Sabtu, 21 Januari 2017

KAJIAN BIMA SAKTI SECARA KONTEKSTUAL BENAR TAPI SECARA TEKSTUAL MASIH PERLU KITA PERBAIKI






KOMEN KITA INI BUKAN UNTUK MENDISKREDITKAN PROPESSOR TERSEBUT TETAPI UNTUK MENYEMPURNAKAN KAJIAN BELIAU. SEMOGA BELIAU MENERIMA CATATAN PENTING SAYA INI


http://achehkarbala.blogspot.no/2012/02/maaf-belum-ada-judulnya-yang-tepat-ii.html



https://www.youtube.com/watch?v=ntVXCkwPkPg&t=259s

Ketika kita membela Ahok tidaklah berarti Ahok lebih Islami dari Muslim benaran tetapi Ahok lebih Islami daripada Islam KTP atau seluruh presiden Indonesia kecuali Jokowi. Dengan kata lain saya hendak mengatakan bahwa semua presiden Indonesia munafiq kecuali Jokowi dan BJ Habibi yang perlu digarisbawahi. Kemunculan Ahok, non Islam yang jujur, pintar, adikl dan berani, mengundang rakyat Indonesia pada umumnya untuk berfikir bahwa bagaimana mungkin non Moslem lebih baik dari pada Moslem. Yang pasti Moslem lebih baik daripada non Moslem, kenapa yang kita saksikan kebalikannya? Apanya yang salah?  Disinbilah kita diperintahkan Allah agar kaum muslimin benaran berpikir secara kritris ketika melihat fenomema yang menyelimet seperti ini. Saat kita berafala ta'qilun dan afala yatazakkarun, barulah kita mampu mengambil konklusinya bahwa Ahok lebih Islami dari pada Islam KTP bukan dari Islam benaran. Insya Allah nanti akan saya tunjukkan pemimpin yang Islami, hingga Ahokpun pasti mengaguminya.



https://www.youtube.com/watch?v=Itcz9CgdZP0&t=48s


SETIAP MU’MIN ADALAH MUSLIM TETAPI TIDAK SETIAP MUSLIM ADALAH MU’MIN.

Benar sekali apa yang dijelaskan Gurubesar Universitas Brawijaya ini, hanya sedikit yang musti kita perbaiki saat beliau mengatakan bahwa Abu Thalib bukan Muslim. Ini masuk perangkap orang-orang yang anti keluarga Rasulullah dimana mereka memfitnah Abu Thalib agar orang ramai belakangan meyakini keturunan Imam Ali pantas dijauhkan dari kepemimpinan Islam. Dengan fitnah itu pulalah Yazid masih dianggap Muslim kendatipun membunuh Imam Hussein dan keluarga Rasulullah lainnya. 

Hadist made in Abu Hurairah yang menyatakan kisah meninggalnya Abu Talib tidak sempat mengucapkan dua kalimah shahadah walaupun Rasulullah menuntunnye adalah palsu. Hadis palsu ini jugalah yang membuat Ahok keliru mengatakan bahwa Abu Talib sendiri tidak dapat hidayah, apalagi saya (kata ahok saat menceritakan pengakuan sebahagian rakyat Belitung dan juga rakyat  Jakarta bahwa sebenarnya Ahoklah yang Islam tetapi belum mendapat hidayah Allah). Ketika Abu Thalib meninggal, Abu Hurairah jauh dari kota. Anak cucu Imam Ali dan Fathimah Az Zahara serta keluarga Rasul Allah saw tidak pernah meragukan keimanan Abu Thalib.  

Di dalam Mazhab Ahli Sunnah dapat dibilang satu­satunya hadis yang meriwayatkan ‘kekafiran’ Abu Thalib adalah Abu Hurairah. Tetapi bagaimana ia dapat menyaksikan peristiwa mening galnya Abu Thalib sedang ia pada waktu itu berada di kampung Daus, Yaman, dan baru muncul di Madinah dan masuk Islam sepuluh tahun kemu dian, bagaimana mungkin dia mengetahui proses kematian Abu Thalib, pelindung Rasulullah yang nomorwahid? (Insya Allah nanti akan saya paparkan bahwa yang terbanyak memalsukan Hadist Rasulullah adalah Abu Hurairah, kemudian Abdullah bin Umar bin Khattab dan sahabat keliru lainnya di priode kekuasaan Muawiyah, motor product Hadist palsu). Justeru itulah kalau kita berdebat tidak pernah selesai sebab kebanyakan kitab yang dikarang para ahli di support dengan hadist palsu.

Keberanian Muawiyah meracuni Imam Hassan via isterinya, Ja’dah binti Asy’ats bin Qais al­Kindi, berpunca dari sebagian sahabat yang ambisius kepemimpinan berani menjauhkan pengganti yang telah ditunjuki Rasulullah di Ghadirkhum paska Haji Wada’, dari kedudukannya sebagai pemimpin. Mereka juga berani menghalangi Rasulullah untuk menulis wasiatnya saat beliau berada di katilnya (tragedi Hari Kemis). Sepakterjang mereka yang berani melawan Rasulullah dilanjutkan oleh Muawiyah bin Abi Sofyan dan anaknya, Yazid bin Muawiyah (prototype Samiri), hingga berjuta Hadis dipalsukan untuk membenarkan mereka dan pengikutnya. Hal ini jugalah yang membuat muslim di zaman kita ini saling bermusuhan, sementara Muslim sejati pasti yang mengikuti tuntunan Allah swt dan RasulNya pasti berwawa san kemanusiaan (dengan non Muslim saja bersahabat konon pula sesama mos lem). 

Kalau kita tidak mampu memahami surah Al Maidah ayat 51 yang disalah gunakan agar Ahok tidak jadi Gubernur Jakarta dan juga difitnah Ahok menistakan Agama, carilah hadist murni Rasulullah, bukan hadist palsu. Kalau anda sukar mendapatkan Hadist murni disebabkan kemana anda berpaling kerap dihadang oleh hadist palsu disebabkan berjuta hadist palsu bertebaran dikalangan kita, carilah pengikut Ahlul bayt di zaman kita ini. Mereka memahami persis hadist murni Rasulullah dan bahkan memahami makna Qur-an yang tersirat dan juga ayat-ayat mutasyabihat, yang se ring dipelintirkan pengikut non Ahlulbayt. Mengapa mereka mampu? Sebab mereka mengikuti arahan pendamping Qur-an. Bagaimana caranya?  

Lihatlah secara bernegara, kenapa Republik Islam Iran  bersahabat dengan negara-negara Amerika Latin yang non Moslem sebaliknya Arab Saudi bermusuhan dengan Republik Islam Iran namun bersahabat karib dengan Zionis dan AS. Kenapa Ahmadinejad bersahabat dengan Hogo Charves? Sebaliknya lihat pula kenapa pe mimpin AS bermusuhan dengan Hugo Charves dan Ahmadinejad tetapi bersahabat baik dengan Raja-raja Arab?  Kenapa Ahma


Semoga propessor tersebut menerima catatan saya ini dan semoga Allah memuliakan beliau di Indonesuia

THIS IS NOT OUR Comments to discredit PROPESSOR BUT TO IMPROVE THE STUDY him. He received IMPORTANT NOTES MAY I HAVE THIS


http://achehkarbala.blogspot.no/2012/02/maaf-belum-ada-judulnya-yang-tepat-ii.html



https://www.youtube.com/watch?v=ntVXCkwPkPg&t=259s

When we defend Ahok not mean Ahok more Islamic than Muslim truth but Ahok more Islamic than Islam KTP or all of Indonesia except the president Jokowi. In other words I want to say that all the presidents of Indonesia hypocrites except Jokowi and BJ Habibi to be underlined. Occurrences Ahok, non-Muslims are honest, smart, and bold adikl, inviting the people of Indonesia in general to think that how could non Moslem better than the Moslem. Which is certainly better than non Moslem Moslem, why we are witnessing the opposite? What's wrong? Disinbilah we are commanded by God so that Muslims think kritris truth when looking at the phenomenon that menyelimet like this. When we berafala ta'qilun and Afala yatazakkarun, then we were able to take the conclusions that Ahok more Islamic than on Islam KTP not of Islam the truth. God willing I'll show you later Islamic leader, until Ahokpun definitely admire.



https://www.youtube.com/watch?v=Itcz9CgdZP0&t=48s


Mu'min EVERY MUSLIM IS BUT NOT EVERY MUSLIM IS Mu'min.

Very true what is described Professor at the UB, little that we have to correct when he said that Abu Talib is not Muslim. This entry trap people who are anti-family of the Prophet where they vilify Abu Talib that the latter believes crowded descendant of Imam Ali inappropriate deprived of the Islamic leadership. With slander it was also still considered Muslims despite Yazid killed Imam Hussein and other Rasulullah family.

Hadeeth of Abu Hurayrah made in stating the story of the death of Abu Talib did not get to say two Kalima Shahadah although Rasulullah menuntunnye is false. These false hadiths also likely to make erroneous Ahok said that Abu Talib alone can not guidance, let alone me (word recognition sebahagian Ahok while telling the people of Belitung and also the people of Jakarta that Ahoklah fact that Islam but has not received the guidance of Allah). When Abu Talib died, Abu Hurairah away from the city. Descendants of Imam Ali and Fatimah Az Zahara as well as families saw Allah's Apostle never doubt the faith of Abu Talib.

In the school of Ahli Sunnah can be practically the only hadith narrated 'infidelity' Abu Talib Abu Hurairah. But how he can watch the event meninges galnya Abu Talib was he at that time was in the village Daus, Yemen, and recently appeared on the Medina and converted to Islam ten years it later, how could he know the process of the death of Abu Talib, the Prophet protective nomorwahid? (Insha Allah I will describe later on that the most falsified Hadiths the Prophet is Abu Hurairah, then Abdullah bin Umar bin Khattab and other false friends in the period of power Muawiyah, motorcycle product Hadith false). Indeed, to argue that if we never finished because most of the book is composed of experts in support with false hadith.

Courage Muawiyah poisoned Imam Hassan via his wife, Ja'dah Ash'ath bint Qais bin Al-Kindi, berpunca of some friends ambitious courageous leadership has distanced replacement is shown a Prophet in Ghadirkhum post-Hajj Wada ', from his position as leader. They also dare to hinder the Prophet to write his will when he was in katilnya (tragedy Today Thursday). Sepakterjang those who dare oppose the Messenger followed by Muawiyah bin Abi Sofyan and his son, Yazid (prototype Samiri), to multi Hadith were fabricated to justify them and his followers. It is also likely to make Muslims in our time against each other, while certainly true Muslims who follow the guidance of Allah and His Messenger surely berwawa san humanity (with non-Muslims only friends reportedly also fellow mos glue).

If we are not able to understand the surah Al Maidah verse 51 is misused so as Ahok not be Governor of Jakarta and also maligned Ahok debasing religion, look for pure hadith of the Prophet, not false hadith. If you are difficult to obtain due to purely Hadith where you turn often confronted by false hadith false hadiths caused millions scattered among us, look for followers of Ahlul Bayt in our time. They understand exactly pure hadith of the Prophet and even understand the meaning of the Qur'an implied and also mutashabihat verses, which have often been non Ahlulbayt dipelintirkan followers. Why are they capable of? Because they follow the direction companion Qur-an. How to?


Look in the state, why the Islamic Republic of Iran are friends with the countries of Latin America are non Moslem sebalikny




Senin, 16 Januari 2017

KISAH NABI YUSUF VIA 34 VIDEO




Lanjutkan sampai video terakhir agar kita mampu meneladani Nabi Yusuf prototype Nabi Muhammad saww. 
Dari sepakterjang anak-anak Ya'kub (bani Israel) inilah kita saksikan dewasa ini komunitas yang intoleran dan tidak berwawasan kemanusiaan di seluruh dunia:






















the last one:


Kisah Nabi 'Isa bin Maryam



Kisah Nabi Ibrahim




Kamis, 12 Januari 2017






APA YANG TERJADI DI DUNIA INI SEMUANYA MENJADI PELAJARAN BAGI ORANG-ORANG YANG MAU BERPIKIR. SEMOGA NON MOSLEM TIDAK SALAH FIKIR BAHWA SEOLAH-OLAH MUSLIM SALING BUNUH - MEMBUNUH HINGGA MEMBUAT MEREKA MENJAUHKAN DIRI DARI ISLAM. 


CONTOHNYA DALAM PERANG JAMAL, SIFFIN DAN TRAGEDI KARBALA TETAPI ITU ADALAH PERANG ANTARA YANG HAQ DAN YANG BATHIL SEBAGAI LAN JUTAN DARI PERANG HABIL DAN QABIL YANG DIKHAWATIRKAN PARA MALAIKAT SAAT ALLAH MEMBERITAHUKAN MEREKA AKAN MENJADIKAN KHALIFAHNYA DI PLANET BUMI INI.

Insya Allah Kali ini saya akan meng-upload semua video yang berhubungan dengan sejarah kelam Islam yang diaplikasikan manusia-manusia munafiq, bukan non moslem dan bukan moslem terhadap keluarga suci Rasulullah saww. Tujuan saya mengangkat video-video ini di wall fb saya agar para sahabat fb saya dan juga siapapun yang berkenan menelitinya secara cermat dan sabar akan membuat kejernihan berpikir terhadap misi Islam yang asli serta mendapat redha Allah sebagai kesimpulan akhir untuk dicapai seorang manusia dunia dan akhirat.

Perlu kita garisbawahi bahwa kebanyakan orang kita keliru berpikir tentang "Video/Film". Video/Film juga seperti sejarah. Benar tidaknya suatu isi Film bukanlah disebabkan itu hanya Film tetapi film itu juga merupakan sarana untuk menyampaikan pesan kebenaran, terlepas di seluruh dunia kebanyakan video atau film tidak dapat dipercaya disebabkan banyaknya manusia film dan produsernya adalah orang-orang yang tidak beriman secara benar. Akibatnya cendrung menga plikasikan film-film/video yang komersil, demi menggapai untung materi duniawi semata-mata.

Yang mereka lupa adalah tidak dapat dinafikan bahwa masih ada video/film yang benar dan redha Allah sebagaimana sejarah walaupun kebanyakan orang menganggap positif, namun mereka tidak sadar bahwa banyak juga sejarah dikemas secara salah (baca sejarah palsu/menggunakan fakta-fakta yang palsu). Umpamanya sejarah Acheh dipalsukan oleh manusia-manusia yang anti Acheh, sejarah Ahlulbayt Rasulullah dipalsukan oleh manusia-manusia yang anti Ahlulbayt.

Mengingat dewasa ini kebanyakan para ABG senang dengan video-video/film-film, maka sejarah yang penting perlu kita aplikasikan via video-video agar mereka senang mempelajarinya, dibandingkan dengan sejarah yang kita sajikan via literatur yang disenangi oleh para intelectual tetapi tidak begitu tertarik bagi kaum pelajar kelas SLTP dan SLTA.

Insya Allah kali ini saya hendak meng-upload video-video tentang ASYURA DAN KARBALA secara lengkap dengan judul: "MUHKTAR"/Prototype Imam Ali dan Imam Hussein. Ini kita harap kan bisa merupakan sebagai jalan keluar bagi siapa saja yang tidak sempat mengikuti acara Asyura dan Karbala, disebabkan belum ada yang buat dikawasan mereka atau masih asing dengan istilah Asyura dan Karbala, hingga mereka tidak mengetahui peristiwa yang paling menyayat hati manusia beriman terhadap kezaliman yang diperlakukan musuh-musuh manusia (kaum munafiqun) terhadap keluarga suci Rasulullah saww.

"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya".(al Ahzab, 33):

Video secara lengkap kisah perang Karbala dapat anda saksikan di akhir dari http berikut ini (40 set video): http://achehkarbala.blogspot.no//setiap-hari-adalah-asyura…

VIDEO 01

Mohktar Arab dan Kiyan Persia adalah realitanya sebagai bintang dalam kebangkitan pembela Imam Hussein dan Ahlulbayt keseluruhannya. Via video-video ini kita bisa menyaksikan realitanya bahwa mayoritas bangsa Arab berbalik kebelakang paska kewafatan Rasulullah saww. Hanya sedikit sekali dari bangsa Arab yang mampu memelihara Iman mereka terhadap Allah, RasulNya dan Ulul Amri yang haq. Mereka yang bepatahbalik itu rasis dan munafiq. Mereka sangat benci terhadap bangsa Parsi sejak dulu hingga sekarang ini.

Sungguh benar firman Allah dalam surah Jum’at ayat 3 dan 4 bahwa Islam akhirnya pindah ke Parsi (bangsa Salman al Farisi). Via video ini dapat disaksikan bagaimana zalimnya mereka terhadap orang-orang Parsi. Mereka masih saja mengejek orang Parsi dengan panggilan kaum Majusi, mereka lupa bahwa orang Arabpun disebut kaum jahiliah sebelum kedatangan Nabi Muhammad saww. Bedanya orang Parsi beriman penuh paska kehancuran kekuasaan Majusi menjadi mu’min sejati, hingga Allah menurunkan ayat 3 dan 4 dari surah Jum’at sedangkan orang Arab paska kewafatan Nabi Muhammad tetap munafiq dan rasis, kecuali sedikit.

Video 34

Mereka yang menentang pemerintah Mokhtar adalah komunitas yang tidak berbeda dengan komunitas Yazid bin Muawiyah, pembantai keluarga Rasulullah di Karbala. Dulu ketika saya mengenyam pendidikan agama dalam versi Sunni, mendapat info yang keliru tentang Kebangkitan Muhktar. Kini setelah saya menjadi pengikut Ahlulbayt dan mendalami ayat 3 dan 4, surah Jum’at serta Siasah fatanah dari kalangan Bangsa Parsi/Republik Islam Iran, barulah saya mendapat info yang sebenarnya mengenai pergerakan dan kebangkitan Muhktar sama seperti pemerintahan Imam Ali bin Abi Thalib yang brilliant. Pembaca tidah seharusnya 


VIDEO 01Mohktar Arab dan Kiyan adalah realitanya sebagai bintang dalam kebangkitan pembela Imam Hussein dan Ahlulbayt keseluruhannya. Via video-video ini kita bisa menyaksikan realitanya bahwa mayoritas bangsa Arab berbalik kebelakang paska kewafatan Rasulullah saww. Hanya sedikit sekali dari bangsa Arab yang mampu memelihara Iman mereka terhadap Allah, RasulNya dan Ulul Amri yang haq. Mereka yang bepatahbalik itu rasis dan munafiq. Mereka sangat benci terhadap bansa Pa




Senin, 02 Januari 2017

RESPON "ISU PKI CARA LICIK AMERIKA JATUHKAN JOKOWI"

"ISU PKI CARA LICIK AMERIKA JATUHKAN JOKOWI" (MAAF BELUM SEMPAT KITA EDIT)


Ternyata benar baru Jokowi dan Ahok di Indonesia, pemimpin yang berwawasan kemanusiaan dan juga merakyat. Mereka berdua sedang merapatkan barisannya dengan Republik Islam Iran dan Rusia. Dunia ini sekarang sedang menuju perobahan dengan kemunculan Hizbullah - Republik Islam Iran sebagai Superpower Islam yang tidak mengandalkan senjata Nuklir, Rusia, Cina, Korea Utara dan Amerika Latin.
Sayangnya MUI masuk perangkap ISIS, yaitu terosis berbaju agama. Komunitas manapun yang intoleran dapat dipastikan itu komunitas berasal dari Arab Saudi yang yaziddin alias menganut ideology Yazid yang merusak Islam dari dalam. Untuk mendeteksi sepakterjang komunitas yang intolerant ini kata Philosof Imran Husen, kita tidak perlu memiliki sarjana. Namun sarjana yang keliru juga masuk perangkap kaum yang intolerant tersebut.
Beruntungnya Indonesia sekarang bahwa Jokowi mampu memperbaiki keberadaan Tentara dan Polisi, tinggal lagi yang belum saya ketahui kondisi para Hakim Indonesia, apakah masih model yang keliru macam para hakim zaman Suharto cs atau memang juga sudah berobah. Apabila para hakim masih model jaman Suharto s/d Yudhoyono, dapat dipastikan Ahok akan dimasukkan dalam penjara. Itu memang kebiasaan rezim despotics dimana orang yang baik dan jujur dimasukkan dalam penjara, yang salah ketawa (kata Rhoma Irama dalam Sya'irnya). Kalau Yudikatif, Legislatif dan Exekutif belum benar, pembela kebenaran atau siapapun yang berlawanan arus dengan para koruptor akan masuk penjara seperti Antasari Azhar. Untungnya Abraham Samad belum sempat ditangkap priode Yudhoyono.
MUI dan FPI tidak dapat membedakan antara kritik dan penghinaan. Ahok mengkritisi politikus jahat dimana mereka menggunakan cara apa saja untuk mencapai tujuannya, termasuk menggunakan ayat-ayat Qur-an. Realitanya para politikus jahat (baca koruptor) memang sudah mati kutu di zaman Jokowi dan Ahok. Para koruptor itu bukan saja yang bercokol di lembaga Legislatif tetapi juga di lembaga MUI. Justeru itulah anggota MUI mendukung FPI yang kewalahan saat berhadapan dengan Ahok yang brilliant itu.
Ayat 51 surah al Maidah tidak digunakan untukmemilih pemimpin tetapi berhubung dengan pergaulan dalam memilih teman, dimana memang Allah melarang kita kaum Muslimin berteman dengan Yahudi dan Nasrani/Kristen. Yang tidak dipahami MUI dan FPI, Yahudi dan Kristian yang bagaimana yang dilarang Allah. Ayat 51 adalah non Moslem yang Harbi sedangkan Ahok adalah non Moslem yang Jimmi. Juisteru itu Ahok tidak termasuk menista Agama tetapi mengkritisi para Ulama palsu atau alimpalsu.
Ahok termasuk Nasrani dalam ayat berikut ini: "Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri" (Q.S al Maidah 82).
Baca juga ayat berikut ini: 
sungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(QS, al Maidah 69)

ISU PKI CARA LICIK AMERIKA JATUHKAN JOKOWI, memang penting sekali untuk diketahui tetapi yang tidak tepat disini penyiar Radio tersebut menggunakan lagunya yang tidak menggambarkan NKRI kecuali bangsa Jawa. Hal ini secara tidak langsung sudah membenarkan pernyataan kami non Jawa bahwa bangsa Jawa bersembunyi dibalik nama Indonesia. Realitanya semua prersiden dari orang Jawa. Inilah yang membuat NKRI rapuh untuk dipersatukan. Namanya memang Republik Indonesia tetapi dalam prakteknya macam kerajaan Jawa/lanjutan kerajaan Majapahit.
Saya sendiri dari bangsa Acheh – Sumatra tidak benci terhadap orang Jawa sebab semua bangsa di Dunia ini sama saja dimata Allah kecuali memiliki kelebihan disebabkan ketaqwaannya kepada Allah swt. Maka justeru itu mulai kepemimpinan Jokowi yang berwawasan kerakyatan dan kemanusiaan, kita harapkan kedepan presidennya paska 2 priode Jokowi nanti tidak lagi orang Jawa tetapi harus orang non Jawa.
Ahok adalah non Jawa dan bahkan termasuk orang Sumatra. Isu yang difitnahkan kepadanya dengan menggunakan ayat Qur-an akan berakibat NKRI betambah parah dimasa yang akan datang. Disini terindikasi bahwa orang-orang yang anti kepada Ahok (baca orang MUI dan FPI) sangat tidak logis kalau tidak kita katakan rasis dan masuk perangkap Islam Takfiri dan Teroris (ISIS) yang sedang menzalimi bangsa Suriah dan Irak sekarang ini.

Sampai sekarang ini realitanya belum muncul pemimpin yang tepat untuk memimpin Indonesia kecuali Jokowi Jawa dan Ahok Belitung – Sjumatra. Justeru itu orang non Jawa dan non Sumatra tidak logis untuk meminta agar presiden dari kalangan mereka. Sebab kini persoalan kemampuan diatas segalanya walaupun Ahok non Moslem seka lipun lebih baik daripada Moslem berbaju agama tetapi tidak memimpin secara Islami. Ini menunjukkan mereka itu bukan Moslem tatapi kaum munafiqun (QS, Al Baqarah 8). Dalam pandangan Qur-an, non Moslem yang berwawasan kemanusiaan lebih baik daripada Moslem yang tidak berwawasan kemanusiaan/intoleran/al Munafiqun.

Terakhir sekali kita perlu sekali menghimbau bangsa non Jawa dan non Sumatra agar tidak lagi membicarakan tuntutan kemerdekaan. Hal ini disebabkan beberapa sebab yang signifikan untuk dipikiri.

Pertama Revolusi yang dibenarkan Allah adalah revolusi yang memiliki kepemimpinan yang haq disisi Allah. Kepemimpinan yang redha Allah adalah kepemimpinan yang tidak meneladani siapapun kecuali Rasulullah serta memiliki pengikut yang mayoritas memahami bahwa keberadaan mereka disisi Allah sama nilainya dengan keberadaan pemimpin mereka dan mereka harus tunduk patuh kepada pemimpin tersebut sebagai ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Oleh sebab itu kalau tidak ada pemimpin yang demikian makanya Revolusi tidak dibenarkan Allah sekarang ini, apalagi Indonesia sekarang tidak lagi Indonesia yang menzalimi Rakyat mayority macam zaman Suharto s/d Yudhoyono. Soal hanya baru rakyat Jakarta dan sekitarnya saja yang baru menikmati kesejahteraan memang kawasan lain harus bersabar. Semoga program kesejahteraan Rakyat di daerah-daerah jangan dihambat oleh birokrasi daerah hingga kerap menyalahkan pihak lain.

Kedua secara globalisasi, dunia sedang dihadapkan pada dua kutub raksasa, Kutub Habil dan kutub Qabil (kutub Toleran dan kutub intoleran). Justeru itu kita harus fokus pada kutub Habil yang toleran agar kita tidak menyesal andaikata mati dalam peperangan dunia ke III nanti, sebagai imbas dari pertempuran antara kutub Habil dan Qabil. Kecuali revolusi pembebasan Republik Islam Iran, yang lainnya semua tidak ada revolusi yang benar-benar merdeka paska revolusi. Hal ini disebabkan ternyata saat mereka berevolusi, bekerjasama dengan kutub Qabil. Justeru itulah mereka tidak merdeka benaran tetapi merdeka pura-pura/basa-basi.

PBB itu dikuasai oleh manusia kutub Qabil yang tidak pernah adil saat negara-negara kecil yang ingin merdeka meminta bantuan mereka yang seharusnya berfungsi segagai "Orangtua Dunia", sebaliknya memihak komunitas Qabil serta menipu komunitas Habil yang lugu. Satu-satunya komunitas Habil yang tidak lugu adalah Republik Islam Iran, makanya tidak mampu mereka tipu walaupun seluruh dunia memihak komunitas Qabil (baca perang Irak – Iran) yang dipaksakan.
Ketiga, sepertinya perang Dunia III sudah dekat waktunya. Dari itu sungguh keliru sekali kalua kita asik berbicara kemerdekaan negara kita sendiri sekarang sementara perang Dunia ke III bagaikan air bah yang akan menggulung semua tanaman kita yang sedang kita tanam (baca sedang berevolusi), apalagi masa berevolusi tidak tepat lagi untuk kita sekarang dimana Indonesia sudah merapatkan barisan dengan negara-negara yang berwawasan kemanusiaan/kutup Habil.
Manusia kutub Qabil sebetulnya mudah di deteksi tetapi saat mereka “berbaju agama”, banyak manusia kutub Habil yang lugu untuk masuk perangkap mereka. Di Indonesia sekarang ada FPI yang menamakan diri sebagai Pembela Agama tetapi realitanya me reka salah makan obat. Mereka justeru menjadi musuh terhadap fenomena kebenaran. Merekalah yang namanya manusia kutub Qabil yang berbaju agama disamping MUI, HTI dan PKS. Mereka itu berasal dari komunitas Qabil berbaju agama yang sama yaitu “Kerajaan Arab Saudi dan Turki cs ”


Senin, 26 Desember 2016

HUJJATULLAH YANG BRILLIANT PASKA KEWAFATAN RASULULLAH





KITA MENGETAHUI BAHWA BANYAK PARA PEMIKIR YANG BRILLIAN DAN MENGAGUMKAN BANYAK ORANG DI ZAMAN KITA INI AKAN TETAPI INI BELUM BERMANFAAT BUAT MANUSIA DENGAN KEBERADAAN MEREKA KECUALI MEREKA JUGA MENGENAL PERSIS PARA HUJJATULLAH YANG DIUTUS ALLAH SWT PASKA KEWAFATAN RASULULLAH SAWW


TANPA MENGENAL HUJJATULLAH YANG DIUTUS DIKOLONG LANGIT PASKA KEWAFATAN RASULULLAH FILOSOF MANAPUN KELIRU JALAN PIKIRANNYA



Bismillaahirrahmaanirrahim
Para filosof non Syi'ah telah mampu menjawab pertanyaan sulit seorang Atheis dengan bagus. Kalau kita buka Internet, kita menyaksikan banyak ahlipikir atau filosof yang mampu menjawab berbagai pertanyaan penting dalam hidup ini baik dari pihak kaum muslimin maupun dari pihak non Moslem hingga kebanyakan pendengar atau pembaca terkesima dengan jawaban ilmiah para ahli tersebut. Dengan inteligennya yang tinggi kita patut mengakui bahwa mereka telah banyak mengalahkan para pemikir lainnya akan tetapi para ahli tersebut kewalahan ketika berhadapan dengan pemikir dari pengikut para Ahlulbayt Rasulullah saww. Hal ini disebabkan mereka tidak percaya keberadaan para Ahlulbayt yang berfungsi sebagai Hujjatullah dan Pendamping Qur-an paska kewafatan Rasulullah agar ummah Muhammad tidak sesat selama-lamanya. Hal ini dapat dilihat pada ayat persatuan (wa’tasimu bihablillahi jamiiaw, wala tafarraqu), dimana ayat ini berhubungan dengan Hadist Tsaqalain murni. Kenapa kita sebut Tsaqalain murni? Sebab Hadist tersebut telah dipal sukan hingga berakibat kaum muslimin tidak dapat bersatu paska kewafatan Rasulullah sampai zaman kita ini terus berpecah belah.

Imam Baqir mengatakan: "Siapapun yang tidak mengenal Imam yang diutus, terpuruk pada kesimpulan yang keliru tentang pemahaman agamanya". Dalam hal ini Imam al Baqir as berkata: " Setiap orang yang mendekatkan diri kepada Allah dalam bentuk ibadah yang ditekuninya dengan sungguh-sungguh, tetapi ia tidak menge tahui Imam yang diutus Allah, maka semua amal usahanya itu tidak diterima. Ia adalah orang yang sesat dan kebi ngungan. Allah menolak semua amalnya, perum pamaan orang seperti itu adalah ibarat seekor domba yang tersesat dan terpi sah dari kelompok dan pengembalanya. Keter pisahannya itu merusak hari-hari yang dilaluinya. Ketika malam tiba, ia bergabung dengan kelompoknya dalam kandang mereka, dan ketika sang pengembala menggiring mereka, domba tersebut mem bangkang dan memisahkan diri dari kelompoknya, sehingga ia kebingungan mencari pengembala dan kelompoknya. Ketika ia bertemu dengan seorang pengembala de ngan sekelompok dombanya, ia diperlakukan dengan baik, dan sigembala berte riak kepadanya, 'Ayo, bergabunglah engkau dengan pengembala dan kelompokmu. Engkau domba sesat yang kebingungan.' Domba itu lalu mencari-cari kelompok dan pengembalanya dengan kebingungan. Ia tidak punya gembala yang menggiringnya ke padang rumput atau mengajaknya pulang. Ia tetap dalam kebingungan seperti itu disaat ada seekor serigala yang menemuinya, lalu menerkamnya. (Ushul al Kafi, bab Ma'ri fat al Hujjah hadist no 1 dari Kitab al Hujjah)

Allah dan RasulNya dikenal kebanyakan orang muslim tetapi kebanyakan mereka tidak mengenal unsur ketiganya, siapakah sosok tersebut. Kebanyakan mereka mengira sosok terfsebut adalah siapa saja yang berkuasa terhadap mereka/pemerintah mereka. Inilah yang membuat mereka keliru 180 derajad dalam beragama walaupun mereka jenius se kalipun. Logikanya, kita mengenal Allah via Rasulullah hingga Allah menar-benar kita kena li. Persoalannya sama siapakah kita mengenal Rasulullah? Pastilah via Ulil Amri. Penge nalan disini bukan secara basa-basi/cuekin tetapi mengenal persis. Dari itu disebabkan kita mentaati Ulil Amri yang salah, berakibat salahlah dalam beragama hingga kita termasuk pihak yang mendapatkan tempelakan Allah hari kiamat sebagaimana tertera dalam surah Yasin ayat berikut ini: 

"Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu hai Bani Adam agar supaya kamu tidak mengi kuti (langkah) syaitan? Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kamu"(QS,36:60). Dan tundukpatuhilah kepadaKu (ikutilah Aku). Inilah jalan yang (selurus)-lurus(nya) (QS, 36:61). Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan seba hagian besar diantaramu, Maka apakah kamu tidak memikirkan? Inilah Jahannam yang dahulu kamu diancam (dengannya).(QS,36:62). Masuklah (kamu) ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu menging karinya (QS, 36:64). Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan (QS, 36:65)

Dengan catatan ini semoga para ahli pikir manapun mau menelusuri dalam hidup nya, siapa sajakah Hujjatullah di planet Bumi ini hingga tanpa manusia agung itu Bumi ini akan binasa atau runtuh atau kiamat. Demikianlah penting Allah menjadikan HujjahNya di kolong langit ini.

Pertama sekali para filosof perlu mempertanyakan kenapa Allah tidak menggunakan kata "bidinillah" pada ayat "Wa’tasimu bihablillah", dimana kebanyakan pemikir menterjemahkan "bidinillah". Ini termasuk kata "simbolik" yang memiliki makna dan fungsinya yang begitu penting disisi manusia yang benar imannya. Hadist Tsaqalain murni berbunyi: "Kutinggalkan kepadamu dua perkara besar, apabila kalian berpegangteguh kepada keduanya kalian tidak akan sesat selama-lamanya, sampai menemuiku di Pancutan Kautsar, yaitu Qur-an dan "Ittrahku". Ittrah Rasulullahlah yang berfungsi sebagai Hujjatullah dan pendamping Qur-an. Hujjatullah yang pertama sebagai pendamping Qur-an adalah Rasulullah sendiri. Makanya Qur-an butuh Hadist sebagai penjelasannya.

Andaikata Allah tidak mengutus HujjahNya paska kewafatan RasulNya (sebagai perpan jangan keimamahannya) dapat dipahami bahwa paska kewafatan Rasulullah, dunia akan menjadi seperti paska Ghaibnya Nabi ‘Isa bin Maryam dimana kitab Injil dipalsukan dan ‘Isa sendiri dianggap sebagai Tuhan. Justeru itu Allah menjamin kemurnian Qur-an segagai Kitab terakhir bagi ummat manusia terakhir di planet Bumi ini. Lalu pertanyaannya, kenapa juga paska kewafatan Nabi Muhammad saw kaum muslimin terus pecah belah? Qur-an memang tidak dapat dipalsukan sesuai pernya taan Allah sendiri bahwa Dia sendiri yang menjamin keasliannya. Memang banyak pihak mencoba untuk memaslukan Qur-an tetapi selalu terbongkar niat jahat tersebut. Akan tetapi Qur-an terdiri dari ayat muhkamat dan Mutasyabihat, ayat ansih dan mansuh, ayat tersurat dan tersirat. Kalau ayat muhkamat memang tidak butuh pendamping, mudah dipahami, namun ketika kita berhadapan dengan ayat-ayat sulit, kita butuh pendampingnya agar tidak sesat selama-lamanya.

Banyak para pemikir yang brillian tetapi tetap saja keliru disebabkan mereka tidak mengenal pendamping Qur-an. Padahal mereka yakin bahwa untuk mengetahui ayat-ayat Sulit kita butuh Hadist Rasulullah (pendamping Qur-an). Kesilapan mereka adalah tidak sadar bahwa para manusia jahat memang tidak mampu memalsukan Qur-an tetapi mereka mampu me malsukan Hadist sebagai pendamping Qur-an. Itulah sebabnya pengikut Ahlulbayt (Syi’ah Imamiah 12) tidak akan pernah sesat sebab mereka mengenal pendamping Qur-an yang dimaksudkan dalam Hadist Tsa qalain murni yaitu Ittrahnya Rasulullah sendiri yang SK kesuciannya diturunkan Allah berbarengan dengan Hadist Kisa. Ittrah Nabi suci inilah yang dimaksudkan Allah dengan «Tali Allah/bihablillah» untuk kita bersatu. Itulah sebabnya ha nya pengikut Ahlulbayt yang memahami persoalan esensi persatuan yang dimaksudkan Allah swt.

Terakhir sekali saya hendak menjawab kekeliruan salah seorang pemikir bahwa katanya kata Syi’ah tidak disebutkan dalam Qur-an:

Para ahli pikir itu  mengatakan bahwa Syi’ah (baca pengikut Ahlulbayt) tidak disebut kan dalam Qur-an. Katanya Qur-an hanya menyebut Muslim, bukan Syi’i dan bukan Sunni. Kalau Ahli pikir itu mengatakan bahwa Qur-an tidak menyebut Syi’i, terindikasi mereka belum membaca Qur-an keseluruhannya. Kalaulah sudah mereka baca berarti tidak memahami Qur-an keseluruhannya. Sebetulnya banyak pemikir non Syi’i yang memahami Qur-an tetapi mereka tidak memahami ayat-ayat yang penting disebabkan mereka tidak mengenal Hujjatullah/pendamping Qur-an dimana melalui merekalah kita mampu memahami ayat-ayat Qur-an yang terpenting walaupun kita hanya orang biasa.

Petama silakan buka surah Al Bayyinah:
Mazhab Syiah Imamiyah Itsna Asy'ariyah (Pengikut 12 Imam) adalah sebuah komunitas besar dari ummat Islam pada masa sekarang ini, dan jumlah mereka diperkirakan ¼ jumlah umat Islam. Latar belakang sejarahnya bermuara pada masa permulaan Islam, yaitu saat turunnya firman Allah swt. surat Al-Bayyinah ayat 7 :


إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُوْلَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّة

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, mereka adalah sebaik-baiknya penduduk bumi. (QS. Al Bayyinah [98]:7)

Selekas itu, Rasulullah saww. meletakkan tangannya di atas pundak Ali bin Abi Thalib a.s., sedang para sahabat hadir dan menyaksikannya, seraya bersabda: “Hai Ali!, Kamu dan para syi’ahmu adalah sebaik-baiknya penduduk Bumi”. [1] Dari sinilah, kelompok ini disebut dengan nama “syi’ah”, dan dinisbatkan kepada Ja’far Ash-Shadiq a.s. karena mengikuti beliau dalam bidang fiqih.

Selanjutnya kata Syi'ah dalam Qur-an dapat anda telusuri di alinia-alinia berikut ini:   

"(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap ummah dengan Imamnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikit pun" (QS. Al-Israa: 71)

Pada hari pengadilan akhirat, takdir dari setiap orang yang mengikuti para Imamnya yang dipercayainya akan tergantung dari Imam-Imam yang dipercayainya itu apabila ia memang benar-benar mengikuti para Imam yang ia percayai itu. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa ada dua jenis Imam yang diikuti dan diyakini oleh para pengikutnya. Ada Imam yang mengajak manusia untuk masuk ke dalam Api Neraka. Untuk kategori ini adalah para pemimpin yang dzalim dan tiran di masanya seperti Fir’aun, misalnya. Kita harus mampu mendeteksi Fir-un-fir'un modern/regim-regim despotik dan arogant.

"Dan Kami jadikan mereka para Imam yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.

Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah)" (QS. Al-Qashash: 41—42)

Al-Qur’an sudah memberikan peringatan kepada orang-orang yang mengikuti para imam yang dzalim dan para pengikut imam seperti itu akan mendapatkan takdir buruknya kelak di akhir zaman. Mereka akan digabungkan dengan para imamnya itu dalam Jahanam.

Di sisi lain Al-Qur’an juga memberikan informasi tentang adanya Imam-Imam yang memang ditunjuk oleh Allah untuk membimbing manusia ke jalan yang benar. Lihatlah ayat berikut ini:

"Dan Kami JADIKAN di antara mereka itu IMAM-IMAM yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami." (QS. As-Sajdah: 24)

(lihatlah kata-kata JADIKAN dan IMAM-IMAM yang menjelaskan secara tegas tentang jabatan Imam yang ditunjuk oleh Allah dan bukan oleh manusia. Dan mereka memiliki fungsi yang kurang lebih sama dengan Nabi walaupun tidak membawa kitab suci yang baru).

Dengan melihat ayat-ayat tersebut di atas, maka kita bisa simpulkan bahwa para pengikut dari Imam-Imam yang mendapat mandat dari Allah itu akan menemui kebahagiaan di akhirat kelak. Jadi kalau kita menjadi pengikut seorang imam maka itu tidak berarti apa-apa kalau yang kita ikuti itu adalah seorang imam yang tidak mendapatkan mandat dari Allah. Jadi akhir yang baik dan yang buruk bagi kita di akhirat kelak itu ditentukan dari siapakah imam yang kita ikuti dan patuhi selama kita hidup di Bumi.

Allah telah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa beberapa hambaNya yang haq adalah juga pengikut (Syi’ah) bagi para hambaNya yang lain. Seperti pernah dijelaskan Al-Qur’an bahwa Nabi Ibrahim itu adalah pengikut (Syi’ah) dari Nabi Nuh. "Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh)" (QS. Ash-Shaaffaat: 83)

(Lihatlah kata "Syi’ah" yang dipakai secara jelas sekali oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an secara eksplisit menggunakan kata itu huruf demi huruf dalam ayat tersebut di atas dan juga dalam ayat berikut ini)

Dalam sebuah ayat dalam Al-Qur’an diceritakan tentang pengikut (?????) Nabi Musa melawan musuh-musuh dari Nabi Musa. Lihatlah ayat berikut dan lihatlah penggu naan kata SYI’AH untuk ayat tersebut:

"Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapati nya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari SYI’AHNYA (pengikutnya Bani Israel) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari SYI’AHNYA (pengikutnya) meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan, sesung guhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya) (QS. Al-Qashash: 15)

Di dalam ayat Al-Qur’an di atas ada orang yang disebut sebagai pengikut Nabi Musa (atau SYI’AH MUSA) dan orang yang satunya lagi disebut sebagai musuh dari Nabi Musa. Orang-orang pada jaman bisa dibagi kedalam dua kelompok: kelompok SYI’AH MUSA atau kelom pok MUSUH MUSA.

Dengan kata lain bisa kita simpulkan bahwa Allah secara resmi menggunakan kata SYI’AH dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan pengikut para Nabi dan sekaligus para Nabi itu sendiri (masih ingat Nabi Ibrahim yang disebut sebagai SYI’AH—pengikut—dari Nabi Nuh?). Allah menggunakan kata SYI’AH ini dengan segenap penghor matan kepada para hambaNya yang shaleh. Apakah dengan itu kita membuat Nabi Ibrahim itu sebagai seorang sektarian? Bagaimana dengan Nabi Nuh dan Nabi Musa?

Kata "Shiah" itu sendiri artinya "pengikut" atau "anggota dari sebuah kelompok". Sementara itu kata SYI’AH sendiri sebenarnya tidak mengandung sifat positif atau negatif. Kata itu akan bersifat negatif atau positif apabila kata itu disandingkan dengan nama seorang pemimpin tertentu.

Apabila seorang pengikut (Syi'ah) itu mengikuti para hamba Allah yang haq, maka tidak ada salahnya dengan kata Syi'ah itu apalagi mengingat Imam yang ia ikuti itu adalah Imam yang diberikan mandat langsung oleh Allah untuk membimbing ummat manusia. Sementara itu apabila seseorang itu telah menjadi seorang pengikut (Syi'ah) dari seorang tiran yang kejam; seorang pemimpin yang tidak berperike manusiaan; seorang pemimpin yang korup bukan kepalang, maka ia akan menemui takdir buruknya bersama dengan imam yang diikutinya.

Selanjutnya mari kita analisa Hadist Bahtera (Hadist Ittrah Nabi suci): "Ahlul baytku umpama bahtera Nuh, siapa yang naik selamat dan siapa yang tidak naik tenggelam". Kita dapat menarik kesimpulan bahwa siapapun yang mengaku beragama Islam tetapi tidak termasuk pengikut Ahlulbayt Rasulullah, mereka itu akan masuk Neraka kelak (nauzu billahi min zalik). Selanjutnya perlu kita nalisa system Thagut macam Hindunesia, Irak di jaman Saddam, Iran di jaman Shah Redha Palevi dan sebagainya, adakah termasuk bahtera yang sama dengan bahtera Ahlulbayt Rasulullah atau bahtera Muawiyah dan Yazid bin Muawiyah. Kalau system yang sama dengan bahtera Ahlulbayt Rasulullah, "penumpang nya" mendapat Rahmat semuanya tanpa kecuali. Sebaliknya yang kita saksikan dalam system Hindunesia, sebahagian penumpangnya hidup mewah sementara mayoritas pe numpangnya hidup morat marit. Lalu selanjutnya kita pertanyakan orang-orang "alim" dalam bahtera Hindunesia dan semacamnya, adakah mereka menjadi pembela kaum mustadhafin dengan ilmu agama yang segudang mereka miliki? Bukankah mereka itu hanya dimulut saja mengaku tidak ada Tuhan selain Allah sementara dalam sepakter jangnya sehari-hari menuhankan Penguasa zalim yang menzalimi ekonomi kaum mustad 'afin akibat tidak menghukum para koruptor dengan hukum yang diturunkan Allah (baca QS, al Maidah 44, 45 dan 47)



HUJJATULLAH YANG BRILLIANT SEMUANYA SYAHID.

 JUSTERU ITULAH YANG TERAKHIR DI GHAIBKAN 

SEPERTI 

NABI 'ISA BIN MARYAM:



1. Imam Ali bin Abi Thalib Amirul Mukminin a s 

2. Imam Hasan Al-Mujtaba a.s. 

3. Imam Husain Sayyid Asy-Syuhada a.s. (keduanya adalah putra Imam Ali dan Sayidah Fatimah a.s. dan cucuanda Nabi suci saww. 

4. Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad a.s. 

5. Imam Muhammad bin Ali Al-Bagir a.s. 

6. Imam Ja’far bin Muhammad Al-Shadiq a.s. 

7. Imam Musa bin Ja’far Al-Khadzim a.s. 

8. Imam Ali bin Musa Ar-Ridha a.s. 

9. Imam Muhammad bin Ali Al-Jawad-At-Taqi a.s. 

10. Imam Ali bin Muhammad Al-Hadi- An-Naqi) a.s. 

11. Imam Hasan bin Ali Al-‘Askari a.s. 

12. Imam Muhammad bin Hasan Al-Mahdi Al-Muntazhar a.s. yang dijanjikan dan dinantikan. (read less)

Open: All content is public.


Website:

http://www.al-hadj.com 

http://www.khamenei.ir 

http://www.leader.ir 

http://www.wilayah.org 

http://www.al-shia.org/html/id/index.htm 

http://www.fatimah.org/index1.htm


Al­ Qur-an Tentang Keluarga Para Nabi 

Dalam Al­Qur’an diceritakan tentang para Nabi yang berdoa kepada Allah SWT bagi keluarganya, dan memohon kepada­Nya untuk menuntun keturunan mereka. Allah SWT selalu mengabulkan doa para Nabi dengan memberikan berkah­Nya kepada keturunannya, agar anak cucu Nabi itu dapat melestarikan ajaran orang tua dan datuk kakek mereka, mencontohi kesalehan orang tua mereka, dan menjaga jalan yang lurus’ yang diajarkan Nabi itu, yaitu dzurriyah, al, ahl, dan qurba. Dzurriyah, misalnya, yang berarti keluarga, turunan atau keturunan langsung, terdapat dalam 32 ayat al­Qur’an. Misalnya, Allah SWT berfirman: 

(Ingatlah) ketika Ibrahim mendapat ujian dari Tuhannya untuk memenuhi beberapa suruhan, lalu ia menunaikannya. Berfirman (Allah), ‘Akan kujadikan kau pemimpin (imam) bagi manusia’. (Ibrahim memohon) ‘Dari keturunanku (dzurriyati), juga jadikan pemimpin­pemimpin)’. Menjawab (Tuhan) dan berfirman. ‘Janji­Ku tidak berlaku bagi orang yang zalim. 569 
Di bagian lain, Ibrahim as berdoa kepada Allah SWT: 
‘Tuhan kami! Aku telah menetapkan sebagian keturunanku di lembah tanpa tanaman, dekat Rumah­Mu yang suci. Tuhan kami! Supaya mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia mencintai mereka, dan berilah mereka rezeki buah­buahan, supaya mereka berterima kasih’. 570 
Doa ini dikabulkan Allah: 

Mereka yang diberi nikmat oleh Allah, para Nabi keturunan Adam dan (keturunan) mereka, yang Kami bawa bersama Nuh (dalam bahtera), keturunan Ibrahim dan Isra’il, dan (keturunan mereka) yang Kami beri petunjuk dan Kami pilih. Bila dibacakan kepada mereka ayat­ayat Allah Yang Maha Pemurah, mereka tunduk bersujud dan berurai air mata. 571 
Dan semua ahli tafsir sependapat bahwa Nabi Muhammad saw adalah dari keturunan (dzurriyah) Ibrahim. Dalam ayat yang lain Nabi Muhammad disebut sebagai keluarga (al) Ibrahim: 

Sungguh Allah telah memilih Adam dan Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran di atas segala bangsa. 572 
Istilah al (keluarga) seperti pada ayat di atas terdapat pada 26 ayat Al­Qur’an yang berhubungan dengan keturunan para Nabi, serta berkah khusus yang dilimpahkan kepada mereka. Di bagian lain Allah SWT berfirman: 

Ataukah mereka dengki kepada manusia, karena Allah memberi mereka sebagian dari karunia­ Nya? Sungguh, telah Kami beri keluarga Ibrahim Kitab dan Hikmah, dan Kami beri mereka kerajaan yang besar.

Istilah ahl (keluarga) mempunyai arti yang sama dengan al. Tetapi, bila dirangkaikan dengan bait (rumah) menjadi ahlu’l­bait, maka yang dimasukkan adalah keturunan langsung, seperti terdapat pada ayat Al­Qur’an yang berikut: 
Allah hanya hendak menghilangkan (segala) kenistaan daripadamu, ahlu’l­bait (Rasul Allah), dan menyucikan kamu sebersih­bersihnya.

Jumhur atau kebanyakan ulama berpendapat bahwa yang dimaksudkan dengan ahlu’lbait dalam ayat itu adalah putri Nabi Fathimah, sepupu dan menantu beliau ‘Ali bin Abi Thalib, serta kedua cucu yang sangat beliau cintai Hasan dan Husein. Hadis Kisa 

Hadis Kisa yang menyangkut turunnya ayat ini, diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib, ummu’l­muminin ‘A’isyah dan ummu’l­muminin Ummu Salamah, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Umar bin Abi Salmah, Abu Said al­Khudri, Sa’d bin Abi Waqqash, Anas bin Malik dan lain­lain. 

569 Al­Qur’an, al­Baqarah (II), 124. 570 Al­Qur’an, Ibrahim (XIV), 37. 571 Al­Qur’an, Mariam(XIX), 58 572 Al­Qur’an, Ali Imran (III), 33. 573 Al­Qur’an, an­Nisa’ (IV), 54. 574 Al­Qur’an, al­Ahzab (XXXIII), 


Ummu Salamah berkata: “Ayat Allah hanya hendak menghilangkan (segala) kenistaan daripadamu, ahlu’l­bait (Rasul Allah), dan menyucikan kamu sebersih­bersihnya turun di rumahku. Dan di rumahku ada tujuh, Jibril dan Mikail as., ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain ra dan saya berada di dekat pintu rumahku.” 

“Aku bertanya: ‘Ya Rasul Allah apakah saya tidak termasuk ahlu’l­bait?” Rasul menjawab: ‘Sesunggulmya engkau dalam kebaikan, engkau adalah istri Rasul’. Di bagian lain Rasul menutup ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dengan kain (Kisa’), lalu turunlah ayat di atas sehingga dinamakan Hadis Kisa’ dan ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dinamakan Ahlul Kisa’.

Istilah lain, yakni qurba (berasal dari kata qaruba yang berarti dekat) dimaksudkan juga keturunan langsung dari seseorang, seperti tersebut pada firman Allah dalam Al­Qur’an: 

Itulah (karunia) yang Allah kabarkan beritanya yang gembira kepada hamba­hamba­Nya yang beriman dan melakukan amal kebaikan. Katakanlah, ‘Tiada kuminta kepadamu upah untuk itu, hanya kasih sayang kepada keluarga (qurba)’. Dan barangsiapa yang memperoleh kebaikan Kami akan tambahkan pula kepadanya kebaikan. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Berterima kasih. 


Dan sekali lagi, jumhur sependapat bahwa istilah qurba (keluarga) di sini memaksudkan keluarga Muhammad saw, yaitu Fathimah az­Zahra’ ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan serta Husain. Tentu yang dimaksudkan dengan jumhur (mayoritas) disini adalah tokoh­tokoh.....


bersambung....