Selasa, 26 April 2011

APAKAH KEBENARAN HAKIKI DAPAT DITEMUKAN TANPA MELIBATKAN "KEHADIRAN" PEMILIK ALAM SEMESTA?


BERBICARA KEBENARAN DALAM SUATU KOMUNITAS 
TIDAK PERNAH BERHASIL 
SELAMA PETUNJUK ALLAH SWT YANG DIWAKILI ORANG-ORANG YANG BENAR JALAN HIDUPNYA DILUPAKAN 
AKIBATNYASETIAP KELOMPOK MENGKLAIM MEREKALAH YANG BENAR
hsndwsp 
Acheh - Sumatra



 Bismillaahirrahmaanirrahiim

 Kita telah sama-sama menyaksikan bahwa persoalan Libanon tidak terlepas dari campur tangan Zionis yang tidak pernah berhenti selama mereka masih dibuka peluang untuk menghancurkan komunitas Islam. Zionis dengan konspirasi jahatnya mendapat support dari orang-orang Islam yang sudah terlanjur masuk perangkap Zionis. Kita juga sama-sama telah mengamati bagaimana zionis bereaksi di dalam komunitas Palestina, justeru sebahagian orang Palestina memiliki sepak terjang yang menguntungkan zionis itu sendiri. Justeru itulah zionis dengan mudahnya menzalimi komunitas Palestina. Silakan lihat di http berikut ini bagaimana orang yang berla gak pemimpin Palestina "memasukkan bola ke gawangnya sendiri":


(http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=32635), apalagi zionis itu disam ping mendapat support kuat AS dan sekutunya, juga bergabung dalam konspirasi jahat rezim-rezim Timur Tengah dan Afrika Utara yang sedang digulingkan rakyatnya masing-masing sekarang ini. Disebabkan konspirasi jahat ini jugalah Persoalan bangsa Palestina tidak pernah selesai

Persoalan Libanon identik juga dengan persoalan Palestina. Kita telah sama-sama menyaksikan ketika zionis memperluas jhajahannya ke Libanon justeru Hizbullahlah yang mampu meluluh lantakkan zionis walaupun zionis mendapat dukungan AS dan sekutunya ditambah konspirasi jahatnya dengan rezim-rezim Arab tadi. Kita telah sama-sama menyaksikan bagaimana konbspirasi jahat zionis merangkul Saat Hariri untuk memfitnah Hizbullah dalam kasus teror terhadap orang tua Saat Hariri. Kita telah sama-sama menyaksikan bagaimana persoalan tersebut dipercayakan kepada suatu pengadilan yang tidak indsependen, dimana pengadilan tersebut juga merupakan konspirasi jahat untuk memfitnah Hizbullah yang menteror orang tua Saat Hariri. Dalam kasus ini kita juga menyaksikan bagaimana lugunya Saat Hariri dengan mudah masuk perangkap zionis, kalau tidak kita katakan dungu.

 Alhamdulillah pemerintah Libanon yang mendapat support Hizbullah terbuka mata hati hingga mampu melihat konspirasi jahat yang sedang dimainkan zionis dengan memanfaatkan pengadilan yang tidak independent tersebut. Realitanya Hizbullah dalam hal ini mewakili "wakil Tuhan" sebagaimana dinyatakan Allah sendiri ketika Dia hendak mengangkat seorang wakil Nya di Bumi, dimana para Malaikat mempertanyakan pertum pahan darah yang bakal diaplikasikan manusia di planet Bumi ini. Komunitas Hizbullah memiliki visi yang ta jam, mampu melihat apa yang terjadi dalam fenomena di Libanon dan bahkan di seluruh Dunia. Sejarah memang membuktikan Hizbullah berasal dari Republik Islam Iran. Apabila Hariri dan pendukungnya yang lugu itu tidak sependapat dengan Hizbullah dengan alasan pengaruh RII, andaikata Hariri tetap dipertahankan sebagai perdana menteri Libanon, kutub yang bersebrangan politiknya kan bisa juga memprotes Hariri yang masuk perangkap zionis, AS dan sekutunya?

Lalu bandingkanlah antara perspektif Hizbullah dan perspektif Hariri, mana yang benar-benar mewakili "kaca mata" Allah, ketika kita berbicara "Wakil Tuhan" di muka Bumi. Berbicara kebenaran juga tidak terlepas dari berbicara kutub "Qabil" dan kutub "Habil" di permukaan planet Bumi ini. Ketika persoalan Habil dan Qabil kita analisa dengan seksama, disana kita dapat menemukan dengan jelas bahwa sejak pertama manusia pecah menjadi 2 kutub, yang satu menempatkan diri sebagai "Penindas", sementara yang lainnya sebagai korbannya. Melalui analisa ke 2 kutub manusia yang berbeda sepak terjang itulah di zaman kita ini terlihat dengan jelas mana kubu Qabil dan mana kubu Habil dan ke kubu mana pula kita menempatkan diri ketika kita melihat 2 kutub yang kontraversi di zaman kita ini. Satu hal yang perlu kita akui bahwa masing-masing kubu atau kutub, mengklaim bahwa merekalah yang benar.

 Justeru itu kita tidak akan pernah menemukan kebenaran sejati andaikata kita fokuskan persoalan tersebut pada platform "Demokrasi". Alasannya kalau kita kumpulkan manusia seluruh Dunia pastikan bahwa hanya 2 milkyar saja yang percaya kepada Pemilikj Dunia dan Alam semesta (Monotheis) dari lebih-kurang7 milyar penduduk Bumi yang Politheis dan Atheis. Dari 2 milyar yang monotheis itu masih banyak juga yang diper tanyakan konsekwensinya. Apabila demokrati tolok ukur kebenaran pastilah melenceng ketika kita mengam bil kesimpulan- Andaikata pemilihan Nabi di Arab dulu diserahkan kepada penduduk Arab yang tidak perca ya kepada Allah swt, dapat dipastikan Muhammad bin Abdullah tidak lebih dari 7 suara sedangkan suara ma yoritas akan dimiliki Musailamatul Kazzab. Selanjutnya lihatlah http beriket ini:

http://achehkarbala.blogspot.com/2009/09/basyar-adalah-makhluk-yang-tidak.html
 
Berdasarkan keterangan diatas terbuktilah bahwa keliru 180 derajat ketika kita mengukur kebenaran suatu fenomena dengan "kaca mata" Demokrasi. Sayang sekali sepertinya kebanyakan politikus Dunia sekarang ini sedang digiring kekancah yang keliru dalam melihat fenomena "kebenaran". Justeru itu mereka tidak akan menemukan kebenaran sejati kecuali mereka terperangkap dalam kebenaran "semu" yang penuh bias.

Demikianlah persoalan sebahagian rakyat Libanon yang ikut-ikutan meniru revolusi di Timur Tengah dan Afrika Utara tetapi tidak memahami "Esensi" daripada revolusi tersebut. Semoga pendukung Saat Hariri sadar bahwa justeu Hariri yang lugu tidak sadar terperangkap dalam konspirasi jahat kaum zionis Dunia.

 Dulu Dunia juga terbagi kepada 2 superpower, Parsi dan Romawi. Sementara negara-negara lainnya tidak terlepas dari tarikan orbit 2 superpower tersebut: (
http://achehkarbala.blogspot.com/2010/01/keturunan-rasulullah-yang-membawa.html). Islam muncul sebagai tunas "Hijau" (Ghurabak) diantara "ranting-ranting yang kering" (2 superpower yang saling kontraversi). Fenomena tersebut juga kita saksikan di zaman kita ini dimana Republik Islam Iran muncul sebagai "Ghurabak" diantara AS dan Sofyet Uni. Ini adalah analisa secara Ideologis bukan analisa demokratis. Persepsi ini dapat ditemukan andaikata kita termasuk dalam kutub yang meyakini bahwa para Utusan Allah (Rasulullah) tanpa kecuali adalah para ideolog. Mereka adalah manusia-manusia yang berwajah "Merah" (pakai istilah Syahid DR Ali Syariati, rausyanfkr yang belum ada duanya yang mampu meluluh lantakkan asumsi Barat yang sebelumnya sangat dikagumi penduduk Dunia).

Sementara para Ilmuwan yang bersatu padu dalam system Taghut yang menzalimi kaum dhuafa adalah manusia-manusia yang "berwajah pucat", dimana mereka kerap terperangkap dengan pandangan "demokrasi" bukan poandangan Tuhan, Pemilik Alam Semesta. Manusia yang berwajah pucat kerap beranggapan keliru terhadap manusia-manusia yang berwajah merah. Sebetulnya ini merupakan persepsi 2 kutup manusia, Qabil dan Habil. Qabil menyulap agama yang dimiliki orang tuanya (Adam dan Hawa) hingga sirna esensinya. Dengan kekuatan yang dimilikinya "Qabil - Qabil" di zaman kita ini mengklaim bahwa merekalah yang benar sementara manusia kutup lainnya memahami pasti bahwa mereka yang mengandalkan kekuatan bukanlah manusia yang benar. Manusia dari kutub yang sadar ini haqqul yakin bahwa "yang menang belum tentu benar, yang benar pasti menang". Qabil memang menang atas Habil tetapi Qabil tidak benar. Kesudahannya Qabil masuk Neraka. Habil dikalahkan Qabil tetapi Habil berada di pihak yang benar. Justeru itu Habil masuk Surga kelak.

Kesimpulannya, marilah kita buka mata kita lebar-lebar pihak manakah yang benar diantara pengikut Saat Hariri dan pengikut Hizbullah di Libanon. Andaikata kita mampu menganalisa dengan benar kutub mana yang benar di Libanon, kita akan mapu juga memahami fenomena mana yang benar diantara AS dan sekutunya dan
Republik Islam Iran serta pendukungnya.
http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=32635

http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=32635

Billahi fi sabililhaq
hsndwsp
di Ujung Dunia


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar