Kamis, 18 Juni 2009

KUDA YANG MENCETUSKAN API DARI PUKULAN KUKU KAKINYA






SOROTAN SURAH AL 'ADIAT  
MERUPAKAN PERBANDINGAN ANTARA MANUSIA DAN BINATANG
hsndwsp
Acheh - Sumatra
 
KONSEPSI PERBANDINGAN KETAATAN BINATANG KEPADA TUANNYA DAN MANUSIA KEPADA TUHANNYA.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Demi kuda perang yang berlari kencang dengan (nafasnya) yang terengah-engah, (QS. 100:1) dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), (QS. 100:2) dan kuda yang menye rang dengan tiba-tiba di waktu subuh, (QS. 100:3) maka ia menerbangkan debu, (QS. 100:4) dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, (QS. 100:5) Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya, (QS. 100:6) dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, (QS. 100:7) dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta (QS. 100:8) Maka apakah dia tidak mengetahui apa bila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, (QS. 100:9) dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada?, (QS. 100:10) Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha mengetahui keadaan mereka. (QS. 100:11)

Dalam surah Al 'Adiat ini Allah bersumpah dengan kuda bahwa sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih terhadap Tuhannya. Justru itu marilah kita kaji kenapa sampai Allah sendiri menyatakan bahwa sesungguhnya manusia itu ingkar, tidak berterima kasih kepadaNya dan bakhil.

Ada dua jenis makhluk yang dapat kita buat perbandingan dari surah Al 'Adiat ini yaitu antara binatang dan manusia. Binatang disini diwakili kuda. Kuda adalah binatang yang konon dulunya (ketika surah ini diturun kan) di gunakan manusia sebagai kenderaan dalam berperang, satu-satunya sebagai pasukan kavalerinya. Kuda itu tidak mengharapkan banyak pada tuannya kecuali segumpal rumput. Kendatipun demikian kuda memiliki kepatuhan luarbiasa kepada tuannya. Lihatlah ketika tuannya membangunkannya di waktu pagi-pagi benar, dia tidak pernah memberitahukan tuannya bahwa dia belum cukup tidur, dia tidak pernah menanyakan pada tuannya apabila dia dibawa untuk bertempur, dia tidak pernah menanyakan pada tuannya bila dia mati berada dalam pertempuran itu. Dalam hal ini bukanlah disebabkan dia tidak dapat berbicara. Buktinya, dia langsung bangun ketika tuannya membangunkannya walau pagi-pagi benar sekalipun. Kenapa? Demi mengharapkan se gumpal rumput sebagai makanan dalam hidupnya.

Lihatlah bagaimana kencangnya kuda berlari sampai-sampai nafasnya terengah-engah, bagaimana kencangnya kuda berlari sampai mencetuskan api dari pukulan kuku kakinya, bagaimana beraninya kuda menyerang dengan tiba-tiba di waktu subuh, bagaimana dia lari sampai menerbangkan debu, lalu masuk ke tengah-tengah perkumpulan musuh.

Namun lihatlah kebanyakan manusia yang banyak sekali menggantungkan harapannya pada Allah, Tuhan mereka. Manusia mengharapkan kemerdekaan sebagaimana bangsa Acheh Sumatra, bangsa Chechenia, bangsa Bosnia, bangsa Palestina dan bangsa-bangsa lainnya. Manusia mengharapkan ketentraman, kese hatan, keadilan, kesenangan dan sebagainya. Namun lihatlah ketika manusia dibangunkan Allah, Tuhan nya di waktu pagi-pagi benar untuk Shalat Subukh yang hanya menghabiskan waktu lebih-kurang 15 menit, kebanyakan dari mereka lebih senang menikmati tidurnya.

Islam kaffah tidak hanya Shalat, namun andaikata shalatnya saja tidak digubris, sirnalah imannya kendatipun di depan manusia berkaok-kaok bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman, seba liknya Allah menyatakan mereka tidak beriman (Q.S, 2: 8 -20). Sementara sebahagian manusia sangat peduli tentang shalatnya, namun mereka mengabaikan "hablum minannasnya". Hablum minannas bukan lah sebatas baik hubungannya saat shalat berjamaah, apa artinya sementara saudara kita merintih di gubuk-gubuk derita. Shalat, puasa, zakat naik Haji dan latin-lain sebagainya tak ada arti sama sekali kalau Aqidahnya sudah sirna, kalau pedoman hidupnya bukan Al-Qur-an, kalau tidak mendambakan agar berlakunya hukum Allah dipermukaan bumi Allah ini. Untuk apa? Untuk membebaskan kaum dhu'afa dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka (Q.S,7:157)

Pembaca yang mulia !
Andaikata kita melihat seseorang yang menunggang kuda namun orang tersebut tidak sanggup bangun pagi-pagi benar untuk memenuhi perintah Tuhannya, yakinlah bahwa derajat orang tersebut dibawah kuda kendatipun dia duduk diatas kuda. Maafkan saya. Ini bukan fatwa saya sebagaimana ada orang dimilis ini yang menuduh saya mendahului Allah. Bagi orang-orang yang mampu befikir pasti memahami bahwa orang-orang yang benar-benar beriman senantiasa berpedoman pada pernyataan Allah sendiri, bukan fatwa manusia. Sebaliknya bagi orang-orang yang tidak mampu berfikir sebaiknya belajar pada orang-orang yang mampu, bukan sekedar melambungkan bantahan yang tidak sesuai dengan keadaan dirinya.


Billahi fi sabililhaq
hsndwsp
Di Ujung Dunia
-------

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar