Senin, 24 Agustus 2009

DIALOG ANTARA MUHAMMAD AL QUBRA DENGAN AHMAD SUDIRMAN (7)


Bismillaahirrahmaanirrahiim
Argumentasi yang saya kemukakan mengenai pembangkangan Umar terhadap Rasulullah bukan saja berdasarkan buku-buku sejarah dan sirah Nabi tapi juga berdasarkan Shahih Bukhari dalam Bab as-Syuruthi Jihad 2:122; dan juga Shahih Muslim Bab Sulhul Hudaibiyah Jil. 2. Dengan demikian argumen saya dapat dipercaya, sebab Sunni mengakui bahwa Shahih Bukhari dan Muslim merupakan buku pegangan kedua setelah Al Qur-an. Justru itulah kami berhujjah dengan Hadist yang tertera di Bukhari dan Muslim sementara dari kitab Syiah sendiri berlipat gannda mengenai pembangkangan Umar dan Abubakar terhadap Rasulullah saw.

Kalau pembangkangan itu saya mengatakan "Ya" Ahmad Sudirman mengatakan "tidak" walaupun dengan nash yang dhaif. Kita dapat mengerti kenapa itu terjadi. Hal itu disebabkan sebagaimana judul yang telah saya tulis ketika saya tanggapi tulisannya dalam pembelaannya terhadap Umar dan Abubakar yaitru: "Meunje tabeunci lethat peue daleh, meunje tagaseh salah pih beuna". Artinya:"Kalau kita sudah membenci seseorang, kerap kali kita menolak kebenarannya. Kalau kita (sudah) jatuh cinta kepada seseorang, yang salahpun kita anggap benar. Jadi disebabkan Ahmad Sudirman sejak dari dia mengenal dunia ini meyakini hanya Sunni yang benar (baca kutub Abubakar, Umar, Usman yang membuat perjanjian lain dibelakang Kakbah untuk menjauhkan Imam Ali dari kedudukan Khalifah yang sah). Muawiyah yang meracuni Imam Hassan dan Yazid pembantai keluarga Rasulullah di Karbala berkesempatan meraih kekuasaan akibat dari usaha Abubakar dan Umar menjauhkan Imam Ali dari jabatan yang sah dari Allah dan Rasulnya. Justru itulah Ahmad Sudirman tidak nampaklagi melihat kebenaran Ahlulbayt (baca kutub Imam Ali, Fatimah Az Zahara, Imam Hassan dan Imam Hussein). Dia tetap saja membela Umar dan Abubakar kendatipun argumennya begitu dhaif. Mengapa saya katakan dhaif. Dia tidak menemukan keterangannya yang keliru itu dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Kalau dia coba-coba menggali Al Qur-an dengan pikirannya yang dhaif dalam hal itu, pastinya dia tetap saja menafsirkan Al Qur-an itu berdasarkan pemahaman "nenek moyangnya" kendatipun Allah sendiri telah mempe ringtkan kita agar tidak mengikuti orang-orang dulu yang sesat itu.

Pembaca sekalian lihatlah ketika Ahmad Sudirman menafsirkan ayat berwudhuk, yaitu ayat 6 surat Al-Maidah. Pastinya dia ketika berwudhuk, selalu membasuh kakinya. Padahal dalam ayat tersebut jelas sekali Allah mengatakan: "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki, . . ." Disini jelas sekali bahwa kepala dan kaki disuruh sapu, tapi orang-orang yang terikat kepada kebiasaan nenekmoyangnya bersikap fanatik buta tidak mau memahami Al Qur-an sesuai perintah Allah dan Rasulnya. Ini salah satu contoh makanya orang oranbg yang sudah salah kaprah dalam memahami agama sebetulnya takperlu kita layani lagi. Sebab tidak ada hasilnya kecuali bertambah musuh, kenapa? Sebab telah terbuka kedok salahnya sebagaimana telah terbuka kedok Ustaz Ahmad Sudirman dimana sebetulnya dia itu hanya berkemampuan untuk menggali UUD dan NKRI, tapi kalau menyangkut Al Qur-an, beliau keliru 180 derajat.

Kita tidak bermaksud untuk menyakiti hatinya tapi "Kullihaq walau kana murra", kata Rasulullah. Tujuan saya agar beliau sadar akan kekeliruannya tapi dia juga malah menuduh saya yang keliru, ha ha ha. Memang yang mengapi-apikan persoalan syiah dan Sunnah ini bukan Ahmad Sudirman dimilis ini, tapi ada orang lain dimana pembaca dapat menelusurinya sendiri. Kemungkinan besar mereka ingin menutupi persoalan yang sedang berlangsung Di tanah rencong. Ini hanya prediksi saya, semoga pembaca lebih arif.

Billahi fi sabililhaq
Muhammad Al Qubra
ACHEH - SUMATRA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar