Minggu, 21 Juni 2009

PARA RASUL DAN IMAM DILENGKAPI DENGAN IDEOLOGY, MIZAN DAN POWER

Bismillaahirrahmaanirrahiim




PEMBEBASAN KAUM DHUAFA DAN PENDOBRAKAN SYSTEM THAGHUT MELALUI
IDEOLOGI, MIZAN DAN POWER.

Muhammad al Qubra
Acheh - Sumatra

USAHA PEMBEBASAN KAUM DHUAFA DAN PENDOBRAKAN
SYSTEM THAGHUT
YANG MENJEJASKAN KAUM DHUAFA
MELALUI
IDEOLOGI, MIZAN DAN POWER.


Cat Stevens telah lama menjadi Yusuf Islam. Proses dia masuk Islam berbeda dengan Muhammad Ali dan Tyson, dimana kedua orang ini masih saja melanjutkan kerjanya yang bathil yaitu "Tinju". Tinju jauh berbeda dengan Karate. Karate dapat digunakan untuk membela diri dari perilaku keji kaum yang dhalim, sementara tinju terbatas pada ketrampilan tangan saja. Tinju sering membuat lawan mati diring tinju, namun takmampu membuat mati lawannya yang dhalim dalam pertempuran melawan kezaliman disebabkan hanya terbatas pada gerakan tangan saja sehingga dengan mudah dibungkem oleh jagoan karate dari pihak lawan.

Yusuf Islam meninggalkan kerjanya yang bathil itu yaitu "Penyanyi yang berjingkrak-jingkrak" untuk menjadi "pendakwah". Dalam Islam sebagaimana makanan perlu slektif mana yang halal dimakan, demikian juga pekerjaan ada yang halal, haram dan bathil sebagaimana tinju. Lihatlah Muhammad Ali akibat tidak meninggalkan pekerjaan dimasa "jahiliahnya" itu, Laila anak gadisnya meneruskan pusakanya itu hingga terdedah auratnya dimata publik. Perlu kita ingat setelah seseorang masuk Islam adalah "What next". Sungguh baik sekali kalau kita mampu menempatkan diri sebagai pendakwah sebagaimana Yusuf Islam itu, namun kita juga harus mampu bergabung dalam jamaah yang bersungguh-sungguh untuk membela kaum dhu'afa kapanpun dan dimanapun kita berada (Q.S, 7:157). Secara filosofis, siapapun yang bersatupadu dalam System Thaghut yang menjejaskan kaum dhuafa, kecuali "Taqiyah" adalah kafir disisi Allah, kendatipun mereka mengaku diri sebagai orang Islam, (Q.S,2: 8). Shalat, puasa, zakat naik Haji dan latin-lain sebagainya tak ada arti sama sekali. Sungguh ironis seseorang yang berbicara Islam namun bergabung dengan orang-orang yang menganianya kaum dhu'afa. Jangankan bergabung dengan mereka, diam diri saja untuk berkhusjuk sepi bertaqarrub kepada Allah (berhablum minallah) kita tergolong dalam golongan orang-orang yang zalim kecuali kita juga berhablum minannas. Allah tidak redha kepada orang-orang yang hanya berhablum minallah tanpa berhablum minannas.

Berhablum minannas tidak cukup dengan hanya berhari Raya kerumah kaum dhu'afa, sama-sama shalat jum'at di mesjit atau bersama kaum dhu'afa dalam jamaah wirit. Itu hanyalah kulit belum masuk dalam definisi berhablum minannas yang sesungguhnya. Islam itu terdiri dari dua dimensi, Ritual dan Soisial (Hablum minallah dan Hablum minannas). Adalah keliru 180 derajat orang-orang yang hanya berhablum minallah tanpa berhablum minannas, demikian juga sebaliknya merdaya upaya dalam berhablum minannas namun melupakan hablum minallah.
Sebahagian manusia berkhusjuk sepi untuk beribadah kepada Allah siang dan malam sementara kaum dhu'afa merintih digubuk-gubuk derita, di bawah jembatan dan di tempat-tempat kumuh, terlupakan sama sekali. Mereka mengambil Al Qura-an hanya bahagian ritull saja sementara bagian Sosial, dilupakan. Orang-orang seperti itu dapat dipastikan memfungsikan Al Qur-an hanya sebagai kitap suci untuk dibaca-baca saja. Mereka itulah yang menggalakkan Musabaqah Tilawatul Qur-an dimana-mana hampir seluruh dunia. Mereka sepertinya tak dapat memahami bahwa Al Qur-an itu merupakan petunjuk hidup (Kompas) bagi manusia. (Q.S, 2:2).

Kita di dunia ini bagaikan seseorang yang berada dalam sebuah bahtera di samudera luas yang sudah barang pasti membutuh kan kompas agar kita dapat dengan tepat menuju sasarannya (tidak akan sesat). Selanjutnya kita juga harus mampu memahami bahwa Al Qur-an itu bagaikan sebuah buku "Kesehatan" yang sudah barang pasti membutuhkan sang doktor agar efektif penggunaannya.
Doktor yang dimaksudkan disini adalah Ittrah Rasulullah sebagai pendamping Qur-an sesuai hadist Tsaqalain (baca Qur-an dan ahlulbayt Rasulullah) Sebahagian manusia yang lain bersungguh sungguh dalam berhablum minannas, mereka mau menafkahkan sebahagian rizki yang dianugerahkan Allah kepadanya sebagai infak dijalan Allah untuk perjuangan Kemerdekaan. Ditinjau dari segi ini manusia tersebut memang lebih bagus dari manusia yang saya sebutkan di alinia diatas, namun mereka ini juga tergolong dalam golongan manusia yang rugi di Akhirat kelak. Mereka melupakan Ibadah Ritualnya. Mereka enggan melakukan shalat dan shaum kendatipun berulang-ulang diberikan peringatan agar mereka tidak termasuk dalam golongan yang rugi di Akhirat kelak. Mereka malah benci kepada orang-orang yang menasehati mereka. Sesungguhnya orang-orang tersebut tidak berhablum minannas karena Allah, sebaliknya mereka berdaya upaya untuk memperlihatkan pada manusia bahwa mereka itu termasuk dalam golongan pejuang kemerdekaan. Orang sekuler, tidak senang kalau kita berbicara tentang agama. Sesungguhnya mereka keliru dan tidak tau apakah esensi agama yang sebenarnya. Mereka tidak memahami bahwa perjuangan itu juga termasuk agama. Artinya kalau kita tidak berjuang untuk membela kaum dhu'afa berarti kita juga belum beragama. Bagi orang-orang Islam sejati tidak ada hal yang kita lakukan didunia ini melainkan berdasarkan Agama (Petunjuk Hidup dari Allah). Sementara petunjuk yang benar disisi Allah adalah Islam (Innad dina 'indallahil Islam) Kehidupan di dunia menghadapkan manusia pada dua jalan. Jalan yang mendaki lagi sukar dan jalan yang mulus lagi menyenangkan (QS,90:10). Jalan yang mendaki lagi sukar adalah jalan yang membebaskan kaum dhuafa dari belenggu penindasan dan penjajahan, yang menimpa kuduk-kuduk mereka, membebaskan manusia dari sistem perbudakan, baik perbudakan ortodok mahupun perbudakan modern (QS,7:157 & QS, 90:12-18).

Untuk menempuh jalan yang mendaki lagi sukar tidak boleh tidak dituntut untuk mendirikan system Allah. Untuk mendirikan sistem Allah membutuhkan kemantapan Power dan Ideology, sebab pasti akan berhadapan dengan kekuatan system Thaghut yang zalim. Jelasnya pasti akan berhadapan dengan medan tempur. Justru itulah para Rasul dilengkapi dengan Ideology, Mizan dan Power (QS Al-Hadid :
25). Setelah periode para Rasul berakhir, tugas mendirikan sistem Allah dilanjutkan para Imam. Andaikata di suatu negeri tidak ada Imam yang diutus, tugas tersebut akan diambil alih oleh penyeru-penyeru kebenaran secara kolektif sebab tugas mendirikan sistem Allah adalah Haq lawan kata daripada Bathil. Hal ini perlu digarisbawahi sebab banyak orang yang terkecoh dengan pendapat klasik yang mengatakan hukumnya wajib. Haq dalam konteks ini kedudukannya di atas wajib. Bila hukumnya wajib, andaikata tidak didirikan paling-paling berdosa. Sedangkan perkara dosa masih ada jalan untuk meminta ampun. Sedangkan perkara Haq, bila tidak didirikan hukumnya bathil. Resiko berada dalam sistem yang batil adalah Neraka. Andaikata kita tidak berada dalam sistem Allah (Haq), otomatis kita berada dalam system Thaghut (bathil) kecuali taqiyah. Untuk kasus ini Allah berfirman; ”Qul Ja al Haqqu wazahaqal Baathil, innal Bathila kana Zahuuqa”(Qur-an)

Jalan yang mulus lagi menyenangkan adalah jalan ”Qabil”, pembunuh manusa. Jalan Namruz, Firaun. Jalan Kaisar-Kaisar di Roma. Jalan Abu Sofyan, Muawiyah, Yazid. Jalan orang-orang yang bersatu padu dalam system Thaghut Hindunesia-Jawa kecuali "Taqiyah". Kesemuanya adalah jalan orang-orang yang mencari kebahagiaan dunia diatas penderitaan orang lain. Mereka itu umumnya baik secara langsung mahupun tidak langsung, penentang ayat-ayat Allah. Mereka sekedar bereksistensi dan tak pernah beresensi. Manakala berbicara tentang negara Islam, Kedaulatan Allah, System Allah sebagian mereka langsung menentangnya, sementara sebagian yang lain merasa grogi, memperlihatkan sikap yang tidak senang dengan mengemukakan berbagai dalih, tidak mungkinlah, mustahillah, mimpilah, dsb. Mereka mengaku diri sebagai orang beriman, Islam. Mereka sesungguhnya telah dinyatakan Allah dengan jelas dalam AlQuran Karim surat Al Baqarah ayat 8 s/d 20. Hal ini juga terdapat dalam surah Surah yang lainnya seperti Surah Al-Munafiqun dari ayat 1 sampai ayat 8 dan juga ayat-ayat di surah-surah lainnya.

Allah disamping menurunkan petunjuk (Wahyu) kepada manusia agar tidak tersesat di dalam hidupnya menuju Akhirat, Dia juga menurunkan pengejawantahannya agar tepat sasaran (baca para Rasul dan para Imam). Tanpa Rasul sebagai penterjemah pedoman hidup (wahyu), manusia akan sesat dan terombang ambing dalam hidupnya. Bila Rasul kembali kehadhirat Allah, dia pasti menunjukkan penggantinya sebagai pengejawantahannya (baca Para Imam). Untuk apa? Agar manusia dapat terselamat dari api Neraka. Hal ini dapat kita lihat dengan jelas disampaikan Rasulullah saww: "Kutinggalkan kepada kalian dua perkara yaitu Al Qur-an dan Keluargaku, jika kalian berpegang teguh kepada keduanya tidak akan sesat buat selamalamanya sampai menemuiku di pancutan al Kautsar".


Hadist Tsaqalain tersebut diucapkan berulang kali sebagaimana hadist Ghadir khum dan hadist-hadist lainnya. Justru itu hadist tersebut sedikit berfariasi dengan pengertian yang tidak berbeda, misalnya: ”Kutinggalkan kepada kalian dua perkara, yaitu Qur-an dan ittrahku. jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tak akan sesat sampai menemuiku di pancutan Kautsar”. Sayangnya hadist ini telah dipalsukan oleh orang alimpalsu ketika Muawiyah berkuasa. Hal inilah yang membuat orang ramai berselisih dikemudian hari sebagaimana kita saksikan sekarang ini. Perkataan "Keluarga Rasul" diganti dengan "Hadist", akibatnya filter yang dibuat Allah dan Rasulnya sirna.

Keluarga Rasul adalah "filternya" untuk membendung tangan-tangan jahat dari memalsukan Hadist Nabi.
Andaikata Hadist Tsaqalain tidak dipalsukan sudah barang pasti orang-orang akan bersatu padu pada mengikuti para Imam yang berasal dari keluarga Rasul. Mereka memiliki konsep yang satu dari Imam pertama sampai Imam yang terakhir, tidak berbeda sedikitpun.

Billahi fi sabililhaq.
hsndwsp

Acheh - Sumatra

----------


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar