interview, direktur fakultas bertanya kepada saya, tokoh mana yang Anda kagumi? Saya katakan kepadanya, "Jamaluddin", dan saya jelaskan kepadanya alasan saya mengaguminya. Direktur fakultas merasa puas dengan jawaban saya. Setelah banyak mendapat pertanyaan, akhirnya secara resmi saya pun diterima di fakultas. Di fakultas, saya sering mengunjungi perpustakaan, terdapat banyak buku-buku dan ensiklopedia yang te bal-tebal. Akan tetapi, kesulitan yang saya hadapi ialah dari mana saya harus mulai? Dan apa yang harus saya baca?

Saya tetap dalam keadaan ini, berpindah dari suatu buku ke buku yang lain, tanpa mempunyai program yang jelas. Salah seorang dari kerabat saya telah membukakan pintu yang luas dan pen ting di dalam pembahasan dan penyelidikan, yaitu mempelajari sejarah dan mengkaji mazhab-mazhab Islam, untuk bisa mengetahui kebenaran di antara mereka. Sungguh ini merupakan pertolongan Allah SWT yang tidak saya duga, saya bisa bertemu dengan kerabat saya Abdul Mun'im —dia lulusan fakultas hukum— di rumah paman saya di kota Athbarah. Saat itu dia sedang berbincang-bincang di halaman rumah dengan seorang anggota Ikhwanul Muslimin yang merupakan tamu di rumah paman saya. Saya menajamkan pendengaran saya untuk bisa melndengar apa yang sedang mereka perbincangkan.... Dengan segera saya menuju kepada mereka manakala saya tahu topik yang menjadi perbincangan mereka adalah masalah-masalah agama. Saya duduk di dekat mereka, dan memperhatikan perkembangan perbincangan. Tam pak sekali Abdul Mun'im begitu tenang di dalam perbincangan tersebut, meski pun begitu gen car provokasi dan serangan dari pihak lawan. Saya tidak mengetahui secara menyeluruh watak diskusi yang sedang berlangsung, hingga akhirnya anggota Ikwanul Muslimin itu berkata, "Sy'i ah itu kafir dan zindiq!!"

Di sini saya mulai mengerti, dan timbul pertanyaan di benak saya....

Siapakah Syi'ah itu? Kenapa mereka kafir?

Apakah Abdul Mun'im orang Syi'ah?

Apa yang dikatakannya sesuatu yang asing. Apakah itu perkataan Syi'ah?!

Harus diakui bahwa Abdul Mun'im telah dapat mengalahkan lawannya pada setiap masalah yang dikemukaan di dalam diskusi, di samping tampak sekali kemampuan logika dan kekuatan argumentasinya.

Setelah selesai diskusi dan mengerjakan salat magrib, saya mendekati Abdul Mun'im. Saya ber tanya kepadanya dengan penuh hormat, "Apakah Anda seorang Syi'ah? Siapakah orang Syi'ah itu? Dan, dari mana Anda mengenal mereka?"

Abdul Mun'im berkata, "Pelan-pelan, satu pertanyaan demi satu pertanyaan”.

Saya berkata kepadanya, "Maaf, saya masih bingung dengan apa yang saya dengar dari Anda."

Abdul Mun'im menjawab, "Ini sebuah pembahasan yang panjang, yang merupakan hasil kerja ke ras selama empat tahun, dan itu pun masih belum sampai kepada kesimpulan yang diinginkan."

Saya potong pembicaraannya, "Kesimpulan apakah itu?"

Abdul Mun'im menjawab, "Kita hidup di atas timbunan kebodohan dan pembodohan sepanjang hidup kita. Kita berjalan di bela kang masyarakat kita dengan tanpa bertanya, apakah agama yang ada di sisi kita ini ada lah yang dikehendaki oleh Allah SWT, yaitu Islam? Setelah me lakukan pengkajian, menjadi jelas bagi saya bahwa kebenaran sejauh dalam pandangan saya, yai tu Syi'ah.

Saya berkata kepadanya, "Mungkin Anda tergesa-gesa, atau Anda salah... !"

Mendengar itu dia tersenyum sambil berkata, "Kenapa Anda sendiri tidak mengkajinya dengan teliti dan penuh kesabaran? Apalagi Anda mempunyai perpustakaan di universitas, yang akan memberikan manfaat yang banyak sekali kepada Anda."

Saya berkata dengan penuh keheranan, "Perpustakaan kami perpustakaan Ahlus Sunnah, ba gaimana mungkin saya dapat mengkaji Syi'ah?"

Abdul Mun'im menjawab, "Salah satu bukti dari kebenaran Syi'ah ialah mereka berargumentasi atas kebe naran mereka dengan menggunakan kitab-kitab dan riwayat-riwayat ulama Ahlus Sunnah. Karena di dalam nya banyak sekali hal-hal yang menjelaskan kebenaran mereka dengan je las sekali."

Saya menimpali, "Kalau begitu, sumber-sumber rujukan Syi'ah adalah sumber-sumber rujukan Ahlus Sunnah itu sendiri?"

Abdul Mu'im menjawab, "Tidak, Syi'ah mempunyai sumber-sumber rujukan tersendiri, yang jumlahnya ber kali-kali lipat dibandingkan sumber-sumber rujukan Ahlus Sunnah, dan semua nya diriwayatkan dari Ahlul Bait as dan dari Rasulullah saw. Namun demi-kian, mereka berargu mentasi kepada Ahlus Sunnah dengan menggunakan riwayat-riwayat yang ada di dalam sum ber-sumber rujukan Ahlus Sunnah, dikarenakan Ahlus Sunnah tidak percaya kepada apa yang ada pada sisi mereka, maka mau tidak mau mereka harus berhujjah dengan apa-apa yang diya kini oleh kalangan Ahlus Sunnah."

Pembicaraannya menyenangkan saya dan membuat saya tambah berminat untuk melakukan pembahasan. Saya tanya kepadanya, "Kalau begitu, bagaimana saya harus memulai?"

Abdul Mu'in menjawab, "Apakah di perpustakaan Anda terdapat kitab Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Musnad Ahmad, Turmudzi dan Nasa'i?"

Saya menjawab, "Tentu saja, di perpustakaan kami terdapat sekumpulan besar kitab-kitab ha dis rujukan."

Abdul Mu'im berkata, "Mulailah dari sini. Kemudian, bacalah kitab-kitab tafsir dan kitab-kitab sejarah, kare na di dalam kitab-kitab ini terdapat hadis-hadis yang menunjukkan wajibnya me ngikuti ajaran Ahlul Bait as."

Mulailah dia menyebut beberapa contoh darinya, dengan tidak lupa menyebutkan sumbernya, sekaligus de ngan nomer jilid dan nomer halamannya. Saya terheran-heran. Dengan penuh per hatian saya mendengarkan hadis-hadis yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Saya ragu apakah hadis-hadis ini benar-benar ada di dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah. Namun dengan se gera Abdul Mun'im memotong keraguan saya itu dengan mengatakan, "Catat hadis-hadis ini oleh Anda, dan kemudian carilah di perpustakaan. Nanti kita ketemu lagi pada hari Kamis yang akan datang —Insya Allah.''

Pada Hari Jumat
Setelah saya merujuk hadis-hadis tersebut ke dalam Sahih Bukhari, Muslim dan Turmudzi di perpustakaan universitas kami, saya menjadi yakin akan kebenaran apa yang dikatakannya. Saya kaget dengan serangkaian hadis-hadis lain yang lebih menunjukkan kepada wajibnya me ngikuti Ahlul Bait, yang membuat saya menjadi shok. Kenapa kita belum pernah mendengar ha dis-hadis ini sebelumnya?!

Maka saya pun menunjukkan serangkaian hadis ini kepada sebagian teman-teman saya, supaya mereka pun ikut serta berpartisipasi di dalam kesulitan ini. Sebagian dari mereka memberikan perhatian, sementara seba giannya lagi tidak begitu peduli. Namun saya telah bertekad untuk melanjutkan pengkajian, meski pun untuk itu saya harus menghabiskan seluruh umur saya. Keti ka tiba hari Kamis, saya pergi ke Abdul Mun'im. Dia me nyambut kedatangan saya dengan penuh senang hati. Dia berkata, "Anda tidak boleh tergesa-gesa, Anda ha rus melanjutkan pengkajian Anda dengan penuh kesadaran."

Kemudian kami mulai membahas permasalahan-permasalahan lain yang beraneka macam, dan itu terus berlangsung hingga Jumat sore. Saya banyak mendapatkan manfaat dari pembahasan-pembahasan itu, dan ba nyak mengetahui sesuatu yang sebelumnya saya tidak ketahui. Sebelum saya kembali ke kampus dia meminta saya untuk membahas beberapa masalah. Demikianlah hal itu berlangsung hingga beberapa waktu. Diskusi yang berlangsung di antara saya dengan dia selalu berubah dari waktu ke waktu. Terkadang saya berbicara keras kepadanya, dan terkadang saya membantah beberapa permasalahan yang sudah amat jelas. Sebagai contoh, ketika saya merujuk beberapa hadis di dalam kitab-kitab rujukan, dan saya meyakini keberadaannya, saya katakan kepadanya, "Hadis-hadis ini tidak ada." Sampai sekarang saya tidak tahu apa yang mendorong saya melakukan itu, selain dari pe-rasaan merasa terdesak dan menginginkan keme nangan.

Dengan cara ini, dan dengan semakin bertambahnya pembahasan, tersingkaplah kebenaran di hadapan saya yang tidak saya perkirakan sebelumnya. Sepanjang periode ini saya banyak me lakukan diskusi dengan te man-teman. Ketika meraka tidak mampu lagi menghadapi saya, me reka meminta saya untuk berdiskusi de ngan doktor yang mengajarkan mata kuliah ilmu fikih kepada kami. Saya katakan, "Tidak ada halangan bagi saya, namun terdapat penghalang di anta ra saya dengan dia yang menghalangi saya dapat berbicara bebas de ngannya." Mereka tidak merasa puas dengan jawaban saya. Mereka mengatakan, "Di antara kami dan Anda ada dosen, jika argumentasi Anda dapat memuaskannnya maka kami akan bersama Anda..!"

Saya katakan, "Yang menjadi masalah bukanlah memuaskan atau tidak memuaskan, yang men jadi masalah ialah dalil dan argumentasi, dan pencarian akan kebenaran...."

Pada permulaan mata kuliah fikih mulailah saya berdiskusi dengan dosen saya dalam bentuk me ngajukan per tanyaan-pertanyaan. Nampak dia tidak banyak menentang saya, bahkan sebalik nya dia menekankan kecin taan kepada Ahlul Bait as dan keharusan mengikuti mereka, serta me nyebut keutamaan-keutamaan mereka. Selang be­berapa hari dia meminta saya untuk menemui nya di kantornya, di kantor pusat universitas. Setelah saya pergi menemuinya, dia menyodor kan kepada saya sebuah kitab yang terdiri dari beberapa juz, yaitu kitab Sahih al-Kafi, yang ter masuk kitab rujukan hadis yang paling dipercaya di kalangan Syi'ah. Dia meminta kepada saya untuk tidak semberono terhadap kitab ini, karena kitab ini merupakan warisan dari Ahlul Bait. Saya tidak dapat berbicara sepatah kata pun karena saking gugupnya, lalu saya ambil kitab itu dan mengu capkan terima kasih kepadanya. Saya pernah mendengar kitab ini namun saya belum pernah melihatnya. Hal ini menjadikan saya ragu apakah doktor ini seorang Syi'ah, meski pun saya tahu dia itu seorang Maliki. Sete lah bertanya ke sana ke mari, menjadi jelas bagi saya bah wa dia itu se­orang sufi yang mencintai Ahlul Bait as.

Ketika teman-teman saya melihat kesesuaian di antara saya dengan dosen tersebut, mereka me minta kepada saya untuk berdiskusi dengan dosen lain, yang mengajarkan mata kuliah hadis. Dosen mata kuliah hadis terse but adalah seorang laki-laki yang taat beragama, sangat tawadu dan baik akhlaknya. Saya amat mencintainya. Maka saya pun memenuhi permintaan mereka. Mulailah terjadi diskusi di antara kami dalam banyak masalah. Saya menanyakan kepadanya tentang kesahihan beberapa hadis, dan dia pun menguatkan kesahihan ha dis-hadis tersebut. Setelah berjalan beberapa waktu, saya merasakan ketidaksukaan dia dengan diskusi-dis kusi saya, dan begitu juga teman-teman saya merasakan hal yang sama. Maka saya pun berpikir bahwa cara yang paling baik untuk melanjutkan diskusi ialah melalui tulisan. Lalu saya tulis se kumpulan hadis dan riwayat yang menunjukkan secara jelas akan wajibnya mengikuti Ahlul Bait as, dan saya minta kepadanya untuk mem bahas kesahihan hadis-hadis ini. Setiap hari saya me minta jawaban darinya, namun dia membela diri dengan mengatakan tidak ada pembahasan. Sa ya terus mengikutinya dengan cara ini, hingga dia merasakan rasa ke gelisahan saya.

Dia mengatakan kepada saya, "Semuanya sahih."

Saya katakan, "Semuanya jelas menunjukkan wajibnya mengikuti Ahlul Bait."

Dia tidak menjawab, melainkan bergegas pergi ke kantor. Tindakannya ini merupakan gonca ngan bagi saya, dan menjadikan saya merasakan kebenaran akan perkataaan Syi'ah. Namun sa ya ingin perlahan-lahan dan tidak ingin tergesa-gesa di dalam memutuskan.

Kebetulan, dekan fakultas kami adalah Profesor 'Alwan. Dia mengajar mata kuliah tafsir bagi ka mi. Pada suatu hari dia berbicara tentang tafsir firman Allah SWT yang berbunyi, "Seorang pe minta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi",

"Sesungguhnya Rasulullah saw tatkala berada di Ghadir khum dia menyeru manusia, maka me reka pun ber kumpul. Lalu Rasulullah saw mengangkat tangan Ali as seraya berkata, 'Barang siapa yang aku sebagai pe mimpinnya maka inilah Ali sebagai pemimpinnya.' Berita itu pun ter sebar ke seluruh pelosok negeri, dan sam  pai kepada Harits bin Nukman al-Fihri. Lalu dia men datangi Rasulullah saw dengan menunggang untanya. Ke mudian dia menghentikan untanya dan turun darinya. Harits bin Nukman al-Fihri berkata,

'Hai Muhammad, kamu telah menyuruh kami tentang Allah, supaya kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa kamu adalah utusan-Nya, dan kami pun menerimanya. Kamu perintahkan kami untuk menu naikan salat lima waktu, dan kami pun menerimanya. Kamu perintahkan kami untuk menunaikan zakat, dan kami pun menerimanya. Kamu peritahkan kami untuk berpuasa di bulan Ramadhan, dan kami pun meneri manya. Kamu perintahkan kami untuk melaksakan ibadah haji, dan kami pun menerimanya. Kemudian kamu tidak merasa puas dengan semua ini sehingga kamu mengangkat tangan sepupumu dan mengutamakannya atas kami semua dengan mengatakan, 'Siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali pe mimpinnya. 'Apakah ini dari kamu atau dari Allah?'

Rasulullah saw menjawab, 'Demi Allah yang tidak ada Tuhan melainkan Dia, sesungguhnya ini berasal dari Allah SWT.' Mendengar itu Hants bin Nukman al-Fihri berpaling dari Rasulullah saw dan bermaksud menuju ke kendaraannya sambil berkata, 'Ya Allah, seandainya apa yang di katakan Muhammad itu benar maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.' Maka sebelum Harits bin Nukman al-Fihri sampai ke kendara­annya tiba-tiba Allah menurunkan sebuah batu dari langit yang tepat mengenai ubun-ubunnya dan ke mudian tembus keluar dari duburnya, dan dia pun mati. Kemudian Allah SWT menurun kan firman-Nya,

'Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi. Untuk orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya.' "[2]

Setelah selesai pelajaran salah seorang teman saya menemuinya dan berkata kepadanya, "Apa yang telah Anda katakan adalah perkataan Syi'ah." Bapak dekan tertegun sejenak, kemudian me mandang ke arah pemerotes seraya berkata, "Panggil Mu'tashim ke ruang kantor...!"

Saya merasa heran dengan permintaan ini, dan merasa takut bertemu bapak dekan. Namun saya cepat-cepat menguasai diri saya dan pergi menemuinya. Sebelum sempat saya duduk, ba pak dekan berkata kepada saya, "Anda orang Syi'ah!"

Saya menjawab, "Saya semata-mata hanya seorang yang sedang mengkaji."

Bapak dekan berkata, "Pengkajian itu sesuatu yang bagus, dan sesuatu yang harus."

Bapak dekan mulai menyebutkan beberapa kecurigaan tentang Syi'ah yang banyak disebut orang. Namun dengan pertolongan Allah SWT saya bisa menjawab semua itu dengan sekuat-kuatnya dalil dan argumentasi, dan dapat lancar berbicara melebihi dari yang saya duga. Sebe lum menutup pembicaraan kami, dia berpesan kepada saya akan kitab al-Muraja 'at. Dia menga takan, "Kitab al-Muraja 'at termasuk kitab yang bagus dalam hal ini."

Setelah saya membaca kitab al-Muraja 'at, Ma'alim al-Madrasatain dan beberapa kitab yang lain, maka kebenaran pun menjadi jelas bagi saya dan tersingkaplah kebatilan dari hadapan sa ya, disebabkan dalil-dalil yang jelas, dan argumentasi-argumentasi yang terang, yang menun jukkan kebenaran mazhab Ahlul Bait as, yang terkandung di dalam kedua kitab ini. Dengan begi tu, kekuatan saya di dalam berdiskusi dan mengkaji pun menjadi semakin bertambah, sehingga Allah SWT membukakan cahaya kebenaran di dalam hati saya, dan saya pun mengumumkan Ke syi'ahan saya.

Selanjutnya mulailah periode baru dari pergumulan. Orang orang yang tidak mampu berdiskusi, mereka tidak menemukan jalan lain selain dari jalan olok-olok, caci maki, ancaman, fitnah dan jalan-jalan kebodohan lainnya. Saya serahkan seluruh urusan saya kepada Allah SWT, dan saya sabar dengan apa yang terjadi, meskipun serangan-serangan yang dialamatkan kepada saya itu berasal dari teman-teman saya, yang telah mengharamkan makan dan tidur dengan saya dalam satu atap.

Mereka mengasingkan saya secara penuh, kecuali sebagian teman yang lebih paham dan lebih terbuka. Setelah berjalan beberapa waktu, akhirnya saya bisa menormalkan kembali hubungan saya dengan semuanya, dan dalam bentuk yang lebih baik dari yang semula. Bahkan saya men jadi orang yang dihormati dan dihargai di tengah-tengah mereka. Sebagian mereka meminta per timbangan saya di dalam setiap masalah yang kecil maupun yang besar, dari masalah-masalah kehidupannya. Namun ini semua tidak berlangsung lama. Api fitnah pun kembali menyala, sete lah tiga orang mahasiswa lainnya mengumum­kan Kesyi'ahan mereka, di samping sekelompok besar mahasiswa yang menampakkan simpati dan dukungan mereka kepada Syi'ah. Serang kaian konflik dan guncangan pun mengelilingi kami, dan kami menghadapi semua itu dengan ber pegang teguh kepada akhlak dan hikmah, sehingga kami mampu menghilangkan kemarahan de ngan sesegera mungkin.

Selanjutnya






Indonesian to English translation
Bismillaahirrahmaanirrahiim


History of My Life

The Days of My Little
Religious interest has emerged since I was little, there is nature that pulls me to cling to religion. In the shadow into the future, my mind is never out of the context of religion. I see myself as a hero and mujahid of Islam that is able to develop feedback religious honor and glory of Islam. At that time I have not graduated from high school first. Understandably, my thinking was still shallow. Similarly, my knowledge of history and civilization of the Muslims are still very limited. I do not know know but a few stories about the Prophet and war does terha dap infidels, and a story of heroism and bravery of Imam Ali. I had learned Mahdiyyah government in Sudan, I was impressed with the personality Usman Daqnah. He was one of the brave commander of the Mahdi army in eastern Sudan. Jihad, which has aroused my interest when our history teacher describes spread around the courage and the greatness of his personality to us. He is a mujahid in the hills and valleys. That my heart is attracted to him. I aspire to be like him. I started thinking with my mind still shallow, that in order to achieve this goal then the only way is imagined in my mind when it is I must be graduates of military academies, so I was trained in warfare strategy and the use of weapons. For years I lived on this delusion, until finally I moved to the middle school level. At this level, understanding and knowledge I began to grow. Begin I know the leaders of the independence of the Islamic world, such as Abd al-Kawakibi, as-Sanusi, Omar Mukhtar and Jamaluddin al-Afghani, seo war fighter and a brilliant thinker who departed from Afhghanistan, and then move from one capital of an Islamic state one to the capital of the other Islamic countries, and so also to these countries is not Islam, to spread the idea that life, which was talking about the sides of the backwardness of the Islamic world and how to cure it.

What concerns me most is the method of jihad that dilakukannya.Dia do me through the wisdom, the spread of knowledge and the development of thought among Muslims, do not through the streets carrying weapons.

I once believed that every man will fight and defend the Muslims, like it or not he should be wielding the sword and into the field pepe attack. While the manner adopted by Jamaluddin al-Afghani's completely different to what I had been imagined. Method of words and conscious education is something new in my religious thought. I am not able to easily escape from the thoughts and ideals which I have built so far in my mind, although I realize that the crisis experienced by this people is the education crisis and thoughts. Because the pen didikanlah capable of making every individual willing to assume their responsibilities. This Jamaluddin, he surrounds the world to cast a light and blessing, and crossed barluaskan their thoughts, which received a warm welcome from the Musli min. Because, flung ideas capable of completing various Perma their mistakes and at the same time in line with their reality. That is very prevent maskan strength invaders. Because the magazine al-'Urwah al-Wutsqa [1] is already a serious challenge to their hands, forcing them to ban its publication.

The question that always haunt my mind is,

How can an individual be able to change this balance, and how an individualistic du capable of making all the major powers fear!

To answer this question, before I open some doors of questions. Part of it is simple and partly no answer in the Sudan. This makes me Beru saha to be able to escape from this reality, and simultaneously releasing a variety of old shackles that this encouraged me to submit to the fact that religion exists, so I walked lan in this life, as was done by my grandparents. However, ra sa responsibility that is within me, and so is my love to the Jama al-Afghani luddin danger bells rang in my nature, so that makes me wonder,

How can I become like Jamaluddin al-Afghani? What is the religion that I had inherited was able to bring me to that level? Then I said, 'Why not?! " What Do Jamaluddin has a different religion with our religion! And Islam is different from the Islam we?! "

To answer this question, I vacillated over the years, and every ka li I came to an answer, then that means a change in my understanding about about religion in general. So I saw Jamaluddin as an idol and role model, after the previous was Usman Daqnah, so with so of course changed all the way to go. After the previous military academy as the only way out in the panda with me, so now how damailah who introduced me to the original Islamic thought, which from between them will come the rise of Islam.

How very beginning
The discussion about the ways and thoughts are correct and responsible is a difficult discussion sesua tu. This stage is a difficult stage, although any discussion of what I consider to be spontaneous. Throughout my life, I often ask, discuss and so forth se, and no empty time of the discussion.

After harsh attacks launched by the Wahhabis against Sudan, and the intensification of dis discussions and dialogues, and the growing religious movement, began to unfold ba lot of truth, and the more clearly the various disputes and conflicts of history, beliefs and jurisprudence. Then start pengkafiran efforts against some groups and their ar-tied from rope bonds of Islam, which encourages the formation of different schools of Islamic jurisprudence.

Despite the bitterness of what had happened, but my interest to make the discussion even more increases, and I felt the reality of spontaneous questions that had been disturbing my mind.

The amount of my attention to the Wahhabi doctrine because of the discussions and seminars, which they performed semi-nar has attracted my attention. The most important thing I learned from them is courage against the existing doctrine. I once believed that teaching is something sacred, which can not be attacked and criticized, even though I gave him many notes of facts, based on considerations of conscience and fit my blood.

I kept walking with them, and a lot of discussions that took place between me and them, which in fact are the questions that had been confusing to my mind. I get a satisfactory answer for some of my questions, while others do not answer I could find on them. This is a guarantee for me to sympathize and help them, but with fixed diser tai several notes that hinders me to adhere fully to the teachings of bi Waha. The first and most important of it is I do not find on their side of what is to fulfill the ideals of my treatise. Sometimes, anxiety sa alight themselves by saying yes, actually what you think and that you are looking for is something that utopian one that does not exist in reality, and the Wahhabi teachings are the teachings of the most de kat with Islam that is not equal.

I went to follow this anxiety and at the same time justify, due to my ignorance of the thoughts and teachings of others. However, I quickly realized that what was done by Jamaluddin can not be the Wahhabi thought. I once shouted aloud, "Behold, Wahhabi doctrine is the closest way to Islam - because they put forward the arguments and passages to justify their sect, which I do not find on other groups in Sudan, but their difficulty is that the school that they do not wake up is like a mathematical formula ru-mus. That is the form of rigid rules, that without having a clear reflection of civilization in human life, also in facing various life ran good. Whether the individual level, social level, economic level or political level, and even in the ordinance relating to God Almighty. On the contrary, this teaching make man into a wild and isolated from society, and also to provide a letter of guarantee to mengkafirkan community groups who disagree with them. Every one of they could not live together with the community. He always distinguish themselves from the people with clothing and his behavior. The whole side of life not seja lan except with his friends. I feel the pride and arrogance of their ka. They see humans have a high status, but in his life they did not want to work together and blend in with society.

How might they can work with the community?! While all that the community is heresy and heretical in their views.

I still remember well when the Wahhabi aid into our village, within a period that is not how long, with no based on the assessment and awareness, a large group of youths joined in the Wahhabi line, but not long after they were all out of sequence . My guess is because this new ban maz hab they mingle with society, and forbids a lot of habit that is ingrained in them, who actually practice it does not conflict with religion.

It's good I mentioned, that one of the causes of youth who join the Wahhabi school of suffering is that there is the custom in our village, where the regular youth sitting on a clean stretch of sand at the full moon nights, in where they spent the night with a chat. That's when me rupakan the only opportunity for youth to meet the village after working all Had in the fields and other workplaces. Now their leaders and mengharamkannya not do it, arguing that the Messenger of Allah has forbidden act of sitting in the road. Though these places do not count the street. Second, and this is a problem throughout the Wahhabis, namely that every one of them in a short time and with a little knowledge has become a mujtahid who is entitled to give a fatwa on any issues. I still remember, on one day I sat berdis discussions with one of them about many things. In the midst of a discussion he stood up after hearing the azan Maghrib in their mosques. I told him, "Patience, we have finished our discussion." He replied, "No more discussion. It has come time of prayer, let us pray in the mosque." I said to him, "I pray at home", even though normally I always pray with them. He shouted loudly, "Cancel your prayers." I was surprised with these words and before I had requested an explanation from him he had turned and walked away. I said to him, "Wait a minute, what caused my prayers at home off?"

He replied with great pride, "Messenger of Allah had said, 'No Prayer ba gi neighboring mosque except in the mosque.'" I said to him, "There is no dispute on the primacy of prayer in congregation in the mosque, but this does not mean the loss of validity of the prayer in other than this place. Hadith above is emphasizing the primacy of the mosque, rather than being explained the law to pray in the house. As for their argument is that we have not seen in the jurisprudence called her that one of the cancel Prayer is prayer at home, and none of Jurists who give such fatwas. As for the second, by what right you had pulled out of this law?! Are you a Fakih?! Because difficult for a human to be able to give fatwas and explain laws about certain issues. A Fakih must study the entire passage which related to the problem. He had to know know the command instructions (dilalah al-amr) and instructions ban (dilalah an-nahy) in the passage. What command to show legally obligated or mustahab law, whether to show the legal prohibition unlawful or makruh law. Indeed, religion is very deep, ma ka go into it with caution. "

Looks rage on his face. He scowled and said, "You have mentakwil traditions, and interpretation are haram." Then he went away.

I leave my urusaan to Allah from such a dumb man, who did not understand anything ma.

The mind is the primary cause of both that prevent me to be a Wahabi, even though I was much influenced by their thoughts and defend him.

In this situation for some time, I was confused and had no direction. Sometimes I approached them and sometimes I also stay away from them. I see that the only way that is in front of me, instead of the school at the military academy is sa-ya have to study at university faculty or Islam, so I can continue my jiaan pengka more carefully. After completing his university entrance exams, in which there are six universities or institutes of interest by students, I chose Islam fakul bag. Now, I have completed entry to one Islamic faculty (ie faculty of Islamic studies and Arabic at university in Wadi an-Nil Sudan). I am very pleased with the emphasis these revenues. After fulfilling military training (martial state)-which can not be someone people can enter higher education after discharge unless this military exercise began was the delegates from all over the Sudan to come to the University, and I included that as all of them. At the time of the interview, faculty director asked me, whichever figure you admire? I told him, "Jamaluddin", and I explained to him why I admire him. Director of the faculty are satisfied with my answer. After a lot of questions, I was finally officially accepted in the faculty. On the faculty, I often visited the library, there are many books and encyclopedia of te-thick bales. However, the difficulties I face is where do I start? And what should I read?

I remain in this state, moving from one book to another book, without having a clear program. One of my relatives has opened the door wide and pen ting in the discussion and investigation, the study examines the history and schools of Islam, to be able to know the truth between them. Really this is the help of Allah Almighty that I did not expect, I can meet my relatives Abdul Mun'im-he graduated from law school, at my uncle's house in the city Athbarah. She was talking in the yard with a Muslim Brotherhood member who is a guest at my uncle's house. I sharpen my hearing to be melndengar what they were saying .... I immediately go to them when I know the topic into their conversations are religious problems. I sat near them, and pay attention to the development debate. Tam Pak Abdul Mun'im was so quiet in the conversation, even though the car was so gen provocation and attacks from the opposition. I do not know the overall character of the ongoing discussion, until finally a member of the Muslim Ikwanul said, "Sy'i the infidels and zindiq ah!"

Here I began to understand, and the question arises in my mind ....

Who are the Shiites? Why do they disbelieve?

Is Abdul Mun'im Shi'ites?

What he says something foreign. Is that the word Shiite?!

It must be admitted that Abdul Mun'im has to beat his opponent on every issue that dikemukaan in the discussions, in addition to looking at the ability of the logic and strength of argument.

Having completed the discussion and work on evening prayers, I approached Abdul Mun'im. I had asked him respectfully, "Are you a Shiite? Who are the Shiites that? And, from where you know them?"

Abdul Mun'im said, "Slow down, one question after another question."

I told him, "Sorry, I'm still confused by what I hear from you."

Abdul Mun'im replied, "It's a long discussion, which is the result of the race for four years, and even then it still has not reached the desired conclusion."

I cut the conversation, "The conclusion is that?"

Abdul Mun'im replied, "We live upon a pile of stupidity and ignorance throughout our lives. We walked behind us with kang society without question, whether religion is on our side this is desired by God, namely Islam? After me do the assessment, it became clear to me that the truth as far as in my view, yai tu Shiites.

I told him, "Maybe you in a hurry, or you're wrong ...!"

Hearing that he smiled and said, "Why you do not study it with care and patience? Moreover, you have a library at the university, which will provide many benefits to you."

I said in amazement, "Our library library Ahlus Sunnah, ba how maybe I could study the Shiites?"

Abdul Mun'im replied, "One of the Shiites is evidence of the truth they argue for the correctness of their use and history books of Ahl us-history scholar Sun nah. Because in it a lot of things that explain the truth of them with las je once. "

I replied, "Well, Shiites referral sources are reference sources Ahlus Sunnah itself?"

Abdul Mu'im replied, "No, Shiites have their own referral sources, a number many times more than the referral sources of Ahlus Sunnah, and all of them narrated from Ahlul Bait as and from the Prophet. But thus , they argued to the Ahlus Sunnah mentasi using narrations that exist in the marrow were a source of reference Ahlus Sunnah, because the Ahlus Sunnah do not believe in what is on their side, then inevitably they must berhujjah with what diya now by the Ahlus Sunnah. "

His talk pleases me and makes me more interested in discussing. I asked him, "Then, how should I start?"

Abdul Mu'in replied, "What is in your library there are books of Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Musnad Ahmad, Turmudzi and Nasa'i?"

I replied, "Of course, in our library there is a large collection of books of reference dis ha."

Abdul Mu'im said, "Get out of here. Then, read the books of commentary and historical books, because in these books there are traditions which indicate the necessity of the teachings of Ahlul Bait ngikuti me as."

He began to mention a few examples of it, to not forget to mention the source, as well as with volume number and page number. I was amazed. With full attention as I listened to the traditions that I had never heard before. I doubt whether these traditions really are in the books of Ahlus Sunnah. But with a soon Abdul Mun'im cut my doubts by saying, "Write down these traditions to you, and then look at the library. Later we meet again on Thursday that will come, God willing.''

On Friday
After I refer to these traditions in Sahih Bukhari, Muslim and Turmudzi in our university library, I became convinced of the truth of what he said. Sa ya shocked by a series of other traditions that show the necessity of more ngikuti Ahlul Bait me, which made me a shock. Why we've never heard of this tradition ha-dis before?!

So I showed a series of this tradition to some of my friends, that they were participating in this trouble. Some of them pay attention, while another part does not really care. But I was determined to continue the assessment, although even for that I have spent my entire life. Ka keti arrived on Thursday, I went to Abdul Mun'im. He welcomed me with great pleasure. He said, "You must not hurry, you should continue your studies with full awareness."

Then we began to discuss other problems of various kinds, and it continued until Friday afternoon. I do a lot of benefit from the deliberations, and many know something before I do not know. Before I returned to campus he asked me to discuss some issues. Thus it continued until some time. Discussions are taking place between me with her ever-changing from time to time. Sometimes I talk loudly to him, and I sometimes argue with some of the problems that have been very clear. For example, when I refer to some traditions in the books of reference, and I believe in its existence, I told him, "This Hadith does not exist." Until now I do not know what prompted me to do that, apart from a feeling of urgency and desire victory felt memories.

In this way, and with the increasing discussion, tersingkaplah truth in front of me that I did not expect before. Throughout this period I was doing a lot of discussions with friends. Whenever they can no longer deal with me, had they asked me to discuss with a doctor who teaches science courses to our jurisprudence. I said, "There is no obstacle for me, but there ra anta obstructions that prevent me with him I can speak freely with him." They do not feel satisfied with my answer. They said, "Between us and you there is a lecturer, if your argument can memuaskannnya then we will be with you ..!"

I say, "What matters is not a satisfactory or unsatisfactory, which is to be a problem is the arguments and argumentation, and the search for the truth ...."

At the beginning of Jurisprudence courses start my discussion with my lecturer ngajukan in the form of his questions. It appears he was not much against me, even otherwise he stressed his love of the Ahlul Bait as and must follow them, and to mention their virtues. After a few days he asked me to meet him at his office, at the university headquarters. After I went to see him, he handed it to me a book which consists of several volumes, namely Sahih al-Kafi, which was signed in the book of reference of the most trusted tradition among the Shiites. He asked me to not negligent on this book, because this book is the legacy of the Ahlul Bait. I can not speak a word because it was so nervous, then I take the book and thanked him. I never heard of this book but I have never seen it. It makes me doubt whether this doctor a Shiites, even though I knew he was a Maliki. After asking around, it became clear to me that he was a Sufi wa who loves Ahlul Bait as.

When my friends saw fit in between me and these professors, they asked me to have discussions with other lecturers, who teach subjects hadith. Lecturer in hadith is a man devout and very good tawadu ruqyah. I really love him. So I had to meet their requirements. Begin discussion occurred between us in a lot of problems. I asked him about the validity of some hadiths, and he also strengthens the validity of these traditions. After walking some time, I felt a dislike for him with my discussions, and so did my friends felt the same. So I think that the best way to continue the discussion is through writing. Then I wrote a set of traditions and history which clearly indicates the will is obligatory to follow the Ahlul Bait as, and I asked him to discuss the validity of these traditions. Every day I had asked for an answer from him, but he defended himself by saying there was no discussion. Sa ya continue to follow this way, until she felt a sense of my anxiety.

He told me, "Everything is valid."

I said, "It clearly shows the necessity of following the Ahlul Bait."

He did not answer, but rushed to the office. These actions are gonca with for me, and make me feel the truth will perkataaan Shiites. But sa ya want it slowly and do not want to rush in deciding.

Incidentally, the dean of our faculty is Professor 'Alwan. He taught courses commentary for ka mi. One day he spoke about the interpretation of the word of Allah SWT, which reads, "A request has asked for the arrival of his punishment would have happened",

"Verily, the Prophet was in Ghadir Khum when he called on people, then they too had gathered. Then the Messenger of Allah raised Ali's hand and say, 'He who I am as a leader then this is Ali as the leader." The news had been spread throughout the country, and came to al-Harith bin Nukman Fihri. Then he went to the Messenger of Allah with his camel riding. Then he stopped his camel and down from it. Harith ibn al-Fihri Nukman said,

'O Muhammad, you have told us about God, that we bear witness that there is no god but Allah and that you are His messenger, and we accept it. You commanded us to perform prayers five times, and we accept it. You tell us to practice regular charity, and we accept it. You peritahkan us to fast in Ramadan, and we accept it. You tell us to fulfilling their pilgrimage, and we accept it. Then you do not feel satisfied with all this so that you raised your cousin's hand and mengutamakannya upon us all by saying, 'Who made me as the leader then this is Ali's leaders. 'Is this from you or from God? "

Messenger of Allah replied, 'By Allah that there is no god but He, in fact it comes from God Almighty. " Hear it Nukman Hants bin al-Fihri turn away from the Messenger of Allah, and intends to go to his vehicle and said, 'O Allah, if what was said Muhammad was true then we hujanilah with stones from heaven or bring us a painful punishment. " So before al-Harith bin Nukman Fihri get to his vehicle suddenly God sends down a stone from the sky right on top of his head and to then penetrate out of the anus, and he was dead. Then Allah SWT right down to his words,

'An applicant has requested the coming doom that will occur. For unbelievers, which nobody can refuse. " "[2]

Once completed lesson one of my friends met him and told him, "What you've said is the word Shiite." Mr. Dean was stunned for a moment, then looked in the direction pemerotes me and said, "Call Mu'tashim into office space ...!"

I was surprised by this request, and was afraid to meet the father of the dean. But I quickly mastered myself and went to see him. Before I had time to sit down, ba sir dean said to me, "You Shi'ites!"

I replied, "I am merely a person who is reviewing."

Mr. Dean said, "The assessment was a good thing, and something that should be."

Mr. Dean began to mention some suspicions about the Shiite who many people call. But with the help of Allah SWT I can answer all of that with might and main arguments and argumentation, and can fluently speak more than I expected. Not yet closed before our conversation, he told me the book of al-Muraja 'at. Why did he say, "Kitab al-Muraja 'at including a good book in this case."

After I read the book of al-Muraja 'at, Ma'alim al-Madrasatain and several other books, then the truth becomes clear to me and tersingkaplah evil from before sa yes, because the arguments are clear, and the arguments were bright , which show show the truth as the school of Ahlul Bait, which is contained in both this book. With begi tu, my strength in the discussion and review becomes progressively increase, so that Allah opened the light of truth in my heart, and I announce to my syi'ahan.

Next start a new period of struggle. People who are not able to discuss, they found no other way apart from the street banter, verbal abuse, threats, defamation and other foolishness streets. I leave all my affairs to Allah SWT, and I am impatient with what happened, even though the attacks are addressed to me came from my friends, who had been forbidden to eat and sleep with me under one roof.

They alienate me in full, except for some friends who are more familiar and more open. After walking some time, finally I was able to normalize my relationship with them, and in better form than the original. Even my men, those who were respected and valued in their midst. Some of them ask for a balance I am in every problem that small and large, the problems of life. But this all did not last long. Fire slander returned fire, after three other students was announced Kesyi'ahan them, in addition to a large group of students who showed their sympathy and support to the Shiites. Attack clothes any conflict and turmoil around us, and we faced it all with her persistently adhere to the morals and lessons, so we were able to relieve his anger with as soon as possible.

Next 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar