Senin, 09 April 2012

SHIRATAL MUSTAQIM (ONCE MORE)



 
SHIRATAL MUSTAQIM


SHIRAATHAL LAZINA AN’AMTA ‘ALAIHIM, GHAIRIL MAGHDHUUBI ‘ALAIHIM WALADDHALLIN


Semua Muslim tau bahwa itu adalah jalan Allah swt, jalan para Rasul dan Nabi. Akan tetapi tidak semua Muslim tau bahwa itu juga adalah jalan para Imam. Sa’at manusia masuk Qubur akan ditanyakan beberapa pertanyaan oleh Malaikat Mungkar wa Nangkir. Semua muslim mampu menjawabnya kecuali hanya satu saja pertanyaan yang membuat sebahagian besar kaum Muslimin terkejut dan tidak pernah mendengar saat di Dunia, yaitu "Man Imamuka"


"SEMUT HITAM YANG BERJALAN DIATAS BATU HITAM DI WAKTU MALAM", TIDAK SEMUA ORANG MAMPU MENDETEKSINYA, KENDATIPUN MEREKA ITU TINGGI PEN DIDIKANNYA MACAM INSINYUR, DOKTOR DAN PROFESSOR SEKALIPUN.



Dulu ketika orang Amerika datang ke Afrika, menangkap berkapal-kapal orang Afrika, lalu membawanya ke Amerika untuk diperjual-belikan. Yang "Hitam" ini kebanyakan manusia tau bahwa mereka adalah "budak-budak ortodoks", (namun orang-orang Afrika dewasa ini sudah sadar dan mengenal siapa yang memperbudak mereka dulu, malah justeru geleran tuan-tuan mereka menjdi budak-budak modern sekarang). Akan tetapi tidak semua manusia tau bahwa "Budak-budak moderen" jauh lebih banyak dari budak-budak ortodoks tadi. Malah budak modern itu kemungkinan besar termasuk para Insinyur, Doktor dan bahkan Prophessor itu sendiri.

Pembaca yang mulia!
Saya belum menjelaskan mana sosok manusia budak modern tadi dan juga belum menjelaskan hakikat daripada "Semut Hitam" diatas. Barangkali ini lebih efektif saya jelaskan manakala ada yang bertanya. Perlu saya beritahukan bahwa saya ini bukan Doktor, apa lagi Professor. Saya juga bukan Ustaz dan orang ‘Alim. Memang saya pernah menimba ilmu di perguruan Tinggi dan berhasil meraih titelnya tetapi ilmu di perguruan tersebut tidak saya gunakan dan bahkan kedudukan saya dalam pegawai negeri juga saya tinggalkan untuk berlanglangbuana sampai ke Ujung Dunia. Alhamdulillah saya meraih ilmu dari "Jubah Abu Dzar Ghifari" .Mungkin disinilah yang membedakan saya dengan sebahagian partisipan lainnya di medan Internet ini.

Sebahagian manusia mengenal "Muslim Syi’ah Imamiah 12" tetapi sebahagian mereka belum mengenal bahwa diantara Muslim Syi’ah Imamiah 12 ada yang "hitam" dan ada yang "merah". Yang hitam itu adalah Syi’ah berwajah pucat, Syi'ah dekaden/Syi’ah Safawi. Yang merah itu adalah Syi’ah berwajah merah, Syi'ah revolusioner/Syi’ah Alawi. Perlu digarisbawahi bahwa yang Alawi juga ada yang sekedar namanya "Alawit" tetapi sesungguhnya mereka bukan Alawi murni. Lebih jauh lagi harus dipahami bahwa ada orang non Acheh tetapi dia lebih Acheh daripada "orang Acheh", ada orang non Syi’ah Imamiah 12 tetapi dia lebih Syi’ah daripada "Syi’ah". Justeru itu berhati-hatilah hingga kita mampu mendeteksi fenomenanya sebagaimana kita mampu mendeteksi semut hitam yang berjalan diatas batu hitam diwaktu malam.

Ketika Rasulullah saww masih hidup di Dunia yang akan fana kini, beliau duduk bersama para sahabat di atas pasir. Rasulullah saww memiliki sebuah ranting di tangannya. Beliau menggoreskan sebuah garis lurus. Kata beliau, ini adalah Shiratal mustaqim, jalan yang lurus (Jalan Allah swt dan juga jalanku). Lalu Rasulullah saww menggoreskan sebuah garis lurus lainnya dibawah garis tadi. Garis tersebut lurus juga tetapi agak besar. Lalu beliau membuat garis bergelombang di dalam garis besar tersebut. Sesekali kurvanya kelihatan atas-bawah macam tanaman menjalar melilit dahan petai yang lurus. Memang kedua garis itu sama-sama nampak lurus tetapi hanya yang diatas saja jalan Allah swt dan RasulNya seerta para Imam. sedangkan yang dibawah adalah jalan Syaithan/Thaghut, inilah yang yang dimaksudkan "Semut hitam berjalan diatas batu hitam diwaktu malam". Tidak ada yang mampu mendeteksinya kecuali mu'min yang cerdik.

Sa’at kita buka mata kita, lalu kita layangkan keseluruh antero Dunia memang banyak kita temukan jalan yang bengkok dan banyak pula jalan yang lurus tetapi tidak semua kaum Muslimin mampu mendeteksi jalan yang nampak lurus, sesungguhnya adalah jalan Thaghut juga. Bahkan tidak semua Muslim Syi’i mampu mendeteksinya, kenapa? Rayuan Dunialah yang membuat mata mereka kabur hingga mereka bermasalah saat menjawab pertanyaan Malaikat Mungkar wa Nangkir kecuali pribadi-pribadi yang mendapat Syafaat dari pribadi-pribadi yang mendapat wewenang dari Allah swt sendiri. (Pengikut Ahlulbayt Rasulullah saww memahami Fenomena tersebut)
Hati-hatilah saudaraku!
Fenomena alam memperjelaskan persoalan tersebut:

TINJAUAN FENOMENA ALAM
Manusia hidup di Dunia ini penuh dengan ujian dan tantangan untuk menuju tempatnya semula (baca tempat Adam bersama Siti Hawa) Andaikata tidak berhasil, mereka akan masuk Neraka dan kekal selama-lamanya. (na'uzu billahi min zalik). Hal ini dapat kita analisa proses tumbuh-tumbuhan sebagai "ayat" Allah yang alami. Ambillah contoh pokok kelapa dimana setiap tungkulnya bisa berbunga lebih-kurang seribu bakal buah. Namun yang sempat menjadi putik lebih-kurang lima puluh buah. Lalu putik tersebut mampu menjadi kelapa siap pakai lebih-kurang 25 buah (kelapa muda), itu pun masih teruji lagi dengan gangguan tupai sehingga tinggal hanya lebih-kurang 10 buah yang dapat bermanfa'at untuk manusia.

Kemudian kita lihat contoh yang lain dari pohon Durian yang representant, mampu berbunga satu milyar calon buah. Dari satu milyar itu yang sempat jadi putik lebih-kurang satu juta. Dari satu juta itu yang berhasil untuk melawan ujian sengatan serangga, hembusan angin, guyuran hujan dan sebagainya lebih kurang 5 ratus buah. Dari 5 ratus buah itu masih menga lami ujian jenis lainnya seperti kalong, tupai dan penjakit alami lainnya yang membuat buah itu tawar rasanya. Akhirnya yang dapat bermanfaat untuk manusia atau memenuhi standar durian sekitar lebih-kurang 200 buah saja.

Demikianlah gambaran manusia ini. Pertama kita ambil saja yang telah berikrar untuk mengucap dua kalimah syahadah di Tanah Rencong. Lalu di uji lagi yang ada melakukan Shalat, Puasa dan membayar Zakat. Lalu di uji lagi dengan beramar makruf nahi mungkar. Akhirnya diuji dengan "Bahtera" yang kita naiki, apakah bahtera yang tunduk patuh kepada Allah atau kepada Thaghut, apakah mereka termasuk orang-orang yang bersatupadu untuk membela kaum mustadhafin, melepaskan beban yang menimpa kuduk-kuduk mereka (QS.7:157 & QS,90:12-18) atau egois dan bangga sebagai dosen dalam system Thagut yang zalim, hipokrit dan korrupt, maha guru, Propessor, Doktor, Direktur suatu surat kabar, sementara semua mereka itu hanya mementingkan diri dan keluarganya masing-masing.

Akhirnya penganut Islam di Dunia yang lebih kurang 2 milyar, tinggal yang benar-benar beriman mungkin hanya sekitar ratusan juta saja yang redha Allah. Bayangkan berapa jumlahnya yang termasuk benar-benar beriman dari orang-orang yang ada di pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan West Papua?

Sekarang kita bertanya pada diri kita masing-masing adakah saya ini termasuk dalam bilangan orang-orang yang benar-benar beriman, sehingga terbebas dari siksaan api Neraka ? Jawabannya marilah kita berusaha dan berdoa sesuai dengan petunjukNya sebagaimana yang diaplikasikan para Rasul, Imam - Imam dan Ulama warasatul ambia, bukan ulama gadongan. Andaikata kita termasuk orang yang terlanjur berada dalam system yang menzalimi kaum mustadhafin, cepatlah berpatah balik sebelum terlambat. Disinilah gunanya tulisan saya yang tidak bermaksud untuk menyakiti hati siapapun tetapi demi menyelamatkan manusa dari bahtera Namrud ke bahtera Ibrahim, dari bahtera Fir’un ke bahtera Musa dan Harun, dari bahtera Kaisar-kaisar di Rhoma ke bahtera ’Isa bin Maryam, dari bahtera Abu Sofyan ke bahtera Muhammad saww, dari bahtera Muawiyah ke bahtera Imam ’Ali bin Abi Thalib, dari bahtera Yazid bin Mu’awiyah ke bahtera Imam Hussein, dari bahtera Syah Reza Palevi ke bahtera ”Imam” Khomaini, dari bahtera Hindunesia ke bahtera Acheh Sumatra yang belum exist.

Nah persoalan yang terjadi diantara orang - orang yang bersekongkol dalam system thaghut Pancasila dan orang - orang yang antithesis dengannya juga merupakan proses ujian Allah untuk menentukan kemenangan atau kekalahan Akhiratnya, kendatipun kebanyakan manusia enggan melihat persoalan kenegaraannya dengan kacamata Al Qur-an. Akibatnya mereka cenderung menampilkan "hukum Rimba", Yang kuat memakan yang lemah, yang kaya memperbudak yang miskin, yang pintar membodoh-bodohi kaum mustadhafin.


Billahi fi sabililhaq
hsndwsp

di Ujung Dunia




REVIEW OF NATURAL PHENOMENON

Humans live in the world is full of trials and challenges towards its original position (read place alongside Adam Eve) Were it not succeed, they will go to hell and everlasting. (Na'uzu billahi zalik min). It can be analyzed process plants as "verse" God is natural. Take the example of coconut staple where each tungkulnya can bloom more or less a thousand ovaries. But the stigma that had become more or less fifty. The pistil then able to be ready to use oil more or less 25 pieces (young coconut), it still tested again with impaired squirrels that live only more or less 10 pieces that can be bermanfa'at to humans.

Then we see another example of the representant Durian tree, capable of flowering one billion pieces candidate. Of the one billion that had become pistil more or less one million. Of the one million it managed to resist insect stings exam, wind, rain and so on approximately five hundred pieces. Of five hundred pieces it is still finding it lami test other types such as bats, squirrels and other natural disease of which makes it fresh fruit taste. Eventually that can be beneficial to humans or meet the standards of durian around more or less 200 pieces only.

So picture this man. First we take who have pledged to give a two sentence syahadah in Aceh. Then test again there doing prayers, fasting and paying Zakat. Then test again with the good and forbidding beramar wrongdoing. Finally tested with the "Ark" that we were on, whether ark submissive to God or the Evil, whether they are people who are cohesive to defend the mustadhafin, to unburden the goose-neck befall them (QS.7: 157 & QS , 90: 12-18) or the selfish and proud as a lecturer in the system taghouts unjust, hypocritical and korrupt, guru, Propessor, PhD, director of a newspaper, while all of them were only concerned with themselves and their families each.

Finally adherents of Islam in the world is more or less 2 billion, a true believer may be just about the hundreds of millions who redha God. Imagine what amounts which included a true believer from the people on the island of Sumatra, Java, Kalimantan, Sulawesi and West Papua?

Now we ask ourselves each is there I have included in the number of people who really believe in, so free from the torment of Hell? The answer let us strive and pray according to His guidance as applied to the Apostles, Imam - Imam and the Ulama warasatul Ambia, not scholars gadongan. If we include people who already are in a system that is oppressing the mustadhafin, berpatah hurry back before it's too late. Where the point of my writing did not mean to offend anyone but to save Manusa of the ark Namrud to Ibrahim ark, ark ark Fir'un to Moses and Aaron, of the ark Emperors in Rhoma into the ark 'Isa son of Maryam, from Abu ark Sofyan to Muhammad saww ark, ark ark Muawiyah to Imam 'Ali bin Abi Talib, from the ark Yazid ibn Muawiyah to Imam Hussein's ark, ark ark Shah Reza Palevi to "Imam" Khomaini, from ship to ship Hindunesia Acheh Sumatra yet exist.

Now the problems that occur among people - those who conspired in the system taghout Pancasila and people - people who antithesis to him also a test of God's process for determining victory or defeat afterlife, although the majority of people are reluctant to see things his state with glasses Qur-an. As a result they tend to ask "law Rimba" The strong eat the weak, the rich enslave the poor, clever act stupid-fool the mustadhafin.



Billahi fi sabililhq
hsndwsp
at the End of the World

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar