Kamis, 19 Desember 2013

LITERATUR INI MEMBUKTIKAN PENTINGNYA KITA BERFIKIR



APABILA PIKIRAN YANG CEMERLANG TIDAK DIHADIRKAN SAAT KITA MEMBAHAS SUATU PERSOALAN AGAMA AKAN MELECENG DARI MAKSUD ALLAH SENDIRI. JUSTERU ITULAH QUR-AN DIPERLUKAN PENDAMPINGNYA YANG CEMERLANG 


BERMEGAH-MEGAH TELAH MEMBUAT KAMU LALAI, HINGGA KAMU MASUK KUBUR 
(Q.S.At Takatsur: 1 - 2)


Bismillaahirrahmaanirrahiim
Di sebuah negara yang tidak muncul pembela kaum dhu'afa, seorang miskin merintih dalam hidupnya di gubuk derita. Ketika dia mendatangi seorang Kiyai kenapa dia mengalami kehidupan yang sangat pahit, Kiyai itu menganjurkan dia agar membaca Al Qur-an setiap malam terutama sekali malam Jum'at kliwon.

Dengan merasa lega simiskin itu pulang terus mempraktekkan pesan sang Kiyai tadi hingga hampir tamat, namun perobahan hidupnya tetap saja tidak muncul. Sebulan kemudian dia mendatangi kembali sang Kiyai tadi dan memberitahukan dia bahwa kehidupannya tidak berobah dan dia makin susah menjalani hidupnya, takpernah muncul tetangga yang mau membantunya. Ustaz tadi mengatakan bahwa itu pesan Rasulullah melalui Hadistnya dan bolehkamu tanyakan kepada Kiyai manapun, kalau bukan Hadist Rasulullah. Mendengar jawaban sang Kiyai demikian tegas, simiskin itupun pulang tanpa memahaminya bagaimana supaya kehidupannya bisa berobah.

Pembaca yang mulia. Mari kita pikirkan sedalam-dalamnya persoalan tersebut mengapa sampai demikian? Persoalan apakah yang tidak beres disini hiungga tidak mendapat jalan keluar bagi kaum yang miskin itu?

Ini sebuah contoh bagi kita untuk memahami Hadist dan juga Al Qur-an melalui pesan Al Qur-an itu sendiri yang selalu diulang ulang dalam Al Qur-an yaitu "Afala ta'qilun dan afala yatazakkarun". Allah berpesan kepada kita agar berfikir bagi kita yang ber'akal. Kita harus memahami persis dalam kondisi dan situasi bagaimana suatu ayat itu diturunkan dan kedalam situasi dan kondisi bagaimana tepatnya diterapkan. Apakah ayat itu memiliki arti yang tersurat atau arti tersirat. Apakah ayat itu termasuk ayat muhkamat (kat'i) atau mutasyabihat. Apakah ketika ayat tersebut digunakan ketika system Allah sudah wujud atau sebelum wujud. Demikian juga mengenai Hadist. Apalagi tidak ada ayat Al Qur-an yang menjamin bahwa Hadist Rasulullah itu takdapat dipalsukan. Sementara Al Qur-an memang mendapat jaminan Allah sendiri bahwa terpelihara dari pemalsuan. Memang banyak orang yang mencoba-coba untuk memalsukan Ayat-ayat Al Qur-an, namun selalu ketahuan atau terbongkar kepalsuan tersebut. namun ada kemungkinan lain yang menyebabkan manusia takmampu mnemahaminya, yaitu akibat sifat fanatik buta yang mereka miliki hingga membaca-baca saja Al Qur-an itu tanpa berdaya upaya untuk memahami dan menangkap pesan Allah didalamnya.

Ketika saya pergi ke Jawakarta dulu, saya merasa heran kenapa kebanyakan Mesjid itu Khutbahnya disajikan dalam bahasa Arab doang. Ketka saya tanyakan kepada orang-orang yang berilmu diantara mereka, jawabannya tidak boleh kita gunakan bahasa apapun dalam Khutbah itu. Apabila kita gunakan juga, khutbahnya tidak sah. Sebab dua khutbah itu sebagai ganti dari dua raka’at shalat Jum’at yang berasal dari 4 raka’æat shalat Dhuhur. Ma’af anda mazhab apa, Tanya saya. Kami disini semua mazhab Syafi’i, jawabnya. Lalu saya katakana bahwa didalam kitab Imam Syafi’i asli yang lazim dipanggil dengan kitab Om tertulis dengan jelas bahwa khutbah itu disajikan dalam bahasa Arab tapi kalau jama’ahnya terdiri dari orang-orang ‘Ajam, hanya rukun-rukunnya saja dalam bahasa Arab sedangkan penjelasannya musti dalam bahasa ‘ajam itu sendiri agar mereka memahami pelajaran yang diberikan Khatib di setiap hari jum’at untuk kesempurna’an pengetahuannya. Lalu kiyai itu mengambil kitab tersebut, saya memintanya membuka mulai dari masalah Khutbah, Kenduri orang mati dan Talkin. Ternyata dia memperkuatkan pendapatnya dengan menunjukkan keterangan yang tertulis dipinggir halaman kitab tersebut. Saya katakan kepadanya bahwa itu bukan pernyataan Imam Syafi’i, itu adalah syarahan muridnya sepeninggal Imam Syafi’i. Tanpa memberi komentar lagi dia melihat bagian kenduri pada orang mati. Disana dia melihat pendapat Imam Syafi’i bahwa kenduri orang mati itu sunnah apabila simati itu orang kaya dan semua anggota keluarga simati itu sudah terlepas dari tanggung jawab simati tersebut (untuk mencegah kita agar tidak makan harta anak yatim, pen). Apabila si mati itu meninggalkan anak yatim maka kenduri itu bid’ah mungkarah. Ternyata kiyai tersebut tidaklagi melihat tulisan disamping halaman tersebut. Disebabkan saya masih ada keperluan lain dan mengingat dua persoalan tadi sudah memadai, sayapun pamit untuk meninggalkannya.

Kembali kepersoalan pokok tadi bahwa ketika kita mendengar Hadist Nabi, kita tidak berfikir dalam situasi dan kondisi bagaimana. Rasulullah mengatakan kepada orang-orang yang berbahasa ’Arab, dimana ketika mereka membaca Al Qur-an, mereka langsung dapat memahaminya disebabkan Al Qur-an itu disajikan dalam bahasa ’Arab. Andaikata sang Kiyai tadi memahami kondisi yang demikian, tentu dia pesankan kepada orang miskin tadi agar membaca juga terjemahannya dalam bahasa yang dia pahami. Andaikata orang miskin itu menerima jawaban yang demikian, tentu dia memfokuskan bacaannya pada surah atau ayat-ayat yang berhubungan dengan masalah dia sendiri seperti Suarh At Takatsur: ”Bermegah-megah telah membuat kamu lalai, hingga kamu masuk kubur. Sekali-kali jangan demikian nanti kamu akan mengetahuinya (akibat perbuatanmu itu). Dan sekali-kali jangan demikian kelak kamu akan mengetahui. Jangan demikian, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahim. Kemudian kamu benar-benar akan melihat dengan ”ainal yakin” (mata yang yakin). Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di Dunia itu)”. Sadaqallahul æ’adzim.

Andaikata orang miskin tadi melihat terjemahan surah itu saja akan mudah mengambil kesimpulan bahwa sesungguhnya orang-orang yang kaya yang tidak menggubris kehidupan orang miskin itulah justru yang sangat malang di Akhirat nanti. Ternyata Allah sampai 3 kali menggunakan kata-kata ”Kalla”. Hal ini menunjukkan begitu pentingnya peringatan itu agar mereka tidak beralasan nanti ketika mereka diazabkan Allah dalam neraka kelak.sesuai firmanNya: "Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, namun merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri...." (QS, 11: 101)

Ketika orang-orang dhalim meminta untuk kembali sekali lagi kedunia, ingin menukar tempatnya yang penuh azab itu dengan anggota keluarganya yang benar-benar beriman dan ber’amal shalih dan memohon agar dijadikan tanah saja sebagai permohonan yang terakhir, Allah menempelak mereka: "Bukankah sudah kuperintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak tunduk patuh kepada syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kamu. Dan tunduk patuhlah kepada da Ku. Inilah jalan yang selurus-lurusnya. Sesungguhnya syaithan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantarakamu. Apakah kamu tidak berfikir ? Inilah Jahannam yang dulu kamu diancam (dengannya). Masuklah kamu kedalamnya hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, tangan dan kaki Kami minta kesaksian terhadap apa yang telah mereka kerjakan dahulu" (QS,36: 60-65).

Disamping itu orang miskin tadi juga dapat membaca surah Al A’raf ayat 157 sebagai pesan Allah kepada orang-orang yang mengikuti Rasulullah untuk membebaskan kaum dhu’afa dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka. Dengan demikian dia tidak akan mengikuti kiyai yang senang berkhutbah tapi membiarkan orang miskin hidup terlunta-lunta, sementara Kiyai itu hidup mewah. Selanjutnya orang miskin tadi juga dapat membaca terjemahan surah Al Fajr serta memfokuskan pada ayat 17, 18, 19 dan 20 yang membicarakan tentang akibat tidak menghiraukan kehidupan orang-orang miskin dan mencintai harta secara berlebih-lebihan. Persoalan tersebut dimantapkan lagi oleh Rasulullah melalui hadistnya: "Tidak pernah beriman kepadaku orang yang tidur kenyang sedangkan tetangganya kelaparan, dan jika penduduk sebuah desa tidur nyenyak sedangkan ada salah seorang dari mereka yang kelaparan, maka Allah tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat".

Billahi fi sabililhaq
hsndwsp di Ujung Dunia


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar