Jumat, 19 Juni 2009

KALAU DIPIJAK SEMUTPUN AKAN MENGGIGIT


 

KALAU ANDA TIDAK SENANG DIKATAKAN JUSTRU SUNNI YANG SESAT
JANGAN KATAKAN SYI'AH IMAMIAH 12 SESAT





Bismillaahirrahmaanirrahiim
Anda hai Mukarram Ibr, nampak sekali lemah cara berfikir. Anda nampak sekali ikut-ikutan dalam beragama. Nampaknya sia-sia saja berdiskusi dengan hanya memforward "Hikayat Musang" orang lain. Semoga anda lebih baik diam saja daripada berbicara sesuatu tanpa memiliki keyakinan sendiri. Anda mengatakan Syiah sesat dengan melambungkan Hikayat Musang (hadist palsu), lalu saya katakan justru Sunni yang sesat dengan dalil Aqli dan Naqli atau nash Al Qur-an dan Hadist. Kalau anda tidak senang dikatakan justru Sunni yang sesat, jangan anda katakan Syiah sesat. Kalau tidak ingin dipukul orang jangan suka memukul orang lain. Air ludah yang kita lemparkan keatas akan menimpa muka kita sendiri. Dapatkah anda memahaminya?

Persoalan antara Syi'ah dan Sunnah telahpun banyak dialog yang dilakukan oleh Ulama-ulama Syi'ah dan Ulama Sunni. Realitanya Justru Syia'h yang unggul. Hujjah Syiah sangat kuat dan Pamungkas. Hal ini dapat anda baca dalam Kitab Muktamar Ulama Baghdad, buku baru [Cetakan Kedua] !, Dialog Sunnah - Syi'ah di Pensyawar, Pakistan, Akhirnya Kutemukan Kebenaran dan Kitab Sulaim bin Qais yang merupakan satu-satunya kitab Rahasia keluarga Rasulullah.

Baik ulama Syiah maupun Sunnah mengakui bahwa Rasulullah telah mengangkat Imam 'Ali bin Abu Thalib sebagai penggantinya di Ghadirkhum yaitu suatu tempat yang dipilih Rasulullah untuk menghentikan semua kaum Muslimin agar menyaksikan pengangkatan Khalifah yang berasal dari perintah Allah sendiri. Kejadian ini persis setelah Haji Wada' (Haji terakhir bagi Rasulullah). Begitu Rasulullah mengangkat Imam 'Ali sebagai penggantinya, langsung Allah menurunkan ayat "Alyauma akmaltu lakum dinukum..." sebagai pernyataan bahwa tugas Rasulullah telah sempurna setelah diangkat Nya pengganti Rasulullah (Khalifah atau Wazirnya) agar Ummah tidak sesat jalan hidupnya sebagaimana kita saksikan sampai hari ini banyak orang yang mengaku diri sebagai orang Islam, namun tidak mengetahui Imamnya. Sementara Rasulullah telah mengingatkan bahwa barang siapa yang matinya dalam keadaan tidak mengenal Imamnya sama dengan mati Jahiliah.

Peristiwa Ghadir Khum yang amat monumental dalam sejarah Islam ini, merupakan peristiwa besar. Sebagian menyatakan bahwa tak kurang dari 110 orang sahabat Rasul meriwayatkan peristiwa ini. Peristiwa Al-Ghadir juga diceritakan oleh seorang ahli tafsir terkemuka yaitu penulis kitab "Tafsir Al-Kabir" bernama Fakhrurazi. Saat menjelaskan ayat 68 surah Al-Maidah, beliau menuliskan: "Ayat ini diturunkan untuk keutamaan Ali. Dan karena ayat ini turun, Rasul kemudian mengangkat tangan Imam Ali sambil berkata: "Barang siapa menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya."

Abul Faraj bin Jauzi Hambali juga mengatakan: "Para ulama sejarah dan kehidupan Nabi sepakat bahwa peristiwa Ghadir terjadi setelah kepulangan Nabi dari haji terakhir, dan pada hari itu para sahabat, orang-orang Arab dan penduduk sekitar Madinah dan Mekkah berjumlah sekitar 120 ribu orang bersama Nabi SAWW. Mereka adalah orang-orang yang mendengar hadith Ghadir dari Nabi SAWW.

Pesan peristiwa Ghadir adalah pengawalan ajaran Islam dan kesinambungan kepemimpinan Islam di tangan manusia yang paling layak dan paling berilmu berdasarkan petunjuk-petunjuk Nabi dan Ahlul Bait A.S. Kehendak Allah pada perkara ini berlaku bahwa peristiwa penting Ghadir tetap hidup di setiap hati manusia pada segala abad dan zaman serta tertulis di sanad-sanad dan kitab-kitab. Pada setiap masa dan zaman para ulama, khatib dan penulis membicarakannya sehingga bendera Islam senantiasa berkibar di bawah sinar wilayah dan Imamah Ahlul Bait Nabi SAWW.

Dlam peristiwa itu justru Umar bin Khattab yang menyertakan ucapannya sebelum membai'at Imam 'Ali dengan ucapan: "Tahniah bagi anda Abul Hasan. Anda telah menjadi maulaku dan maula seluruh kaum mukminin dan mukminat". Ironisnya Umar cs berubah pikirannya setelah beberapa bulan kemudian sehingga membuat perjanjian lainnya di belakang Ka'bah. Sebagai realisasinya, Umar cs lah yang berani menentang Rasulullah ketika merintih diatas katil, hingga Rasulullah mengusirnya mereka dari kamarnya. Umar cs mengatakan: "Orang itu sedang mengingau, cukuplah Al Qur-an bagi kita"

Betapa kelirunya Umar yang mengira cukup Al Qur-an saja sebagai pedoman Hidup kaum Muslimin tanpa memerlukan Keluarga Rasulullah yang sudah dijamin Allah tentang kesucian pikirannya untuk mendampingi Al Qur-an. Bagaimana mungkin Dokter tidak dibutuhkan untuk mendampingi buku Pengobatan? Akibat penentangan dari Umar cs ini justeru banyak orang yang tidak adajaminan, telah menafsirkan Al Qur-an sesuai dengan nafsu mereka sendiri bersamaan dengan memalsukan Hadist Rasulullah sebagaimana yang dilakukan Abu Hurairah cs.

Penentangan Umar cs berlanjut terus sampai memprotes pengangkatan Usamah sebagai panglima perang serta menolak untuk berada dibawah komandonya, hingga Allah dan Rasulnya mengutuk keduanya. Keenganan Umar cs terhadap perintah Rasulullah sungguh membuat kita heran kenapa sampai hari ini masih banyak orang yang mengira Umar sahabat yang paling mulia. (kakreueh bhan keue ngen bhan likot  atawa kaglue Umar ngen aneuk panah). Bagi yang memiliki hati nurani tentu mudah memahami bahwa siapapun yang berani menantang Rasulullah, gugurlah Imannya. Umar cs yang sama juga menentang Rasulullah ketika terjadinya Perjanjian Hudaibiyah dan ketika beliau hendak shalat atas mayit seseorang, dengan alasan Umar orang tsb munafiq. Umar Juga berani merobah hukum Allah dan Rasulnya dengan alasan ijtihad. Bolehkan kita berijtihad untuk menentang Nash Al Qur-an yang kat'i atau Hadist murni?

Keterangan mengenai ketimpangan Umar dan Abubakar dapat anda teliti dengan lebih jelas lagi di alinia alinia berikut ini:



Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya pada Bab Manaqib Umar bin Khattab (Keistimewaan Umar bin Khattab) sebagai berikut:

Ketika Umar menderita karena tikaman, beliau merintih kesakitan. Ibnu Abbas datang menghiburnya sambil berkata, "Ya Amir al-Mukminin, apabila memang sudah waktunya tiba, bukankah engkau adalah sahabat Rasulullah yang baik. Ketika kau berpisah dengannya, bukankah dia juga rela padamu. Kemudian kau telah bersahabat dengan Abu bakar dengan persahabatan yang baik, lalu kau berpisah dengannya juga dalam keadaan dia rela padamu. Kau juga bersahabat dengan yang lainnya dengan baik. Jika seandainya kau harus meninggalkan mereka, maka mereka akan rela padamu."

Tidak lama berselang Umar kemudian menjawab, "Adapun tentang persahabatan dan kerelaan Rasulullah yang kau sentuh tadi, maka itu adalah anugerah yang Allah telah berikan padaku. Persahabatan dan kerelaan Abu Bakar yang kau katakan tadi, itu juga adalah anugerah yang Allah limpahkan padaku. Namun apa yang kau saksikan dari rasa khawatir pada wajahku adalah semata-mata karena kamu dan sahabat-sahabatmu. Demi Allah, apabila aku punya segunung emas maka aku akan korbankan demi dapat terselamat dari azab Allah sebelum aku datang menjumpai-Nya."1

Sejarah juga mencatat kata-kata Umar berikut: "Oh, alangkah beruntungnya apabila aku hanyalah seekor kambing milik keluargaku. Digemukkannya aku seperti yang mereka suka kemudian menjadi lahapan orang yang menyenanginya. Mereka iris sebagian dariku dan dipanggangnya sebagian yang lain. Kemudian aku dimakan dan dikeluarkan pula sebagai najis. Oh, kalaulah aku seperti itu dan tidak menjadi manusia."2

Sejarah juga mencatat kata-kata Abu Bakar berikut: "Ketika Abu Bakar melihat seekor burung hinggap di suatu pohon, dia berkata, berbahagialah engkau duhai burung. Engkau makan buah-buahan dan hinggap di pohon, tanpa ada hisab atau balasan. Aku lebih suka kalau aku ini adalah sebatang pohon yang tumbuh di tepi jalan, kemudian datanglah seekor onta lalu memakanku. Kemudian aku dikeluarkan dan tidak menjadi seorang manusia."3

Di tempat lain beliau juga pernah berkata: "Oh, kalaulah ibuku tidak pernah melahirkanku. Oh, kalaulah aku hanya sebiji pasir dari satu batu bata."4

Demikianlah sebagian kecil dari bukti yang dapat kita contohkan di sini sebagai renungan semata-mata. Dan berikut ini adalah firman Allah SWT yang memberikan berita gembira kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin: "Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tiada kekhawatiran terhadap mereka dan tiada (pula) mereka bersedih hati; (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (QS: Yunus: 62, 63, 64).

Dan firman Allah dalam surat lain, "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Tuhan kami adalah Allah' kemudian mereka teguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan (memperoleh) sorga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'" (QS. Al Fushilat: 30, 31,32).

Kenapa Syaikhain (Abu Bakar dan Umar) berangan-angan untuk tidak jadi manusia, makhluk yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT atas makhluk-makhluknya yang lain. Apabila seorang mukmin yang biasa yang istiqamah dalam hidupnya bisa didatangi oleh malaikat dan diberinya kabar gembira dengan kedudukan di sorga, lalu dia tidak khawatir pada azab Allah dan tidak bersedih hati dengan masa lalunya di dunia, bahkan baginya berita gembira di dalam kehidupan di dunia sebelum kehidupan di akhirat, maka kenapa tokoh-tokoh sahabat yang dikatakan sebagai makhluk terbaik setelah Rasulullah berangan-angan ingin menjadi najis atau sehelai rambut atau sebiji pasir?

Seandainya para malaikat telah memberinya berita gembira akan hal sorga, semestinya mereka tidak akan berangan-angan untuk memiliki segunung emas agar dapat dikorbankan sebagai tebusan atas azab Allah sebelum berjumpa dengan-Nya. Allah SWT berfirman: "Dan kalau setiap diri yang zalim itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu, dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil sedang mereka tidak dianiaya." (S. Yunus: 54).

Allah juga berfirman: "Dan sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai semua apa yang ada di bumi dan sebanyak itu (pula) besertanya, niscaya mereka menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkan." (QS. Az-Zumar: 47,48).

Aku bercita-cita sepenuh hatiku agar ayat ini tidak meliputi sahabat-sahabat besar seperti Abu Bakar as-Siddiq dan Umar al-Faruq. Tetapi aku seringkali terjebak dengan adanya nas-nas seperti ini. Itulah kenapa aku coba menelaah aspek-aspek menarik dari hubungan mereka dengan Rasul SAWW. Namun di situ juga aku dihadapkan dengan sikap mereka yang enggan melaksanakan perintah-perintah Nabi, terutama pada saat-saat akhir dari umurnya yang penuh berkat itu, di mana menyebabkan Nabi marah dan mengusir mereka dari kamarnya. Aku juga dihadapkan dengan suatu fakta akan perilaku mereka setelah wafatnya Nabi, serta sikap mereka yang menggangu puterinya Fatimah az-Zahra'. Padahal Nabi SAWW bersabda, "Fatimah adalah belahan nyawaku, siapa yang menyebabkannya marah maka dia telah menyebabkan aku marah." 5

Fatimah juga pernah berkata kepada Abu Bakar dan Umar demikian: "Aku minta persaksian dari Allah kepada kalian berdua, apakah kalian tidak mendengar Rasulullah bersabda, 'Keredhaan Fatimah adalah keredhaanku dan kemarahan Fatimah adalah kemarahanku. Siapa yang mencintai puteriku Fatimah, maka dia telah mencintaiku, siapa yang membuat Fatimah rela maka dia telah membuatku rela, siapa yang membuat Fatimah marah maka dia telah membuatku marah.' 'Ya, kami telah mendengarnya dari Rasulullah.' Jawab mereka berdua. Lalu Fatimah berkata lagi, 'Sungguh, aku minta persaksian Allah dan para malaikat-Nya bahwa kalian berdua telah membuatku marah dan tidak rela. Jika kelak aku berjumpa dengan Rasulullah maka pasti akan kusampaikan keluhanku ini kepadanya'."6

Biarlah riwayat yang menyayat hati ini kita tinggalkan dahulu. Mungkin Ibnu Qutaibah, seorang ulama Ahlu Sunnah yang sangat terkemuka dalam berbagai ilmu pengetahuan dan mempunyai banyak karya seperti Tafsir, Hadis, Bahasa, Nahu dan sejarah, mungkin beliau juga telah ikut Syi'ah seperti yang pernah dikatakan oleh seseorang ketika kutunjukkan padanya kitab Tarikh al-Khulafa'. Dan ini hanya sekadar alasan yang dicari-cari saja oleh ulama kita ketika mereka harus mengakui fakta-fakta tersebut. Di daerah kami, Thabari dikatakan telah ikut Syi'ah; Nasai yang telah menulis satu buku khusus tentang keutamaan Imam Ali juga dikatakan telah ikut Syi'ah; Ibnu Qutaibah juga Syi'ah; bahkan Taha Husain, ketika menulis buku al-Fitnah al-Kubro (Fitnah Besar) dan menyebutkan di sana hadis-hadis al-Ghadir serta mengakui kebenaran-kebenaran yang lain juga dikatakan telah ikut Syi'ah.

Padahal sebenarnya mereka bukan orang Syi'ah. Bahkan ketika mereka berbicara tentang Syi'ah, yang mereka sebutkan hanyalah keburukannya semata-mata. Mereka membela para sahabat dengan segala daya upaya mereka. Tetapi mereka yang menyebut keutamaan-keutamaan Ali bin Abi Thalib dan mengakui kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh sahabat tertentu, tiba-tiba kita tuduh mereka sebagai Syi'ah. Cukup —misalnya— Anda sebutkan di hadapan mereka shalawat Nabi yang diiringi dengan kalimat Wa Alihi atau menyebut alaihissalam untuk Imam Ali, maka mereka segera akan mengatakan bahwa Anda adalah seorang Syi'ah!

Suatu hari aku berdiskusi dengan seorang ulama. Kutanyakan padanya, "apa pendapatmu tentang Bukhari?"
"Beliau adalah imam hadis." Jawabnya. "Kitabnya adalah yang paling benar setelah Kitab Allah. Hal ini adalah kesepakatan para ulama kita."

Kukatakan padanya bahwa Bukhari adalah seorang Syi'ah. Dia tertawa terbahak-bahak mengejekku.
Katanya, "Tidak mungkin sama sekali Imam Bukhari akan jadi Syi'ah!"

Kukatakan lagi padanya "Anda pernah menyatakan siapa saja yang menyebut kalimat alaihissalam untuk Ali maka dia adalah orang Syi'ah."
"Ya," jawabnya.

Kemudian kutunjukkan padanya dan pada orang-orang yang duduk di sekitarnya kitab Shahih Bukhari yang memuat kata-kata alaihissalam ketika menyebut nama Ali, Husain bin Ali serta nama Fatimah puteri Nabi.7 Menyaksikan itu orang ini merasa sangat kaget dan bingung apa yang harus dikatakannya.

Mari kita kembali pada riwayat Ibnu Qutaibah yang mencatat bahwa Fatimah marah pada Abu Bakar dan Umar. Apabila aku meragukan kebenaran riwayat ini karena semata-mata ada dalam kitab Ibnu Qutaibah, maka aku tidak akan dapat mengelak lagi ketika riwayat yang sama kudapati dalam kitab Shahih Bukhari, sebuah kitab yang paling "benar" setelah AlQuran. Karena kita telah nyatakan bahwa kitab Shahih Bukhori adalah kitab yang paling benar, dan kini Syi'ah berargumentasi dengan kitab tersebut, maka adalah sangat adil dan fair apabila orang-orang yang rasional menerimanya.

Bukhari meriwayatkan dalam Bab Manaqib Qarabah Rasulillah (Keistimewaan Kerabat Nabi) bahwa Rasulullah SAWW bersabda:"Fatimah adalah belahan nyawaku, siapa yang membuatnya marah maka dia telah membuatku marah." Dalam Bab Ghazwah Khaibar, "dari Aisyah (yang berkata) bahwa Fatimah putri Nabi, suatu hari mengutus seseorang menghadap Abu Bakar untuk meminta hak pusakanya yang diwarisinya dari ayahandanya. Abu Bakar enggan memberikannya kepada Fatimah walau sedikit pun. Fatimah sangat marah kepada Abu Bakar, lalu ditinggalkannya dan tidak diajaknya berbicara sampai beliau wafat."8

Alhasil, konklusinya satu. Bukhari menyebutnya secara ringkas, sementara Ibnu Qutaibah mencatatnya secara lebih rinci: yakni Rasulullah SAWW akan marah lantaran marahnya Fatimah dan akan rela lantaran kerelaan Fatimah. Dan ketika Fatimah meninggal, beliau masih dalam keadaan marah dan murka pada Abu Bakar dan Umar.

Jika Bukhari berkata bahwa "Fatimah meninggal masih dalam keadaan marah pada Abu Bakar, dan sampai akhir hayatnya tidak berbicara dengannya", riwayat Bukhari ini sama maknanya dengan riwayat Ibnu Qutaibah di atas. Kemudian, apabila Fatimah adalah Penghulu Wanita Alam Semesta seperti yang disebutkan oleh Bukhari dalam Bab al-Istidzan bagian Man Naja Baina Yadai an-Nas; dan Fatimah adalah satu-satunya wanita dari ummat ini yang dibersihkan dari segala dosa dan disucikan sebersih-bersihnya, maka hal itu berarti bahwa sikap marahnya adalah karena kebenaran semata-mata. Dan dengan alasan inilah kenapa Rasulullah akan marah karena marahnya Fatimah, dan akan murka lantaran murkanya Fatimah. Dan karena menyadari konsekuensi inilah kemudian Abu bakar berkata: "Aku berlindung pada Allah dari murkaNya dan dari murkamu wahai Fatimah"; dan Abu Bakar menangis tersedu-sedu sampai dadanya sesak.

Fatimah juga berkata kepada Abu Bakar: "Demi Allah, aku akan mohonkan keburukanmu di dalam setiap doa yang kupanjatkan seusai shalat." Kemudian Abu Bakar menangis dan berkata berikut: "Aku tidak perlu pada bai'at kalian; lepaskan aku dari bai'at kalian."9

Para ahli sejarah dan ulama-ulama kita tahu bahwa Fatimah AS telah mendakwa Abu Bakar dalam berbagai kasus, seperti kasus harta pusaka dan bagian hak kerabat Nabi. Tetapi semua dakwaannya ditolak sehingga beliau AS meninggal dalam keadaan murka. Namun sayang sekali, para ulama kita hanya membacanya saja dan enggan mendiskusikannya. Alasannya —seperti biasa— ingin menjaga segala kemuliaan Abu Bakar.

Di antara hal aneh yang pernah kubaca tentang cerita ini adalah komentar sebagian penulis yang menukilkan cerita tersebut secara agak rinci, kemudian berkata: "Jauh sekali kemungkinan Fatimah akan mendakwa sesuatu yang bukan haknya; dan jauh sekali Abu bakar akan melarang Fatimah dari haknya." Penulis tersebut menduga bahwa dengan cara ini dia telah dapat menyelesaikan kemusykilan dan telah memberi jawaban yang memuaskan kepada para pencari kebenaran. Padahal logika seperti itu nyaris sama dengan logika yang beralasan: "Jauh sekali AlQuran akan berkata sesuatu yang bukan haq; atau jauh sekali Bani Israel akan menyembah anak sapi."

Kita sering berjumpa dengan para ulama yang berbicara tentang sesuatu yang tidak mereka fahami, atau mempercayai sesuatu yang kontradiktif. Dalam kasus ini —misalnya— Fatimah yang mendakwa sementara Abu Bakar yang menolak dakwaan. Kita dihadapkan pada dua pilihan, apakah Fatimah yang berbohong (semoga Allah melindungi kita dari berkata demikian) atau Abu Bakar yang berlaku zalim kepadanya. Tidak ada kemungkinan ketiga dalam menilai kasus ini seperti yang diasumsikan oleh ulama-ulama kita. Apabila andaian dan kemungkinan Fatimah berbohong adalah tertolak, karena terbukti ayahnya bersabda untuk dirinya, "Fatimah adalah belahan nyawaku; siapa yang mengganggunya berarti dia telah menggangguku..." dan orang yang berbohong sudah pasti tidak akan memperoleh rekomendasi Nabi seperti ini (disamping hadis ini sendiri adalah bukti akan kemaksumannya dari berkata dusta dan dari segala perbuatan yang munkar, sebagaimana yang didukung oleh ayat Tathhir (QS. Al Ahzab: 33) yang diturunkan untuknya, suaminya dan dua puteranya dengan persaksian Aisyah 10)

jika hal ini tertolak maka tidak ada jawaban lain bagi orang-orang yang berpikir rasional kecuali harus mengakui bahwa Fatimah sebenarnya adalah pihak yang dizalimi. Dan mudah untuk kita duga bahwa sekadar menolak dakwaan Fatimah seperti itu jauh lebih mudah bagi mereka yang tidak takut sekalipun untuk membakar rumahnya.11

Itulah kenapa Fatimah AS tidak mengizinkan Abu Bakar dan Umar masuk ke dalam rumahnya; dan ketika Ali membawa mereka masuk, Fatimah juga memalingkan wajahnya dan tidak mau melihat mereka berdua.12

Fatimah wafat dan berwasiat agar dikebumikan secara rahasia di malam hari, supaya tidak satupun dari mereka yang dimurkainya dapat menghadiri jenazahnya.13

Dan —memang— sampai kini kita tidak akan dapat menjumpai dimana kuburan puteri Rasul tersebut. Kenapa alim-ulama kita berdiam diri dari hakikat kebenaran ini, dan tidak mau mengkajinya bahkan menyebutnya sekalipun. Mereka menggambarkan kepada kita bahwa para sahabat bagaikan para malaikat yang tidak bersalah atau berbuat dosa. Jika kita tanyakan pada mereka kenapa Khalifah Utsman sampai bisa terbunuh, mereka akan segera menjawab bahwa penduduk Mesirlah —orang-orang kafir— yang telah membunuhnya. Cukup dengan dua kalimat itu saja. Tetapi ketika aku mulai membaca dan mengkaji sejarah, kudapati bahwa tokoh-tokoh penting dibalik pembunuhan Utsman adalah para sahabat itu sendiri, terutama Ummul Mukminin Aisyah yang menyeru pembunuhannya dihadapan publik ramai. Aisyah berkata, "Bunuhlah si Na’tsal (orang tua yang keras kepala —yakni Utsman) itu! Sungguh dia telah kafir!"14

Di sana kita juga dapati nama-nama seperti Thalhah, Zubair, Muhammad bin Abu Bakar dan tokoh-tokoh sahabat lain yang terkenal. Mereka telah kepung rumah Utsman dan memotong suplai air agar ia meletakkan jabatan. Para ahli sejarah juga mencatat bahwa mayat Utsman dilarang oleh para sahabat lain dikebumikan di pekuburan kaum muslimin. Akhirnya beliau dikuburkan di Hash Kaukab tanpa dimandikan dan tanpa dikafankan. Subhanallah. Bagaimana lalu dikatakan kepada kita bahwa Utsman dibunuh dalam keadaan dizalimi, dan yang membunuhnya adalah orang-orang bukan muslim.

Dalam melihat masalah ini hampir sama dengan masalah antara Fatimah dan Abu Bakar serta Umar di atas. Apakah Utsman yang dizalimi, sehingga para sahabat yang terlibat divonis sebagai pembunuh-pembunuh yang jahat, karena telah membunuh seorang Khalifah muslimin dengan penuh aniaya dan permusuhan, bahkan kemudian melempar mayatnya dengan batu sampai Utsman dikatakan konon sebagai orang yang teraniaya pada masa hidupnya dan setelah matinya. Atau para sahabat itu yang dizalimi karena menyaksikan sejumlah tindakan Utsman yang bertentangan dengan Islam, kemudian menghalalkan darahnya, seperti yang terbukti dalam buku-buku sejarah. Tidak ada kemungkinan ketiga yang dapat kita cari jawabannya, melainkan kalau kita ingin memalsukan sejarah dan menerima alasan bahwa orang-orang "kafir" Mesirlah yang membunuhnya.

Dari dua andaian di atas kita terjebak pada konsekwensi logis akan ketidakjujuran teori yang mengatakan bahwa semua sahabat adalah adil. Karena apakah Utsman yang tidak adil sehingga para pembunuhnya yang benar, atau para pembunuhnya, yang juga para sahabat yang terkemuka. Dengan demikian maka batallah klaim kita dan benarlah klaim Syi'ah yang mengatakan bahwa hanya sebagian sahabat sajalah yang adil, bukan semua.
Kita juga bertanya tentang peperangan Jamal yang diapi-apikan oleh Ummul Mukminin Aisyah bahkan dipimpin olehnya sendiri. Bagaimana Ummul Mukminin Aisyah keluar dari rumahnya sementara Allah SWT memerintahkannya untuk tinggal di rumahnya saja. Firman Allah: "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu..." (QS. Al Ahzab: 33)

Kita juga bertanya, atas hak apa Ummul Mukminin membolehkan perang menentang khalif ah muslimin yang sah, yakni Ali bin Abi Thalib? Bukankah beliau adalah wali (pemimpin) bagi orang-orang mukmin dan mukminah? Seperti biasa, para ulama kita dengan mudah saja menjawab bahwa Aisyah tidak suka dengan Imam Ali, lantaran Ali menyarankan kepada Rasul untuk mentalaknya dalam peristiwa Ifik. Mereka ingin katakan kepada kita bahwa peristiwa ini adalah alasan yang cukup kuat untuk Aisyah melanggar perintah Tuhannya dan Rasulnya serta menunggangi seekor onta yang dilarang oleh Rasul dan diperingatkannya dari gonggongan anjing Hauab.15

Aisyah telah menempuh jarak yang cukup jauh, dari Madinah ke Mekah kemudian Basrah hanya untuk memerangi Amir al-Mukminin dan para sahabat lain yang membai'atnya. Perang Jamal tersebut telah mengakibatkan ribuan manusia terkorban seperti yang dicatat dalam buku sejarah.16

Semua ini adalah karena beliau tidak suka pada Imam Ali yang pernah menyarankan Nabi untuk menceraikannya dalam peristiwa Ifik itu. Kenapa Aisyah sampai demikian ekstrem benci pada Imam Ali?

Para ahli sejarah juga mencatat bahwa Aisyah mempunyai sikap-sikap permusuhan kepada Imam Ali yang tidak dapat ditafsirkan. Ketika dalam perjalanan pulang dari Mekah menuju Madinah, Aisyah mendengar berita pembunuhan Utsman. Berita itu disambutnya dengan kegembiraan yang luar biasa. Namun ketika beliau tahu bahwa ummat memberikan bai'atnya pada Ali sebagai Khalifah, Aisyah tiba-tiba marah dan berang. Katanya: "Aku lebih suka jika langit ini menghimpit bumi sebelum Ibnu Abi Thalib mengambil alih jabatan khalifah!" Beliau juga berkata: "Kembalikan aku..." dan seterusnya. Dari situlah kemudian api fitnah dinyalakan untuk menentang Ali yang —seperti kata sejarah— hatta namanya sekalipun enggan disebut oleh Aisyah.

Apakah Ummul Mukminin Aisyah tidak pernah mendengar sabda Rasul SAWW: "Cinta kepada Ali adalah (tanda) iman dan benci kepadanya adalah (tanda) nifak."?17 Bahkan sebagian sahabat berkata, "Kami kenal orang-orang munafik karena sikap benci mereka pada Ali."
Apakah Ummul Mukminin tidak mendengar sabda Nabi SAWW: "Siapa yang menganggap aku sebagai pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya." Tidak syak lagi bahwa beliau pernah mendengar semua itu. Namun beliau tetap tidak suka padanya, tidak mau menyebut namanya bahkan ketika didengarnya bahwa Ali telah mati, beliau bersujud syukur karenanya!18

Biarlah kita tinggalkan semua ini. Aku tidak ingin berbicara tentang sejarah Ummul Mukimin Aisyah. Hanya sekadar ingin meneliti dan mencari tahu akan pelanggaran sejumlah sahabat akan prinsip-prinsip Islam dan perintah-perintah Nabi SAWW. Bagiku perang Jamal yang dilancarkan oleh Ummul Mukminin yang telah disepakati kebenarannya oleh para ahli sejarah ini adalah satu bukti kuat atas objektifitas kesimpulanku ini.

Mereka juga mencatat bahwa Aisyah ketika lewat di perairan Hauab, beliau digonggong oleh anjing-anjingnya. Mendengar gonggongan anjing Hauab seperti itu, segera beliau ingat akan pesan suaminya Rasulullah yang melarangnya dari menunggangi onta tersebut. Beliau sempat menangis dan berkata: "Kembalikan aku!, kembalikan aku..!" Tetapi Thalhah dan Zubair kemudian membawa lima puluh penduduk setempat dan meminta mereka bersumpah bahwa tempat ini bukanlah wilayah perairan Hauab. Dari sana kemudian beliau melanjutkan perjalanannya sampai ke Basrah. Para ahli sejarah berkata bahwa itulah kesaksian palsu pertama yang terjadi dalam Islam.19

Wahai pembaca yang berpikiran jernih. Tunjukkan kami bagaimana caranya menyelesaikan kemusykilan ini? Apakah mereka dapat dikatagorikan sebagai sahabat yang agung yang kita sebut sebagai orang-orang adil, bahkan sebagai manusia yang paling mulia setelah Rasulullah SAWW? Tapi mereka telah memberikan kesaksian palsu yang digolongkan oleh Rasul sebagai bagian dari dosa-dosa besar yang bisa membawa ancaman api neraka.
Pertanyaan yang sama masih berulang, siapa yang benar dan siapa yang salah? Apakah Ali dan orang-orangnya dalam pihak yang zalim dan batil, ataukah Aisyah dan orang-orangnya beserta Thalhah, Zubair dan orang-orangnya? Tidak ada lagi andaian ketiga yang bisa memberikan jawaban. Seorang peneliti yang objektif saya rasa akan condong kepada pihak Ali yang (disabdakan oleh Nabi) senantiasa bersama kebenaran, dan berupaya untuk mematikan fitnah yang dinyalakan oleh Ummul Mukminin Aisyah serta para pengikutnya. Sungguh fitnah peperangan ini telah memakan banyak korban dan telah meninggalkan luka yang sangat dalam sampai hari ini. Untuk pertanggung-jawaban dan ketenangan hati aku sertakan riwayat-riwayat berikut:

Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab Shahihnya pada Bab al-Fitnah, bagian al-Fitnah Allati Tamuju Kamauj al-Bahri (Fitnah Yang Mengamuk Seperti Gelombang Samudra) riwayat berikut: "Ketika Thalhah, Zubair dan Aisyah pergi ke Basrah, Ali mengutus Ammar bin Yasir dan Hasan bin Ali pergi ke Kufah. Sesampainya di sana, mereka naik ke atas mimbar. Hasan duduk di atas sementara Ammar berdiri di bawahnya. Kami berkumpul mengelilingi mereka. Kudengar Ammar berkata: "Aisyah telah pergi ke Basrah. Demi Allah dia adalah isteri Nabi kalian di dunia dan di akhirat. Tetapi Allah ingin menguji kalian agar Dia tahu apakah kalian berada pada pihak Ali atau pada pihak Aisyah?"20

Bukhari juga meriwayatkan dalam Bab as-Syurut bab Ma Ja`a Fi Buyut Azwaj an-Nabi (Apa Yang Terjadi Di Rumah Isteri-isteri Nabi): "Suatu hari Nabi berdiri berpidato. Sambil menunjuk ke arah tempat tinggal Aisyah beliau bersabda: 'Disinilah fitnah, disinilah fitnah, disinilah fitnah darimana munculnya tanduk syaitan!.' 21

Bukhari juga meriwayatkan berbagai sikap aneh dan keburukan akhlaknya (Aisyah) di hadapan Nabi SAWW sampai pernah ditampar oleh ayahnya; atau tentang kepura-puraannya di hadapan Nabi sehingga Allah mengancamnya dengan talak dan akan digantikan dengan isteri lain yang lebih baik. Ini adalah cerita-cerita lain yang akan memakan ruangan yang panjang jika dijelaskan.

Setelah ini semua, aku tertanya-tanya kenapa Aisyah memperoleh penghormatan yang demikian agung dari pihak Ahlu Sunnah Wal Jama'ah? Apakah karena dia adalah isteri Nabi, padahal Nabi juga mempunyai banyak isteri lain, bahkan ada yang lebih utama dari Aisyah sekalipun seperti ucapan Nabi sendiri?22

Ataukah karena dia adalah puterinya Abu Bakar. Atau mungkin karena dia telah memainkan peranan besar dalam mengingkari wasiat Nabi kepada Ali, sehingga ketika disebutkan di hadapannya bahwa Nabi telah berwasiat untuk Ali, dia berkomentar: "Siapa yang berkata demikian? Waktu itu (saat wafat Nabi) akulah yang bersama Nabi. Kuletakkan kepalanya di dadaku, kemudian dia meminta talam. Ketika aku tunduk tiba-tiba dia mati tanpa kurasakan apa-apa. Bagaimana lalu dikatakan bahwa Nabi telah berwasiat untuk Ali?"23

Atau apakah karena dia telah perangi Ali dan anak-anaknya secara total, sampai-sampai jenazah Sayyidina Hasan putera Ali, penghulu pemuda syurga, dihalanginya untuk bisa dikebumikan di sisi pusara datuknya Rasulullah SAWW? Katanya: "Jangan masukkan orang yang tidak kusukai ke rumahku."

Entahlah, apakah dia lupa atau berpura-pura lupa akan sabda nabi pada Hasan dan saudaranya: "Hasan dan Husain adalah dua pemuka pemuda sorga"; atau sabdanya yang lain: "Allah akan mencintai orang yang mencintai keduanya, dan akan benci pada orang yang membenci keduanya"; atau sabdanya: "Aku akan memerangi orang yang memerangi kalian (berdua) dan berdamai pada orang yang berdamai dengan kalian"; atau sabda-sabdanya yang lain. Betapa tidak, bukankah mereka berdua adalah bunga kuntumnya yang semerbak bagi ummat Islam?

Tidak begitu mengejutkan memang. Jauh hari sebelumnya beliau pernah mendengar dari Nabi hadis-hadis yang lebih banyak tentang keistimewaan Ali, tetapi beliau tetap enggan dan bertekad tetap memeranginya, memisahkan kaum muslimin darinya serta mengingkari segala keutamaan-keutamaannya. Itulah alasan yang sangat kuat kenapa Bani Umaiyah sangat mencintai Aisyah ini dan meletakkannya pada kedudukan yang sangat tinggi tiada tara. Mereka telah tulis baginya berbagai keistimewaan dan keutamaan yang memenuhi lembaran buku sehingga beliau ditokohkan sebagai marja’ (pakar rujukan) yang paling besar bagi Ummat ini, sebab di sisinya tersimpan separuh agama. Dan mungkin separuh lain telah mereka jatahkan pada Abu Hurairah yang telah meriwayatkan untuk mereka segala sesuatu yang mereka inginkan. Dan lantaran itulah maka Abu Hurairah mereka letakkan sebagai orang dekatnya, diberinya kekuasaan sebagai Gubernur kota Madinah dan istana al-Aqiq serta gelar sebagai "perawi Islam". Dengan demikian maka mudahlah bagi Bani Umaiyah untuk memiliki satu agama baru yang sempurna, yang tidak memuat apa-apa dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul melainkan yang sesuai dengan kehendak nafsu mereka dan mendukung kerajaan serta kekuasaan mereka semata-mata.

Agama seperti ini adalah lebih layak apabila dikatakan sebagai bahan mainan dan olok-olok saja yang hanya penuh dengan berbagai khurafat dan kontradiksi. Itulah kenapa kebenaran yang sejati terkubur sementara yang batil muncul ke permukaan. Mereka juga memaksa atau mengelabui orang banyak dengan cara keagamaan mereka ini, sehingga agama Allah yang sejati menjadi semacam tiada nilai dan rasa takut kepada Muawiyah adalah lebih besar dari takut kepada Allah.

Ketika kita bertanya pada sebagian ulama kenapa Muawiyah memerangi Imam Ali yang telah dibai'at oleh Muhajirin dan Anshar, dimana akibatnya telah memecah kaum muslimin kepada Sunnah dan Syi'ah, dan telah melukai Islam hingga kini, maka —seperti biasa— mereka akan segera menjawab dengan begitu mudahnya bahwa Ali dan Muawiyah adalah dua sahabat Rasul yang agung. Mereka berdua berijtihad: Ali berijtihad dan benar lalu dia dapat dua pahala, sementara Muawiyah berijtihad dan salah, lalu dia memperoleh satu pahala. Dan bukan hak kita untuk menghukum mereka, baik positif atau negatif. Karena Allah SWT berfirman: "Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan." (QS. AL Baqarah: 134).

Demikianlah jawaban kita. Seperti yang Anda perhatikan jawaban seperti ini adalah jawaban yang sangat dhaif yang tidak dapat diterima oleh akal, agama ataupun Syara'. Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari pendapat yang salah dan hawa nafsu yang terjerat. Aku mohon lindunganMu dari bisikan syaitan dan kehadirannya.

Bagaimana akal sehat dapat menerima bahwa Muawiyah melakukan ijtihad dan karenanya diberi satu pahala dalam tindakannya yang memerangi Imam kaum muslimin serta membunuh orang-orang mukmin dan perbuatan-perbuatan lain yang tidak terhitung banyaknya? Para ahli sejarah mencatat betapa Muawiyah telah membunuh para penentangnya dengan caranya tersendiri yang sangat dikenal: memberi minuman beracun. Muawiyah senantiasa berkata: "Allah mempunyai bala tentara dari madu."

Bagaimana mereka katakan bahwa Muawiyah telah berijtihad dan tersalah, padahal dia adalah pemimpin kelompok yang baghi (kelompok yang memerangi Khalifah muslimin yang sah)? Dalam suatu hadis yang sangat populer yang diriwayatkan oleh semua ahli hadis, Nabi SAWW bersabda: "Berbahagialah Ammar. Dia akan dibunuh oleh kelompok yang baghi." Muawiyah beserta sahabat-sahabatnyalah yang membunuh Ammar.

Bagaimana mereka katakan bahwa Muawiyah telah berijtihad dalam peristiwa pembunuhan terhadap Hujur bin A'dy beserta sahabat-sahabatnya, yang kemudian dikuburkan di tempat sampah pada suatu padang pasir Syam, semata-mata lantaran mereka tidak mau mencaci Ali bin Abi Thalib? Bagaimana mereka mengatakannya sebagai seorang sahabat yang adil sementara dia telah meracuni Hasan bin Ali, pemuka pemuda sorga?

Bagaimana mereka menganggapnya bersih padahal dia telah paksa ummat Islam untuk membai'atnya dan membai'at puteranya Yazid setelahnya, dan menggantikan sistem syuro dengan dinasti kerajaan?24 Bagaimana mereka mengatakan bahwa Muawiyah telah berijtihad dan diberi satu pahala, padahal dia telah paksa kaum muslimin untuk melaknat Ali dan keluarga Nabi SAWW dari atas mimbar? Dia telah bunuh para sahabat yang enggan melakukan laknat sampai hal itu menjadi sebuah tradisi yang berkepanjangan! La Haula Wala Quwwata Illa Billah al-A'li al-A'zim.


http://achehkarbala.blogspot.no/2010/06/kitab-muktamar-ulama-ulama-bagdhad.html+
http://abatasya.net/2009/02/18/akhirnya-kutemukan-kebenaran/
http://www.slideshare.net/drfarza/sect-comparative-in-peshwar-night

http://achehkarbala.blogspot.no/2011/01/kitab-sulaim-bin-qais-al-hilali-rahasia.htmlhttp://achehkarbala.blogspot.no/2011/01/kitab-sulaim-bin-qais-al-hilali-rahasia.html


Billahi fi sabililhaq
hsndwsp
Acheh - Sumatera

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar