Kamis, 12 Desember 2013

FUNGSI PARA IMAM (PENDAMPINGI AL QUR-AN) AGAR AGAMA ISLAM TETAP MURNI SEBAGAIMANA DIMAKSUDKAN ALLAH SWT


PARA IMAM TIDAK PERNAH BELAJAR PADA SIAPAPUN KECUALI PADA ORANGTUA MEREKA SENDIRI
SEBAGAI IMAM SEBELUMNYA 
JUSTERU ITULAH ILMU BEREKA TIDAK BERBEDA
DARI IMAM PERTAMA SAMPAI IMAM TERAKHIR 
SESUAI DENGAN ILMU RASULULLAH  SAWW SENDIRI


SEBAGAIMANA PARA RASUL, PARA IMAM PENDAMPING QUR-AN JUGA PARA IDEOLOG YANG DIUTUS ALLAH SWT AGAR PASKA KEWAFATAN RASULULLAH UMMAH TIDAK AKAN SESAT

Soal jaka ditanyai orang kita, pakai gaya klasik: „ Andaikata kita berargument bahwa Imam ‚Ali, Fatimah Az Zahara, Imam Hassan dan Imam Hussein, tidak maksum dengan dalih bahwa ayat 33 surat Al-Ahzab tidak berbunyi dalam bentuk (past tense) „Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dosa kamu ahlul bait dan telah membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”. Tetapi, kenyataannya yang tertera dalam ayat 33 surat Al-Ahzab tidak demikian bunyinya, melainkan: ”..sesungguhnya Allah bermaksud untuk menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Maka jawab bahwa: „ Andaikata kita dapat menerima argument seperti itu, orang itu juga nanti akan berargument bahwa Nabi Muhammad dan keluarganya juga tidak selamat (semoga Allah mengampuni kita dari membuat perandaian yang demikian). Orang-orang yang memiliki argument seperti itu berdalih bahwa dalam setiap selawat yang kita ucapkan dalam Shalat baru tingkat meminta keselamatan bagi Nabi dan keluarganya. Justru itu logika macam itu keliru 180 derajat alias bathil. Disinilah perlu kita lihat peringatan Allah dan Rasulnya agar tidak menafsirkan Al Qur-an itu dengan nafsunya. Yang dimaksudkan menafsirkan atau menggali Al Qur-an dengan nafsunya adalah menyesuaikan kesimpulannya dengan keyakinan kita sebelummnya.

Keyakinan mereka itu jauh sebelumnya bahwa Ahlulbait itu tidak maksum. Kalau kita meyakini argument orang-orang seperti itu sungguh bebaslah menafsirkan Al Qur-an itu sesuai nalarnya masing-masing tanpa perlu kita merujuk kepada pribadi-pribadi yang ditunjukkan Allah dan Rasulnya untuk mendampingi Al Qur-an agar tidak menyeleweng.

Pribadi-pribadi yang ditunjukkan Allah dan Rasulnya itu adalah Ahlulbait Rasulullah sendiri yang diperjelas dengan ayat-ayat lainnya serta Hadist Rasulullah sendiri yaitu Imam ‚Ali, Fatmah A Zahara, Imam Hassan dan Imam Hussein plus 9 orang Imam lainnya yang berasal dari keturunan Imam Hussein as.

Untuk lebih jelas marilah kita kaji Hadist-hadist sebagai argument tentang pribadi-pribadi yang telah ditunjukkan Allah dan Rasulnya dalam alinia-alinia berikut ini, dimana untuk waktu selanjutnya nanti, insya Allah akan kita paparkan bukti keimamahan Imam-Imam lainnya sebagai pribadi-pribadi lainnya dalam mendampingi Al Qur-an:
Di antara hadis-hadis yang mengikatku dan mendorongku untuk ikut Imam Ali adalah hadis yang diriwayatkan dalam berbagai Kitab Shahih Ahlu Sunnah sendiri. Dalam mazhab Syi'ah mereka juga memiliki hadis-hadis serupa itu berlipat-ganda. Namun saya seperti biasa tidak akan berhujah dan berpegang kecuali kepada hadis-hadis yang telah disepakati oleh kedua mazhab. Di antara hadis-hadis tersebut adalah:

"Aku kota ilmu dan Ali pintu gerbangnya." 1

Hadis ini saja sebenarnya sudah cukup untuk menentukan siapa teladan yang mesti diikuti setelah Nabi saww. Mengingat orang yang berilmu adalah lebih utama untuk diikuti dibanding kan dengan orang yang jahil. Allah berfirman: "Katakanlah apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu." Dan firman-Nya: "Apakah seseorang yang menun jukkanmu kepada kebenaran lebih utama untuk diikuti ataukah orang yang tidak membimbing mu kecuali ia perlu dibimbing. Maka bagaimana kalian membuat keputusan?" Jelas bahwa orang alimlah yang tahu membimbing sementara orang jahil perlu mendapatkan bimbingan, bahkan ia perlu bimbingan lebih dari orang lain.

Dalam hal ini sejarah telah mencatatkan kepada kita bahwa Imam Ali adalah sahabat yang paling alim tanpa sedikitpun bantahan. Dahulunya para sahabat merujuk Ali dalam perkara-perkara yang pokok yang tidak dapat mereka selesaikan. Dan kita tidak pernah menemukan yang Ali pernah merujuk mereka walau satu kali sekalipun. Dengarlah apa yang dikatakan oleh Abu Bakar: "Semoga Allah tidak menetapkanku di suatu tempat yang ada masalah kalau Abu Hasan (Ali) tidak hadir di sana." Umar berkata: "Kalaulah Ali tiada maka celakalah Umar." 2 Ibnu Abbas berkata: "Apalah ilmuku dan ilmu sahabat-sahabat Muhammad dibandingkan dengan ilmu Ali. Perbandingannya bagaikan setetes air dengan tujuh samudera."

Imam Ali sendiri berkata: "Tanyalah aku sebelum kalian kehilanganku. Demi Allah, tiada soa lan yang kalian hadapkan padaku sampai hari kiamat kecuali aku beritahu kalian apa jawaban nya. Tanyakan kepadaku tentang Kitab Allah. Demi Allah, tiada suatu ayatpun kecuali aku tahu dimana ia diturunkan; di waktu malam atau siang, di tempat yang datar atau di pegunungan."3

Sedangkan Abu Bakar ketika ditanya makna Abban dari firman Allah: wa fakihatan wa abban, beliau berkata: "Langit mana yang dapat melindungiku, bumi mana yang dapat kujadikan tempat berpijak daripada berkata sesuatu di dalam Kitab Allah apa yang tidak kuketahui?"

Umar bin Khattab pernah berkata: "Semua orang lebih faqih dari Umar, hatta wanita-wanita." Ketika beliau ditanya tentang suatu ayat dalam Kitab Allah, beliau marah sekali pada orang yang bertanya itu, lalu memukulnya dengan cambuk sampai melukainya. Katanya: "Jangan kalian tanya tentang sesuatu yang jika nampak kepada kalian, maka kalian akan terasa tidak enak."4 Sebenarnya beliau ditanya tentang makna Kalalah, tapi tak tahu menjawabnya.
Di dalam tafsirnya, Thabari meriwayatkan dari Umar yang berkata: "Seandainya aku tahu apa makna kalalah maka itu lebih kusukai daripada memiliki seperti istana-istana Syam."

Ibnu Majah dalam Sunannya meriwayatkan dari Umar bin Khattab yang berkata: "Tiga hal yang apabila Rasulullah SAWW telah menjelaskannya maka itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya: al-Kalalah, ar-Riba dan al-Khilafah."  Subhanallah! Mustahil Rasulullah diam dan tidak menjelaskan perkara-perkara itu. "Hai Ali, kedudukanmu di sisiku bagaikan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada Nabi setelahku."

Hadis ini seperti yang dipahami oleh orang-orang yang berakal sehat menyirat makna keuta maan dan kekhasan amir al-Mukminin Ali di dalam menyandang kedudukan wazir, washi dan khalifah, sebagaimana Harun yang menjadi wazir, washi dan khalifahnya Musa ketika beliau berangkat menemui Tuhannya. la juga menyirat arti bahwa kedudukan Imam Ali adalah umpa ma kedudukan Harun as. Kedua mereka memiliki kemiripan, melainkan kenabian saja seperti yang dikecualikan oleh hadis itu sendiri. la juga berarti bahwa Imam Ali adalah sahabat yang paling utama dan paling mulia setelah Nabi SAWW itu sendiri.

"Siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka Alilah pemimpinnya. Ya Allah, bantu lah mereka yang mewila'nya, dan musuhilah mereka yang memusuhinya. Jayakanlah mereka yang menjayakannya, dan hinakanlah mereka yang menghinakannya, liputilah haq bersamanya dimanapun dia berada."

Hadis ini saja sudah cukup untuk menolak dugaan orang yang mengutamakan Abu Bakar, Umar dan Utsman atas seseorang yang telah dilantik oleh Rasulullah saww sebagai pemimpin kaum mukmin setelahnya. Mereka yang mentakwilkan kalimat maula dalam hadis ini dengan arti sebagai pecinta dan pembantu semata-mata karena ingin memalingkan arti yang sebenar nya dengan alasan ingin memelihara kemuliaan para sahabat. Karena ketika Nabi saww menyampaikan pesannya ini beliau berkhutbah dalam keadaan matahari panas terik. Katanya: "Bukankah kalian menyaksikan bahwa aku adalah lebih utama dari orang-orang mukminin atas diri mereka sendiri?" Mereka menjawab: ya, wahai Rasulullah. Kemudian beliau melanjutkan: "Siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya (pemimpinnya) maka inilah Ali maulanya..."

Nas ini sangat jelas dalam melantik Ali sebagai khalifah untuk ummatnya. Orang yang berakal, adil dan insaf tak dapat menolak pengertian maksud hadis ini lalu menerima takwilan yang direka oleh sebagian orang demi menjaga kemuliaan sahabat dengan mengorbankan kemulia an Rasul saww. Karena dengan demikian ia telah meremehkan dan mencela kebijaksanaan Rasulullah yang telah menghimpun ribuan manusia dalam keadaan cuaca yang sangat terik dan panas hanya semata-mata karena ingin mengatakan bahwa Ali adalah pecinta kaum mukminin dan pembela mereka. Bagaimana mereka akan menafsirkan ucapan selamat yang diberikan oleh barisan orang-orang mukminin kepada Ali setelah pelantikan itu, yang sengaja diciptakan oleh Nabi saww? Pertama-tama yang mengucapkannya adalah para istri Nabi, kemudain Abu Bakar dan menyusul Umar yang berkata: "Selamat, selamat untukmu wahai putra Abu Thalib. Kini kau adalah pemimpin orang-orang mukminin, laki-laki atau perempuan."

Fakta sejarah juga telah menyaksikan bahwa mereka yang mentakwil adalah orang-orang yang berdusta. Celakalah apa yang mereka tulis dengan tangan mereka. Firman Allah: "Dan sesung guhnya sebagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengeta hui" (al-Baqarah: 146) "Ali dariku dan aku dari Ali. Tiada siapa yang mewakili tugasku kecuali aku sendiri atau Ali" 5

Hadis ini juga dengan jelas menyatakan bahwa Imam Ali adalah satu-satunya orang yang dibe rikan kepercayaan oleh Nabi untuk mewakili tugasnya. Nabi nyatakan ini ketika beliau mengu tusnya untuk mengambil dan membacakan surah al-Baraah yang pada mulanya diserahkan pada Abu Bakar. Abu Bakar kembali dan menangis. Katanya, "Duhai Rasulullah, apakah ada ayat turun berkenaan denganku?" Rasulullah menjawab: "Allah hanya menyuruhku atau Ali saja yang melaksanakan tugas ini."

Hadis ini juga mendukung sabda Nabi yang lain kepada Ali: "Engkau hai Ali, menjelaskan kepada ummatku apa yang mereka perselisihkan setelah ketiadaanku."6

Jika tiada orang yang diberikan kepercayaan oleh Rasulullah kecuali Ali, dan Alilah yang paling layak untuk menjelaskan kepada ummat ini segala permasalahan yang dihadapi, maka kenapa orang yang tidak tahu akan makna kalimat abbaa dan kalimat kalalah mengambil alih haknya? Sungguh ini adalah musibah besar yang menimpa ummat ini, dan yang menghalanginya dari menjalankan tugas penting yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Telah cukup hujjah dan ala san dari Allah, dari RasulNya dan dari Amir al-Mukminin. Mereka yang ingkar dan tidak patuh kelak harus mengajukan alasan di hadapan Allah swt. Allah berfirman: "Apabila dikatakan kepada mereka: marilah mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah dan mengikuti Rasul. Mere ka menjawab: cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walau pun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak pula mendapat petunjuk." (al-Maidah:104)

Bersabda Nabi SAWW sambil menunjuk kepada Ali: "Sesungguhnya ini adalah saudaraku, washiku dan khalifahku setelahku. Maka dengarlah dan taatilah dia." 7

Hadis ini juga terbilang di antara hadis-hadis shahih yang dinukil oleh para ahli sejarah ketika bercerita tentang peristiwa pertama yang terjadi pada masa periode awal dari era kebangkitan Nabi saww. Mereka menganggap hadis ini sebagai bagian dari mukjizat Nabi saww. Namun politik telah merobah dan memalsukan kebenaran-kebenaran dan fakta-faktanya. Tidak aneh memang. Karena apa yang pernah terjadi di zaman kegelapan tersebut kini berulang lagi di zaman sekarang. Lihatlah Muhammad Husain Haikal. Beliau telah mencatat hadis ini secara sempurna dalam kitabnya "Riwayat Hidup Muhammad" halaman 104, cetakan pertama tahun 1354 H. Tetapi dalam cetakan kedua dan seterusnya sebagian dari isi hadis nabawi ini, yakni kalimat "washiku dan khalifahku setelahku" dihapus dan digunting. Mereka juga telah mengha pus dari kitab Tafsir Thabari jilid 19 halaman 121 bagian dari sabda Nabi berikut "Washiku dan khalifahku", dan menggantinya dengan kalimat "Inilah saudaraku dan begini dan begitu..."! Mereka lalai bahwa Thabari telah menyebutnya secara sempurna dalam kitab sejarahnya jilid ke 2 pada halaman 319. Lihatlah betapa mereka telah robah kalimat dari tempatnya yang asal dan memutar-balikkan fakta-fakta. Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, dan Allah tetap akan menyalakan cahaya-Nya...

Ketika aku masih menelaah dan mengkaji, aku ingin menyaksikan dengan mataku sendiri sega la apa yang telah terjadi. Aku cari buku Riwayat Hidup Muhammad cetakan pertama. Akhirnya kujumpai juga setelah mengarungi berbagai liku-liku yang sulit dan melelahkan. Alhamdulillah atas semua ini. Yang penting aku telah saksikan sendiri perobahan itu. Aku tambah yakin bah wa tangan-tangan jahat berupaya dengan segala usaha untuk menghapuskan kebenaran-kebe naran yang memang telah terbukti ada. Karena mereka menganggap bahwa ini adalah dalil kuat yang akan digunakan oleh "musuhnya"!

Tetapi bagi seorang peneliti yang adil akan merasa bertambah yakin ketika menyaksikan perobahan seumpama ini. Tanpa ragu-ragu dia akan berkata bahwa pihak kedua yang enggan menerima dalil-dalil tersebut sebenarnya tidak memiliki alasan yang kuat. Mereka hanya melakukan makar dan tipu muslihat serta memutar balik fakta walau dengan membayar mahal sekalipun. Mereka telah mengupah penulis-penulis tertentu dan mengulurkan kepada mereka berbagai kekayaan, gelar dan ijazah-ijazah perguruan tinggi yang palsu, agar dapat menuliskan segala sesuatu yang mereka inginkan baik buku atau makalah-makalah tertentu. Yang penting tulisan itu mencaci Syi'ah dan mengkafirkan mereka, serta membela dengan segala upaya (walau itu batil) "kemuliaan" sebagian sahabat yang telah belok dari kebenaran dan yang telah merobah hak menjadi batil sepeninggal Rasul saww. 


Firman Allah: "Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah jelaskan tanda-tanda kekua saan Kami kepada kaum yang yakin." (al-Baqarah: 118) Maha Benar Allah Yang Maha Agung.

[1] Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 127; Tarikh Ibnu Katsir jil. 7 hal. 358.
[2] Al-Isti’ab jil. 3 hal. 39; Manaqib al-Khawarizmi hal.48; Riyadh Nadhirah jil. 2 hal. 194.
[3] Ibid. Jil. 2 hal. 198; Tarikh al-Khulafa` hal. 124; Al-Itqan jil. 2 hal. 319; Fath al-Bari jil. 8 hal. 485; Tahzib at-Tahzib jil. 7 hal. 338.
[4] Sunan ad-Darimi jil. 1 hal. 54; Tafsir Ibnu Katsir jil. 4 hal. 232; Ad-Dur al-Mantsur jil. 6 hal. 111.
[5] Sunan lbnu Majah jil. 1 hal.44; Khasais Nasai hal. 20; Shahih Turmizi jil. 5 hal. 300; Jami' Ushul Oleh Ibnu Katsir jil. 9 hal. 471; Jami' Shagir Oleh Suyuthi jil. 2 hal. 56 Riyadh; Nadhirah jil. 2 hal. 229.
[6] Tarikh Ibnu Asakir jil. 2 hal. 448; Kunuz al-Haqaiq Oleh al-Maulawi hal. 203; Kanzul Ummal jil. 5 hal. 33.
[7] Tarikh Thabari jil.2 hal.319; Tarikh Ibnu Atsir jil. 2 hal. 62 As-Sirah al-Halabiah jil. 1 hal. 311; Syawahid at-Tanzil Oleh al-Hasakani jil. 1 hal. 371; Kanzul Ummal jil. 15 hal. 15; Tarikh Ibnu Asakir jil. 1 hal. 85; Tafsir al-Khazin Oleh Alaudin as-Syafei; Hayat Muhammad Oleh Husain Haikal Edisi pertama.

Demikianlah pembaca sekalian semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua. Aamin ya Rabbal a'lamin,-

Billahi fi sabililhaq
Muhammad Al Qubra

Stavanger, Norwegia


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar