Minggu, 25 November 2012

IMAM HUSSEIN AS TELAH SUKSES MENYIRAMI "POHON ISLAM" YANG TELAH MATI DI TANGAN YAZID, DENGAN DARAH DAN AIRMATA KELUARGANYA




KARBALA ADALAH 
"BENANG MERAH SEJARAH" 
YANG PALING EFEKTIF UNTUK MENGENAL 
PROTOTYPE IMAM HUSSEIN DAN YAZID, 
DUA KUTUP YANG PALING EXTREM SEBAGAI SYMBOLISASI 
ANTARA YANG HAQ DAN YANG BATHIL
hsndwsp
Acheh - Sumatra

http://www.livestation.com/en/alalam 
http://www.presstv.ir/live.html

Ketika kita saksikan acara karbala yang ditayangkan oleh Presstv dan TV Alalam Iran, apa yang signifikan bagi orang-orang non Syiah?  Kesatuannya. Ya kesatuan dalam gerak. Ini dekat hubungannya dalam realita komunitas Syiah Imamiah 12 atau pengikut Ahlulbayt Rasulullah saww. Mereka atau Ummah Syiah bersatupadu dibawah poros seorang Imam. Realita yang demikian banyak ditulis oleh pemikir-pemikir Syiah, terutama literatur Syahid DR 'Ali Syari'ati (Rausyanfikr) dalam bukunya berjudul: "Ummah dan Imamah"

Orang-orang yang anti Syiah memanfaatkan atraksi pemukulan diri yang berdarah-darah sebagai perbuatan yang negatif. Padahal justeru itu menggambarkan kepedihan penderitaan Imam Hussein, keluarga dan sahabat setianya dan sekaligus merupakan latihan ketahanan dalam setiap pertempuran yang bermandikan darah dan air mata.

Atraksi itulah yang diperlihatkan komunitas Syiah Iran saat berhadapan dengan "mesin perang" Syah Redha Palevi. Ketika itu barisan berpakaian serba hitam menahan dadanya diterjang peluru tentara despotik hingga jalan-jalan berkubangan darah. Lalu barisan berbaju serba putih mencelupkan tangan mereka dalam genangan darah tadi. Tangan yang berlumuran darah mereka acungkan ke arah tentara despotik sambil mengucapkan "Allahuakbar" dengan serentak berkali-kali hingga senjata ditangan tentara despotik berjatuhan dengan kehendak Allah swt. Mengapa hal seperti itu bisa terjadi? Mengapa tangan para tentara itu bisa gementar?  Allah menolong hambanya disaat mayoritas Iman mereka sudah benar.

Allah berfirman: "Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia"(Q.S. Ar Ra'du:11)
Itu bermakna Allah tidak akan menolong bangsa Iran kecuali bangsa Iran itu atau bangsa manapun mau merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Realitanya bangsa Iran telah merobahnya apa yang ada pada diri mereka. Mereka merobah dari tunduk patuh kepada trinitas Api Majusi kepada Moinetheisme, Tuhan yang satu (Allah swt) Mereka menerima keimanan melalui Imam Ali bin Abi Thalib, bagaimana prosesnya?

Ketika Allah menurunkan surah Jum'at ayat 3 (wa akharina minhum lamma yal haqu bihim wahual 'azizul hakim), para sahabat bertanya kepada Rasulullah saww: "Siapakah mereka itu ya Rasulallah?" Rasulullah meletakkan telapak tangannya diatas kepala Salman al Faraisi (orang Parsi Iran) sambil berkata: "Golongan inilah. Andaikata Iman itu berada di bintang Suraiya, namun mereka sanggup menggapainya".

Hadist Rasulullah itu meggambarkan keutamaan bangsa Parsi diatas bangsa manapun di Dunia termasuk bangsa Arab sendiri. Hal ini disebabkan kesangupan bangsa tersebut menerima Islam secara kaffah sebagaimana dinyatakan Rasulullah sendiri berkenaan Al Qur-an Surah Jum'at ayat 3 itu. Hal ini juga dibuktikan realitanya sampai hari ini tidak ada sebuah negarapun yang berideologiy Islam termasuk Saudi Arabia dan Mesir, kecuali Republik Islam Iran.

Secara historis kita dapat menelusuri bagaimana bangsa Parsi itu mendapat pernyataan Allah sendiri yang dikuatkan lagi oleh Rasul Nya ketika para sahabat menanyakan pengertian daripada ayat 3 Surah Jum'at tersebut. Ketika bangsa Arab mengalahkan Parsi, mereka membawa tawanan Mada'in (Taisfun) itu ke Madinah. Umar bin Khattab memerintahkan kesemua tawanan wanita dijadikan hamba Muslim. Imam 'Ali melarang dan berkata bahwa puteri-puteri dikecualikan dan perlu dihormati.

Dua orang putri yang cantik bernama Syahbanu dan Syahzanan adalah anak dari raja Yardigerd yang harus dimuliakan. Umar bertanya kepada Imam 'Ali apa yang seharusnya dilakukan. Imam 'Ali as berkata bahwa setiap mereka diperkenankan memilih suami dari orang Islam. Dari itu Syahzanan memilih Muhammad bin Abubakar, orang yang telah "dibesarkan" oleh Imam 'Ali. Sedangkan Syahbanu memilih Imam Hussein bin 'Ali, cucu Rasulullah saww sendiri.

Dari hasil perekawinan Cucu Rasulullah Hussein bin 'Ali dengan Syahbanu, putri Parsi inilah kelak membawa keturunan yang cikal - bakal dalam bangsa Parsi yang dapat kita saksikan sampai hari ini, dimana mereka menggunakan sorban hitam sementara keturunan non Rasulullah mengenakan sorban putih. Hal ini memang sangat unik. Saya katakan unik disebabkan tidak ada seorangpun dari keturunan non Rasulullah saww yang memprotes persoalan sorban hitam dan putih itu, kecuali sepertinya suatu keyakinan juga agar identitas keluarga Rasulullah dapat di lestarikan sampai kiamat dunia. Disamping itu di Parsi (baca Iran dan Irak) juga terdapat gelar Ayatullah yang berarti ayat Allah untuk para ulama, dimana gelar seperti itu tidak kita dapati di kawasan lainnya. Dengan kata lain gelar tersebut hanya disandang oleh ulama-ulama Syi'ah Imamiyah 12 sebagaimana juga terdapat di Libanon sekarang.

Kemuliaan bangsa Parsi nampaknya difasilitasi oleh perpaduan Keluarga Rasul yang 'Arabiy dengan bangsa Arya, ras unggul Jerman. 'Ali Zai nal 'abidin bin Hussein bin 'Ali kembali ke Parsi, negeri bundanya Syah Banu. Setelah keluarga Rasul dibantai di Karbala, Kesimpulan apa yang dapat kita petik dari realita ini adalah kemuliaan yang disandang bangsa Parsi setelah mereka menerima Islam secara kaffah melalui Ahlulbayt Rasulullah saww.

Di surah Jum'at, mula-mula Allah memberikan kurnia kepada bangsa Arab dengan diangkatnya seorang Rasul (baca Nabi Muhammad saww) Kemudian kurnia itu juga diberikan kepada kaum yang lain yang belum berhubungan dengan mereka saat itu (baca bangsa Parsi/Iran) Lalu Allah memberitahukan kita bahwa Dia memberikan kurnia itu kepada siapa yang dikehendakinya. Selanjutnya dalam surat ini, Allah mengecam sikap orang-orang Yahudi yang tidak mengamalkan Tawrât padahal mereka mengetahui isinya. Allah membantah pernyataan bahwa hanya merekalah, bukan yang lain, yang menjadi penolong-penolong Allah. Allah menantang mereka untuk mengharapkan kematian jika memang mereka benar. Ternyata orang Yahudi tidak berani menemui kematian disewbabkan kesalahan yang banyak sekalki dilakukannya.

Berarti walaupun Allah di surah yang lain pernah mengangkat derajat orang Yahudi, namun Allah mencabut kembali disebabkan mereka tidak mampu melestarikannya. Demikian juga bangsa Arab realitanya tidak mampu melestarikan derajat yang tinggi itu. Hal ini diperlihatkan realitanya oleh rezim Saudi, Qatar, Yaman, Bahrain dan sebagainya. Kita mengharapkan sangat kepada bangsa Arab dan juga bangsa-bangsa yang lain termasuk bangsa Acheh - Sumatra, dapat "merobah apa yang ada pada diri mereka" sebagaimana Republik Islam Iran hingga mampu melestarikan kurnia yang diberikan Allah swt kembali paska rezim despotik Palevi.

Kita tutup tulisan ini dengan ayat.ayat Allah yang kita sebutkan diatas tadi:
"Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS. 62:3)

Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang bersar. (QS. 62:4)

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya 1475 adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS. 62:5)

Katakanlah: "Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar. (QS. 62:6)
Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim. (QS. 62:7)


Google Translation:
When we see the show broadcast on PressTV Karbala and TV Alalam Iran, what is significant for the non Shia? Unity. Yes unity in motion. It is closely related to the reality of a Shiite Imamate 12 or followers of Ahlulbayt Prophet saww. Shia Ummah unitedly them or under the shaft of an Imam. Reality so much written by Shia thinkers, especially literature DR Shahid 'Ali (Rausyanfikr) in his book entitled: "Ummah and Imamah"

People who take advantage of the attractions anti Shia beating themselves bloody as a negative act. Yet it is precisely describe the pain the suffering of Imam Hussein, his family and his loyal friend and is a resistance training in every battle bathed in blood and tears.

Places shown that the Iranian Shiite community when dealing with "war machine" Redha Palevi Shah. When the line was dressed all in black hold his chest hit by bullets despotic army to the streets berkubangan blood. Then row dressed in white dipping their hands in a pool of blood before. Their blood-stained hands held up to the despotic army while saying "Allah akbar" with simultaneous multiple times until the gun fell to the hands of the army despotic will of Allah swt. Why would such a thing happen? Why hand the soldiers could tremble? God helped his servant when the majority of their faith is correct.

He said: "With men there are angels who always followed her turn, in front and behind, they are keeping the commandments of God Allah is not something the state merobah so they merobah circumstances that exist in themselves. And if Allah willed evil against something people, then no one can resist, and occasionally there is no protector for them besides Him "(Surah Ar Ra'du: 11)

That means God is not going to help the Iranian people except the Iranian nation or any nation that would merobah circumstances that exist in themselves. The reality of the Iranian nation has merobahnya what is in themselves. They merobah of surrender to the Zoroastrian Fire Moinetheisme Trinity, one God (Allah swt) They received the faith through Imam Ali bin Abi Talib, what is the process?

When Allah revealed the surah Friday paragraph 3 (wa lamma akharina minhum yal haqu bihim wahual 'Azizul hakim), the companions asked the Prophet saww: "Who are they, O Allah's Apostle?" Prophet put his hands on the head of Salman al Faraisi (Persians of Iran), saying: "Group here. Suppose Faith in star Suraiya, but they can reach."

Prophet's Hadiths meggambarkan Parsi primacy of the nation above any other nation in the world including the Arabs themselves. This is due to the nation kesangupan kaffah accept Islam as the Prophet himself stated regarding Al Qur'an Surah verse 3 it Friday. It also proved the reality today there is not an Islamic country is berideologiy including Saudi Arabia and Egypt, with the exception of the Islamic Republic of Iran.

Historically we can trace how it got statements Parsi nation God Himself confirmed again by His Apostles when the companions asked notion than the verse 3 of Surah Friday. When the Arabs defeated Persia, they took captive Mada'in (Taisfun) it to Medina. Umar bin Khattab ordered the woman be a slave all these Muslim prisoners. Imam 'Ali ban and said that daughters are excluded and should be respected.

Two beautiful daughters named Syahbanu and Syahzanan was the son of the king Yardigerd that must be honored. Omar asked the Imam 'Ali what to do. Imam 'Ali as saying that each was allowed to choose a husband from the Muslims. From it Syahzanan chose Muhammad bin Abubakar, who has been "raised" by Imam 'Ali. While Syahbanu chose Imam Hussein bin Ali, the grandson of Prophet saww own.

From the results perekawinan Prophet's grandson Hussein ibn 'Ali by Syahbanu, daughter of Parsi descent is later brought the embryo - the nation will Parsi can we see to this day, where they used a black turban while the offspring of non Prophet wearing a white turban. It is indeed very unique. I say unique because none of the descendants of the Prophet saww protesting non-issue black and white turban, but it seems a belief also that the Messenger of family identity can be preserved until the end of the world. Besides, in Persia (read Iran and Iraq) there is also the title of Ayatullah Allah means to the clergy, in which such a title did not we see in other areas. In other words, the title is only carried by the Twelver Shi'i clerics are 12 as well as in Lebanon now.

The glory of the nation appears to be facilitated by a combination Parsi family Apostles' Arabiy with the Aryans, superior German race. 'Ali Zai nal' abidin son of Hussein ibn 'Ali returned to Persia, the Shah Banu mother country. After the Prophet's family were massacred at Karbala, what conclusions can we draw from this reality is that carried the glory of Parsi nation after they receive through Ahlulbayt Islamic fanatic Prophet saww.

In sura Friday, first God gives grace to the Arabs by the appointment of an Apostle (read Prophet Muhammad saww) then gift was also given to the others who have not been in touch with them at the time (read nation Persia / Iran) Then Allah tells us that the grace that He gives to whom He pleases. Later in this letter, God condemned the Jews who did not practice Tawrat when they knew it. God denied claims that only they, and not the other, the helpers of God. God challenged them to expect death if they are true. Apparently the Jews did not dare to meet death disewbabkan sekalki mistake that many do.

Meaning even though God in the other chapters have raised the degree of the Jews, God revoked because they were unable to preserve. Similarly, the Arabs are not able to preserve the reality that high degree. This is shown by the reality of the Saudi regime, Qatar, Yemen, Bahrain and so on. We expect very to the Arabs as well as other nations including the nation Acheh - Sumatra, could "merobah what is in themselves" as the Islamic Republic of Iran to be able to preserve the grace given by God Almighty back post Palevi despotic regime.

We close this paper with ayat.ayat God that we mentioned above was:

"And (also) to people other than those who have not been in touch with them., And He is the Mighty, the Wise". (Qur'an 62:3)

That is the gift of God, given unto whom He wills, and Allah has the gift of using large. (Qur'an 62:4)

The likeness of those who dipikulkan him Torah, then they carry no 1475 is like a donkey carrying books thick. It is very bad that the parable reject God. And Allah is not to give guidance to a people unjust. (Qur'an 62:5)

Say: "O ye who embraced Judaism, if you claimed that ye beloved of God alone and not other human beings, then hope for death, if ye are truthful. (Qur'an 62:6)

They will not expect death forever due to the evil they have done with their own hands. Allah is aware of will be those who do wrong. (Qur'an 62:7)

Billahi fi sabililhaq

Angku di Tampok Donja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar