Rabu, 02 September 2009

ALLAH SENANTIASA MENGULANGI KALIMAHNYA INI: "AFALA TA'QILUN? . . . . . . . AFALA YATAZAKKARUN ?"


Bismillaahirrahmaanirrahiim


 
ISLAM ITU RAHMATAN LIL'ALAMIN.
DARI ITU BUKANLAH SYSTEM ISLAM BILA REALITANYA PENGUASA HIDUP MEWAH
SEMENTARA MAYORITAS PENDUDUKNYA HIDUP MORAT-MARIT. PENGUASA TERSEBUT ADALAH MUNAFIQ KENDATIPUN
MEREKA MENGAKU BERAGAMA ISLAM
Ali al Asytar
Acheh - Sumatra


BANYAKNYA HADIST PALSU MEMBUAT BANYAK ORANG TERPERANGKAP DALAM KEPALSUAN AGAMANYA.
HAL INI TERJADI DISEBABKAN SEPENINGGAL WAZIR NABI,
IMAM ALI BIN ABITHALIB, NEGARA DIKUASAI MUSUH IMAM, MUAWIYAH BIN ABI SOFYAN. BELIAU INILAH YANG BERFUNGSI SEBAGAI MESIN PEMALSUAN
HADIST NABI SUCI
MELALUI TANGAN JAHIL ABU HURAIRAH CS

Syiah Imamiah 12 atau Islam mazhab Jakfari tidak pernah mencaci sahabat yang benar-benar beriman, kecuali sahabat-sahabat yang berhak dicaci menurut Allah dan RasulNya. kebanyakan orang terperangkap dengan hadist palsu "made in" Abu Hurairah yang dirawi atas perintah Muawiyah yang begitu ”baik” memahami ayat mawaddah, tapi meracuni Imam Hasan, cucu Rasulullah. Tidakkah kita berpikir?

Sahabat macam Muawiyah cs, tidak pantaskah kita kutuk? Kalau anda menjawabnya ”tidak” tepat sekali anda masuk perangkap Muawiyah dan Yazid anak Muawiyah, pembantai keturunan Rasulullah di Karbala. Tidakkah Yazid pantas dicaci? Muawiyah bin Abi Sofyan dan Yazid bin Muawiyah adalah prototype sahabat Rasulullah yang munafiq. Kalau hal ini mampu kita analisa baru kita mampu memahami bahwa hadist yang mengatakan bahwa semua sahabat Rasulullah itu baik, adalah palsu. Demikian juga palsunya hadist yang mengatakan sahabat rasulullah itu bagaikan bintang-bintang. Yang benar hanya sebahagian kecil sahabat Rasulullah saja umpama bintang-bintang sementara kebanyakan berpatah balik sepeninggal Rasulullah saww. Sahabat Rasulullah umpama bintang-bintang adalah sahabat yang setia dan cinta kasih kepada ahlulbayt atau keluarga Rasulullah. Mereka itu adalah Salman Al Farisi, Abu Dzar Ghifari dan Al Miqdad.

Ayat mawaddah (keluarga Nubuwah)
Allah berfirman: Katakan (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah apapun kepada kalian dalam dakwah ini kecuali kecintaan kepada keluargaku.” (Surat Asy- yura: 23)

Ayat ini turun sebagai peringatan kepada ummah Muhammad bahwa banyak sahabat yang bukan saja tidak menaruh kasing sayang terhadap keluarganya setelah Rasulullah wafat tapi juga, meracuni, membantainya dan membunuh. Contohnya Muawiyah meracuni Imam Hassan cucu Rasulullah, Yazid bin Muawiyah membantai keluarga Rasul di Karbala, Irak. Orang-orang yang bersekongkol dalam system Bani Umaiah dan Abbaisiah meracuni, membunuh, menganianya, memperkosa dan membantai siapa saja yang mengikuti agama Islam keturunan Rasulullah, sementara mereka masih mengakui beragama Islam.

Justru itulah siapapun yang menjadi presiden baik di a Asia maupun di Afrika sama sepakterjangnya dengan penguasa Bani Umaiah dan Bani Abbaisiah yang mengaku Islam tapi tidak tundukpatuh kepada Allah dan RasulNya. Penguasa dan Orang yang bersekongkol dalam system kebanyakan di Asia dan Afrika mengaku beragama Islam tapi mereka tidak beriman dengan ayat Allah surah al Maidah, 44, 45 dan 47. Akibatnya para koruptor bebas tanpa hukuman memanipulasi kekayaan alam yang diperuntukkan Allah buat seluruh penduduk yang mendiami kawasan tersebut. Umumnya penguasa di Asia dan Afrika hidup mewah sementara mayoritas rakyatnya hidup morat-marit. Adakah pemimpin Islam yang yang tabiatnya macam cangkul yang menimbun kehadapannya saja? Tidakkah kita arif berpikir serta mampu menganalisa apa yang dimaksudkan Allah bahwa Islam itu rahmatan lil 'alamin? Kenapa dalam system Hindunesia itu rakyat jelata senantiasa hidup morat-marit sejak dari Jaman Suharto sampai hari ini? Sekali lagi. . . . .Islamkah yang demikian? Masih banggakah kita mengatakan bahwa Indonesia berpenduduk mayoritas Islam? Kepada siapakah mereka tundukpatuh/menyembah? Kepada Allah dan Rasulnya atau kepada penguasa dhalim?

Kalau kita analisa Hadist Bahtera (Hadist Ittrah Nabi suci): "Ahlulbaytku umpama bahtera Nuh, siapa yang naik selamat dan siapa yang tidak naik tenggelam". Kita dapat menarik kesimpulan bahwa siapapun yang mengaku beragama Islam tapi tidak termasuk pengikut Ahlulbayt Rasulullah, mereka itu akan masuk Neraka kelak (nauzu billahi min zalik). Analisa kita selanjutnya system Thagut macam Hindunesia, Irak di jaman Saddam, Iran di jaman Shah Redha Palevi dan sebagainya, adakah termasuk bahtera yang sama dengan bahtera Ahlulbayt Rasulullah atau bahtera Muawiyah dan Yazid bin Muawiyah. Kalau system yang sama dengan bahtera Ahlulbayt Rasulullah, penumpangnya mendapat Rahmat semuanya tanpa kecuali. Sebaliknya yang kita saksikan dalam system Hindunesia, sebahagian penumpangnya hidup mewah sementara mayoritas penumpangnya hidup morat marit. Lalu selanjutnya kita pertanyakan orang-orang alim dalam bahtera Hindunesia dan semacamnya, adakah mereka menjadi pembela kaum dhuafa dengan ilmu agama yang segudang mereka miliki? Bukankah mereka itu hanya dimulut saja mengaku tidak ada Tuhan selain Allah sementara dalam sepak terjangnya sehari-hari menuhankan Penguasa zalim yang menzalimi ekonomi kaum dhuafa akibat tidak menghukum para koruptor dengan hukum yang diturunkan Allah (QS, al Maidah 44, 45 dan 47)

Kenapa Muawiyah dan Yazid anaknya tidak mencintai keluarga Rasulullah? Kenapa mereka tega membunuh, meracuni dan membantai keluarga Rasulullah?. Jawabnya adalah: Ini semua merupakan sebagai follow-up dari sepakterjang orang-orang yang ambisius kekuasaan hingga berani membuat rapat gelap melawan ketentuan Rasulullah sendiri yang telah diputuskan Allah dan Rasulnya di Ghadirkgum agar ummahnya mendapat bimbingan Imam-imam yang di utus Allah dan Rasulnya. Siapakah mereka itu hingga diikuti teladannya oleh Muawiyah dan anaknya Yazid dan bahkan penguasa-penguasa lanjutannya hingga sekarang ini? Tidak pantaskah mereka itu kita kutuk? Selidikilah, siapa mereka itu agar terbuka cakrawalka berfikir tidak jumut dan fanatikbuta. Allah berfirman: "Dan diantara manusia ada yang mengatakan: "Kami telah beriman kepada Allah dan hari akhirat", padahal mereka sesungguhnya bukanlah orang-orang yang beriman. ¤Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. # Dalam hati mereka ada penyakit (1), lalu Allah menambah penyakitnya itu, dan mereka akan diberi siksaan yang pedih (kelak) karena mereka mendustakan kebenaran. Bukankah Muawiyah bin Abi Sofyan, Yazid bin Muawiyah, semua penguasa Bani Umaiah dan Abbaisiah serta kebanyakan penguasa di jaman kita sekarang ini baik di Asia dan Afrika mengaku beragama Islam? Kalau mereka mengaku beragama Islam, bukankah Islam itu rahmatan lil alamin? Rahmatan lil 'alamin artinya dengan kepemimpinan orang tersebut yang mengaku beragama Islam harus mendapat rahmat bagi seluruh penduduk dalam kekuasaan mereka tidak kecuali apapun latarbelakang agama mereka. Realitanya Muawiyah meracuni cucu Rasulullah, mencaci dan memfitnah Imam Ali sebagai Ahlulbayt Rasulullah. Yazid membantai keluarga Rasulullah di Karbala. Penguasa bani Umaiah dan Abbaisiah membunuh dan menganianya siapapun yang menampakkan diri sebagai pengikut Ahlulbayt Rasulullah. Justru itulah para pengikut Ahlulbayt Rasulullah sebahagiannya hijrah keberbagai negara termasuk ke Acheh - Sumatra, dimana bekasnya terbaca sampai sekarang, kendatipun orang-orang fanatik buta mengklaim seolah-olah Syiah itu pendatang baru di Acheh.

Orang-orang fanatikbuta menuduh saya menjerumuskan kaum Muslimin kepada kesesatan agama Syiah. Apakah mereka itu tidak mampu berpikir tentang benar tidaknya tulisan saya itu? Apakah tulisan saya itu tidak didukung Qur-an dan Hadist Ittrah Nabi Suci? Kalau tulisan saya menurut Qur-an dan Hadist Ittrah Nabi suci bermakna bukan saya yang berbicara Tapi Allah dan Rasulnya. Saya hanya sebagai penyampai saja sesuai dengan keyakinan saya sejak di Acheh - Sumatra. Alhamdulillah saya memahami Sunni dan Syiah sementara pihak yang menuduh saya itu hanya memahami Sunni saja, itupun Sunni fanatikbuta bukan Sunni yang mau berafala ta’qilun dan afala yatazakkarun.

Selanjutnya realitanya mereka tidak mengenal Ulama warasatul Ambiya. Yang mereka kanal hanyalah ulama yang berjingkrak-jingkrak dalam ketiak penguasa zalim dimasa Muawiyah, Yazid dan penguasa Bani Umaiah lainnya serta penguasa Bani Abbaisiah. Mereka keliru 180 derajat ketika mereka menduga bahwa Rasulullah saww menyuruh ummatnya ikuti khalifah 4. Bagaimana mungkin adanya "hadist" itu sementara Rasulullah hanya mengangkat Imam Ali as di Ghadirkhum sebagai wazirnya, wakilnya, khalifahnya dan disaksikan oleh Abukakar, Umar dan Usman sendiri. Terkenal ucapan Umar: ”Tahniah ya Abbal Hassan, anda telah menjadi pemimpin kaum Muslimin dan Muslimat”

Betapa fatalnya kalimat berikut ini:
”Bahkan ALLAH telah menurunkan ayat yang membenarkan usulan Umar kepada Nabi, tentang bentuk hukuman terhadap pemimpin musyrik yg tertawan yg berbeda dari usulan Nabi & Abu Bakar”.(Tarmizi Ag alias Mukarram). Ayat mana yang dia maksudkan? Inilah "hikayat musang" yang kumaksudkan. Masak Umar lebih pandai daripada Rasulullah, betapa ngerinya cara berfikir orang seperti ini.” Justru Umar me nentang Nabi suci ketika hendak menulis wasiat saat berbaring di ranjang kewafa tannya. Justru Umar memprotes Nabi ketika Nabi mengangkat Usamah sebagai ko mandan prang. Justru Umar menyakiti hati Fatimah Az Zahara, putri kesayangan Ra sulullah. Hal ini bertentangan dengan hadist beriket ini:

"Fahtimah belahan jiwaku, maka barangsiapa yang membuatnya marah berarti dia te lah membuatku marah." (Shahihu l`Bukhari 2/308). Rasulullah juga berkata: "Dia (Fathimah) adalah belahan jiwaku, maka barang siapa yang mencemaskannya berarti dia telah mencemaskan diriku, dan barangsiapa yang manyakitinya berarti dia telah menyakiti diriku". (Shahihul`Bukhari 3/265).

Sebagai penutub ikutilah alinia-alibia beriket ini:

Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya pada Bab Manaqib Umar bin Khattab (Keistimewaan Umar bin Khattab) sebagai berikut: Ketika Umar menderita karena tikaman, beliau merintih kesakitan. Ibnu Abbas datang menghiburnya sambil ber kata, "Ya Amir al-Mukminin, apabila memang sudah waktunya tiba, bukankah eng kau adalah sahabat Rasulullah yang baik. Ketika kau berpisah dengannya, bukankah dia juga rela padamu?. Kemudian kau telah bersahabat dengan Abu bakar dengan per sahabatan yang baik, lalu kau berpisah dengannya juga dalam keadaan dia rela padamu. Kau juga bersahabat dengan yang lainnya dengan baik. Jika seandainya kau harus meninggalkan mereka, maka mereka akan rela padamu."

Tidak lama berselang Umar kemudian menjawab, "Adapun tentang persahabatan dan kerelaan Rasulullah yang kau sentuh tadi, maka itu adalah anugerah yang Allah telah berikan padaku. Persahabatan dan kerelaan Abu Bakar yang kau katakan tadi, itu juga adalah anugerah yang Allah limpahkan padaku. Namun apa yang kau saksikan dari rasa khawatir pada wajahku adalah semata-mata karena kamu dan sahabat-sahabatmu. Demi Allah, apabila aku punya segunung emas maka aku akan korbankan demi dapat terselamat dari azab Allah sebelum aku datang menjumpai-Nya.(Shahih Bukhori jil. 2 hal. 201.)

Sejarah juga mencatat kata-kata Umar berikut: "Oh, alangkah beruntungnya apabila aku hanyalah seekor kambing milik keluargaku. Digemukkannya aku seperti yang mereka suka kemudian menjadi lahapan orang yang menyenanginya. Mereka iris sebagian dariku dan dipanggangnya sebagian yang lain. Kemudian aku dimakan dan dikeluarkan pula sebagai najis. Oh, kalaulah aku seperti itu dan tidak menjadi manusia.(Minhaj as-Sunnah oleh Ibnu Taimiyah jil. 3 hal.131; Hilyat al-Auliya' Oleh Ibnu Nu'aim jil. 1 hal. 52.)

Sejarah juga mencatat kata-kata Abu Bakar berikut: "Ketika Abu Bakar melihat seekor burung hinggap di suatu pohon, dia berkata, berbahagialah engkau duhai burung. Engkau makan buah-buahan dan hinggap di pohon, tanpa ada hisab atau balasan. Aku lebih suka kalau aku ini adalah sebatang pohon yang tumbuh di tepi jalan, kemudian datanglah seekor onta lalu memakanku. Kemudian aku dikeluarkan dan tidak menjadi seorang manusia. (Tarikh Thabari hal. 41; ar-Riyadh an-Nadhirah jil. 1 hal. 134; Kanzul Ummal hal. 361; Minhaj as-Sunnah jil. 3 hal. 120.)

Di tempat lain beliau juga pernah berkata: "Oh, kalaulah ibuku tidak pernah melahirkanku. Oh, kalaulah aku hanya sebiji pasir dari satu batu bata." (Tarikh Thabari hal.41; Riyadh an-Nadhirah jil. 1 hal. 134; KanzulUmmalhal.361 Minhaj as-Sunnah jil. 3 hal. 120)

Demikianlah sebagian kecil dari bukti yang dapat kita contohkan di sini sebagai renungan semata-mata. Dan berikut ini adalah firman Allah SWT yang memberikan berita gembira kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin: "Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tiada kekhawatiran terhadap mereka dan tiada (pula) mereka bersedih hati; (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (QS: Yunus: 62, 63, 64).

Dan firman Allah dalam surat lain, "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Tuhan kami adalah Allah' kemudian mereka teguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan (memperoleh) sorga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'" (QS. Al Fushilat: 30, 31,32).

Kenapa Syaikhain (Abu Bakar dan Umar) berangan-angan untuk tidak jadi manusia, makhluk yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT atas makhluk-makhluknya yang lain. Apabila seorang mukmin yang biasa yang istiqamah dalam hidupnya bisa didatangi oleh Malaikat dan diberinya kabar gembira dengan kedudukan di sorga, lalu dia tidak khawatir pada azab Allah dan tidak bersedih hati dengan masa lalunya di dunia, bahkan baginya berita gembira di dalam kehidupan di dunia sebelum kehidupan di akhirat, maka kenapa tokoh-tokoh sahabat yang dikatakan sebagai makhluk terbaik setelah Rasulullah berangan-angan ingin menjadi najis atau sehelai rambut atau sebiji pasir?

Seandainya para Malaikat telah memberinya berita gembira akan hal sorga, semestinya mereka tidak akan berangan-angan untuk memiliki segunung emas agar dapat dikorbankan sebagai tebusan atas azab Allah sebelum berjumpa dengan-Nya. Allah SWT berfirman: "Dan kalau setiap diri yang zalim itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu, dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil sedang mereka tidak dianiaya." (S. Yunus: 54). Allah juga berfirman: "Dan sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai semua apa yang ada di bumi dan sebanyak itu (pula) besertanya, niscaya mereka menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkan." (QS. Az-Zumar: 47,48).
Billahi fi sabililhaq
(Demi Allah pada jalan (Nya) yang haq)
Ali al Asytar
Acheh - Sumatra

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar