Senin, 05 Maret 2012

BERDASARKAN AFALA TA'QILUN DAN AFALA YATAZAKKARUN, KITA HARUS MAMPU BERPIKIR SECARA ARIF, FILOSOFIS DAN IDEOLOGIS

 
HARTA ORANG KAYA YANG DIPEROLEH DARI KEDEKATANNYA DENGAN REZIM DESPOTIK PRA REVOLUSI DAPAT DISITA OLEH NEGARA UNTUK DIBAGIKAN KEPADA KAUM MUSTADHAFIN.
SEBAB
PADA HAKIKATNYA ITU ADALAH MILIK KAUM YANG DIJAUHKAN DARI PEMBENDAHARAAN DUNIA OLEH REZIM DESPOTIK.
hsndwsp
Acheh - Sumatra

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Refleksi:
Hemat saya sedekah itu berfungsi sebagai darurat sebelum terbentuknya System Redha Allah. Apabila system redha Allah sudah terbentuk seperti Republik Islam Iran yang produktif, sedekah tidak diperlukan lagi. Pemerintahlah yang lebih efektif dan tepat guna untuk memberantas kemiskinan. Apabila rakyat yang miskin dicukupkan oleh negara hingga tidak lagi termasuk pihak yang miskin, mereka tidak merasa minder sebagaimana mereka menerima sedekah dari orang kaya. Ketika Negara yang memberikannya kecukupan, sesungguhnya hak mereka sendiri, buka pemberian pribadi orang kaya. Logikanya kekayaan negara adalah milik rakyat bukan milik penguasa dan segenap aparatnya.

Renungkanlah kenapa keturunan Rasulullah diharamkan menerima sedekah (maaf ada yang bilang sedekah itu adalah "najis"). Namun ketika system Islam belum terbentuk, para fakir miskin terpaksa makan "najis". Kalau terpaksa, daging babi pun halal dimakan, bukan? Kemudian renungkan pula hadist Nabi suci: "Tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah". Lalu kata Imam Ali as:" Berikanlah sesuatu kepada seseorang sebelum dia memintanya, sebab bila engkau menunggu ketika dia memintanya berarti dia telah mengorbankan sesuatu yang lebih berharga daripada pemberianmu". Justeru itu pemimpin bertanggung jawab kepada Allah untuk merubah status kaum mustadhafin kepada kaum yang terhormat. Kesimpulannya tidak ada lagi istilah sedekah ketika negara sudah makmur macam RII. Kami di Norwegia saja tidak ada lagi istilah orang miskin. Semua penduduk menggapai finansialnya, apalagi di RII, bukan?

Adapun program Imam Khomaini yang masih dijalankan melalui pancangan "kotak-kotak besi" di hampir semua kota tetap diperlukan untuk membantu kaum mustadhafin di negara-negara yang belum exist system Ilahi dan bahkan hasil dari setoran orangø-orang yang murah hati itu bukan saja untuk kaum mustadhafin yang beragama Islam tetapi juga untuk kaum mustadhafin non Islam. Sebagaimana kita ketahui bahwa orang Islam bersaudara dengan mereka secara kemanusiaan. Musuh kita orang Islam bukan orang non Islam, melainkan kaum despotik dan hypocrite, apapun agama yang mereka akui. (Angku di Tampok Donja)


http://albdoo.info/quran/translate-1-2.html


IRIB:
Islam Telah Memberikan Jalan Keluar untuk Memberantas Kemiskinan
Senin, 2012 Maret 05 21:11

Hujjatul Islam Ja'fari Niya menjelaskan posisi infak dalam Islam dengan menyinggung pengaruh lahiriyah dan batin dari amal sedekah dan mengatakan, "Hal yang menghancurkan pahala sedekah adalah pamer."

Dikatakannya, "Guna memberantas kemiskinan dalam masyarakat, terdapat banyak cara. Pertama bahwa Islam telah menyebutkan seluruh masalah yang diakibatkan oleh kemiskinan dalam masyarakat dan individu, baik dari sisi keamanan atau ancaman terhadap keimanan seseorang."

"Banyak riwayat yang menyebutkan dampak buruk dari kemiskinan dalam kehidupan individu, sosial, dan bahkan budaya dalam Islam. Untuk menyelesaikan masalah ini Islam telah menyiapkan dua program prinsip. Islam menekankan kerja dan upaya sebagai solusi utama dalam memberantas kemiskinan dan bahkan dalam riwayat Rasulullah Saw disebutkan bahwa upaya untuk kesejahteraan keluarga sama seperti berjihad."

Dikatakannya, "Islam selain menekankan kerja keras, juga mendorong golongan kaya dalam masyarakat untuk berinvestasi dan menciptakan lapangan kerja, yang ini adalah merupakan salah satu program prinsip. Adapun program segera dalam pemberantasan kemiskinan adalah sedekah dan zakat. Selain zakat yang diwajibkan dalam Islam juga ditekankan masalah sedekah yang mustahab."

Menyinggung bahwa dana zakat dibelanjakan di jalan Allah ataufii sabilillah, Jafari Niya menegaskan, "Makna dari fii sabilillahadalah dalam amal yang diridhoi oleh Allah Swt dan pengadaan lapangan kerja merupakan salah satu di antaranya. Dalam al-Quran disebutkan,
و فی اموالهم حق للسائل و المحروم"
Bahwa dalam harta kalian terdapat hak miskin yang meminta (pengemis) dan hak orang mahrum (orang miskin yang tidak meminta-minta). Dan berdasarkan ayat tersebut orang-orang miskin memiliki bagian dalam harta orang kaya, dan jika orang-orang kaya itu ingin memberikan bagian orang miskin itu, mereka dapat memberikannya secara langsung atau melakukan program-program prinsip seperti pengadaan lapangan kerja."

Hujjatul Islam Jafari Niya lebih lanjut menjelaskan bahwa Islam mencela kemalasan dan bahwa pada suatu hari Rasulullah Saw mencium tangan seorang buruh dan berkata bahwa neraka jahannam diharamkan untuk tangan ini (tangan buruh itu). (IRIB Indonesia/MZ)

 
 
 
 

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar