Minggu, 23 Agustus 2009

DIALOG ANTARA MUHAMMAD AL QUBRA DENGAN AHMAD SUDIRMAN (2)


Bismillaahirrahmaanirrahiim



YA ALLAH BETAPA LUGUNYA AHMAD SUDIRMAN. PASTINYA UMAR MENUDING RASULULLAH DALAM PERJANJIAN HUDAIBIYAH SEBAGAIMANA UMAR JUGA BERANI MENGHAMBAT RASULULLAH DI
RANJANG KEWAFATANNYA KETIKA HENDAK
MENULIS WASIATNYA
Muhammad al Qubra
Acheh - Sumatra






"Terakhir, dengan berdasarkan apa yang dijelaskan diatas, maka kita sudah dapat me ngambil kesimpulan bahwa pertanyaan yang dikemukakan oleh Umar bin Khattab ra  “Bukankah engkau benar-benar utusan Allah?” kehadapan Rasulullah saw adalah bukan karena kemunafikan atau adanya rasa syak, ragu-ragu, tidak yakin dan tidak pecaya kepada Rasulullah saw dan kerasulan, melainkan semata akibat oleh dorongan perasaan yang ditimbulkan oleh adanya penyiksaan dan penganiayaan terhadap Abu Jundal, dimana Rasulullah saw tidak berdaya dan tidak mampu untuk menolongnya, ka rena tidak mau menghianati perjanjian Hudaibiyah yang baru saja ditandata ngani." (Ahmad Sudirman , 18 Oktober 2006)


Ya Allah tunjukilah hambamu yang belum banyak melakukan kesalahannya.

Betapa lugunya kesimpulan yang diambil Ustaz Ahmad Sudirman diatas. Pastinya Umar menuding rasulullah dengan pertanyaan:


"Apakah benar bahwa engkau adalah Nabi Allah yang sesungguhnya?", kejadiannya masih di Makkah, bukan setelah muncul peristiwa Abu Jundal, meminta bergabung dengan Rasulullah saw. Ustaz Ahmad Sudirman sengaja memutarbalikkan kenyataan untuk membela Umar, seolah-olah demikian peduli Umar kepada penderitaan Abu Jundal lalu membenarkan melemparkan pertanyaan yang mencirikan kemunafikannya. Andaikatapun benar kejadian itu setelah peristiwa Abu Jundalpun, mustahil bagi orang-orang yang benar-benar beriman melemparkan pertanyaan seperti itu. Bukankah yang namanya orang beriman sami'na wa ata'na terhadap apa saja yang datangnya dari Rasulullah? Apalagi kejadian itu masih di Makkah selepas barusaja perjanjian itu ditandatangani.


Hal ini juga dibuktikan setelah Rasulullah melayani Umar, beliau beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya: "Hendaklah kalian sembelih binatang-binatang korban yang kalian bawa itu dan cukurlah rambut kalian." Demi Allah tidak satu sahabatpun berdiri mematuhi perintah itu sampai Nabi mengucapkannya sebanyak tiga kali. Ketika dilihatnya mereka tidak mematuhi perintahnya Nabi masuk ke dalam kemahnya dan keluar kembali tanpa berbicara dengan siapa pun. Beliau sembelih korbannya dengan tangannya sendiri lalu memanggil tukang cukurnya kemudian bercukur. Melihat ini para sahabat kemudian menyembelih juga korban mereka, kemudian saling mencukur sehingga hampir-hampir mereka saling berbunuhan. (Lihat buku-buku sejarah dan sirah. Juga lihat Shahih Bukhori dalam Bab as-Syuruthi Jihad 2:122; juga Shahih Muslim Bab Sulhul Hudaibiyah Jil. 2)

Untuk lebih jelas lihatlah sekali lagi cuplikan berikut: . . . . . .Namun sebagian sahabat tidak senang dengan sikap Nabi seperti ini. Mereka menentangnya dengan keras. Umar bin Khattab datang dan berkata: "Apakah benar bahwa engkau adalah Nabi Allah yang sesungguhnya? "

"Ya", jawab Nabi.

"Bukankah kita dalam hak dan musuh kita dalam batil?"
"Ya". Sahut Nabi.

"Lalu kenapa kita hinakan agama kita?" Desak Umar.

"Aku adalah Rasulullah. Aku tidak melanggar perintah-Nya dan Dialah penolongku." Jawab Nabi.

"Bukankah engkau mengatakan kepada kami bahwa kita akan mendatangi Rumah Allah dan bertawaf di sana ?"
"Ya. Tetapi apakah aku katakan kepadamu pada tahun ini juga?" Tanya Nabi.

"Tidak".Jawab Umar.

"Engkau akan datang ke sana dan tawaf di sekitarnya." Kata Nabi mengakhiri.

Kemudian Umar datang kepada Abu Bakar dan bertanya:

"Wahai Abu Bakar! Benarkah bahwa dia adalah seorang Nabi yang sesungguhnya? "

"Ya" Jawab Abu Bakar.

Kemudian Umar mengajukan pertanyaan serupa kepada Abu Bakar dan dijawab dengan jawaban yang serupa juga.

"Wahai saudara!" Kata Abu Bakar kepada Umar. "Beliau adalah Rasul Allah yang sesungguhnya. Beliau tidak melanggar perintah-Nya dan Dialah Penolongnya. Maka percayalah padanya."

Usai Nabi menulis piagam perdamaian, beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya: "Hendaklah kalian sembelih binatang-binatang korban yang kalian bawa itu dan cukurlah rambut kalian." . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Ternyata untuk membela membenarkan klaimnya itu, Ustaz Ahmad Sudirman juga telah merobah pertanyaan Umar dari "Apakah benar bahwa engkau Nabi Allah yang sesungguhnya? " kepada: “Bukankah engkau benar-benar utusan Allah?” Ustaz harus memahami bahwa dua pertanyaan diatas sepertinya sama, namun kalau diteliti benar-benar nampak bahwa pertanyaan yang pertama lebih keras daripada pada pertanyaan kedua, kendatipun dalam bentuk pertanyaan kedua juga mustahil dilemparkan kepada Rasulullah kecuali orang dungu kalau tidak dikatakan Munafiq.


Kenyataannya Umar benar-benar munafiq. Buktinya pertanyaan itu diulangilagi kepada konconya Abubakar. Hal ini semua dibuktikan oleh banyaknya tindakan Umar sendiri yang menentang Rasulullah seperti Ketika Rasulullah hendak menulis wasiat diatas katilnya, menentang pengangkatan Usamah dan bahkan Umar dan Abubakar tidak bersedia berada dibawah pimpinan Usamah. Sesungguhnya semua ini datangnya dari Allah sendiri, dimana Umar dan Abubakar cs menentang Imam Ali dari pengangkatannya di Ghadir Khum dengan alasan Imam Ali Masih muda. Justru itu Allah dan Rasulnya membuktikan kepada mereka bahwa umur itu bukan perkara yang mustahak dengan mengangkat Usamah yang lebih muda dari Imam Ali serta memerintahkan Abubakar dan Umar untuk berada dibawah Usamah dan menahan Imam Ali agar tetap tinggal dimadinah disisi Rasulullah sendiri.


Dalam pengangkatan Imam Ali di Ghadirkhum, Umar memperlihatkan seolah-olah dia mengakui pengangkatan Imam Ali ketika itu dengan mengucapkan:"Tahniah ya Abbal Hassan, anda hari ini telah menjadi Maulaku dan maula semua kaum Muslimin dan Muslimat". Bukti kemunafikan mereka, dimana setelah itu mereka membuat perjanjian lain di belakang Ka'bah untuk menjauhkan Imam Ali dari Jabatan Khalifah yang sah dari Allah dan Rasulnya. Sementara Abubakar dan Umar mengangkat diri sebagai Khalifah di Saqifah, tempat yang telah disegel Rasulullah, dengan memanfaatkan atas nama keluarga Rasulullah dalam berhujjah dengan Abdurrahman bin Auf. Peristiwa itu insya Allah akan kita beberkan nati suatu saat mengenai pengangkatan khalifah-khalifah yang penuh misteri itu.


Bukti lain kemunafikan Umar disamping menanyakan lagi pertanyaan syaknya terhadap Rasulullah kepada Abubakar, hal tersebut diperjelas lagi oleh shahih Bukhari halaman 111 dan shahih Muslim halaman 12, 14. Disana dikatakan bahwa Umar berkata: "Aku tidak mengesyaki kenabian Muhammad saw seperti syakku pada hari Hudaibiyah". Pernyataan Umar tersebut menunjukkan bahwa dia senantiasa mengesyaki kenabian Nabi Muhammad saw tetapi syaknya pada hari Hudaibiyah adalah lebih banyaklagi daripada syak-syak sebelumnya.


Demikianlah para pembaca sekalian semoga Allah memberi hidayah kepada kita sekalian sehingga tidak mengalami nasib yang sial ketika menghadapi sakratul maut sebagaimana dialami Abubakar dan Umar cs. Aamin ya Rabbal ‘alamain,-


Billahi fi sabililhaq

Muhammad Al Qubra

Acheh - Sumatera



Stockholm, 18 Oktober 2006
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.





MASIH MENGGALI TENTANG UMAR BIN KHATTAB RA DIHUBUNGKAN DENGAN PERJANJIAN HUDAIBIYAH.
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.




MASIH MENYOROT UMAR BIN KHATTAB RA TENTANG PERJANJIAN HUDAIBIYAH DILIHAT DARI SUDUT SAHIH MUSLIM.

Rupanya orang-orang yang masih belum mengerti dan belum memahami situasi dan keadaan pasca penandatanganan perjanjian Hudaibiyah tetap berusaha menampilkan pertanyaan-pertanyaan Umar bin Khattab ra terhadap Rasulullah saw dalam usaha untuk menggiring Umar bin Khattab ra kearah syah, keraguan, ketidak-percayaan, ketidak-yakinan kepada Rasulullah saw dan kerasulannya, juga beruasa membawa kearah kemunafikan.
Nah, agar supaya kita semua memahami situasi dan keadaan pasca penandatanganan perjanjian Hudaibiyah ini, perlu kembali dituliskan disini bahwa isi perjanjian Hudaibiyah ini adalah menyangkut:

1.Kaum Muslimin tahun ini harus pulang tanpa melaksanakan ibadah umrah.
2.Mereka boleh datang tahun depan untuk melaksanakan haji, tetapi tidak boleh tinggal di Mekkah lebih dari tiga hari.
3.Mengunjungi kota suci tidak boleh membawa senjata, hanya pedang yang boleh dibawa, tetapi harus tetap disarungnya.
4.Orang Islam Madinah tidak boleh mengambil kembali orang Islam yang tinggal di Mekkah, juga tidak boleh menghalangi siapapun dari orang Islam yang ingin tinggal di Mekkah.

5.Bila ada orang Mekkah yang ingin tingggal di Madinah, kaum muslimin harus menyerahkannya kembali kepada mereka, tetapi bila ada orang Islam yang ingin tinggal di Mekkah, pihak Mekkah tidak harus mengembalikannya ke Madinah. Suku-suku bangsa di Arab, bebas untuk bersekutu dengan kelompok manapun yang mereka kehendaki. (Majid ‘Ali Khan, Muhammad The Final Messenger, 1980, hal. 197-198)
Nah bagi orang yang tidak mengerti dan tidak memahami tentang kebijaksanaan politik dan pemerintahan serta Negara Islam pertama yang dipimpin oleh Rasulullah saw, maka ketika membaca isi butiran-butiran perjanjian Hudaibiyah tersebut akan timbul sikap dan tindakan yang negatif atas isi perjanjian tersebut. Mengapa ? Karena, isinya memang menghinakan Islam dan merugikan kaum muslimin.

Nah, sikap yang demikianlah yang timbul dalam pikiran sebagian pasukan Rasulullah saw termasuk Umar bin Khattab ra, yang menganggap bahwa isi perjanjian Hudaibiyah adalah menghinakan Islam dan merugikan kaum muslimin dan Negara Islam pertama.
Sekarang, keadaan dan situasi yang panas diantara para sahabat dan pasukan Rasulullah saw pasca penandatanganan perjanjian Hudaibiyah makin menjadi panas situasi dan keadaannya, ketika tiba-tiba muncul Abu Jundal, putra Suhail bin ‘Amar utusan Quraisy meminta bergabung dengan Rasulullah saw (Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Jil. II, hal.318) sambil menunjukkan bekas-bekas luka akibat siksaan yang ditimpakan oleh Quraisy. Kemudian, Rasulullah saw mencoba mencari perkecualian agar Abu Jundal dapat diselamatkan, tetapi pihak Suhail bin ‘Amar menolaknya. Lalu Abu Jundal ditangkap kembali, dipukul dan diseretnya untuk dibawa kembali ke Mekkah. Abu Jundal berteriak meminta tolong (Ibnu Jarir ath-Thabari, Tarikhur Rasul wal Muluk, Jil.II, hal.635), tetapi tidak ada yang berani menolongnya. Bahkan perasaan para sahabat dan para pasukan Rasulullah saw pada saat itu sangat tersayat hatinya, tetapi Rasulullah saw tetap berusaha dengan sabar dan tetap memegang teguh isi perjanjian Hudaibiyah yang baru saja ditandatangani. Bahkan Rasulullah saw meminta kepada Abu Jundal untuk tetap bersabar, kemudian Abu Jundal ditahan dan dibawa kembali ke Mekkah. (Majid ‘Ali Khan, Muhammad The Final Messenger, 1980, hal. 198)

Nah dalam saat-saat situasi dan keadaan yang menyayat hati inilah yang disaksikan mata langsung oleh Umar Bin Khattab ra yang membuatnya menjadi murung, lalu berkata kepada Rasulullah saw: “Bukankah engkau benar-benar utusan Allah? Bukankah apa yang kita miliki sesuatu yang benar?” (Syibli Nu’mani, Siratun Nabi, Jil I, hal.457) Kemudian Rasulullah saw menjawab dengan tegas dan berkata bahwa ia lakukan semua ini semata-mata mengikuti petunjuk Allah. (Majid ‘Ali Khan, Muhammad The Final Messenger, 1980, hal. 198)

Nah ternyata Umar bin Khattab ra ketika melihat situasi dan keadaan yang menimpa Abu Jundal yang disiksa dan diserert didepan mata Rasulullah saw, para sahabat dan para pasukan Rasulullah saw, dimana tidak ada seorangpun yang berani menolongnya, Rasulullah saw sendiri tidak bisa menolongnya, maka disaat dan dalam keadaan situasi yang demikianlah timbul dorongan dari diri Umar bin Khattab ra yang ditampilkan dalam pertanyaan “Bukankah engkau benar-benar utusan Allah? Bukankah apa yang kita miliki sesuatu yang benar?” yang langsung diarahkan kepada Rasulullah saw. Yang dijawab oleh Rasulullah saw dengan tegas bahwa apa yang dilakukannya adalah semata-mata mengikuti petunjuk Allah SWT.

Sekarang yang dipertanyakan, apakah timbulnya sikap Umar bin Khattab ra yang diungkapkan dalam bentuk pertanyaan kepada Rasulullah saw tersebut merupakan sikap yang syak, ragu-ragu, tidak percaya, tidak yakin kepada Rasulullah saw sebagai rasul? Dan apakah sikap Umar bin Khattab ra itu merupakan sikap orang munafik?
Nah, untuk menjawabnya adalah harus ditelaah, diteliti, dianalisa dari apa yang terjadi pada saat situasi dan keadaan terjadinya pasca penandatanganan perjanjian Hudaibiyah dan ketika Abu Jundal yang disiksa dan diseret untuk dibawa kembali ke Mekkah. Mengapa Rasulullah saw tidak mau menolong dan menyelamatkan Abu Jundal yang berteriak minta tolong dan kesakitan?

Jawabannya adalah Rasulullah saw tidak mau menghianati perjanjian Hudaibiyah yang baru saja ditandatangani. Inilah yang tidak dimengerti dan tidak dipahami oleh sebagian pasukan Rasulullah saw termasuk oleh Umar bin Khattab ra.
Bagaimana jadinya, kalau Rasulullah saw dengan langsung sambil pedang dihunus siap menyelamatkan Abu Jundal dari orang-orang Quraisy yang sedang berusaha menyiksanya itu? Maka konsekuensinya adalah Rasulullah saw secara sadar telah menghianati perjanjian Hudaibiyah yang basru saja ditandatangani. Mengapa?

Karena, dalam satu butiran yang tertuang dalam isi perjanjian Hudaibiyah tersebut disepakati bahwa menurut klausul nomor 5 dinyatakan ”Bila ada orang Mekkah yang ingin tingggal di Madinah, kaum muslimin harus menyerahkannya kembali kepada mereka, tetapi bila ada orang Islam yang ingin tinggal di Mekkah, pihak Mekkah tidak harus mengembalikannya ke Madinah.”

Nah, karena Abu Jundal orang Mekkah yang ingin mendapat perlindungan di Madinah dibawah pemerintah Negara Islam pertama di Madinah, dan ingin tinggal di Madinah, maka kaum muslimin harus menyerahkannya kembali kepada mereka.
Inilah klausul dari isi perjanjian Hudaibiyah yang telah mengikat Rasulullah saw dan seluruh kaum muslimin. Dan karena klausul inilah Rasulullah saw tidak ingin menghianati perjanjian Hudaibiyah yang baru saja ditandatangani.

Nah, disinilah perbedaannya antara Rasulullah saw dan para sahabatnya, termasuk Umar bin Khattab ra. Umar bin Khattab ra tidak mengerti dan tidak memahami serta tidak menyadari konsekuensi yang bisa menimpa Rasulullah saw dan kaum muslimin apabila menghianati perjanjian Hudaibiyah yang baru saja ditandatangani itu.
Jadi, dorongan yang besar dari dalam diri Umar bin Khattab ra yang diluapkan dalam bentuk sikap dan diformulasikan dalam pertanyaan “Bukankah engkau benar-benar utusan Allah?” kehadapan Rasulullah saw adalah bukan diakibatkan oleh adanya rasa munafik dalam diri Umar bin Khattab ra, ataupun rasa syak, ragu-ragu, tidak yakin dan tidak pecaya kepada Rasulullah saw dan kerasulan, melainkan semata akibat oleh dorongan perasaan yang ditimbulkan oleh adanya penyiksaan dan penganiayaan terhadap Abu Jundal, dimana Rasulullah saw tidak berdaya dan tidak mampu untuk menolongnya, karena tidak mau menghianati perjanjian Hudaibiyah yang baru saja ditandatangani.

Keadaan dan situasi inilah yang tidak dimengerti dan tidak juga dipahami oleh sebagian orang yang membaca hadist sahih Muslim, sejarah Rasulullah karya Ibnu Jarir ath-Thabari, Syibli Nu’mani, Majid ‘Ali Khan dan yang lainnya dihubungkan dengan pertanyaan yang disampaikan oleh Umar bin Khattab ra kehadapan Rasulullah saw, sehingga disimpulkan bahwa Umar bin Khattab ra telah munafik dan tidak percaya lagi kepada Rasulullah saw dan kerasulannya.

Terakhir, dengan berdasarkan apa yang dijelaskan diatas, maka kita sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa pertanyaan yang dikemukakan oleh Umar bin Khattab ra “Bukankah engkau benar-benar utusan Allah?” kehadapan Rasulullah saw adalah bukan karena kemunafikan atau adanya rasa syak, ragu-ragu, tidak yakin dan tidak pecaya kepada Rasulullah saw dan kerasulan, melainkan semata akibat oleh dorongan perasaan yang ditimbulkan oleh adanya penyiksaan dan penganiayaan terhadap Abu Jundal, dimana Rasulullah saw tidak berdaya dan tidak mampu untuk menolongnya, karena tidak mau menghianati perjanjian Hudaibiyah yang baru saja ditandatangani.

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.
Ahmad Sudirman

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar