Jumat, 02 Oktober 2009

HSNDWSP TIDAK BERKIBLAT KE ACHEH - SUMATRA DAN TIDAK JUGA KE REPUBLIK ISLAM IRAN, TIDAK KE TIMUR DAN KE BARAT TETAPI KEPADA ALLAH SWT


TERMASUK BANGSA ARAB SEKALIPUN.
TERINSPIRASI REVOLUSI BANGSA PARSI SEKARANG "RAKYAT"  BANGKIT MENENTANG REGIM - REGIM DESPOTIK DI SELURUH KAWASAN TIMUR TENGAH DAN BAHKAN DUNIA.
hsndwsp  
Acheh - Sumatra


SALMAN AL FARAISI ADALAH PENGIKUT SETIA IMAM ALI AS. BELIAU SAMPAI KEDERAJAT IMAN TERTINGGI SETELAH AHLULBAYT RASULULLAH AS DAN PARA IMAM YANG DIUTUS ALLAH PASKA KENABIAN.
PARA IMAM ADALAH HUJJAH ALLAH BUAT MANUSIA
DI KOLONG LANGIT




Bismillaahirrahmaanirrahiim


Sebelum Islam datang ke Acheh, Hindu dan Budha adalah tuan Rumah di Nusantara ini termasuk Acheh didalamnya. . Ratusan tahun kemudian barulah Islam datang dari Gujarat dan Persia. Dari Gujarat saya tidak begitu fokus disebabkan kurang buktinya, sementara dari Persia bukan saja mendapat dukungan Al Qur-an tetapi juga historis dimana hal tersebut dapat kita pelajari Al Qur-an Surah Jum’at ayat 3, sementara secara historis, Islam berkembang di Parsi paska Syahidnya Imam Hussein di Karbala Irak. Syiah di Acheh juga dapat di deteksi melalui “tanda-tanda” bagi orang yang jujur dan ikhlas serta bertanggung jawab.


Adapun dalil naqli tentang perkembangan Islam di Parsi (baca Iran dan Irak sekarang ini), firman Allah: “Wa akharina minhum lamma yal haqu bihim, wahuwal ‘azizul hakim” (QS, 62 : 3)


Setelah memberitahukan kita bahwa apa saja yang ada di Langit dan di Bumi mengucapkan tasbih kepadaNya (sesuai bahasa yang dimiliki makhlukNya masing-masing) (QS, 62 : 1), Allah juga memberitahukan manusia bahwa Dialah yang membangkitkan seorang Rasul ditengah-tengah (kaum) yang “ummi” untuk mengajarkan kepada mereka (baca bangsa Arab) akan ayat-ayat Nya, ”membersihkan” mereka dari Syirik Dan mengajarkan mereka Kitab (baca Qur-an) dan hikmah (baca ilmu yang diturunkan di Masy’arul Haram), dimana mereka sebelumnya benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata (QS, 62 : 2), Allah melanjutkan ayatNya dengan perihal bangsa Parsi (baca Iran dan Irak sekarang ini).


“Dan kepada kaum yang lain yang belum berhubungan dengan mereka, dan sesungguhnya Dia perkasa dan bijaksana” (QS, 62 : 3). “Demikian lah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki Nya dan Allah mempunyai karunia yang besar” (QS, 62 : 4)


Ketika Rasulullah membacakan ayat 3 surah Jum’at tersebut diatas, para sahabat bertanya: ”Siapakah ”kaum yang lain” yang dimaksudkan Allah dalam ayat tersebut, ya Rasulallah?”, Rasulullah meletakkan tangannya ke atas kepala Salman al Faraisi sambil mengatakan: ” Mereka dari golongan inilah. Andaikata Iman itu berada di bintang Suraiya, mereka sanggup menggapainya” Hadist ini terkenal dikalangan Sunni, sepertinya tidak pernah dikomentari oleh Syiah Imamiyah 12 atau Islam Mazhab Jakfari, khususnya bangsa Parsi sebagai bangsa cikal-bakal, kombinasi dari keturunan Rasulullah (baca Imam Hussein) dan bangsa Aria, ras Jerman unggul.


hsndwsp, Acheh - Sumatra yang sedang menggoreskan isi ”pena” internetnya ini tidak memihak kepada Acheh - Sumatra dan juga tidak memihak kepada RII, tidak ke Barat dan tidak ke Timur tapi kepada Allah swt yang telah menu runkan Kitabnya (baca Qur-anul karim). Sungguh beruntunglah manusa yang senantiasa berpedoman kepada petunjuk Allah dan sungguh celaka lah orang-orang yang fanatikbuta, melihat suatu persoalan dengan menge depankan pikiran yang picik, duluan buruk sangka sebelum menelitinya secara cermat sebagaimana lazimnya hamba-hamba Allah lakukan ketika berhadapan dengan fenomena yang masih asing baginya.


Sejak Syahidnya Imam Ali in Abi Thalib, system Islam yang sempat mengalami “pelintiran” oleh orang-orang yang menyingkirkan peranan Hadist Rasulullah yang murni, akibat ambisius kepemimpinannya, Muawiyah menyulap system tersebut hingga esensi Islam tergusur tuntas. “Islam di tangan penguasa Dhalim bagaikan bahtera terbalik dimana seluruh isinya tertumpas habis“, demikianlah lebih-kurang pernyataan Imam Ali bin Abi Thalib as. System Taghut Muawiyah dilanjutkan oleh anaknya, Yazid bin Muawiyah yang ditentang oleh Imam Hussein beserta keluarganya dan sahabat setianya di medan tempur Karbala. System tersebut dilanjutkan oleh keturunan Yazid bin Muawiyah bin Abi Sofyan bin Harb yang terkenal dengan istilah “bani Umaiyah”. Dalam kurun waktu yang demikian lama keturunan Rasulullah senantiasa di fitnah oleh penguasa secara systimatis melalui power system Taghutnya. Siapapun yang berani mengikuti agama Islam versi keturunan Rasulullah akan mengalami nasib yang sama sebagaimana yang dialami keturunan Rasulullah sendiri, di tindas, dianianya, diracun, dibakar hidup-hidup dan dibunuh secara sadis sekali. Kedhaliman yang mereka lakukan atas nama Islam Sunni yang bersatupadu dalam system Bani Umaiyah sebagaimana orang alimpalsu bersatupadu dalam system Hindunesia - Jawa, Arab Saudi, Mesir dan sebagainya dewasa ini, dilanjutkan oleh system Taghut bani Abbaisiyah setelah mereka berhasil meluluhlantakkan system Taghut Bani Umaiyah.


Justru itulah sebahagian pengikut Islam garis keturunan Rasulullah (baca Ahlulbaytnya) terpaksa hijrah ke berbagai negara termasuk ke Acheh - Sumatra, dimana banyak orang Acheh sepertinya masih belum mengenal siapa endatu mereka sesungguhnya. Untuk ini perlu kita buat penelitian kenapa di Acheh - Sumatra banyak sekali nama ahlulbayt Rasulullah seperti Ali, Hassan, Hussein, Jakfar, Musa, Muhammad, Mahdi, Alwi, Kassim, Khadijah, Fatimah, Zainab, Ummi Kalsum, Syaribanun (syahbanu) dan sebagainya. (Silakan baca tulisan DR Hasballah Sa’at untuk lebih jelas lagi). Ada sedikit guyon dari saudara Hasballah bahwa ada orang buta huruf di kawasan Gle Gapui kawasan Acheh - Pidie (Jabbal Ghafur) menamakan ketiga anak lelakinya: Hassan, Maddan dan Hussein. Menurut DR Hasballah Sa’at yang pernah terperangkap sebagai Menteri dalam system Taghut Hindunesia itu orang tua yang buta huruf itu mengira nama 2 cucu Rasulullah “Hasan dan Hussein”, “dan” nya sebagai nama juga hingga nama anak ke 2 di beri nama “Maddan”. Padahal dan itu kan kata hubung atau kata sambung. Demikianlah pengaruh nama cucu Rasulullah atau Ahlulbayt di Acheh. Sayangnya sepertinya orang Acheh sekarang mengingkari realitanya. Ada sedikit yang perlu dikoreksi tulisan DR Hasballah tersebut dimana kisah tentang Muhammad Hanafiah yang lain ibunya dengan Imam Hussein adalah keliru. Hal seperti itulah yang memerlukan penelitian, andaikata Acheh -Sumatra sudah terlepas dari penjajahan Hindunesia. Pastinya penelitian seperti itu terabaikan selama Penguasa Hindunesia masih bercokol di Tanah Rencong itu.


Imam Ali as tidak pernah memadukan Fatimah az Zahara sebagaimana Rasulullah juga tidak pernah memadukan Sity Khadijah bin Khuwailid. Tidak ada seorang wanitapun di jaman Rasulullah yang setara dengan Khadijah bin Khuwailid. Rasulullah dan Khadijah adalah pasangan yang ideal. Adalah hal yang sama Allah menganugerahkan seorang wanita pilihan kepada Imam ‘Ali bin Abi Thalib, Fatimah az Zahara bin Muhammad Rasulullah saww. Kapan juga Rasulullah berpoligami? Setelah meninggalnya Khadijah. Kapan Imam ‘Ali berpoligami? Setelah meninggalnya Fatimah. Justru itu sangat keliru ketika ada anggapan bahwa Fatimah merasa tidak enak ketika Muhammad bin Hanafiah ditempatkan atas paha kanan Rasulullah sementara Imam Hussein di paha kiri. Padahal Hanafiah belum exist ketika itu.


Disamping “jejak nama” kita juga menemukan jejak lainnya di Acheh - Sumatra seperti trian “Sedati” yang memukul dada. Ini adalah symbolisasi daripada kesedihan peristiwa Karbala. Saya yakin andaikata Acheh - Sumatra merdeka, akan ada pengembangan daripada tari Sedati tersebut, diantaranya tidak lagi kita peragakan tangannya kebawah serta membungkuk sepertinya terkesan bahwa bangsa Acheh - Sumatra akan menyerahkan kembali kekuasaannya kepada pihak musuh setelah setiap kali berjuang dengan semangat bajanya. Lihat akhir perjuangan Abu Daud di Beureueh, Beureunuen, Acheh - Pidie dan lihat juga perjuangan DR TGK Hasan Muhammad di Tiro, Acheh - Pidie juga, sepertinya akan mengalami nasib yang sama. Helsinki itu macam “Lamtehnya” Abu di Beureueh, kendatipun bukan gagasannya tapi pengikutnya yang terperangkap tipudaya musuh.


Sehubungan dengan hal ini semua, dapat diikuti penjelasan selanjutnya: ”Alif Lam Mim, Bangsa Rumawi telah dikalahkan di negara tetangga. Namun setelah mereka mengalami kekalahan, mereka akan mengalami kemenangan kembali pada sepuluh tahun kemudian. Soal kemenangan pertama dan kemenangan terakhir adalah urusan, Allah. Disa’at itu orang-orang beriman merasa gembira” (QS. Ar Rum 1 - 4)


Secara historis kita bingsa Acheh dapat menelusuri bagaimana bangsa Parsi itu mendapat pernyataan Allah sendiri yang dikuatkan lagi oleh Rasul Nya ketika para sahabat menanyakan pengertian daripada ayat 3 Surah Jum'at tersebut. Ketika bangsa Arab mengalahkan Parsi, mereka membawa tawanan Mada'in (Taisfun) itu ke Madinah. Umar bin Khattab memerintahkan kesemua tawanan wanita dijadikan hamba Muslim. Imam 'Ali melarang dan berkata bahwa puteri - puteri dikecualikan dan perlu dihormati. Dua orang putri yang cantik bernama Syahbanu dan Syahzanan adalah putri dari Raja Yardigerd yang harus dimuliakan. Umar bertanya kepada Imam 'Ali apa yang seharusnya dilakukan. Imam menjawab bahwa setiap mereka diperkenankan memilih suami dari orang Islam. Dari itu Syahzanan memilih Muhammad bin Abubakar, orang yang telah ”dibesarkan” oleh Imam 'Ali. Sedangkan Syahbanu memilih Imam Hussein bin 'Ali, cucu Rasulullah saww sendiri. Dari hasil perekawinan Cucu Rasulullah Hussein bin 'Ali dengan Syahbanu, putri Parsi inilah kelak yang membawa keturunan cikal - bakal dalam bangsa Parsi yang dapat kita saksikan sampai hari ini, dimana mereka menggunakan sorban hitam sementara keturunan non Rasulullah mengenakan sorban putih. Hal ini memang sangat unik. Saya katakan unik disebabkan tidak ada seorangpun dari keturunan non Rasulullah yang memprotes persoalan sorban hitam dan putih itu, kecuali sepertinya suatu keyakinan juga agar identitas keluarga Rasulullah dapat di lestarikan sampai kiamat dunia. Disamping itu di Parsi (baca Iran dan Irak) juga terdapat gelar Ayatullah yang berarti ayat Allah untuk para ulama, dimana gelar seperti itu tidak kita dapati di kawasan lainnya. Dengan kata lain gelar tersebut hanya disandang oleh ulama-ulama Syi'ah Imamiyah 12 sebagaimana juga terdapat di Libanon sekarang.


Kemuliaan bangsa Parsi nampaknya difasilitasi oleh perpaduan keluarga Rasul yang 'Arabiy dengan bangsa Arya, ras unggul Jerman. 'Ali Zainal 'abidin bin Hussein bin 'Ali kembali ke Parsi, negeri bundanya Syahbanu. Setelah keluarga Rasul dibantai di Karbala, Kesimpulan apa yang dapat kita petik dari realita ini adalah kemuliaan yang disandang bangsa Parsi setelah mereka menerima Imam ’Ali pada masa hayat Nabi, bukan pada pemerintahan Harun Ar Rasyid sebagaimana disangkakan orang. Salman al Faraisi adalah seorang dari pengikut Imam ’Ali yang sangat setia dan ikhlas. Dia sampai ke derjah iman yang tertinggi setelah para Ahlulbayt dan para Imam yang diutus Allah paska berakhirnya era kenabian.


Billahi fi sabililhaq
hsndwsp
di Ujung Dunia


SEJARAH PERJALANAN SALMAN AL FARISI MENEMUI KEBENARAN



Bismillaahirrahmaanirrahiim
Kelahiran dan pertumbuhannya:
Salman Al-Farisi r.a. lahir di suatu desa bernama Jiyan di wilayah kota Aspahan - Iran, yaitu antara kota Teheran dengan Syiraz. Setelah Salman r.a. mendengar kebangkitan Rasulullah saw. dia langsung berangkat meninggalkan Persia mencari Nabi saww. untuk menyatakan keislamannya. Dalam suatu kisah, Salman menceritakan otobiografinya sbb:

'Saya adalah anak muda Persia yang berasal dari suatu desa di kota Aspahan yang bernama Jiyan. Ayah saya adalah kepala desa dan orang terkaya serta terhormat di desa itu. Dari sejak lahir, saya adalah orang yang paling disayangi nya, kasih sayangnya kepada saya semakin hari semakin kental, sehingga saya di kurung di rumah bagaikan gadis pingitan. Saya termasuk orang yang takwa dalam agama Majusi, sehingga saya merasakan nilai api yang kami sembah itu dan saya diberi tanggungjawab menyalakannya, jangan sampai padam sepanjang hari dan sepanjang malam.

Ayah saya mempunyai ladang yang luas yang memberi kami penghidu pan yang cukup. Ayah saya selalu mengurusi dan memanennya sendiri. Di suatu hari, dia tidak bisa pergi ke ladang, lalu dia mengatakan kepada saya: "Anakku! Ayah sibuk dan tidak bisa pergi ke ladang hari ini, sebab itu pergilah urusi ladang tersebut menggantikan Ayah." Lalu saya berangkat menuju ladang kami. Di tengah perjalanan, saya melewati sebuah gereja Kristen dan mendengar suara mereka yang sedang beribadah di dalam. Hal itu menarik perhatian saya karena saya tidak pernah tahu sedikitpun tentang agama Kristen dan agama lainnya, karena sepanjang usia saya selalu dipingit di dalam rumah oleh orangtua saya.

Setelah mendengar suara itu, saya masuk ingin mengetahui secara dekat apa yang sedang mereka lakukan. Setelah saya memperhatiakan apa yang mereka kerjakan, saya merasa tertarik dengan cara mereka beribadah, malah saya tertarik dengan agama mereka. Saya mengatakan dalam hati saya: "Sungguh agama mereka ini lebih baik dari agama kami". Saya tidak keluar dari gereja tersebut sampai matahari terbenam sehingga saya tidak jadi pergi ke ladang kami. Saya menayakan kepada mereka, 'Dari mana asal agama ini?' Mereka menjawab, 'Dari daerah Syam.'

Setelah malam menjelang, saya pulang ke rumah. Ayah saya langsung menanyakan kepada saya apa yang telah saya lakukan. Saya menjawab, 'Hai Ayahku! Saya melewati sekelompok orang yang sedang beribadah di dalam gereja, lalu saya tertarik dengan cara mereka beribadah. Saya berada bersama mereka sampai matahari terbenam.' Ayah saya langsung marah mendengar tindakan saya dan dia mengatakan, 'Hai anak ku! Agama mereka itu tidak baik, agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik dari agama itu.' Saya menjawab, 'Tidak ayah! Agama mereka lebih baik dari agama kita.' Dari perkataan saya itu, ayah saya takut kalau-kalau saya akan murtad, lalu dia mengurung saya di rumah dengan mengekang kaki saya.'

Berangkat ke negeri Syam:

Ketika saya mendapat kesempatan, saya mengirim pesan kepada kaum Kristen itu. Saya mengata kan,'Bila ada rombongan yang akan berangkat ke negeri Syam, tolong saya diberi tahu.' Ternyata tidak berapa lama ada satu rombongan yang akan berangkat ke negeri Syam. Merekapun langsung memberitahukannya kepada saya. Saya berusaha membuka kekang kaki saya dan saya berhasil membukanya. Saya berangkat bersama mereka secara sembunyi dan akhirnya kami sampai di negeri Syam.

Setibanya di negeri Syam, saya bertanya, 'Siapa orang nomor satu dalam agama ini?' Mereka men jawab, 'Uskup pengasuh gereja.' Saya mendatanginya dan mengatakan kepadanya, 'Saya tertarik dengan agama Kristen ini dan saya ingin mengikuti dan membantumu sekaligus belajar dari kamu dan beribadah bersama kamu.' Dia menjawab, 'Silakan masuk!' Saya pun masuk dan menjadi pemban tunya.

Belum berlangsung lama, saya menilai bahwa orang tersebut adalah orang jahat, dia menyuruh pengikutnya untuk berderma dan mengiming-imingi mereka dengan pahala yang sangat besar. Setelah mereka memberikannya dengan niat fi sabilillah, ternyata dia monopoli untuk dirinya sendiri, tidak diberikan kepada fakir miskin sedikitpun. Dia berhasil mengumpulkan sebanyak tujuh karung emas. Melihat keadaan itu, saya menaruh kebencian yang luarbiasa terhadapnya.

Ketika dia meninggal, kaum Kristen berkumpul untuk menguburkannya, ketika itu saya mengatakan kepada mereka, 'Sesungguhnya teman kamu ini adalah orang jahat, dia menyuruh kamu bersedekah dan mengiming-imingkan pahala besar, setelah kalian kumpulkan, dia monopoli untuk dirinya sendiri, dia tidak berikan sedikitpun kepada fakir miskin.' Mereka menjawab, 'Darimana kamu tahu?' Saya menjawab, 'Mari saya tunjukkan kepada kamu sekarang juga tempat penyim panan harta itu' Mereka mengatakan, 'Ayo tunjukkan kepada kami tempatnya.' Saya pun menun jukkannya dan mereka mene mukan tujuh karung emas dan perak. Setelah mereka melihat secara langsung, mereka mengatakan, 'Demi Allah kita tidak akan menguburkannya, kita harus menyalib dan melemparinya dengan batu.'

Tidak lama kemudian mereka mengangkat orang lain sebagai penggantinya, lalu saya mengikutinya. Sungguh saya belum pernah mendapatkan orang yang paling zuhud dan mengharap akhirat melebihi orang itu. Ibadahnya yang berlangsung siang malam membuat saya menyenanginya, lalu saya hidup bersama dia beberapa tahun. Ketika menjelang wafatnya, saya mengatakan kepadanya, 'Ya Polan! Kepada siapa engkau pesankan saya dan dengan siapa saya akan hidup sepeninggal kamu?' Dia menjawab, 'Ya anakku! Terus terang saya tidak melihat ada orang yang tingkat keagamaannya seperti kita, kecuali satu orang di kota Musol yang bernama Polan. Dia tidak merubah-rubah dan mengganti- ganti ayat Allah. Oleh sebab itu carilah orang itu.'

Sepeninggal teman saya itu, saya pergi menyusul orang tersebut ke kota Musol. Setibanya di rumah beliau saya menceritakan kisah saya dan mengatakan kepadanya, 'Ketika si Polan hendak meninggal dunia dia memesankan kepada saya untuk menyusul kamu, dia memberitahukan kepa da saya bahwa kamu berpegang kuat dengan kebenaran. Dia mengatakan kepada saya, kalau begi tu, tinggallah bersama saya. Sayapun tinggal bersama beliau, dan memang betul dia adalah orang baik.

Tidak lama kemudian, diapun menemui ajalnya. Ketika hendak meninggal saya bertanya kepada nya, 'Ya Polan! Janji Tuhan sudah dekat kepada Anda, Anda tahu kondisi saya sebenarnya, oleh sebab itu kepada siapa Anda memesankan saya dan siapa yang harus saya ikuti?' Dia menjawab, 'Hai anakku! Terus terang saya tidak melihat ada orang yang tingkat keagamaannya seperti kita kecuali seorang di Nasibin yang bernama Polan, susullah dia ke sana'

Setelah orang itu bersemayam di liang lahad, saya berangkat ke Nasibin mencari orang yang disebut kan itu. Saya menceritakan kepadanya kisah saya dan pesan teman saya sebelumnya. Dia mengata kan, 'Tinggallah bersama saya.' Saya pun tinggal bersama dia dan ternyata memang dia adalah orang baik seperti dua orang teman saya sebelumnya. Akan tetapi tidak lama kemudian diapun menemui ajalnya.

Ketika menjelang maut, saya bertanya kepadanya, 'Engkau telah mengetahui kondisi saya sebenar nya. Oleh sebab itu kepada siapa engkau memesankan saya?' Dia menjawab, 'Ya anakku! Terus terang saya tidak menemukan ada orang yang tingkat keagamaannya seperti kita kecuali seorang di kota Amuriah yang bernama Polan, carilah orang itu.' Saya pun mencarinya dan saya menceritakan kisah saya kepadanya. Dia menjawab, 'Tinggallah bersama saya.' Saya pun tinggal bersama dia. Ternyata memang dia orang baik seperti yang dikatakan orang sebelum nya. Selama saya tinggal bersama dia saya berhasil mendapatkan beberapa ekor sapi dan harta kekayaan lainnya. 

Pendeta Kristen memesan Salman mengikuti Nabi:

Kemudian orang tersebutpun menemui ajalnya seperti yang sebelumnya. Ketika menjelang kematian nya, saya mengatakan kepadanya, 'Anda mengetahui kondisi saya sebenarnya, oleh sebab itu kepada siapa engkau akan pesankan saya atau apa pesan Anda untuk saya lakukan?' Dia men jawab, 'Hai anakku! Terus terang saya tidak menemukan seorang-pun di muka bumi ini yang masih berpegang dengan agama kita, namun waktunya sudah tiba, seorang nabi yang berasal dari keturunan Nabi Ibrahim akan muncul di tanah Arab, dia akan hijrah dari tanah tumpah darahnya ke daerah yang penuh dengan pohon kurma di antara dua gunung, dia mempunyai tanda kenabian yang sangat jelas, dia mau memakan hadiah tetapi tidak mau memakan sedekah, diantara bahunya terdapat cap kenabian. Jika Anda bisa menyusul ke negeri itu, silakan.' Tidak lama kemudian diapun meninggal dunia, sayapun tinggal di kota Amuriah untuk beberapa waktu. 
Datang ke jazirah Arabia:

Ketika rombongan pedagang dari Suku Kalb - Arab - lintas di Amuriah, saya berkata kepada mere ka, 'Jika kalian sanggup membawa saya ke tanah Arab, saya berikan kepada kalian sapi dan harta kekayaan saya ini.' Mereka menjawab, 'Ya, kami sanggup membawa kamu.' Sayapun memberikan sapi dan kekayaan saya tersebut kepada mereka dan merekapun membawa saya. Ketika saya sampai di Wadilqura, mereka menipu saya dan menjual saya kepada seorang yahudi dan memperlakukan saya sebagai hambanya.

Suatu ketika, saudaranya dari suku Quraizah datang menemuinya, lalu dia membeli dan membawa saya pergi ke Yasrib (Madinah). Disana saya melihat pohon kurma yang disebut oleh teman saya yang di Amuria, dari diskripsi yang disampaikan teman saya itu, saya tahu persis bahwa inilah kota yang dimaksudkan itu. Sayapun tinggal brsama tuan saya di kota itu. Ketika itu Nabi saww. sudah mulai mengajak kaumnya di Mekah untuk masuk Islam, namun saya tidak mendengar apa-apa dari kegiatan Nabi itu karena kesibukan saya sehari-hari sebagai budak.

Memeluk Islam:
Tidak berapa lama, Rasulullah saww. pun hijrah ke Yasrib. Demi Allah ketika saya berada di atas sebatang pohon kurma milik tuan saya, sedang memberesi kurma itu, sedangkan tuan saya duduk dibawah, seorang saudaranya datang dan menga takan kepadanya, 'Celaka besar atas bani Qilah, mereka sekarang sedang berkum pul di Kuba, menunggu seorang yang mengklaim dirinya sebagai seorang Nabi akan datang hari ini.' Setelah saya mendengar pembicaraan mereka itu, saya lang sung merinding kayak demam, saya gemetar, sehingga saya khawatir akan jatuh ke tuan saya. Saya segera turun dari pohon kurma tersebut lalu mengatakan kepada tamu itu, 'Apa tadi yang Anda katakan? Tolong ulangi katakan kepada saya!' Tuan saya langsung marah dan memukul saya sekuat- kuatnya lalu mengatakan, 'Urusan apa kamu dengan berita itu? Kembali teruskan pekerja anmu!'

Di sore harinya, saya mengambil sedikit kurma yang telah saya kumpulkan sebelumnya, lalu saya berangkat ke tempat Nabi tinggal. Ketika itu saya mengatakan kepada Rasulullah, 'Saya mende ngar bahwa Anda adalah orang saleh, datang bersama teman-teman dari kejauhan memerlukan sesuatu. Di tangan saya ada sedikit sedekah, nampaknya kamu lebih pantas menerimanya.' Lalu saya dekatkan kurma itu kepada mereka. Rasulullah saww. mengatakan kepada para Sahabat, 'Ma kanlah' sedang kan dia sendiri tidak memakannya. Saya mengatakan dalam hati saya, 'Ini dia satu tanda kenabian nya.'

Kemudian saya kembali ke rumah dan mengambil beberapa buah kurma, ketika Nabi saww. berang kat dari Quba ke Madinah, saya mendatanginya dan mengatakan kepadanya, 'Tampaknya Anda tidak memakan sedekah, ini ada sedikit hadiah saya bawa sebagai penghormatan kepada Anda.' Rasulul lahpun memakannya dan menyuruh sahabat untuk ikut memakannya, lalu mere ka makan bersama-sama. Dalam hati saya berkata, 'Ini dia tanda kenabian kedua' 


Ketika Nabi berada di Baqi Gargad, ingin menguburkan seorang sahabat, saya mendatangi beliau dan melihat beliau sedang duduk memakai dua selendang. Saya mengucapkan salam kepadanya, kemu dian saya berjalan berputar sekeliling beliau untuk melihat punggungnya, barang kali saja saya dapat melihat cap seperti yang dikatakan oleh teman saya di Amuriah.

Setelah Nabi melihat bahwa saya memperhatikan punggung beliau, dia mengerti tujuan saya, lalu dia mengangkat se lendangnya, ketika itu saya melihat ada cap, lalu saya yakin bahwa itulah cap kena bian, lalu saya memeluk dan mencium beliau sambil menangis. Melihat hal itu Rasulullah saww. bertanya, 'Apa gerangan yang terjadi pada kamu?' Saya pun menceritakan kisah saya dan beliau sangat kagum dan beliau menginginkan agar saya perdengarkan kepada para sabahat, lalu saya mem perdengar kannya. Mereka semua kagum dan gembira yang tiada taranya.

Salman masuk Islam dan dimerdekakan, seterusnya menjadi seorang sahabat yang sangat mulia. Mu dah-mudahan Allah akan mempertemukan kita kelak dengannya di pancutan Kautsar.

Dalam satu riwayat, disebutkan bahwa Rasulullah saww. pernah meletakkan tangannya di atas Salman, lalu bersabda: "Seandainya Iman itu berada nun jauh di bintang surayya, orang-orang dari kalangan ini sanggup menggapainya".


Baca juga yang ini:  http://aceh-darussalam.blogspot.no/2013/05/yang-bernama-aceh.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar