Selasa, 07 Februari 2012

REFLEKSI DARI TULISAN YANG DIANGKAT IRIB, BERJUDUL: "Pemimpin Syiah Kuwait Jawab Fatwa Haram Mufti Saudi Soal Maulud"




SEHARUSNYA MUFTI SAUDI ARABIA TIDAK MEMFATWAKAN TENTANG MAULUD NABI SUCI TETAPI  FATWA TENTANG HARAMNYA DAN BATHILNYA MEMBUNUH MANUSIA SEBAGAIMANA YANG TELAH DIBUNUH OLEH REZIM SAUDI BAIK DI DALAM NEGARANYA MAUPUN DI BAHRAIN, YAMAN SERTA KONSPIRASI JAHATNYA TERHADAP SYRIA, IRAK DAN MESIR. NAMUN YANG NAMANYA BAL'AM MEMILIKI SEPAKTERJANG YANG ANEH
hsndwsp
Acheh - Sumatra

Mengenai peringatan hari lahir nabi suci benar, bahwa Nabi sendiri yang melarangnya. Ada beberapa sebab, maka Nabi melarangnya. Diantaranya Nabi khawatir bahwa dikemudian hari manusia berlomba-lomba memperingati hari lahir mereka masing-masing sementara kaum mustadhafin tidak mampu berbuat dan juga merasa minder untuk menghadiri acara peringatan hari lahir orang kaya-kaya. Realitanya sekarang ini terbukti bahwa orang-orang kaya berlomba-lomba memperingati hari lahirnya, mengundang sanak famili yang kaya-kaya juga sementara orang miskin merasa minder, apa lagi untuk memperingati hari lahirnya. Selanjutnya realitanya dalam sejarah juga maulid Nabi tidak pernah diperingati di zaman para sahabat hingga diperingati pertama sekali oleh Salahuddin al Ayyubi. Sesuai dengan larangan Nabi sendiri terbukti kalender Islam tidak dibuat berdasarkan hari lahir Nabi, melainkan diambil dari tahun Hijrahnya Nabi. Ini membuktikan bahwa perjuangan Nabi yang diutamakan.

Dalam hal ini saya berpendapat bahwa Maulid Nabi dapat dibenarkan pelaksanaannya dengan catatan mencontohi Maulid yang pertama sekali dibuat oleh Salahuddin al Ayyubi. Saat itu al Ayyubi bertanya-tanya dalam hati, kenapa kaum Muslimin tidak bersemangat untuk berjihad melawan musuh yang berbahaya. Oleh sebab itu beliau membuat kenduri secara besar-besaran dan mengundang tokoh-tokoh Islam serta berpidato setelah makan kenduri, membahas secara mantap bagaimana dulu Nabi berjuang. Hasilnya seluruh kaum Muslimin mulai sadar bahwa tanpa perjuangan, kemenangan mustahil dapat diraihnya. Dari itu teladan Nabi dalam berjuang berhasil diangkat kembali oleh Salahuddin al Ayyubi. Kebijaksanaan seperti yang diaplikasikan al Ayyubilah yang perlu dianalisa di zaman kita ini, agar bermanfaat dan mendapat redha Allah.

Berdasarkan alinia diatas, dapat ditegaskan bahwa Maulid yang kosong dari perjuangan (baca sekedar memperingati saja) adalah perbuatan sia-sia tetapi kalau mau membuat maulid, buatlah seperti yang dibuat oleh Al Ayyubi, menggunakan kenduri sebagai sarana untuk menyampaikan esensi perjuangan Nabi suci. Andaikata kita mampu mencontohi Al Ayyubi, bukan saja hari lahir Nabi (Maulid) tetapi juga hari lahir pemimpin agung lainnya yang dibawah Nabipun dapat dibenarkan. Perlu digarisbawahi bahwa diantara peristiwa-peristiwa dimasa lalu, Tragedi Karbala adalah yang terutama untuk diperingati. Ini adalah anjuran Nabi sendiri. Ketika agama Nabi Suci dirusak oleh Yazid bin Muawiyah, Nabi Suci mengarahkan Imam Hussein untuk "menyirami pohon Islam" yang sedang sakarat di tangan Yazid. Hal ini dapat diketahui ketika Ibnu Abbas mengusulkan agar Imam Hussein pergi saja ke Yaman dengan alasan bahwa disana banyak sahabat yang setia sedangkan kebanyakan orang Kofah (Irak) saat itu, hipokrit tidak dapat dipercaya. Imam menjawab bahwa kepergiannya ke Kofah bukan untuk sebuah penaklukan tetapi untuk dibunuh agar melalui penderitaannya itu dapat tercerabut semua akar kezaliman dan kepalsuan Yazid bersama pengikut-pengikutnya. Ketika Ibnu Abbas bertanya kenapa dibawa anak-anak bersama, Imam menjawab Allah hendak menyaksikan mereka ditawan. "Saya melakukannya sesuai arahan kakekku, Nabi suci". Perlu digarisbawahi bahwa kendatipun begitu pentingnya peringatan tragedi Karbala, andai kata peringatan tersebut tidak memiliki ideology sebagai "nyawanya", akan menjadi budaya yang sekedar diperingati secara turun-temurun. Dalam hal ini silakan simak alinia-alinia berikut ini:

Sebahagian orang yang mengaku bermazhab Syiah di pulau Jawa hanya terbatas dengan mengeluarkan airmata ketika memperingati hari syahidnya Imam Hussein di medan Karbala, tetapi setelah itu merekapun sepertinya tidak berbeda dengan pengikut Yaziz bin Muawiyah bin abu Sofyan, bersatupadu dalam system Hindu nesia yang Yaziddin itu. Ini membuktikan bahwa mereka baru sebatas ilmu Syiah hingga mereka hanya mengetahui kalau Imam Hussein teranianya di Padang Karbala, namun tidak memiliki Ideology Imam Hussein yang pantang bersatupadu dalam system taghut hipokrit yang menzalimi kaum mustadhafin. Sebahagian mereka memiliki banyak ilmu tentang Syiah dan 12 Imamnya hingga mereka layak disebut Ilmuwan Syiah, namun sebetulnya mereka masih belum apa-apa dan tidak jauh berbeda dengan non Syiah. Untuk berguru tentang Syiah, tentang Karbala tentang Imam Hussein memang mudah tetapi untuk memahami Syiah Alawi (baca Syiah merah), Imam Hussein dan Karbala diperlukan mendalami Ideologynya.


Kalau kita terbatas pada ilmu Syiah, Imam dan Karbala, kita belum mampu meli hat fenomena yang ditentang Syiah, para Imam dan Hussein di Karbala di jaman kita masing-masing. Justru itulah kita masih saja bersatu padu dan bahkan meng identi fikasi diri kita sebagai fenomena dimana Yazid menjadi prototypenya fenomena ter sebut. Itulah yang dinamakan Syiah hitam atau syiah dekaden. Syiah sejati atau syiah Alawi adalah syiah merah. Mereka bukan saja berilmu Syiah tetapi juga berideology syiah, para Imam dan Karbala.


Agama manapun memiliki dua wajah yang saling bertentangan, wajah dekaden dan wajah ideology. Islam berwajah dekaden seolah-olah melibatkan dirinya dalam keja hatan, menumbuhkan reaksionerisme, kelambanan, dan kelumpuhan. Agama Islam macam ini telah mengekang spirit kebebasan dan secara culas membenarkan sta tusquo. Sedangkan Islam type lain, Islam ideology yang pantang bersatu padu da lam system Islam yang dekaden. Sudah barang pasti Islam Ideology tidak diperbo lehkan tumbuh dan berkembang dalam sejarah oleh Islam dekaden. Justru di jantung bangsa-bangsa Muslim, sebagaimana kita ketahui, kebenaran dan cita-cita Islam sedang dikorbankan. (fenomena ini sangat kental di Timur Tengah hingga terexport ke hampir seluruh Dunia)


Dalam bentuknya yang tidak ideologis agama adalah suatu kumpulan kepercayaan turun-temurun dan perasaan individual, suatu imitasi terhadap upacara-upacara, aturan-aturan, kebiasaan-kebiasaan agama dan praktek-praktek yang sudah berurat, berakar dari satu generasi kegenerasi lainnya. Jenis agama semacam ini menunjukkan semangat kolektif dari suatu kelompok masyarakat. Agama seperti ini tidak pernah nenemukan esensinya hingga memperlihatkan penentangannya terhadap spirit dan semangat kemanusiaan yang sesungguhnya.

Praktek agama seperti ini sampai hari ini berkembang dan tumbuh subur dalam system yang hipokrit, dimana mereka mengaku beragama Muhammad tetapi me reka tidak lagi memiliki ideology Muhammad, Ali dan Hussein di Karbala. Sebaha gian mereka dari kampung berpindah ke kota. Dikota mereka menimba ilmu diberbagai perguruan hingga memungkinkan mereka menjadi "orang besar" setelah bergabung dengan orang-orang pemerintahan. Mereka menjadi kaya, memiliki rumah yang luck, gaji yang tinggi dan mobil mewah. Namun kebanyakan dari mereka hidup miskin dan menderita tetapi mereka tetap berdaya upaya agar tidak ketinggalan ketika musim maulid tiba kendatipun Rasulullah sendiri melarangnya. Mereka sepertinya tidak pernah mengetahui adanya larangan. Tak obahnya seperti kebiasaan orang Kristian memperingati hari lahirnya Yesus, mereka tidak pernah memahami bahwa tgl 25 Desemeber itu bukan hari lahirnya Nabi Isa as tetapi hari lahirnya "Dewa Matahari" dalam pemahaman agama yang sesat juga. Demikian juga pohon cemara yang mereka hias sebagai pohon Natal, padahal pohon tersebut tidak pernah eksist ditempat kelahiran Nabi Isa bin Maryam.
http://www.youtube.com/watch?v=YDTC5n8mfzI
http://www.youtube.com/watch?v=YDTC5n8mfzI
Dikalangan Syiah jaman Syah Palevi Iran juga demikian kondisi masyarakat, dimana orang -orang miskin walau makanpun tidak menentu, berdaya upaya walau dengan cara menabung guna membeli lampu pompa, rantai untuk flagelasi (memukul - mukul tubuh dalam peringatan syahidnya Imam Hussein di Karbala), alat bunyi-bunyian dan jubah hitam. Ironisnya acara tersebut dikordinir penguasa. Pada hari Asyura malah semua orang dipaksakan harus mengalir airmata tetapi satu hari setelah itu atau esoknya pemerintah membuat hari bergembira dimana tidak dibenarkan seorangpun menangis kecuali ditangkap polisi. Jadi semua mereka (baca penguasa plus rakyatnya memang syiah tetapi syiah Safawi bukan syiah Alawi). Syiah Alawi tidak di benarkan berkembang sampai Imam Khomaini, Dr Ali Syariati dan Murtadha Mutahhari cs muncul hingga mampu menggulingkan penguasa Safavid dan berdirinya system Islam Syiah Alawi yang sangat cemerlang sekarang ini.


Mudah - mudahan refleksi ini menjadi renungan bagi bangsa-bangsa yang sedang tertindas di jaman kita ini. Kita harus belajar memahami Karbala hingga menemukan fenomena karbala dikalangan kita masing-masing. Kita harus mampu memahami mana sosoknya Yazid di jaman kita, dikalangan kita dan mana sosok Hussein dikalangan kita masing-masing. Lalu persatukanlah "Hussein-hussein" untuk meluluh lantakkan "yazid-yazid". Dengan cara demikianlah kita terlepas dari api Neraka, bukan hanya dengan mengalirkan air mata saja di hari Asyura dan berpuasa agar dapat pahala sedangkan dalam kehidupan sehari-hari kita bersatupadu dalam system yang sama dengan system yang ditentang Imam Hussein as di Karbala.


Bllahi fi sabililhaq
hsndwsp
di Ujung Dunia



Pemimpin Syiah Kuwait Jawab Fatwa Haram Mufti Saudi Soal Maulud
Senin, 2012 Februari 06 18:37

Pemimpin Syiah Kuwait mereaksi fatwa mufti Arab Saudi yang menilai peringatan hari kelahiran Nabi sebagai bidah denganmengatakan, "Peringatan maulud bukan berarti menyembah nabi dan juga bukan kesyirikan, melainkan sebuah sunnah dan tradisi kuno di dunia Islam."

Fars News (6/2) mengutip koran terbitan Kuwait al-Anba' menyebutkan, Sayid Muhammad Baqir al-Muhri, pemimpin Syiah Kuwait dalam pernyataannya menyambut peringatan maulud nabi, menyinggung pelaksanaan peringatan tersebut secara meriah di berbagai belahan penjuru dunia dan menilainya sebagai sebuah peringatan terbesar dalam sejarah umat manusia. Ditambahkannya, peringatan tersebut bukan berarti penyembahan kepada nabi atau kesyirikan, adapun kelompok-kelompok jahil dan terbelakang memang tidak dapat membedakan antara ibadah dan penghormatan.

"Mereka berpikir bahwa makna ibadah dan penghormatan terhadap para auliya Allah itu sama, dan bersandarkan pada pemikiran sesat itu, mereka mengharamkan peringatan bulan Rabiul Awal," jelas al-Muhri.

Lebih lanjut dikatakannya, "Semua ulama Islam dan seluruh kalangan masyarakat Muslim di sepanjang sejarah, merupakan sebuah tradisi. Mengenang Rasulullah seperti dalam firman Allah «ورفعنا لک ذکرک» herus dibarengi dengan mengenang keutamaan, kemuliaan, perjuangan, pengorbanan, dan jasa-jasa Nabi.

Sayid al-Muhri kemudian menyebutkan dua kitab تاریخ الخمیس dan المواهب اللدنیة yang memaparkan dengan gamblang peringatan maulud pada abad-abad lalu dan tidak ada pengharamannya. Bahkan dalam kitab صحیح مسلم jilid 2 halaman 819 dalam pembahasan puasa disebutkan, Rasulullah Saw ditanya tentang sebab mustahab puasa di hari Senin dan beliau menjawab, "Karena pada hari itu aku terlahir ke dunia dan pada hari itu juga al-Quran diwahyukan kepadaku."

(IRIB Indonesia/MZ)
 
 
 
 
 
m

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar