Senin, 24 Agustus 2009

DIALOG ANTARA MUHAMMAD AL QUBRA DENGAN AHMAD SUDIRMAN (5)













Bismillaahirrahmaanirrahiim



UNTUK MENAMBAH WAWASAN LIHATLAH HADIST SAFINA, HADIST BAHTERA, HADIST BURUNG PANGGANG
DAN HADIST- HADIST
UTAMA LAINNYA
Muhammad al Qubra
Acheh - Sumatra

Selanjutnya kita sorot sedikit bagaimana keutamaan Fatimah Az Zahara untuk dibandingkan dengan ummu salamah yang digunakan Ahmad Sudirman untuk menguatkan thesisnya. "Fahtimah belahan nyawaku, maka barangsiapa yang membuatnya marah berarti dia telah membuatku marah." (Shahihu l`Bukhari 2/308). "Dia (Fathimah) adalah belahan nyawaku, maka barangsiapa yang mencemaskannya berarti dia telah mencemaskan diriku, dan barangsiapa yang manyakitinya berarti dia telah menyakiti diriku". (Shahihul`Bukhari 3/265).

Dua hadist diatas saja sudah cukup untuk menolak anggapan Ahmad Sudirman bahwa empat pribadi yang dimasukkan dibawah kain Kissa sama dengan isteri-isteri Rasulullah, tidak maksum. Ummu Salamah adalah benar prototype mukmin benaran, namun tidak ada bahan untuk melawan serangan Umar yang keras terhadap dirinya ketika Umar cs memaksa Imam A’li membai’at Abubakar. Namun kedhaliman Abubakar dan Umar terhadap Fatimah Az Zahara dapat dilihat jelas pada dua buah Hadist diatas yang menggambarkan ketinggian kedudukan Fatimah Az Zahara disisi Rasulullah sekaligus mewakili dirinya sebagaimana Imam ’Ali dalam ayat Mubahalah.

Demikian juga banyak Hadist yang membuktikan tingginya derajat Imam Hassan dan Hussein yang belum saya nyatakan dalam kesempatan ini, lebih banyak lagi bukti-bukti lainnya buat ketinggian derajat mereka berempat yang tidak dimiliki siapapun diantara para sahabatnya. Yang lebih ngeri adalah justru sahabat yang dianggap sangat mulia yang menjadi idola mareka bagi orang kebanyakan, merintih penyesalan luar biasa ketika menghadapi sakratul maut. Hal ini perlu kita ulang-ulang untuk menyadarkan orang-orang yang keliru terhadap ikutannya didunia ini agar tidak mengalami penyesalan yang luar biasa akibat menjauhkan Khalifah Rasulullah yang sah dari kedudukannya serta ketimpangan yang mereka lakukan terhadap Representant wanita, Fatimah Az Zahara as.

Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya pada Bab Manaqib Umar bin Khattab (Keistimewaan Umar bin Khattab) sebagai berikut: Ketika Umar menderita karena tikaman, beliau merintih kesakitan. Ibnu Abbas datang menghiburnya sambil berkata, "Ya Amir al-Mukminin, apabila memang sudah waktunya tiba, bukankah engkau adalah sahabat Rasulullah yang baik. Ketika kau berpisah dengannya, bukankah dia juga rela padamu?. Kemudian kau telah bersahabat dengan Abu bakar dengan persahabatan yang baik, lalu kau berpisah dengannya juga dalam keadaan dia rela padamu. Kau juga bersahabat dengan yang lainnya dengan baik. Jika seandainya kau harus meninggalkan mereka, maka mereka akan rela padamu."

Tidak lama berselang Umar kemudian menjawab, "Adapun tentang persahabatan dan kerelaan Rasulullah yang kau sentuh tadi, maka itu adalah anugerah yang Allah telah berikan padaku. Persahabatan dan kerelaan Abu Bakar yang kau katakan tadi, itu juga adalah anugerah yang Allah limpahkan padaku. Namun apa yang kau saksikan dari rasa khawatir pada wajahku adalah semata-mata karena kamu dan sahabat-sahabatmu. Demi Allah, apabila aku punya segunung emas maka aku akan korbankan demi dapat terselamat dari azab Allah sebelum aku datang menjumpai-Nya.(Shahih Bukhari jil. 2 hal. 201.)

Sejarah juga mencatat kata-kata Umar berikut: "Oh, alangkah beruntungnya apabila aku hanyalah seekor kambing milik keluargaku. Digemukkannya aku seperti yang mereka suka kemudian menjadi lahapan orang yang menyenanginya. Mereka iris sebagian dariku dan dipanggangnya sebagian yang lain. Kemudian aku dimakan dan dikeluarkan pula sebagai najis. Oh, kalaulah aku seperti itu dan tidak menjadi manusia.(Minhaj as-Sunnah oleh Ibnu Taimiyah jil. 3 hal.131; Hilyat al-Auliya' Oleh Ibnu Nu'aim jil. 1 hal. 52.)

Sejarah juga mencatat kata-kata Abu Bakar berikut: "Ketika Abu Bakar melihat seekor burung hinggap di suatu pohon, dia berkata, berbahagialah engkau duhai burung. Engkau makan buah-buahan dan hinggap di pohon, tanpa ada hisab atau balasan. Aku lebih suka kalau aku ini adalah sebatang pohon yang tumbuh di tepi jalan, kemudian datanglah seekor onta lalu memakanku. Kemudian aku dikeluarkan dan tidak menjadi seorang manusia. (Tarikh Thabari hal. 41; ar-Riyadh an-Nadhirah jil. 1 hal. 134; Kanzul Ummal hal. 361; Minhaj as-Sunnah jil. 3 hal. 120.)

Di tempat lain beliau juga pernah berkata: "Oh, kalaulah ibuku tidak pernah melahirkanku. Oh, kalaulah aku hanya sebiji pasir dari satu batu bata." (Tarikh Thabari hal.41; Riyadh an-Nadhirah jil. 1 hal. 134; KanzulUmmalhal.361 Minhaj as-Sunnah jil. 3 hal. 120)

Demikianlah sebagian kecil dari bukti yang dapat kita contohkan di sini sebagai renungan semata-mata. Dan berikut ini adalah firman Allah swt yang memberikan berita gembira kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin: "Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tiada kekhawatiran terhadap mereka dan tiada (pula) mereka bersedih hati; (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (QS: Yunus: 62, 63, 64).

Dan firman Allah dalam surat lain, "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Tuhan kami adalah Allah' kemudian mereka teguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan (memperoleh) sorga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'" (QS. Al Fushilat: 30, 31,32).

Kenapa Syaikhain (Abu Bakar dan Umar) berangan-angan untuk tidak jadi manusia, makhluk yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT atas makhluk-makhluknya yang lain. Apabila seorang mukmin yang biasa yang istiqamah dalam hidupnya bisa didatangi oleh Malaikat dan diberinya kabar gembira dengan kedudukan di sorga, lalu dia tidak khawatir pada azab Allah dan tidak bersedih hati dengan masa lalunya di dunia, bahkan baginya berita gembira di dalam kehidupan di dunia sebelum kehidupan di akhirat, maka kenapa tokoh-tokoh sahabat yang dikatakan sebagai makhluk terbaik setelah Rasulullah berangan-angan ingin menjadi najis atau sehelai rambut atau sebiji pasir?

Seandainya para Malaikat telah memberinya berita gembira akan hal sorga, semestinya mereka tidak akan berangan-angan untuk memiliki segunung emas agar dapat dikorbankan sebagai tebusan atas azab Allah sebelum berjumpa dengan-Nya. Allah swt berfirman: "Dan kalau setiap diri yang zalim itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu, dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil sedang mereka tidak dianiaya." (S. Yunus: 54). Allah juga berfirman: "Dan sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai semua apa yang ada di bumi dan sebanyak itu (pula) besertanya, niscaya mereka menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkan." (QS. Az-Zumar: 47,48).


Muhammad al-Tijani al-Samawi.dalam buku penelitian agamanya yang berjudul:”Akhirnya Kutemukan Kebenaran” mengatakan: ”Aku bercita-cita sepenuh hatiku agar ayat ini (baca agat diatas) tidak meliputi sahabat-sahabat besar seperti Abu Bakar dan Umar. Tetapi aku seringkali terjebak dengan adanya nas-nas seperti ini. Itulah kenapa aku coba menelaah aspek-aspek menarik dari hubungan mereka dengan Rasul saww. Namun di situ juga aku dihadapkan dengan sikap mereka yang enggan melaksanakan perintah-perintah Nabi, terutama pada saat-saat akhir dari umurnya yang penuh berkat itu, di mana menyebabkan Nabi marah dan mengusir mereka dari kamarnya. Aku juga dihadapkan dengan suatu fakta akan perilaku mereka setelah wafatnya Nabi, serta sikap mereka yang menggangu puterinya Fatimah az-Zahra'. Padahal Nabi saww bersabda, "Fatimah adalah belahan nyawaku, siapa yang menyebabkannya marah maka dia telah menyebabkan aku marah." (Shahih Bukhari jil. 2 hal.206.)

Fatimah juga pernah berkata kepada Abu Bakar dan Umar demikian:"Aku minta persaksian dari Allah kepada kalian berdua, apakah kalian tidak mendengar Rasulullah bersabda, 'Keredhaan Fatimah adalah keredhaanku dan kemarahan Fatimah adalah kemarahanku. Siapa yang mencintai puteriku Fatimah, maka dia telah mencintaiku, siapa yang membuat Fatimah rela maka dia telah membuatku rela, siapa yang membuat Fatimah marah maka dia telah membuatku marah.' 'Ya, kami telah mendengarnya dari Rasulullah.' Jawab mereka berdua.

Lalu Fatimah berkata lagi, 'Sungguh, aku minta persaksian Allah dan para malaikat-Nya bahwa kalian berdua telah membuatku marah dan tidak rela. Jika kelak aku berjumpa dengan Rasulullah maka pasti akan kusampaikan keluhanku ini kepadanya'.(Al-Imamah was Siyasah jil.l hal. 20; Fadak Oleh Muhammad Baqir Sadr hal. 92.)

Billahi fi sabililhaq
Muhammad al Qubra
Acheh - Sumatra

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar