Senin, 06 Juli 2009

ESENSI HAJI IV (TAMMAT)

 


MENGGALI DAN MENYOROT ESENSI HAJI 
IV
(THE END)
hsndwsp
 Acheh - Sumatra


UJIAN UNTUK MEMBUKTIKAN SAMPAI DIMANA
KEPATUHAN IBRAHIM DAN ISMA'IL
TERHADAP ALLAH SWT

Bismillaahirrahmaanirrahiim


7.Pengorbanan
"Guruku telah mengajariku" (Afala ta'qilun? Afala yatazakkarun?). Pada tahap ke 7 atau tahap terakhir dari pertunjukan ini, engkau kembali berperan sebagai Ibrahim, Teladan, Model, Standarisasi, Representant atau Wakil Tuhan di atas permukaan bumi. Sanggupkah engkau mengambil posisinya? Ibrahim berhasil menempatkan dirinya sebagai 'Pemberontak' 1) terhadap tatanan Namrud. Ibrahim adalah mata rantai utusan Allah. Dia tidak hanya sebatas memahami dan menyadari namun dia juga beraksi, merealisasikan dalam kehidupannya. Meluluhlantakkan tatanan Namrud. Mengucapkan selamat tinggal kepada orang tuanya, Azar, arsitek Tuhan palsu. Lalu dengan penuh kesadaran (Masy`arulharam) memasuki api Namrud. Untuk apa? Supaya api itu padam, sehingga tak ada lagi kaum dhu`afa yang terbakar. Arsitek Revolusi sama halnya dengan bermain api. Artinya siapapun yang berani melawan Raja dhalim, resikonya sudah barang pasti, dibakar, dianianya dengan sadis dan dibunuh dengan kejam sekali.

Kini Ibrahim berada di lembah Mina sedang Berhadapan dengan dua alternatif yang sangat menentukan masa depannya, tetap menjadi seorang ayah atau seorang Rasul Allah dengan resiko kehilangan buah hatinya Isma'il. Persoalannya sekarang Ibrahim sangat mencintai Isma'il.Bayangkan umur Ibrahim sudah demikian lanjut, rambut sudah memutih di kepalanya yang boleh jadi akibat menunggu saat yang begitu lama untuk memiliki seorang pelanjut risalahnya.

Bayangkan bagaimana perasaan seorang lelaki yang telah berhasil dalam perjuangan, namun tidak memiliki buah hati tempat ia mencurahkan kasih sayangnya. Saat-saat kerinduan permata hati mencapai klimaknya, Hajarpun muncul mendampinginya. Tak lama kemudian Ismail dilahirkan.

Betapa leganya hati ini. Ismail tumbuh sehat, cerdas dan tampan, terjawab sudah keluhan ayahnya yang berbilang tahun. Namun sayang seribu kali sayang, ketika Ismail sudah pandai berbicara, tiba-tiba datang seruan di dalam mimpinya, " Ibrahim! Ambillah sebuah pisau yang tajam, lalu goroklah leher anakmu, Isma'il ". Ibrahim terbangun dari tidurnya. Bagaikan petir di siang bolong rasanya bagi Ibrahim. Lalu dia berfikir dan berfikir. Apakah mimpinya itu benar datangnya dari Allah? Mungkinkah Allah menyuruhku memotong leher Isma'il? Perintah itu sepertinya tegas sekali, tetapi perkara memotong leher anakku sendiri. Haruskah perintah ini kulaksanakan? Namun itu hanyalah sebuah mimpi. Ibrahim menunda pelaksanaan tugas beratnya itu.

Malam ke dua, suara itu datang lagi dan lebih jelas dari malam pertama. " Ibrahim! Ambillah sebuah pisau yang tajam dan goroklah leher anakmu, Isma'il dengan tanganmu sendiri ". Ibrahim terbangun lagi, langsung berfikir dan berfikir. Mungkinkah suara itu datangnya dari Allah? Mungkinkah Allah menyuruhku untuk menyembelih anakku sendiri ? Ibrahim untuk kedua kalinya berkesimpulan bahwa Allah sayang padaku, tak mungkin buah hatiku yang begitu lama kurindukannya, namun setelah kumilikinya tiba-tiba disuruh korban, sepertinya tidak mungkin. Itu hanyalah sebuah mimpi. 2)

Pada malam yang ke tiga, Ibrahim bermimpi lagi. Kali ini lebih terang dan lebih jelas dan lebih tegas dari mimpi-mimpi malam sebelumnya. "Ibrahim, Akulah Tuhanmu. Ambillah sebuah pisau yang tajam dan goroklah leher anakmu, Isma'il dengan tanganmu sendiri!" Ibrahim terbangun lagi dan langsung saja berfikir dan berfikir. Kenapa Isma'il yang masih muda yang harus mati, kan lebih baik kalau aku sendiri yang harus mati. Hancur luluh perasaannya. Ismail buah hatinya telah ditunggu sampai memutih rambutnya di kepala. Namun dengan tiba-tiba saja Allah memerintahkan untuk menyembe lihnya. Ibrahim kini dihadapkan pada dua alternatif. Apakah dia ingin tetap jadi sang ayah dengan mengabaikan perintah Allah, ataupun tetap taat kepada Allah sebagai seorang Rasul dengan resiko kehilangan anaknya sendiri, Ismail. Bayangkan andaikata engkau sebagai Ibrahim, mampukah mentaati Allah?

Ibrahim adalah Ibrahim. Dia adalah seorang teladan, wakil Allah. Dia telah mengalami pahit getirnya perjuangan menegakkan system Allah. Dia berhasil dalam segala cobaan Allah. Semua bendungan berhasil di bobolkan. Namun kali ini tak terbayangkan sama sekali di dalam sanubarinya. Isma'il adalah Isma'il. Engkau menjadi "Simbolisasi" ujian bagi setiap manusia. Siapapun di dunia ini pasti memiliki "Isma'il". Soal jaka ditanyai orang kita (pakai istilah klasik) siapakah Ismailmu? Mana kutau Isma'ilmu. Engkau sendirilah yang tau siapa Isma'ilmu. Yang kutau hanya Isma'ilku sendiri. Apakah Isma'ilmu itu? Isma'ilku apa saja yang membuat langkahku terhalang untuk beresensi. Isma'il bagi Ibrahim adalah anaknya sendiri. Mulus tidaknya jalan Ibrahim menuju Allah sekarang tergantung sangat pada kesiapannya menggorok leher Ismail. Karena kasih sayangnya yang teramat sangat kepada buah hatinya sekarang, membuat dia menunda untuk melaksanakan perintah Allah pada hari pertama dan kedua. Sekarang hari ke tiga, Ibrahim berdiri tegak di Mina bersama anaknya Isma'il, untuk berdialog yang nampaknya sangat harmonis namun hasilnya sangat mencekam. Membicarakan soal potong-memotong. Tak akan pernah terjadi dialog semacam ini sepanjang umur Dunia.

Sekarang giliran engkau untuk mengenali siapa Isma'ilmu itu. Tahukah engkau, siapa Isma'ilmu? Ismailmu itu boleh jadi "Pegawai Negeri" dalam system thaghut Indonesia. Sanggupkah engkau menggorok lehernya? Bagaimana caranya? Tidak pakai pisau. Lihatlah bagaimana Tamlika, Miksamlina, Miksmilina, Maghdalena,....., ....dan seorang tukang kebun, menggorok leher Isma'ilnya. Padahal betapa hebatnya Isma'il mereka, gemerlap, fantastis bagaikan fasilitas Surgawi. Isma'il mereka adalah Mentri, dalam system thaghut, Diklianus. Mereka sanggup meninggalkan gemerlapnya Istana demi mencari redha Allah. Sesungguhnya mereka keluar dari Neraka menuju Syurga, yaitu dari bahtera Thaghut menuju bahtera Allah.

Taukah kamu siapa Isma'ilmu sekarang? Isma'ilmu sangat berfariasi satu sama lainnya. Boleh jadi Isma'ilmu itu kekasihmu sendiri yang harus kau gorok lehernya dengan cara memutuskan tali cintanya, sebab kekasihmu itu akan membawamu ke neraka. (QS.2; 221) Memang dia tampan, uang pun banyak, direktur BANK, ataupun kekasihmu itu boleh jadi seorang jendral yang kerjanya sehari-hari memimpin angkatan bersenjata untuk menganianya, membunuh rakyat jelata di daerah jajahan Tuannya, seperti yang dilakukan sontoloyo-sontoloyo Jawa di Acheh - Sumatra, West Papua dan Ambon. Kalau jenis seperti ini kekasihmu, goroklah lehernya dengan pisau yang tajam, jika perlu pakai saja Aka 47. Tahukah kamu siapakah Isma'ilmu? Setiap orang pasti memiliki Isma'ilnya. Namun yang harus engkau garis bawahi, Isma'ilmu tak pernah sama dengan Isma'ilnya Ibrahim. Perhatikanlah dengan seksama apa yang kita diskusikan dalam alinia-alinia berikut ini:

Ibrahim yang sedang berdiri tegak di Mina, untuk mengambil suatu keputusan yang sangat menentukan. Andaikata engkau sebagai Ibrahim, bagaimana perasaanmu jika engkau diperintahkan untuk menggorok leher anakmu sendiri, sanggupkah? Demikianlah perasaan Ibrahim, sementara satu-satunya anak tercinta saat itu adalah Isma'il. Ibrahim hancur luluh perasaannya, seolah-olah terasa sampai ke tulang sum-sumnya, sepertinya tidak mampu untuk berdiri di depan anaknya. Namun Ibrahim adalah Ibrahim, wakil Tuhan yang mampu menempatkan perintah Allah diatas segala-galanya. Perintah itupun disampaikan kepada anaknya, Isma'il. Lalu terjadilah suatu dialog yang belum pernah terjadi di permukaan planet Bumi ini. Ibrahim memulainya dengan suatu kalimat yang diucapkannya dengan cepat sekali, sebab dia sendiri tidak mampu mendengar kalimat seperti itu; "Ismail, anakku. Bagaimana pendapatmu, kalau Allah memerintahkanku untuk menggorok lehermu?" Ismail menjawab; "Laksanakanlah wahai ayahku jika memang itu perintah Allah, engkau akan menyaksikanku dalam keadaan sabar"

Oh, betapa sang ayah dan anak, sama-sama mampu menempatkan perintah Allah diatas segala-galanya. Ibrahim langsung mengambil pisau yang tajam. Ismail di rebahkan, dicambak rambutnya, didongakkan kepalanya agar nampak urat lehernya. Pisau ditancapkan ke leher Ismail. Ismail meronta, mengaduh. Ibrahim bagaikan singa lapar meloncat ke atas. Pisau terlepas dari tangannya, jatuh ke atas batu sampai terbelah dua, namun leher Ismail tidak terusik sedikitpun. Ibrahim mengambil kembali pisau tersebut, namun ketika ia mendekati Ismail, terdengarlah suara dari langit, bersamaan dengan munculnya seekor Kibas (kambing besar); "Wahai Ibrahim bek bagaih-bagaih, njoepat na kibaih tasie le gata" (Hai Ibrahim bersabarlah, inilah Kibas yang patut engkau sembelih). Ibrahim langsung memeluk anaknya, Ismail.

Ternyata Allah tidak haus darah. Perintah itu semata-mata ujianNya terhadap Ibrahim dan Ismail, untuk membuktikan sampai dimana kepatuhan mereka terhadap Allah swt. Disebabkan Ibrahim dan Ismail mampu menempatkan perintah Allah di atas segala-galanya, Allah tidak akan menyia-nyiakan mereka. Pisaupun tunduk patuh kepada Allah, dan Ibrahimpun tak kehilangan Ismailnya. Ismail diselamatkan Allah dari ketajaman pisau dan Ibrahimpun telah diselamatkan Allah dari api Namrud.

Pelajaran apakah yang dapat engkau raih
dalam persoalan seperti ini? Jika engkau mampu menempatkan perintah Allah diatas segala-galanya, engkau pasti beruntung. Sayangnya kebanyakan manusia tidak mampu berpikir seperti itu. Mereka cenderung melihat secara realita bukan hakikat. Mereka hanya mampu berfikir sebatas Syar'i, namun tidak mampu berfikir secara filosofis. Justru itu membuat keadaan mereka seperti yang di nyatakan Allah dalam KitabNya (QS. 2 ; 216).

Pengorbanan yang dilakukan Ibrahim itu terhadap anaknya sendiri, diganti Allah dengan seekor Kibas, dan inilah yang menjadi simbolisasi bagi jamaah Haji secara Syar'i. Namun secara philosofis, Isma'illah yang menjadi simbolisasi bagi Muslim Sejati untuk di gorok lehernya, sebagaimana yang telah dilaksanakan Muslim Idealis, Thamlika, Miksamlina, Miksmilina dan sahabat-sahabatnya, yang mampu meninggalkan gemerlapnya Istana demi mencari redha Allah. Kisah mereka ini diabadikan Allah dalam Al-Qur'an surah Al-Kahfi (QS. 18 ; 9 - 26). 

Secara filosofis, jika binatang-binatang di medan pengorbanan itu, dagingnya tidak dimakan oleh orang-orang fakir dan miskin, sama halnya engkau mempersembahkan Ismailmu di hadapan Thaghut bukan di hadapan Allah. Betapa banyaknya daging korban itu setiap tahun, jika tidak dikalengkan pedagang-pedagang untuk di perdagangkan buat mereka sendiri, namun di distribusikan kepda orang-orang miskin seperti di Afrika, kita tidak bakal menyaksikan lagi saudara saudara kita yang tubuhnya terdiri dari tulang-belulang yang terbungkus dengan kulit dan dikerumuni lalat hijau.

Namun kenapa juga yang kita saksikan kehinaan saudara-saudara kita tetap lestari sampai hari ini? Apakah tujuannya engkau berkumpul di arena ini? (baca Haji). Apakah tujuanmu sekedar mencari titel agar dipanggil "pak Haji?"  Engkau kan tau, Islam itu bersaudara bukan lewat darah, tetapi lewat Iman, Aqidah dan Ideology. Benar sekali pernyataan Tgk Darwis Jiniep, bahwa bangsa Acheh tidak perlu naik haji buat sementara, sedangkan dananya dialihkan untuk perjuangan Kemerdekaan Bangsa Acheh. Namun sayangnya masih ada orang Acheh yang belum mampu memahami pernyataan Darwis. Hal ini disebabkan mereka itu belum memahami Islam secara Ideologi. Mereka berpendapat bahwa manakala seseorang sudah menunaikan kewajiban haji berarti sudah diampuni segala dosa (bagaikan kertas putih). Memang benar, itu adalah hadist Rasul. Yang menjadi persoalan disini, mereka belum memahami akan syarat-syaratnya untuk menjadi kertas putih.


Penutup
Engkau telah selesai menunaikan Ibadah haji. Kini engkau dibolehkan kembali ke tempat asalmu masing-masing. Namun dianjurkan sangat sebelum itu agar engkau mengikuti suatu Konferensi Akbar di Mina. Koferensi ini tidak pernah sama dengan konferensi apapun di dunia ini yang barangkali pernah engkau ikuti. Konferensi ini diadakan di alam terbuka bukan di hotel-hotel. Sebab konferensi kali ini untuk membicarakan nasib kaum mustadh'afin. Dalam konferensi tersebut masing-masing mengungkapkan keadaan dimana kaum dhuafa memiliki kemungkinan untuk berhasil lebih dahulu, di focuskan kekuatan dan untuk selanjutnya tergantung pada kekuatan dalam terlebih dahulu. Pada prinsipnya, jika di negerimu belum ada arsitek Revolusi, engkau sendiri yang harus tampil secara sendirian ataupun secara kolektif. Jika kekuatan musuh terlalu kuat, pada tahap awal engkau harus bergerak dibawah tanah. Hal ini relatif sama dengan priode Mekkah. Dalam konferensi itu, sangat penting dibahas secara konprehensif tentang prinsip dan definisi dari Ideology Islam sejati, Islam bersaudara, Islam Fundamentalis, Islam Habil, Islam Kaffah, Pendidikan Islam secara kaffah, Kedaulatan Allah, Wakil Tuhan (Khalifah), Wahyu dan Hikmah, Islam tidak punya batas Tori-torial, Ummah dan Imamah, Komunitas Islam, Kepemimpinan Rasul, Kaum mustadh'afin, dan lain-lain yang kesemuanya terpatri dalam Esensi Haji. Justeru itu sebelum naik haji pahami dulu apa saja yang terlibat didalamnya.

Penting untuk anda ketahui, bahwa Konferensi semacam ini tidak akan pernah terjadi, tidak akan pernah exist selama pengelola haji di kendalikan oleh manusia-manusia Qabil (baca keturunan Assaud). Mereka ini tidak mampu memahami wilayah Ideology, namun asik membicarakan tentang kebudayaan, kendatipun kebudayaan itu sudah mengalami dekaden. Dunia ini telah dirusak oleh manusia-manusia Qabil. Setelah Utusan Allah yang terakhir merobah dunia ini dari WC kepada Mesjid, (dari Jahiliah kepada Islamiah), manusia-manusia Qabil telah merobah kembali menjadi WC (Jahiliah moderen), sepeninggal Rasulullah dan Penerusnya. Dunia yang kausaksikan sekarang ini adalah WC. Tidak ngerikah engkau tinggal di WC?

Sekarang terserah engkau dalam memandang Dunia. Jika engkau termasuk manusia Habil, pandanganmu terhadap dunia ini sekarang adalah Jahiliah Moderen (WC), maka tugas engkaulah bersama Habil-habil lainnya untuk merobahnya menjadi Mesjid (Islamiah). Namun jika engkau adalah manusia Qabil, selesailah perjuanganmu, tinggal lagi membuat Mesjid seindah-indahnya, meratakan dahi dengan tikar Mushalla bersama-sama "Firaun", "Hamman","Karun" dan "Bal`am", memperbanyak zikir, tahlil dan samadiah, memasyarakatkan Musabaqah, lagu Meureudu, Panteraja dan Samalanga, menghafal Qur'an agar banyak dapat pahala, sementara Kaum mustadh'afin menjadi bulan-bulanan dari persekongkolan Fir'aun, Karun dan Bal'am. Tidak perlu risau dan khawatir orang mukmin punya senjata Do'a (hadist palsu)

Bagaimana caranya Tuan Bal'am? Telungkupkan saja telapak tangan kalian ke bawah sambil membaca Mentra-mentra, sebagai Do'a Tolak Bala. Selesai sudah perkara penganiayaan, pembunuhan dan pembantaian kaum Dhu`afa seperti yang terjadi di Acheh - Sumatra dan di seluruh pelosok Dunia lainnya. 

Ingatlah saudaraku! Al-Qur'an sebagai Pedoman Hidup dalam berumah tangga, bermasyarakat dan bernegara dipelintirkan oleh manusia-manusia Qabil, menjadi sekedar penyejuk hati bagi pembaca dan pendengar, lewat lantunan suara yang merdu. Selebihnya digunakan dalam versi seni kaligrafi, sebagai alat sumpah jabatan dalam pengangkatan pemimpin-pemimpin ala Qabil dalam system Thaghut Despotic dan juga untuk mengambil berkah pada setiap pembukaan upacara ritual, seremonial-seremonial dan pidato-pidato ritual.

Ingatlah saudaraku! Al-Qur'an dimulai dengan nama Allah (surah Al-fatihah) dan diakhiri dengan An-Nas (surah An-Nas). Al-Qur'an berakhir, namun bahaya tidak pernah berakhir. Justeru itulah Rasulullah diperintahkan Allah untuk berlindung pada Nya dari kejahatan tersebut (bal'am). Surah terakhir itu mutlak untuk dibahas dalam konferensi di Mina, agar Revolusi tidak mengalami kegagalan."Katakanlah (hai Muhammad)! Aku berlindung dengan Tuhan manusia, Raja manusia, Kekasih manusia, dari kejahatan bisikan syaithan yang tersembunyi, yang membisikkan kejahatan kedalam dada manusia, dari Jin dan Manusia. (QS. 114 ; 1 - 6)

Tahukah engkau apakah "Khannas" itu? Menurut kamus, khannas itu adalah makhluk Misterius, dia senantiasa bergerak di bawah tanah selagi kekuatanmu masih exist. Namun jika Fir'aun yang berkuasa, Bal''am senantiasa membisikkan kata-kata Surga ke telingamu, agar kamu terbuai untuk tidak memprotes kezaliman penguasa. Hati-hatilah, boleh jadi sahabatmu sendiri terperangkap ide Khannas lalu menjadi Khannas. Siapakah yang berperan sebagai Khannas? Khannas itu minal Jinnati wan Nas. Itulah berhala yang engkau gempur khusus pada tanggal 10 Zulhijjah di lembah Mina. Untuk melumpuhkan nya dibutuhkan 7 kali tembakan dan ditambah lagi pada tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah dalam serangan total, masing-masing 7 kali tembakan. Berapa pelurukah engkau habis kan untuk melumpuhkan "Khannas?" 7 + 7 x 3 = 7 + 21 = 28 peluru. Demikian hebatkah kekuatan Bal'am? Benar sekali. Disanalah terfokus kekuatan Fir'aun dan Karun. Jika Bal'am sudah dipahami dan dikenali rakyat, tumbanglah system Thaghut. Justeru Bal'amlah yang membuat rakyat jelata terlena dalam hidupnya. Sampai kapan? Sampai munculnya "Nabi Musa dan Harun" . Siapakah mereka itu? Insya Allah engkau sendiri setelah engkau pahami Esensi Haji.


Billahi fi sabililhaq
hsndwsp
di Ujung Dunia
----------


1).Orang-orang yang mengaku diri sebagai Muslim di abad ke 21 ini merasa sangat grogi ketika mendengar kata 'Pemberontak'. Mereka sepertinya takmampu berfikir, sesungguhnya semua Rasul/Utusan Allah adalah pemberontak terhadap tatanan yang Bathil/sistem Thaghut Dhalim, kecuali Nabi Adam satu-satunya yang memberontak terhadap kemewahan dan kesenangan yang tidak produktif, demi Kemanusiaan. Sesungguhnya pemberontakan yang dicetuskan Adam, telah duluan di disain oleh Allah Sendiri. Bukankah Allah lebih duluan memberitahukan pada para Malaikat bahwa Dia akan menjadikan seorang wakilNya (baca Khalifah) di bumi? Bukan di Syurga. Ketika Allah menempatkan Adam dan permaisurinya Hawa di Syurga, Allah juga memberitahukan Adam batas toritorial daerah operasinya di wilayah Syurga. 'Wala taqrabu hazihisy Syajarata"


Ketika Adam dan Hawa sadar bahwa mereka tidak produktif di alam Syurgawi dan juga tidak punya tanggung jawab apapun kecuali menikmati fasilitas yang serba komplek, gemerlap dan fantastis, mereka bertekat untuk melanggar batas tori-torial yang telah diperkenalkan pada mereka berdua, dengan jalan memakan buah ke`arifan (hazihisy Syajarata) Lalu apa yang terjadi? Terbukalah tabir yang menutupi aurat mereka, lalu keduanya konon menutupi dengan dedaunan dari Syurga. Seketika itu juga mereka diturunkan ke bumi dimana Adam di angkat sebagai wakilNya setelah Allah menerima taubatnya. Di satu sisi memang Adam rugi tidak bisa lagi menikmati fasilitas Syurga. Namun disisi yang lain dia beruntung, disamping bisa produktif yang untuk itu sesungguhnya dia diangkat sebagai wakilNya juga memiliki ke'arifan dan wawasan untuk hidup di dunia yang bebas berbuat dan berfikir bebas, dengan segala resikonya, ementara di Surga terikat dengan kostitusinya.

Memakan buah "Ke'arifan", merupakan suatu indikasi pengorbanan luar biasa Adam demi existnya Manusia. Artinya andaikata mereka tidak bersedia memakan buah ke'arifan, sampai hari ini tak ada seorang pun manusia yang lain kecuali hanya "Malaikat" Adam dan Hawa. Secara syar'i memang Adam digoda Syaithan, namun tipu daya Syaithan ini semata - mata disebabkan irihatinya kepada Adam yang dapat menikmati fasilitas Syurga. Secara filosofis Adam tau persis resiko dari memakan buah tersebut. Sebagai seorang Rasul/Utusan Allah di bumi, melanggar batas tori-torial Surga memangnya pengorbanan besar manusia pertama, demi kemanusiaan dan satunya jalan buat Adam untuk menjadi wakil Tuhan di Bumi. Dengan kata lain, pengorbanan Adam adalah fisabilinnas yang berarti juga fisabilillah. Sampai disini mencapai klimaknya tekhnik berfikir sesuai dengan firmanNya, "Afala ta'qilun dan Afala yatazakkarun?" Tak ada satupun ciptaan Allah yang sia-sia termasuk Syaithan.

2).Pada saat seseorang berada dalam keraguan, syaithanpun muncul menawarkan alternatif yang seolah-olah menguntungkan dan dibenarkan Allah. Betapa sering kita mendapatkan tawaran alternatif yang lain, saat kita mulai meragukan sesuatu keputusan yang sudah pernah kita yakini, namun kita masuk perangkap syaithan. Umpamakan saja kita sudah mendapat penjelasan yang tepat dari seseorang yang meyakinkan bahwa kita tidak boleh bekerja dalam system Thaghut Dhalim, kendatipun kita alim betul, tempat kita terakhir kelak pasti neraka. Kita berada dalam sebuah bahtera yang nakodanya/pemimpinya mengarahkan kita secara pelan tapi pasti menuju Neraka. Namun disaat seorang teman yang lain berkunjung ke rumah kita, muncul keraguan yang dimotivasi oleh enaknya jadi pegawai negeri. Lalu persoalan muncul di benak kita. Ah, baiknya kutanyakan pada temanku yang satu ini, barangkali ada jalan keluarnya, isterikupun sepertinya tak setuju aku berhenti dari pegawai negeri. Persoalan yang harus dilihat dari kacamata Ideology, ditanyakan pada temannya yang berpikiran Pragmatis dan bahkan materialis seperti sontoloyo-sontoloyo dalam system Hindunesia. Hanya saja kawan yang satu ini sering mendapat kesempatan untuk berkhutbah yang tak pernah menyentuh kesalahan pemerintah, malah jadi pembela dengan mempelintirkan ayat-ayat Allah.
Lihat kembali ESENSI HAJI I
----------

KUPERSEMBAHKAN UNTUK BANGSAKU ACHEH - SUMATRA


 
 
 
 

 




m

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar