Minggu, 25 November 2012

TIDAK USAH MENGATAKAN AKU SUNNI, AKU AHMADIAH, AKU MUHAMMADDIAH DAN BAHKAN SYIAH KALAU KITA MASUK PERANGKAP MANUSIA KUTUB QABIL


MENGAPA MEREKA MEMIHAK KEPADA ZIONIS 
KALAU MEMANG MEREKA TERMASUK MUSLIM
BUKANKAH BANGSA PALESTINA YANG TERTINDAS 
SEHARUSNYA MEREKA BELA?
hsndwsp
Acheh - Sumatra

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Tidakkah ini menunjukkan bahwa Salafus Salah itu identik dengan Zionis? Sebelumnya kita sudah meng identifikasi bahwa penguasa Arab Saudi dan segenap aparatnya identik dengan zionis dimana kalau zio nis berdaya upaya untuk menggagalkan revolusi rakyat seluruh Timur Tengah dan Afrika Utara, Pengu asa Arab Saudipun demikian sepak terjangnya. Dalam hal ini kita salut kepada rakyat Mesir berdemo agar penguasa Mesir paska Mubarak memutuskan hubungan dengan Arab Saudi dan Zionis Israel teta pi Morsi, presiden terpilih tidak menepati janjinya dan tidak menjalankan amanah rakyat Mesir. 

 Ketimpangan Salafi dan Wahabi,Alqaeda dan Taliban mengundang kita untuk berpikir, mungkinkah ki ta mengusung selogan persatuan Islam sementara komunitas-komunitas yang menamakan Islam sendiri bertekat untuk memusnahkan komunitas Islam lainnya. Salafi wahabi sudah berulangkali menyatakan de ngan terang-terangan untuk menghancurkan Hizbullah, satu-.satunya komunitas Islam Murni yang mam pu meluluhlantakkan Zionis Israel. Dari itu persoalan tersebut tidak dapat kita selesaikan dengan "kacamata Syar'i" tetapi musti dengan "kacamata Ideology dan Philosofy". 

 Secara Ideologis dan Philosofis bahwa manusia apapun latar belakang agamanya tetap saja terbagi ke pada 2 "Kutub", yaitu kutub "Qabil" dan kutub "Habil". Dua kutub manusia ini senantiasa saling berpe rang satu-sama lainnya hingga Dunia kiamat. Manusia Qabil kendatipun menamakan diri Islam, mereka tetap berperan sebagai Qabil. Qabil adalah juga anak Nabi Adam tetapi dialah yang menyulap agama ayahnya hingga bagaikan perahu terbalik (Pakai istilah Imam Ali dulu) yang akan menumpahkan segala isinya. Sebaliknya Habillah yang benar-benar beragama dengan agama ayahnya (baca Nabi Adam as) 

 Sepak terjang Qabil, menghalalkan cara apapun demi tercapai tujuannya. Untuk dapat merebut Iklima, adik sendiri dibunuhnya, konon pula kalau orang lain macam "Qabil-qabil modern" sekarang. Padahal Allah dengan jelas telah memperingatkan: "Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu'min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan me ngutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (Surah An Nisaa' ayat:93).

 Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat keru sakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manu sia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.(Surah Al Maaidah ayat:32). 

 Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Se sungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.(Surah Al Israa' ayat:33). 

 Kemudian dalam persoalan berbeda agama Allahpun telah memberikan petunjuk agar kita saling menga ku agama masing-masing dan tidak dibenarkan membunuh dengan alasan berbeda agama:"Lakum dinu kum waliadin" (QS,al Kafirun, 6). Justeru itulah saya lebih cendrung untuk persatuan menggunakan selogan "Kemanusiaan" dimana justeru manusia-manusia kutub Habillah yang kita persatukan apapun la tar belakang agamanya. 

 Andaikata suatu negara dipimpin oleh manusia habil, disana akan kita temukan adanya "rahmatan lilalamin" bagi seluruh penduduknya tetapi andaikata pemimpinnya adalah manusia qabil, yang kita saksikan di negara tersebut adalah yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. 

 Jadi kesimpulannya tidak usah kita mengatakan aku Sunni, aku Wahabi, aku Syiah dan sebagainya. Semuanya gombal kalau kita tidak termasuk dalam katagori manusia "Kutub Habil"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar