Rabu, 08 Februari 2012

SEMANGAT KITA BUTUHKAN SETELAH KITA MEMILIKI IDEOLOGY KALAU TIDAK AKAN MELENCENG DARI REALITA YANG SESUNGGUHNYA


MANA ADA PASUKAN WANITA BERIMAN SEPERTI INI DI DUNIA KECUALI 
REPUBLIK ISLAM IRAN DAN PASUKAN INENG BALEE DI
ACHEH - SUMATRA

KITA TIDAK SEHARUSNYA MENGAGUNGKAN SEBAGAI REVOLUSI ISLAM DENGAN SEMANGAT YANG KITA MILIKI TETAPI KITA SEHARUSNYA MELIHAT DARI KACAMATA IDEOLOGY ISLAM AGAR TIDAK SALAH KAPRAH
hsndwsp
Acheh - Sumatra


Kita sendiri tidak menamakan "Revolusi Arab" dan juga tidak menamakan "Revolusi Islam" tetapi "Revolusi Rakyat". Logikanya apabila kita sebut sebagai revolusi Arab terkesan revolusi tersebut hanya berlaku bagi bangsa Arab saja sebagaimana revolusi Perancis (baca Renaisans) dan revolusi Iran (baca Revolusi Islam walaupun terbatas di kalangan bangsa Iran saja). Kita juga tidak menyebut sebagai revolusi Islam disebabkan belum cukup syarat yang sesuai engan definisinya. Revolusi Islam terdiri dari dua unsur yang mantap, yaitu Ummah dan Imamah. Ummah adalah massa yang berideology Islam dan meyakini "haq" bersatupadu dibawah satu poros yaitu Imamah. Imamah adalah seorang Imam yang memahami persis tugas yang diembannya sesuai petunjuk Allah swt. Nilai seorang Imam sama dengan nilai Ummah. Tanpa Imam ummah akan kacau balau kecuali ada orang yang ditunjukkan sang Imam sebagai wakilnya untuk diikuti baik secara perseorangan maupun secara kolektif. Kemampuan Imam bukan saja mampu membimbing Ummah sesuai petunjuk Allah tetapi juga mampu merumuskan system yang redha Allah. 

Sampai detik ini kita belum melihat adanya seorang Imam di dalam "Revolusi Rakyat" baik di Timur Tengah maupun di Amerika dan Eropa. Sebagaimana kita ketahui bahwa sejak dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad yang terakhir, semuanya membawa satu misi atau satu agama yang dinamakan Allah agama Islam yang bermakna "Selamat" (Innad Diina 'indallaahil Islam) Nabi Muhammad tidak hanya mendapat titel Nabi dari Allah tetapi juga "Imam" seperti Nabi Ibrahim as. Revolusi Islam pertama sekali di aplikasikan oleh Nabi Muhammad di jazirah Arab. Keimamahan Nabi Muhammad diteruskan oleh 12 Imam paska kematian Nabi suci. Di zaman kita ini tidak banyak orang ketahui secara mendetil peristiwa revolusi di masa lampau kecuali revolusi Islam Iran. 

Imam Khomaini adalah sosok yang memenuhi syarat sebagai Imamah. Beliau bukan saja mampu membimbing Ummah (baca bangsa Iran yang bersatu padu dibawah pimpinan seorang Imam) tetapi juga mampu merumuskan "System Islam" (baca Wilayatul Fakih). Apabila adanya seorang Imam atau Penyeru kebenaran secara kolektif, revolusi tidaklah sekedar menumbangkan penguasa despotik saja tetapi juga memahami "What next nya". (Meruntuhkan yang bathil, membangun yang haq). Seorang Imam memahami bahwa suatu Negara yang mendapat redha Allah, rahmat dan ampunanNya haruslam benar systemnya dan benar juga kepemimpinannya.  Andaikata di Timur Tengah tidak ada seorangpun yang mampu merumuskan system Islam, mereka harus menggunakan "Wilayatul Fakih" Imam Khomaini dalam system Negara mereka paska kejatuhan rezim-rezim despotik. Apabila mereka sepakat seperti itu barulah revolusi di Timur Tengah dapat disebut sebagai "Revolusi Islam". Realitanya mereka hanya memiliki semangat Islam, belum berideology Islam.  

Realitanya tidak satu bangsapun di Timur Tengah sampai hari ini berhasil mendirikan system Islam. Andaikata di suatu kawasan ada seorang yang memenuhi syarat sebagai seorang Imam dalam kontek "Imamah" dapat dipastikan Ummah yang bersatupadu dengannya memahami siyasah fatanah (politik Islam murni). Realitanya Tunisia dan Libya masih saja belum mampu memahami situasi Syria yang sebenarnya. Adapun Mesir, Yaman dan Bahrain sampai hari ini masih dikuasai oleh rezim despotik, walaupun Husni Mubarak dan Ali Saleh sudah tumbang.

Kesimpulannya revolusi yang sedang bergolak di seluruh Dunia sekarang adalah "Revolusi Rakyat" atau "Revolusi Kemanusiaan". Tugas para cendekiawan Muslim atau para ideolog Islam diseluruh Dunia, berdaya upaya untuk mengarahkan mereka hingga menemukan revolusi sejati yakni "Revolusi Islam" sebagaimana Revolusi Islam Iran. Perlu digaris bawahi bahwa revolusi yang sedang berlangsung sekarang ini memang terinspirasi revolusi Islam Iran. (Demikian angku di Tampok Donya)

Billahi fi sabililhaq
Angku di Tampok Donja

Tulisan berikut ini sesuai dengan persepsi saya:



Wednesday 23 October 2013 14:55
Share/Save/Bookmark
Revolusi
Beda Revolusi Iran dan Mesir
Islam Times - Karena tak punya pemimpin karismatik seperti Ayatullah Ruhullah Khomeini, masyarakat Mesir tak bisa berkumpul di bawah satu bendera dan panduan masa depan yang jelas.
Demonstran pro Morsi di Kairo Mesir.jpg
Demonstran pro Morsi di Kairo Mesir.jpg

M. I. Bhat adalah profesor dan Ketua Departemen Geologi & Geofisika di University of Kashmir. Bhat mulai menulis tentang politik sejak tahun 2010. Artikel-artikelnya sering muncul di Veteran Today, Palestina Chronicle, OpEdNews dan Kashmir.

Dalam artikel Bhat yang dilansir Press TV, Minggu (20/10/13), kegagalan revolusi Mesir membuat dunia memperhatikan kesuksesan revolusi Iran. Barat sendiri berusaha mendiskreditkan bahkan menuduh Iran gagal menciptakan demokrasi (pro Amerika).

Tapi menurut Bhat, revolusi Islam Iran adalah revolusi yang sukses karena hal berikut;

1. Supremasi pemimpin revolusi Iran: Pemimpin tunggal revolusi Iran sesuai dengan acuan agama dari Al-Quran dan Sunnah. Rakyat Iran percaya bahwa revolusi mereka berlandaskan Islam.

2. Revolusi Islam Iran menumbangkan sang dikatator dan sistem kediktatoran yang dibangunnya. Hal ini sangat membantu dalam memperkecil jumlah korban dalam perjalanan revolusi Islam Iran.

3. Revolusi Islam Iran berhasil memutuskan hubungan dengan Amerika, meski sebagai konsekwensinya, Iran harus terisolasi dari dunia Barat, dana dan tekhnoogi Barat serta bantuan institusinya seperti IMF dan Bank Dunia. Iran pun dijatuhi berbagai sanksi. Tapi, Iran terus bergerak maju. Sekarang, Iran menjadi satu-satunya negara di wilayah Timur Tengah yang pemerintahnya dipilih lewat pemilu, memiliki populasi yang berpendidikan (pria dan wanita), mempunyai basis industri dan infrastruktur yang cukup maju.

Sementara revolusi Mesir gagal karena tiga hal pula.
1. Revolusi Mesir tak didukung ideologi. Revolusi Mesir bak sebuah  pemberontakan massa tanpa pemimpin yang terjadi karena kebencian mereka pada diktator Hosni Mubarak. Tujuan mereka terbatas pada lengsernya Mubarak dari kekuasaan. Karena tak punya pemimpin karismatik seperti Ayatullah Ruhullah Khomeini, masyarakat Mesir tak bisa berkumpul di bawah satu bendera dan panduan masa depan yang jelas. Hasilnya, saat tujuan terbatas itu tercapai, massa pun mulai terpisah sesuai kecenderungan politik/ideologi mereka.

2. Ikhwanul Muslimin yang semestinya bisa memimpin revolusi itu dalam skala luas hanya berdiri menonton. IM hanya turun ke ring saat pemilu untuk meraih suara dan kekuasaan. Dan saat berkuasa, IM bertindak sangat mencengangkan. Sebelum Mohamed Morsi dilantik sebagai presiden, delegasi IM berkonsultasi dengan Departemen Luar Negeri AS, pejabat Pentagon dan think tank Zionis yang sebenarnya merupakan akar penyebab penderitaan warga Mesir. Ini membuat pihak-pihak anti Amerika kembali bangkit.

Meksi berlatar belakang Islam, para petinggi IM tak cukup berani membuka pemerintahan Islam. Mereka malah mengumumkan kesetiaan pada perjanjian Israel yang diperantarai AS. Mereka juga membantu broker Amerika melakukan gencatan senjata antara Hamas dan Israel bahkan meminta warga Mesir (khususnya kader IM) berperang di Suriah. Ini membuktikan bahwa mereka hanyalah pengekor Amerika dan mendapat keabsahan dari pemerintah AS.

3. Meski sudah setengah berjalan di jalur revolusinya, tapi infrastruktur Mesir yang ofensif tak tersentuh sama sekali. Tentara, birokrasi dan kroni-kroni politik mereka terus berkuasa hingga pasca revolusi.

Meski IM mampu memahami teknik-teknik budidaya akar rumput tapi mereka gagal mengelola kompleksitas sebuah revolusi. Terbukti IM tak mempelajari dan menganalisa revolusi Iran serta hal-hal yang membuatnya sukses.

Rakyat Iran tak peduli meski milyaran asset mereka dibekukan pemerintah AS sebagai efek penyitaan dan penyanderaan Kedutaan Besar AS oleh mahasiswa muda revolusioner di Tehran. Amerika lalu menghadiahkan perang 8 tahun pada Iran lewat Saddam Hussain. Tapi, lagi-lagi, Iran bertahan dan bergerak maju meraih tujuan yang telah ditetapkan.

Iran setelah revolusinya terus bergerak sementara Mesir kembali jatuh dalam cengkeraman militer, Amerika dan kesengsaraan.[IT/r]

 
 
 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar