Senin, 24 Agustus 2009

DIALOG ANTARA MUHAMMAD AL QUBRA DENGAN AHMAD SUDIRMAN (4)






TEMAN TETAP TEMAN, NAMUN KATA RASULULLAH:
”QULLI HAQ WALAUKANA MURRA”
(KATAKAN YANG BENAR WALAUPUN PAHIT)
Muhammad al Qubra
Acheh - Sumatra













Bismillaahirrahmaanirrahiim


Ahmad Sudirman sepertinya hendak mengatakan bahwa isteri-isteri nabi Muhammad itu lebih tinggi derajadnya dibandingkan Imam ‘Ali, Fatimah Az Zahara, Imam Hasan dan Imam Hussein dengan alasan bahwa baru setelah dinyatakan isteri-isteri nabi sebagai Ahlulbayt melalui ayat 33 surah Al Ahzab, lalu Rasulullah memasukkan Imam ‘Ali, Fatimah Az Zahara, Iumam Hassan dan Imam Hussein sebagai Ahlulbait juga melaluli doa Rasulullah sendiri agar juga diaku Allah sebagai Ahlulbaytnya dan sama derajatnya denagn para Isteri Nabi, kalau tidak dikatakan lebih rendah disebabkan lebih duluan dinyatakan terhadap para Isteri Nabi.



Melalui argument seperti ini Ustaz Ahmad Sudirman ingin mengatakan bahwa Isteri – isteri Nabi saja tidak Ma’sum, apalagi Imam ‘Ali, Fatimah Az Zahara, Imam Hassan dan Imam Hussein. Argument seperti ini jelaslah bahwa mereka meyakini Hadist Rasulullah yang telah dipalsukan oleh Abu Hurairah cs bahwa agar kita tidak sesat di Dunia ini kita harus berpegang teguh kepada Al Qur-an dan Sunnah Rasul.. Apabila orang-orang yang berpegang teguh kepada hadist palsu itu dapat meyakinkan orang ramai, menunjukkan sahnya orang-orang seperti Ustaz Ahmad Sudirman menggali sendiri Ayat 33 surah Al Ahzab itu tanpa perlu melibatkan Imam A’li, Fatimah Az Zahara, Imam Hassan dan Imam Hussein sebagai pribadi yang telah ditunjuk Allah dan Rasulnya untuk mendampingi Al Qur-an.



Apabila mereka dapat meyakinkan orang ramai bahwa semua sahabat menduduki peringkat yang sama setelah Rasulullah, dengan mempelintirkan maksud daripada ayat 33 surah Al Ahzab, berarti mereka memiliki kesempatan untuk mengikuti Abubakar, Umar, Usman , Muawiyah dan Yazid bin Muawiyah sipembantai Ahlulbayt Rasulullah di Karbala. Justeru itulah dikalangan mereka tidak pernah memperingati Kesyahidan Imam Hussein di Karbala. Hal ini bermula daripada mempelintir kan ayat 33 surah Al Ahzab dan Hadits Al-Kisa serta Hadist – hadist lainnya yang berhubungan dengan ketinggian kedudukan Imam ’Ali, Fatimah Az Zahara, Imam Hassan dan Imam Hussein. Diatas semua sahabat lainnya.



Dengan alasan deperti itu memungkinkan mereka untuk mengakui Muawiyah sebagai Muslim dan Khaliafah yang sah, bahkan Yazid pembantai keluarga Rasulullah sendiri di Karbala itu mendapat pengakuan yang sama. Sebaliknya bagi kita yang meyakini Hadist itu telah dipalsukan oleh Abu Hurairah ketika dia berada dalam ”ketiak” Muawiyah, si tukang racun cucu Rasulullah lainnya yaitu Imam Hassan bin ’Ali, meyakini juga bahwa ayat 33 surah Al Ahzab dibutuhkan penafsirnya dari IImam ’Ali sebagai pribadi yang ditunjukkan Allah dan Rasulnya sebagai pendamping Al Qur-an agar tetap utuh, tidak membiarkan tangan-tangan jahil yang dengan nafsunya memelintirkan Ayat-ayat Allah sehingga siapapun bebas mengadakan interpretasi terhadap Ayat-ayat Allah swt.



Hadist pedoman hidup ummah Islam yang asli adalah Hadist Tsaqalain yang berbunyi: ”Kutinggalkan kepada kalian dua perkara, yaitu Al Qur-an dan Ahlulbaitku. Apabila kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya sampai menemuiku di pancutan Kautsar” . Berdasarkan Hadist Tsaqalain ini, Rasulullah telah memperingatkan kepada ummahnya agar mengikuti keluarganya sepeninggalnya sebagai pribadi yang terjaga dari kesalahan yang merupakan Hujjah Allah diatas seluruh manusia. Dalam hal ini Allah berkali kali memperkenalkan pribadi-pribadi ini agar selamat bagi yang menerima dan sesat bagi yang menolaknya. Hadist Al Kisa itu merupakan juga sebagai peringatan Allah dan Rasulnya kepada Ummad Islam agar mengetahui bahwa Imam Ali, Fatimah Az Zahara, Imam Hassan dan Imam Husseinlah yang benar-benar Ahlulbait Rasulullah.



Justru itulah makanya beliau memasukkan mereka dibalik kain Kassa Yaman, khusus 4 orang pribadi. Perbuatan Rasulullah yang demikian membuat Ummu Salamah khawatir. Justru itu Ummu Salamahpun meminta kepada Rasulullah agar beliaupun diumasukkan serta dalam kain Kissa tersebut. Disebabkan Ahlulbait Rasulullah hanya Mereka berempat saja yang mendapatkan kedudukan sebagai representant, Rasulullah mengatakan kepada Ummu Salamah agar dia tetap ditempatnya. Makna daripada kata-kata rasulullah bahwa Ummu Salamah tetap dalam kebaikan bukanlah bahwa dia itu lebih baik daripada pribadi-pribadi yang dimasukkan Rasulullah dibalik kain Kassa atau paling kurang sama sebagaimana tersirat dari argumentasi Ustaz Ahmad Sudirman diatas.

Pernyataan Rasulullah itu menunjukkan bahwa yang dibawah kain kassa itu adalah pribadi-pribadi khusus (Representant) yang merupakan pemimpin-pemimpin orang beriman. Sedangka Ummu Salamah menunjukkan sebagai prototipe orang yang benar-benar beriman sebagaimana Abu Dzar Ghifari, Salman Al Faraisi dan Al Miqdad.



Ketika Imam Ali dipaksakan secara beramai-ramai dalam majlis Abubakar untuk membai’atnya, Ummu Salamah termasuk orang yang memprotes tindakan Abubakar dan Umar cs. Protes Ummu Salamah ini ditanggapi oleh Umar secara kasar: ”Henyahlah dari sini, tidak ada urusan perempuan disini”



Buikti hanya mereka berempat saja sebagai Ahlulbayt dan kemaksumannya juga dapat dipahami ketika Nabi meminta agar seluruh pintu-pintu yang menghadap ke Mesjid dirtutup semua kecuali pintu Rumah Imam Ali dimana keempat pribadi Tipikal tu bebas berada dalam Mesjid kendatipun dalam keadaan bejunup sekalipun. Hal ini menunjukkan kesucian Ahlulbayt mencakup jiwa dan raga. Ironisnya hadist ini juga dipalsukan hinggga dikatakan bahwa kecuali pintu Rumah Abubakar yang dibenarkan terbuka.



Andaikata kita meyakini justru Hadist yang berasal dari Ahlulbait saja (baca Imam ’Ali, Fatimah Az Zahara, Imam Hassan dan Imam Hussein) saja yang dapat digunakan sebagai pedomannya, sudah barang pasti ummat Islam tidak akan pernah pecah selama-lamanya. Mengapa ? (pinjam istilah Ahmad Suduirman sendiri). Pastinya tak ada pihak yang berani menentang pengangkatan Imam ’Ali sebagai pengganti Rasulullah di Ghadirkhum sebagaimana yang telah ditentang Umar dan Abubakar cs, dengan membuat perjanjian baru di balik Ka’bah, menentang Nabi di katilnya ketika sedang sakit, menentang pengangkatan Usamah dan juga pengangkatan Ayahnya Zaid bin Harisah, menentang Rasulullah ketika hendak shalat mayit seseorang, menentang rasulullah ketika beliau membuat Perjanjian Hudaibiah dan klimaknya menyingkirkan Khalifah Rasulullah yang sah di Saqifah.hingga memaksakan Imam ’Ali untuk membai’atnya.



Justru itulah maka terjadinya perpecahan yang berkeping-keping dikemudian hari. Andaikata tidak ada pihak yang berani menentang Rasulullah dan Wazirnya Imam Ali, Ummah ini akan dilanjutkan pimpinannya oleh Imam Hassan dan Imamm Hussein plus 9 Imam-Imam keturunannya. Andaikata tak ada pihak yang berani menentang Rasulullah, takkanlah ada kesempatan bagi Muawiyah untuk berkuasa hingga membantai siapa saja yang membela Imam Ali bin Ab Thalib, meracuni Imam Hassan hinggalah klimaknya membantai cucu Rasulullah dan Keluarganya yaitu Imam Hassein di Karbala.



Disebabkan adanya pihak yang berani menentang Rasulullah, sebahagian manusia yang mengaku diri Muslim tetap meyakini Muawiyah dan Yazid anaknya juga sebagai Muslim. Disinilah kedangkalan pikiran mereka sehingga dapat kita saksikan sampai hari ini mereka tidak memahami definisi daripada System Islam, hingga mereka berjingkrak-jingkrak dalam ketiak penguasa Dhalim (baca Saudi Arabia, Mesir, Irak, Indonesia dan lain-lain sebagainya). Mereka mengira kerajaan Muawiyah dan kerajaan Yazid juga sebagai negara Islam hingga kebanyakan orang-orang yang mengaku dirinya orang Islam membangun negara seperti type negara Muawiyah dan anaknya Yazid sebagai model negara Islamnya. Lalu mereka mengutuk orang-orang yang berani memprotes Pemimpin tipe Muawiyah dan Yazid itu sebagai pemberontak yang ”wajib” diperangi atau dibunuh.



Justru itulah makanya mereka membungkem atas tragedi Karbala hingga takpernah mereka peringati. Sesungguhnya mereka meyakini bahwa pembunuhan Yazid terhadap Imam Hussein sekeluarga sah-sah saja untuk menjaga keutuhan negara dan wibawa pemimpinnya. Inilah akibat daripada tidak mengaku kemaksuman Imam A’li, Fatimah Az Zahara, Imam Hassan dan Imam Hussein.



Bukti hanya mereka berempat saja yang mendapat jaminan Allah dan Rasulnya sebagai Ahlulbait, dapat dilihat pada Ayat Mubahalah. Hal ini menunjukkan bahwa hanya mereka saja yang mewakili Ummat Muhammad sebagai Representant. Jangankan dibandingkan dengan Umar dan Abubakar cs yang sering menentang kebijaksanaan Allah dan Rasulnya, dimana dengan itu membuktikan bahwa mereka sesungguhnya tidak termasuk orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya. (Allah berfirman: "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya."(QS. An-Nisa: 65).



Dengan para Isteri nabi saja termasuk ummu Salamah yang disalah pahami Ahmad Sudirman itu, mustahil dapat disamakannya. Ahmad Sudirman lupa bagimana pernyataan Allah sendiri dalam ayat Mubahalah itu ketika Allah menginfokan kepada orang-orang yang beriman bahwa mereka berempat saja sebagai Representant buat seluruh Ummat Manusia. Ahmad Sudirman lupa kalau dalam ayat tersebut bahwa Imam ’Ali dinyatakan Allah sebagai diri Rasulullah sendiri: ”Kemudian sesiapa yang membantahmu (wahai Muhammad) mengenainya, sesudah engkau beroleh pengetahuan yang benar, maka katakanlah kepada mereka: “Marilah kita menyeru anak-anak kami serta anak-anak kamu, perempuan-perempuan kami serta perempuan-perempuan kamu, dan diri kami serta diri kamu, kemudian kita memohon kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, serta kita meminta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta.” [‘Ali Imran 3:61].



Saya gagal memahami pikiran kebanyakan manusia yang buta terhadap keterangan Allah yang demikian jelas ini, masih saja berkilah dengan alasan yang tidak masuk ‘akal.. Ayat ini membuktikan bahwa Muhammad dengan ’Ali itu sejiwa. Kecuali kedudukan Rasul, Imam ’Ali merupakan wakilnya atau Wazirnya. Kenapa Allah tidak meminta kepada Rasulnya untuk memanggil cucu-cucu nya kepada Hasan dan Hussein. Kenapa Allah tidak meminta kepada Rasulnya untuk memanggil anak kami kepada Fatimah Az Zahara. Kenapa Allah tidak meminta kepada Rasulnya untuk memanggil menantunya kepada Imam ’Ali. Kenapa realitanya Allah menyebutkan diri kami kepada Imam ’Ali?.



Hal ini juga menjadi pelajaran bagi orang-orang yang mau ber-afala ta’quilun dan afala yatazakkarun bahwa ketika Rasulullah mempersaudarakan setiap dua orang lelaki ketika barusaja hijrah ke Madinah, beliau sendiri memilih Imam ’Ali sebagai saudaranya dunia dan akhirat. Kelebihan Imam A’li diatas semua sahabat juga dibuktikan dengan Hadist Pintu Gerbang Ilmu: ” Saya adalah gudang Ilmu, ’Ali adalah pintu gerbangnya”. Dilain kesempatan Rasulullah mengatakan: ”Aku kota ilmu dan Ali adalah pintunya”. Cukup dengan bekal mauberfikir saja untuk memahami ketinggian kedudukan Imam ’Ali. Bagaimana mungkin orang ramai dapat meraih ilmu yang benar dari Gudang tanpa mendekati pintunya terlebih dahulu. Bagaimana mungkin benarnya ilmu yang ada pada orang-orang ”pintar” sementara mereka bukan saja tidak mau mendekati Imam ’Ali untuk meraih Ilmu Rasulullah, tapi juga tidak mengakui kelebihannya sebagai mana diaplikasikan Ahmad Sudirman, malah kebanyakan mereka memusuhiImam ’Ali bin Abi Thalib, Fatimah Az Zahara dan keturunannya.





Billahi fi sabililhaq
Muhammad al Qubra
Acheh - Sumatra

 
 
 
 

 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar